Novel ini adalah sekuel dari novel yang berjudul: Dinikahi Sang Duda Kaya yang sudah tamat sebelumnya.
Alea Ardiman, "The Smiling Shark" yang jenius namun anti-cinta, harus berurusan dengan dr. Rigel Kalandra setelah jatuh pingsan. Rigel, dokter bedah saraf yang dingin, adalah satu-satunya pria yang berani membanting laptop kerja Alea dan mengabaikan ancaman kekayaannya.
"Simpan uang Anda, Nona Alea. Di ruangan ini, detak jantung Anda lebih penting daripada Indeks Harga Saham Gabungan."
Alea merasa tertantang, tanpa menyadari bahwa Rigel sebenarnya adalah pewaris tunggal konglomerat farmasi sekaligus "Investor Paus" yang diam-diam melindungi perusahaannya. Ketika Ratu Saham yang angkuh bertemu Dokter Sultan yang diam-diam bucin, siapakah yang akan jatuh cinta duluan di bawah pengawasan ketat Papa Gavin?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Savana Liora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18: Teori Mobil Buruk Rupa
"Coba lo liat ini. Sumpah, gue nggak habis pikir sama cowok model begini. Gayanya selangit, padahal aslinya... meh."
Alea melempar iPad-nya ke pangkuan Arka yang sedang asyik makan mi instan di meja bar penthouse. Layar iPad itu menampilkan foto candid Rigel yang diambil diam-diam oleh Alea saat insiden di lorong rumah sakit kemarin. Di foto itu, Rigel sedang melipat tangan di dada, lengan jas dokternya tergulung sedikit, memperlihatkan sebuah jam tangan besi dengan dial berwarna biru gelap.
Arka menyuap mi-nya dengan suara sruput yang nyaring, lalu melirik sekilas ke layar.
"Apaan sih, Kak? Masih aja nge-stalking Dokter Rigel. Katanya benci, tapi galerinya isinya muka dia semua," ledek Arka sambil mengunyah.
"Gue nggak stalking! Gue lagi analisis profil psikologis lawan!" bantah Alea ngegas, merebut kembali iPad-nya. Dia memperbesar gambar tepat di pergelangan tangan Rigel. "Liat jam tangannya. Sok banget pake model ginian biar kelihatan berkelas di depan pasien."
"Emang kenapa jamnya? Bagus kok," komentar Arka santai.
"Bagus apanya? Ini tuh model yang lagi hype banget di kalangan kolektor. Lo tau ini apa?" Alea menunjuk layar dengan jari telunjuknya yang lentik. "Ini Patek Philippe Nautilus seri 5711. Plat biru. Lo tau harga pasarannya berapa sekarang?"
Arka mengangkat bahu. "Berapa? Lima ratus ribu?"
"Dua miliar, bego!" semprot Alea gemas. "Itu jam tangan Holy Grail. Antrean di butik resminya bisa sepuluh tahun. Harganya di pasar sekunder udah gila-gilaan."
Alea mendengus sinis, menatap foto Rigel dengan tatapan meremehkan.
"Dan si Dokter Kulkas ini dengan PD-nya make jam seharga dua miliar ke rumah sakit? Please deh. Siapa yang dia coba tipu?"
Arka meletakkan garpunya. Dia menyipitkan mata, menatap foto itu lebih teliti. Sebagai anak orang kaya yang gaulnya sama anak-anak sultan Jakarta Selatan, Arka cukup paham barang branded. Dia melihat detail bezel jam itu, pantulan cahayanya, dan bentuk link rantainya yang khas.
"Kak," panggil Arka serius. "Itu asli lho."
"Hah?" Alea tertawa, tawa yang terdengar sangat meremehkan. "Asli? Mata lo katarak?"
"Serius, Kak. Liat tuh date window-nya. Font angkanya presisi banget. Terus finishing-nya... gila, itu halus banget. Kalau KW, biasanya brushing besinya agak kasar. Ini perfect."
"Arka, lo jangan polos-polos amat jadi orang," Alea meletakkan iPad-nya di meja, lalu menuangkan air dingin ke gelasnya dengan gaya sok tahu. "Gue kasih tau lo satu teori logika dasar. Teori mobil Buruk Rupa."
