Kang Yun-seo, seorang pemuda biasa dari dunia modern yang doyan main game, tiba-tiba terbangun di dunia Murim yang penuh intrik dan seni bela diri. Ia dipanggil oleh Hwang Yehwa, ratu iblis yang sekarat akibat pengkhianatan, dan kini kehilangan kekuatannya, berubah wujud menjadi manusia biasa. Untuk bertahan di wilayah manusia yang memusuhi iblis, Yun-seo harus berpura-pura sebagai suaminya. Dengan pengetahuan modernnya, Yun-seo beradaptasi di akademi pedang, menghadapi turnamen, konspirasi gelap, dan bangkitnya kekuatan iblis, sambil menumbuhkan ikatan tak terduga dengan ratu dingin itu. Sebuah kisah isekai penuh aksi, komedi, dan romansa di antara dua dunia yang bertabrakan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PENALIAR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 22: KUIL MATAHARI
Kuil Matahari berdiri megah di puncak Gunung Taebaeksan.
Bangunan itu menjulang dengan arsitektur megah—perpaduan gaya Korea kuno dan Tiongkok. Atap genting hijau berlapis emas di ujungnya. Dinding putih bersih dengan lukisan naga dan phoenix. Di halaman depan, seribu anak tangga batu membelah hutan, menuju gerbang utama.
Yehwa berdiri di kaki gunung, menatap kuil itu dengan perasaan campur aduk. Ini adalah markas sekte manusia yang paling membenci iblis. Mereka telah membunuh ribuan bangsanya selama berabad-abad.
Dan sekarang, ia harus masuk ke dalam, berpura-pura jadi manusia, dan mencuri pusaka mereka.
"Demi bangsaku," bisiknya. "Demi masa depan."
Ia mulai menaiki anak tangga. Seribu langkah, masing-masing terasa berat. Bukan karena fisik—kekuatan 50% membuatnya kuat—tapi karena beban sejarah.
Setengah jam kemudian, ia tiba di gerbang. Dua pendekar berjaga, menghunus pedang.
"Berhenti! Siapa kau?" salah satu bertanya.
Yehwa membungkuk hormat. "Aku Hwang Yehwa, pendekar dari akademi. Aku datang untuk meminjam Baju Zirah Iblis."
Kedua penjaga itu terkejut. Mereka saling pandang, lalu satu berlari masuk untuk lapor.
Beberapa menit kemudian, seorang pria paruh baya keluar. Jubah putih bersih, rambut disanggul rapi, wajah dingin penuh wibawa. Di dadanya, lencana emas—Kepala Biara Kuil Matahari.
"Aku Kepala Biara Song Myung-ho," katanya. "Kau bilang ingin meminjam Baju Zirah Iblis? Untuk apa?"
Yehwa sudah menyiapkan cerita. "Ada iblis kuat yang mengancam desa kelahiranku. Aku butuh perlindungan ekstra untuk melawannya."
Song Myung-ho mengamatinya tajam. Matanya seperti elang, mencari kebohongan. Tapi Yehwa adalah ratu iblis—ia ahli bersandiwara.
"Masuklah," kata Song Myung-ho akhirnya. "Kita bicara di dalam."
---
Di dalam kuil, suasana hening dan khidmat.
Para biksu berjubah putih berlalu-lalang dengan tenang. Di halaman dalam, puluhan murid berlatih jurus dengan pedang kayu. Di altar utama, patung Dewa Matahari setinggi sepuluh meter duduk bersila, memancarkan aura damai.
Yehwa dibawa ke ruang tamu khusus. Teh disajikan. Song Myung-ho duduk di hadapannya.
"Kau dari akademi?" tanyanya. "Siapa gurumu?"
"Guru Song, wali kelasku. Tapi yang mengajarkanku paling banyak adalah Seo Jung-won, asisten guru."
Song Myung-ho mengangguk. "Seo Jung-won... murid berbakat. Aku dengar kabarnya." Ia menyesap teh. "Ceritakan tentang iblis yang kau hadapi."
