Di jagat hiburan, nama Leonard Abelano bukan sekadar aktor, dia adalah jaminan rating. Setiap drama yang dibintanginya pasti menyentuh angka dua digit. Leo, begitu publik memanggilnya, punya segalanya: struktur wajah yang dipahat sempurna, status pewaris takhta bisnis Abelano Group, dan sebuah reputasi yang membuatnya dijuluki "Duta Kokop Nasional."
Bagi penonton, cara Leo mencium lawan mainnya adalah seni. Namun bagi Claire Odette Aimo, itu adalah ancaman kesehatan masyarakat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tips Si Mulut Beracun
Suasana kelas mendadak tegang saat Sean Manuel, sang penguasa sekolah, menarik kursi di sebelah Eleanor dengan dentuman pelan.
Teman-teman satu gengnya—Aber, Joy, dan Nillnsaling lirik dan langsung pindah ke kursi belakang tanpa diperintah.
Mereka tahu, kalau Sean sudah menandai wilayah di samping Eleanor, itu adalah zona bahaya.
Eleanor berusaha fokus pada buku catatannya, meskipun tangannya sedikit gemetar. Ia bisa merasakan hawa panas yang menguar dari tubuh Sean yang duduk terlalu dekat dengannya.
"Lo tuli ya? Gue bilang gue nggak minat denger cerita sampah Lo," desis Eleanor tanpa menoleh.
Sean justru semakin mendekat, menyandarkan punggungnya dengan santai sambil memainkan bolpoin mahal di jemarinya yang panjang. Ia menoleh ke samping, menatap profil wajah Eleanor dari samping dengan tatapan yang sangat menyebalkan.
"Cuma mau berbagi ilmu, Riccardo. Kasihan gue liat Lo kuper banget," bisik Sean, suaranya sengaja dikeraskan sedikit agar Eleanor merasa terpojok.
"Model yang semalam itu... gila sih. Badannya bener-bener pas. Apalagi dadanya," Sean menjeda kalimatnya sambil melirik ke arah dada Eleanor yang tertutup kemeja sekolah yang rapi.
"Pas banget di tangan gue yang besar ini. Empuk, nggak kayak papan yang gue peluk kemarin di ruang ganti."
Wajah Eleanor memerah padam, antara malu dan emosi yang sudah di ubun-ubun. Ia menutup bukunya dengan keras.
BRAK!
"Sean Manuel, jaga mulut Lo! Gue nggak peduli seberapa besar tangan Lo atau seberapa empuk model-model murahan Lo itu!"
Sean justru tertawa rendah, suara tawanya yang serak terdengar sangat seksi namun menjengkelkan. Ia mencondongkan tubuhnya hingga bahu mereka bersentuhan.
"Galak banget. Gue kan cuma kasih saran. Kalau Lo mau punya dada yang besar dan pas kayak dia, gue bisa kasih nomor telepon model itu ke Lo. Siapa tahu Lo butuh tips atau mau tanya merk suplemennya. Kasihan kan, aset Lo yang minimalis itu butuh bantuan ahli," ucap Sean dengan seringai paling provokatif yang pernah ada.
Eleanor menoleh, menatap Sean tepat di matanya. "Gue nggak butuh bantuan siapa-siapa, apalagi dari pria mulut beracun kayak Lo. Kenapa Lo nggak sekalian aja pacaran sama model itu dan berhenti gangguin hidup gue?"
Sean terdiam sejenak. Ia menatap bibir Eleanor yang sedang mengomel, lalu matanya kembali ke mata gadis itu. Ada kilatan posesif yang lewat begitu saja.
"Masalahnya, model itu nggak punya mulut tajam kayak Lo, Riccardo," bisik Sean dengan nada yang tiba-tiba berubah dingin dan serius.
"Dan tangan gue... entah kenapa malah lebih penasaran gimana caranya bikin dada Lo yang minimalis ini berdegup kencang cuma karena gue sentuh."
Eleanor terkesiap, nyaris kehilangan kata-kata. Sean Manuel benar-benar gila. Dia baru saja menghina fisik Eleanor, tapi sedetik kemudian mengeluarkan kalimat yang membuat jantung Eleanor hampir copot.
Suasana di pojok kelas itu mendadak terasa seperti ruang hampa udara. Eleanor, yang selama ini dikenal sebagai gadis paling sopan dan terhormat dari keluarga Riccardo, tiba-tiba mencapai titik nadir kesabarannya.
Ucapan Sean soal minimalis benar-benar menghancurkan bendera perdamaian yang ia kibarkan dalam hatinya.
"Lo mau liat ulasan jujur, kan? Biar mulut beracun Lo itu berhenti ngerendahin gue?" tantang Eleanor dengan suara gemetar karena emosi.
Tanpa memedulikan Aber atau Nill yang ada di belakang, Eleanor dengan gerakan cepat melepaskan satu per satu kancing kemeja sekolahnya tepat di depan wajah Sean.
Klik. Satu kancing terbuka.
Klik. Kancing kedua terbuka.
Sean Manuel yang tadinya bersandar santai langsung mematung. Seringai sombong yang sedari tadi menghiasi wajahnya lenyap seketika, digantikan oleh ekspresi syok yang luar biasa.