"Teori apaan lagi tuh?"
"Coba lo pikir pake otak dagang lo," Alea mulai berceramah, mondar-mandir di depan Arka seperti dosen killer. "Orang yang punya jam tangan seharga dua miliar, pasti punya lifestyle yang nyambung sama jam itu. Minimal dia naik Mercy, atau BMW lah. Atau seenggaknya tinggal di apartemen yang lift-nya nggak bunyi kriet-kriet."
Alea berhenti tepat di depan Arka, menatap adiknya tajam.
"Nah, sekarang lo liat Dokter Rigel. Dia ke rumah sakit naik apa?"
Arka terdiam sejenak. "Mobil tahun 2000?"
"Salah! Itu rongsokan berjalan!" koreksi Alea berapi-api. "Gue pernah naik mobil itu, Arka. Dan rasanya kayak simulasi gempa bumi! Joknya keras kayak batu nisan, suspensinya mati, AC-nya cuma keluar angin doang, baunya apek! Suara mesinnya lebih berisik dari suara emak-emak nawar cabe!"
Alea mengambil napas panjang, lalu melanjutkan argumennya yang menurutnya sangat logis.
"Lo bayangin. Ada orang punya dua miliar nganggur di pergelangan tangan, tapi dia rela pantatnya tepos duduk di jok mobil yang busanya udah tipis? Nonsense! Mustahil!"
Arka menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Ya... siapa tau dia tipe old money yang low profile, Kak. Orang kaya beneran kan biasanya males pamer. Mark Zuckerberg aja pake kaos oblong terus."
"Kaos oblong Mark Zuckerberg itu harganya lima juta satu biji, Arka! Itu beda konteks!" bantah Alea tidak mau kalah. "Rigel itu bukan low profile. Dia itu low budget yang maksa high class!"
Alea kembali mengambil iPad-nya, menatap foto jam tangan itu dengan tatapan ahli forensik palsu.
"Gue yakin seratus persen, ini barang KW Super Grade AAA. Beli di Mangga Dua atau pesen dari Guangzhou. Paling harganya cuma tiga jutaan. Dia pake itu biar pasien-pasien kayak gue terintimidasi dan percaya kalau dia dokter sukses."
"Tapi Kak..." Arka mencoba menyela. Dia ingat betul waktu Rigel mentransfer uang "jajan" buat Arka. Nominalnya nggak main-main, transfernya juga dari rekening prioritas bank asing. "Dokter Rigel tuh kayaknya emang tajir deh. Waktu itu dia kasih gue uang jajan..."
"Uang jajan berapa? Lima puluh ribu?" potong Alea cepat. "Duit segitu mah gue juga bisa kasih ke pengamen lampu merah."
"Lima juta, Kak. Sekali transfer," gumam Arka pelan.
"Apa lo bilang?"
"Nggak," Arka buru-buru meralat, takut ketahuan jadi mata-mata berbayar. "Maksud gue... ya mungkin dia nabung. Dokter bedah saraf kan gajinya lumayan, Kak."
"Lumayan buat nyicil rumah KPR subsidi, iya. Tapi nggak cukup buat beli Patek Philippe, Arka!" Alea menutup diskusi itu dengan kesimpulan mutlak. "Pokoknya, Rigel itu cuma dokter sederhana yang kebanyakan gaya. Titik. Nggak usah debat sama Ratu Saham soal valuasi aset."
Alea melenggang pergi menuju kamarnya dengan penuh kemenangan, merasa analisisnya sangat brilian dan tak terbantahkan. Dia yakin sekali Rigel, si songong itu, hanyalah pria biasa yang mencoba terlihat "wah".
Arka menatap punggung kakaknya yang menghilang di balik pintu, lalu beralih menatap mangkuk mi instannya yang sudah dingin. Dia menepuk jidatnya keras-keras.
Plak.
"Susah emang ngomong sama orang yang otaknya isinya cuma cuan," gumam Arka frustrasi. "Dia nggak tau aja kalau satu ban mobil Lamborghini-nya Rigel bisa buat beli harga diri Kak Alea yang setinggi langit itu."
aya Aya wae nich dokter satu......
Alea di tantangin......
papa jual......Alea beli....