"Tandatangani surat cerai ini dan pergi dari rumahku! Kau hanyalah wanita yatim piatu yang tidak berguna bagi karierku!"
Tiga tahun pengabdian Alana sebagai istri yang penurut berakhir dengan selembar kertas dan hinaan pedas dari suaminya, Raka. Tidak hanya diceraikan, Alana juga diusir di tengah hujan badai demi seorang wanita yang diklaim Raka sebagai "pembawa keberuntungan".
Raka tidak tahu, bahwa Alana bukan yatim piatu biasa. Dia adalah putri tunggal Keluarga Adiwangsa yang hilang sepuluh tahun lalu—keluarga penguasa ekonomi negara yang memiliki tujuh putra mahkota.
Saat Alana berjalan gontai di jalanan, sebuah konvoi helikopter dan puluhan mobil mewah mengepungnya. Tujuh pria paling berpengaruh di negeri ini turun dan berlutut di hadapannya.
"Tuan Putri kecil kami sudah ditemukan. Siapa yang berani membuatmu menangis, Dek? Katakan pada Kakak, besok perusahaannya akan rata dengan tanah."
Kini, Alana tidak lagi menunduk. Bersama tujuh kakak "Sultan"-nya yang protektif dan gila
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mbak Ainun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 27: JEJAK ULAR DAN PENGKHIANATAN DI BALIK KACA
BAB 27: JEJAK ULAR DAN PENGKHIANATAN DI BALIK KACA
Jakarta di jam dua pagi adalah labirin lampu yang dingin, namun bagi Alana Roseline, kota ini tak lebih dari sekadar medan perang yang dipenuhi jebakan. Di dalam ruang VIP rumah sakit yang kedap suara, Alana berdiri terpaku di depan meja kayu jati. Di hadapannya, sebuah laptop menyala terang, menampilkan barisan video rekaman CCTV yang dikirimkan Siska sebagai "hadiah" terakhir sebelum ia menghilang di kegelapan malam.
Alana menatap layar itu tanpa berkedip. Jantungnya terasa seperti dihantam palu godam. Di dalam video berkualitas rendah itu, ia melihat Raka dan Siska sedang duduk di sebuah sudut restoran mewah yang sangat privat. Namun, bukan mereka yang menjadi pusat perhatian Alana. Matanya terpaku pada sosok pria tua yang duduk membelakangi kamera, namun wajahnya terpantul jelas di dinding kaca restoran.
Pria itu adalah Tuan Besar Dirgantara, ayah kandung Kenzo.
Alana melihat pria tua itu menyerahkan sebuah koper hitam kepada Raka. Tidak ada suara, namun bahasa tubuh mereka menunjukkan sebuah kesepakatan gelap. Tuan Besar Dirgantara tampak menunjuk ke arah sebuah dokumen—foto Alana sepuluh tahun lalu—sebelum ia bangkit dan meninggalkan ruangan.
"Jadi... selama ini..." bisik Alana, suaranya bergetar hebat. "Selama ini dia tahu. Dia bukan hanya tidak merestuiku, dia yang membiayai kehancuranku lewat tangan Raka."
Maximilian, yang berdiri dalam kegelapan di sudut ruangan, hanya bisa menunduk. "Nona, sepertinya Tuan Besar Dirgantara ingin memastikan bahwa Anda tetap berada di bawah kendalinya melalui Raka, agar suatu saat nanti ia bisa mengeksploitasi potensi medis Anda tanpa harus berurusan dengan Keluarga Adiwangsa secara terang-terangan."
Alana mengepalkan tangannya hingga kuku-kukunya menusuk telapak tangan. Rasa perih itu tidak sebanding dengan rasa dikhianati yang kini membakar dadanya. Pria yang ia anggap sebagai calon ayah mertua, pria yang seharusnya melindungi Kenzo, justru adalah orang yang menyiramkan bensin ke dalam api penderitaannya.
"Maximilian," suara Alana kini berubah, tidak lagi bergetar, melainkan menjadi sangat dingin dan datar. "Hapus semua jejak digital rekaman ini dari server rumah sakit. Jangan sampai Kenzo melihatnya. Belum saatnya."