Matanya membelalak, otot rahangnya mengeras, dan untuk pertama kalinya dalam hidup seorang Sean Manuel, dia benar-benar bungkam.
Saat kancing ketiga terbuka, kemeja Eleanor sedikit tersingkap, memperlihatkan kulit putih susunya yang kontras dengan pakaian dalam renda berwarna gelap yang membungkus asetnya dengan sangat ketat.
Sean menelan ludah dengan susah payah. Jakunnya bergerak turun naik. Matanya yang tajam tidak bisa berbohong, ia terpaku pada pemandangan di depannya.
Ternyata, di balik kemeja longgar itu, Eleanor memiliki ukuran yang jauh dari kata minimalis. Itu sangat berisi, padat, dan seperti yang Sean pikirkan semalam benar-benar pas.
"Gimana, Mr. Manuel?" bisik Eleanor, wajahnya kini hanya berjarak beberapa senti dari Sean yang masih mematung. "Masih mau bilang gue kurang gizi? Masih mau kasih nomor telepon model Lo itu ke gue?"
Sean merasa tenggorokannya mendadak kering kerontang. Tangannya yang besar yang tadinya ia bangga-banggakan, kini mencengkeram pinggiran meja hingga buku-buku jarinya memutih.
Adrenalin dan gairah yang tidak terduga menghantamnya dalam satu waktu.
"Riccardo... tutup kemeja Lo," suara Sean keluar dengan sangat serak, hampir seperti geraman.
"Sekarang."
"Kenapa? Takut?" tantang Eleanor lagi, tangannya sudah memegang kancing keempat.
Sean dengan gerakan secepat kilat menyambar pergelangan tangan Eleanor, menghentikan gerakan gadis itu sebelum benar-benar menunjukkan semuanya. Ia menarik Eleanor mendekat hingga tubuh mereka bersentuhan, lalu Sean menggunakan tubuh besarnya untuk menutupi Eleanor dari pandangan mata-mata nakal di belakang kelas.
"Gue bilang tutup, atau gue nggak bakal jamin keamanan Lo di kelas ini sekarang juga," desis Sean, matanya menggelap penuh dengan gairah yang berbahaya.
"Gue narik kata-kata gue. Lo sama sekali nggak minimalis, Eleanor. Dan gue nggak mau ada satu pun mata yang liat ini selain gue."
Sean menarik napas dalam, berusaha mengendalikan diri agar tidak hilang kendali di tengah kelas yang tidak ada gurunya itu.
Wajah Sean yang tadinya tegang karena gairah mendadak berubah menjadi kaku. Kalimat Eleanor barusan menghantamnya lebih keras daripada tamparan fisik.
"Sean, kamu bahkan tidak lagi perjaka," ucap Eleanor dengan nada penuh penghinaan, matanya menatap tajam ke arah tangan Sean yang masih mencengkeram pergelangan tangannya.
"Bisa-bisanya bilang minimalis ke aku. Sudah berapa lubang yang kamu coba? Membayangkannya saja bikin aku mual. Jadi, setop dekat-dekat!"
Eleanor menyentakkan tangannya hingga terlepas dari genggaman Sean. Dengan jemari yang masih sedikit gemetar karena emosi, ia mengancingkan kembali kemejanya dengan cepat, seolah-olah kulitnya baru saja menyentuh sesuatu yang menjijikkan.
Sean terdiam di tempatnya. Kata-kata "sudah berapa lubang" dan "bikin mual" itu benar-benar menguliti harga dirinya.
Rumor palsu yang ia ciptakan sendiri untuk terlihat tangguh dan tak tersentuh, sekarang justru menjadi senjata makan tuan yang membuat Eleanor memandangnya rendah.
"Lo pikir gue serendah itu?" tanya Sean dengan suara yang sangat rendah, ada nada luka yang tersembunyi di balik kedinginannya.
"Lo sendiri yang bangga-banggain model papan atas Lo itu, kan?" balas Eleanor sambil menyampirkan tasnya ke bahu.
"Gue nggak peduli Lo mau tidur sama seluruh model di Manhattan, tapi jangan bawa-bawa gue ke dalam fantasi kotor Lo. Lo itu pria mulut beracun yang nggak punya kehormatan, Sean."
Eleanor berdiri dan melangkah pergi meninggalkan Sean yang masih terpaku di kursinya.
Nill, yang sejak tadi menguping dari belakang, mencoba mendekat. "Gila, Sean. Cewek itu bener-bener nggak ada takutnya. Mau gue lurusin soal rumor itu?"
"Diem Lo, Nill," potong Sean ketus. Tangannya mengepal kuat di atas meja.
Sean merasa sesak. Dia ingin sekali berteriak bahwa semua rumor itu bohong, bahwa tidak ada wanita lain yang pernah menyentuhnya, bahwa hanya foto Eleanor-lah yang menemaninya semalaman.
Tapi egonya sebagai seorang Abelano-Aimo menahan lidahnya.
Ia menatap punggung Eleanor yang menjauh dengan tatapan yang sulit diartikan.
Di satu sisi, ia ingin mengejar dan membuktikan bahwa ia tidak semurah yang Eleanor pikirkan. Di sisi lain, ia tahu ia sudah jatuh terlalu dalam ke dalam permainannya sendiri.
🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷
Happy reading dear 🥰
keren....