Yehwa menceritakan tentang Lilian—tanpa menyebut nama—sebagai iblis jahat yang menghancurkan desa. Ia tambahkan detail-detail yang menyentuh hati: anak-anak kehilangan orang tua, sawah hangus, harapan pupus.
Song Myung-ho mendengarkan dengan serius. Wajahnya tidak berubah, tapi matanya menunjukkan simpati.
"Kau pendekar pemberani," katanya akhirnya. "Mau melawan iblis sendirian."
"Aku tidak sendiri. Ada beberapa pendekar desa yang ikut. Tapi mereka lemah. Aku yang harus jadi ujung tombak."
Song Myung-ho diam lama. Lalu bangkit.
"Ikut aku."
---
Mereka berjalan ke ruang bawah tanah kuil.
Tangga batu menurun, dingin dan gelap. Lampu minyak di dinding memberi cahaya samar. Di ujung, ruangan besar dengan altar kecil. Di atas altar, sebuah peti batu diukir rumit.
Song Myung-ho membuka peti itu. Di dalam, Baju Zirah Iblis—hitam pekat dengan ukiran emas, bersinar redup dalam gelap.
"Ini pusaka kuno," katanya. "Konon, dulu dipakai oleh pahlawan yang membunuh ribuan iblis. Tapi menurut legenda lain, ini sebenarnya milik iblis."
Yehwa menahan diri untuk tidak tersenyum. Legenda itu benar.
"Kau boleh meminjamnya," lanjut Song Myung-ho. "Tapi dengan syarat."
"Syarat apa?"
"Kau harus ikut uji coba. Baju zirah ini tidak bisa dipakai sembarangan. Ia akan menguji kelayakan pemakainya." Song Myung-ho menatapnya tajam. "Kalau kau gagal, kau bisa mati."
Yehwa mengangguk. "Aku terima."
Song Myung-ho terkejut. "Kau tidak takut?"
"Aku lebih takut melihat desaku hancur."
Kepala biara itu tersenyum—pertama kalinya. "Baik. Besok pagi, kau jalani ujian."
---
Malam harinya, Yehwa menginap di kuil.
Ia diberi kamar tamu sederhana, tapi bersih. Di atas ranjang, ia merenung. Ujian Baju Zirah Iblis—ia tahu tentang ini. Dulu, sebagai ratu iblis, ia pernah membaca bahwa zirah ini akan menguji jiwa pemakainya. Yang gagal akan kehilangan kesadaran selamanya.
Tapi tidak ada pilihan. Ia harus ambil pusaka ini.
Ia meraba kalung pemberian Tetua Kelima—masih tergantung di leher. Pedang Naga Iblis tersembunyi di dalam lipatan baju—ia tidak bisa membawanya terang-terangan.
"Yun-seo," bisiknya dalam hati. "Doakan aku."
Di akademi, ribuan kilometer jauhnya, Yun-seo terbangun di tengah malam. Jantungnya berdebar, keringat dingin membasahi dahi. Ia merasakan sesuatu—bahwa Yehwa dalam bahaya.
"Kembali," bisiknya. "Kembali padaku."
---
Pagi harinya, ujian dimulai.
Di ruang bawah tanah yang sama, Yehwa berdiri di depan Baju Zirah Iblis. Song Myung-ho dan tiga biksu senior mengelilinginya.
"Ujian ini sederhana," jelas Song Myung-ho. "Kau harus memakai zirah itu, lalu duduk bersila selama satu jam. Selama itu, zirah akan mengujimu—menghadirkan ketakutan terbesarmu, penyesalan terdalammu, rahasia terkutukmu. Kalau kau bertahan, kau lulus."
Yehwa mengangguk. Ia mendekati zirah, menyentuhnya.
Dingin. Sangat dingin.
Ia memakainya satu per satu—pelindung dada, bahu, lengan, kaki. Zirah itu pas di tubuhnya, seperti dibuat khusus.
Lalu ia duduk bersila.
Seketika, dunia berubah.
---
Ia berdiri di istana iblis—istana yang hancur.
Mayat bergelimpangan. Api berkobar di mana-mana. Dan di singgasana, ibunya duduk dengan kepala tertunduk.
"Bu?" panggil Yehwa, suaranya bergetar.