"Tetapi Tuan Kenzo sangat cerdas, Nona. Dia akan segera menyadari ada yang tidak beres."
"Biar itu menjadi urusanku," sahut Alana. Ia melangkah menuju ranjang Kenzo. Pria itu masih terlelap, wajahnya tampak tenang namun garis-garis kelelahan terlihat jelas di sela tidurnya. Alana mengusap kening Kenzo dengan sangat lembut, seolah-olah pria itu adalah porselen yang bisa pecah kapan saja.
Maafkan aku, Kenzo, batin Alana perih. Aku tidak bisa membiarkanmu tahu bahwa musuh terbesar kita adalah darah dagingmu sendiri. Biarkan aku yang menanggung dosa ini. Biarkan aku yang menjadi tangan kotor yang menyingkirkan ayahmu dari jalan kita.
Sementara itu, di Sebuah Pondok Tersembunyi di Pinggiran Bogor.
Siska sedang mengemasi pakaiannya dengan terburu-buru. Napasnya memburu, keringat dingin membasahi lehernya. Ia tahu, setelah mengirimkan video itu, dia telah menandatangani surat kematiannya sendiri. Dia mengkhianati Raka yang sudah mati, dia mengkhianati Wilhelm, dan sekarang dia memancing amarah Tuan Besar Dirgantara.
"Bodoh! Aku benar-benar bodoh!" umpat Siska pada dirinya sendiri.
Tiba-tiba, suara deru mobil terdengar dari kejauhan. Bukan satu, tapi tiga mobil. Siska segera mematikan lampu pondok. Ia mengintip dari balik tirai yang kusam. Di bawah sinar bulan yang redup, ia melihat beberapa pria berbadan tegap keluar dari mobil. Mereka mengenakan seragam hitam tanpa identitas, namun gerakan mereka sangat taktis—seperti tentara.
"Tim pembersih," bisik Siska dengan wajah pucat pasi. "Tuan Besar tidak ingin aku bicara."
Siska menyadari bahwa ia tidak punya waktu lagi. Ia meraih sebuah jerigen bensin yang ia simpan untuk cadangan generator. Dengan tangan gemetar, ia mulai menyiramkan cairan berbau menyengat itu ke sekeliling pondok kayu tersebut.
"Jika aku harus mati di sini, aku tidak akan mati sendirian!" jerit Siska dalam hati. Kegilaannya mulai mengambil alih akal sehatnya. Ia menyalakan sebuah korek api gas, tangannya menggantung di atas genangan bensin.
Kembali ke Rumah Sakit – Pukul 03:00 Pagi.
Alana baru saja hendak keluar dari ruangan ketika pintu ICU terbuka perlahan. Elvan masuk dengan wajah yang sangat tegang.
"Al, kita punya masalah baru," Elvan memberikan sebuah laporan intelijen. "Satya mendeteksi pergerakan unit paramiliter rahasia yang terhubung dengan yayasan milik ayah Kenzo. Mereka sedang menuju koordinat Siska di Bogor."
Alana menyambar jaket kulitnya. "Ayah Kenzo ingin melenyapkan saksi kunci. Jika Siska mati sebelum kita mendapat pengakuan resminya, kita tidak akan pernah punya bukti hukum untuk menjatuhkan pria tua itu."
"Aku sudah menyiapkan tim, Alana," Elvan mencoba menahan adiknya. "Kau tidak perlu ikut. Biar Bima dan Arya yang urus."
"Tidak, Kak!" Alana menatap kakaknya dengan tatapan yang membuat Elvan tertegun. "Ini bukan lagi soal Adiwangsa melawan Ardiansyah. Ini soal hidupku yang dirampas selama sepuluh tahun. Aku harus berada di sana. Aku ingin melihat siapa yang dikirim oleh Tuan Besar Dirgantara."
"Alana, Kenzo baru saja melewati masa kritisnya. Jika dia bangun dan kau tidak ada—"
"Katakan padanya aku sedang mengurus masa depan kami," potong Alana tegas. "Jika aku tidak menyelesaikan ini malam ini, masa depan kami hanya akan berisi kebohongan dan ancaman pembunuhan."