Ibunya mengangkat kepala. Wajahnya pucat, matanya kosong.
"Kau... gagal," bisiknya. "Kau gagal melindungi kami."
Yehwa ingin berlari, tapi kakinya seperti tertanam. Ia melihat satu per satu rakyatnya mati—iblis-iblis yang setia padanya, yang percaya padanya.
"Kau ratu yang lemah," suara lain terdengar. Lilian muncul dari bayangan. "Itu sebabnya aku mengkhianatimu."
Yehwa mengepalkan tangan. "Itu tidak nyata. Ini hanya ujian."
"Tidak nyata?" Lilian tertawa. "Lalu kenapa kau merasa bersalah? Kenapa kau menangis?"
Yehwa meraba wajahnya. Basah. Air mata.
"Aku tidak menangis," desisnya. "Aku ratu iblis."
"Ratu iblis yang jatuh cinta pada manusia." Lilian mendekat, berbisik di telinganya. "Kau pikir dia akan tetap mencintaimu kalau tahu semua dosamu? Semua desa yang kau bakar? Semua anak yang kau bunuh?"
Yehwa membeku. Lilian menyentuh dadanya—tepat di jantung.
"Dia akan pergi. Meninggalkanmu. Seperti ibumu pergi. Seperti rakyatmu pergi. Kau akan sendirian."
Yehwa merasa duniama hancur. Ia melihat Yun-seo di kejauhan, berbalik, berjalan pergi.
"Jangan..." bisiknya. "Jangan tinggalkan aku..."
Tapi Yun-seo terus pergi, menghilang dalam bayangan.
Yehwa jatuh berlutut. Rasa sakit itu nyata—lebih nyata dari apa pun. Ia merasa kehilangan segalanya.
Tapi di tengah keputusasaan itu, ia ingat kata-kata Yun-seo.
"Kau berbeda. Karena kau menyesal. Karena kau bertanya."
Ia bangkit. Lilian masih di depan, tersenyum puas.
"Zirah ini tidak bisa mengalahkanku," kata Yehwa, suaranya bergetar tapi tegas. "Karena aku sudah menghadapi ketakutan terbesarku—dan aku masih di sini."
Lilian mengernyit. Yehwa melangkah maju, menembus bayangan itu.
"Ibu, rakyatku, Yun-seo—mereka semua bagian diriku. Tapi aku tidak akan biarkan masa lalu menghancurkanku. Aku akan maju. Untuk mereka. Untuk diriku."
Bayangan itu hancur. Lilian menjerit, lalu sirna.
Yehwa membuka mata. Ia masih di ruang bawah tanah. Song Myung-ho dan para biksu menatapnya dengan takjub.
"Satu jam penuh," bisik Song Myung-ho. "Kau bertahan."
Yehwa tersenyum lelah. "Aku lulus?"
Kepala biara itu mengangguk. "Kau lulus. Baju Zirah Iblis ini milikmu—setidaknya sampai misimu selesai."
Yehwa melepas zirah, melipatnya dengan hati-hati. Dalam hati, ia berterima kasih pada Yun-seo. Tanpa dia, mungkin ia sudah hancur dalam ujian itu.
---
Dua jam kemudian, Yehwa meninggalkan Kuil Matahari.
Song Myung-ho mengantarnya sampai gerbang.
"Kau pendekar luar biasa," katanya. "Aku harap kau berhasil melawan iblis itu."
Yehwa membungkuk hormat. "Terima kasih, Kepala Biara. Aku tidak akan lupa kebaikanmu."
"Lindungi desamu. Lindungi orang-orang yang kau cintai." Song Myung-ho tersenyum. "Itu tugas kita sebagai pendekar."
Yehwa mengangguk, lalu berbalik. Ia menuruni seribu anak tangga dengan langkah ringan. Di tangannya, bungkusan berisi Baju Zirah Iblis. Di dadanya, rasa syukur pada manusia yang baik hati.
"Maaf," bisiknya dalam hati. "Maaf harus menipumu. Tapi ini untuk kebaikan yang lebih besar."
Ia berlari meninggalkan Gunung Taebaeksan, kembali ke akademi—kembali pada Yun-seo.
---