Tanpa menunggu persetujuan lebih lanjut, Alana berlari menuju lift, diikuti oleh Maximilian yang selalu setia di belakangnya. Di dalam lift yang bergerak turun, Alana memeriksa magasin pistol Glock-17 miliknya. Setiap bunyi klik dari logam senjata itu seolah-olah menjadi detak jantungnya yang baru.
Perjalanan Menuju Bogor.
Di dalam SUV hitam yang melaju kencang membelah kesunyian tol Jagorawi, Alana menatap keluar jendela. Pikirannya melayang pada kenangan masa kecilnya, sebelum kecelakaan itu terjadi. Ia teringat ibunya yang selalu berkata bahwa mawar yang paling indah adalah mawar yang memiliki duri paling tajam untuk melindungi dirinya sendiri.
"Nona," Maximilian memecah keheningan. "Tim pembersih Dirgantara dikenal sangat efisien. Mereka tidak akan meninggalkan satu pun bukti. Jika kita terlambat satu menit saja, pondok itu akan menjadi abu."
"Maka jangan biarkan kita terlambat satu detik pun, Maximilian," balas Alana. "Gunakan jalur tikus di belakang perbukitan. Kita masuk dari arah yang tidak mereka duga."
Tiba-tiba, ponsel Alana bergetar. Sebuah panggilan masuk dari nomor yang ia kenal sangat baik. Kenzo.
Alana ragu untuk mengangkatnya, namun ia tahu jika ia mengabaikannya, Kenzo akan panik dan mungkin akan mencabut paksa selang infusnya untuk mencari Alana.
"Halo, Kenzo?" Alana mencoba mengatur suaranya agar terdengar setenang mungkin.
"Alana... kau di mana?" suara Kenzo terdengar parau dan penuh kecurigaan. "Kenapa kamarku dijaga ketat oleh orang-orang Elvan? Kenapa Maximilian tidak ada di depan pintu?"
"Aku... aku hanya keluar sebentar mencari udara segar, Kenzo. Aku sedang bersama Elvan di kantornya untuk menandatangani beberapa dokumen aset yang sempat disita Raka."
Terjadi keheningan panjang di seberang sana. Kenzo bukan orang bodoh. "Kau berbohong, Alana. Aku mencium aroma mesiu dari jaket yang kau tinggalkan di kursi tadi. Kau sedang menuju Siska, bukan?"
Alana memejamkan mata, mengutuk ketelitian Kenzo. "Tetaplah di tempat tidurmu, Kenzo. Tolong, lakukan ini untukku. Aku berjanji akan kembali sebelum matahari terbit tanpa satu luka pun."
"Alana, dengarkan aku!" suara Kenzo meninggi, memicu bunyi alarm pada monitor jantungnya di latar belakang. "Jangan lakukan hal yang akan kau sesali. Ayahku... aku tahu dia mengirim orang. Jangan berhadapan dengan mereka sendirian!"
Alana terkejut. "Kau sudah tahu? Kau tahu tentang ayahmu?"
"Aku sudah mencurigainya sejak kita di Jerman, Alana. Itulah sebabnya aku ingin kita lari sejauh mungkin. Ayahku adalah monster yang mengenakan setelan jas mewah. Kumohon... kembali sekarang."
"Tidak bisa, Kenzo. Jika aku kembali sekarang, monster itu akan terus mengintai kita di bawah ranjang pernikahan kita nanti. Aku harus memotong kepalanya malam ini."
Alana langsung mematikan ponselnya. Ia menatap ke depan, di mana cahaya api mulai terlihat memerah di balik perbukitan Bogor.
"Dia sudah menyulut apinya," gumam Alana. "Percepat laju mobilnya!"
Di kejauhan, pondok kayu tempat Siska bersembunyi sudah mulai dilalap api, sementara suara tembakan mulai terdengar bersahutan dengan suara petir yang menggelegar di langit Bogor. Perang antara menantu dan calon ayah mertua secara tidak langsung telah dimulai, dan Alana berada di tengah-tengah kobaran api itu, siap untuk menjadi pemenang atau hangus bersama rahasia masa lalunya.