NovelToon NovelToon
Antara Cinta Dan Dendam

Antara Cinta Dan Dendam

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Romansa Fantasi / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: ches$¥

melda, seorang wanita muda yang di hantui kematian tragis kakak nya bernama wulan. dan bertekad membalas dendam kepada agung perdana Kusuma putra konglomerat dan pewaris Kusuma grup yang telah menghamili dan menolak bertanggung jawab hingga membuat wulan depresi dan mengakhiri hidupnya. namun ditengah rencana balas dendam yang matang. melda justru terjebak dalam pusaran perasaan yang menguji batas antara cinta dan dendam

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ches$¥, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bayang bayang pilihan

Minggu-minggu setelah hujan di atap gedung, kehidupan Wulan dan Agung berjalan perlahan. Keduanya belajar menata dunia yang lebih kecil, lebih jujur, dan lebih sederhana. Namun kebahagiaan yang tampak tenang itu segera diguncang oleh badai baru, bukan dari dunia luar yang biasa, tapi dari akar kehidupan Agung sendiri.

Suatu sore, Agung menerima telepon yang membuat tangannya dingin. Nada suara di seberang sana datar, tapi setiap kata tersisip ancaman tersamar..

“Kamu pikir bisa melawan keluarga selamanya? Jika kamu tetap bersikeras memilih Wulan, ingat… konsekuensinya akan langsung menimpa dia.”

Agung menelan ludah. Hatinya bergetar. “Apa maksudmu?” tanyanya.

“Dia akan hilang Untuk selamanya!. Bukan kabur, bukan menjauh. Hilang dari dunia ini, jika kamu tetap bersikeras. Pilihannya ada padamu.”

Ruang di sekelilingnya terasa menutup. Agung berdiri dari kursinya, menatap jendela dengan mata kosong. Ia memegang telepon erat, tapi suara Wulan yang mengisi pikirannya lebih keras daripada kata-kata di telinga " Aku memilih kamu".

Ia tahu ini bukan ancaman kosong. Keluarga Agung yang memiliki jaringan dan kekuasaan yang tidak main-main. Bukan sekadar bisnis. Bukan sekadar reputasi. Mereka mampu menghapus seseorang dari kehidupan, tanpa jejak.

Agung menutup telepon dengan tangan gemetar. Dunia yang ia pilih bersama Wulan tiba-tiba terasa rapuh, seolah satu langkah salah bisa menghancurkan segalanya.

Wulan menunggu di apartemen saat Agung pulang. Senyumannya cerah seperti biasa, tapi matanya menyimpan tanya yang tak terucapkan.

“Ada apa?” tanya Wulan, duduk di sofa sambil menyeruput teh hangat.

Agung menghela napas panjang. Ia ingin berbicara, ingin menjelaskan, tapi kata-kata tersangkut di tenggorokan. Akhirnya ia hanya duduk di sebelah Wulan, memandang lurus ke matanya.

“yank… aku harus pergi,” ucapnya pelan.

Wulan menoleh, kaget. “Pergi? Maksudmu…?”

Agung menggigit bibirnya. “Ini… bukan karena aku berhenti mencintaimu. Aku… aku masih ingin kita, yank. Tapi aku tidak bisa menanggung risiko untukmu. Keluargaku… mereka” Suaranya terputus. Ia menelan ludah, menunduk. “Mereka bisa… menghancurkanmu. Kalau aku tetap di sini.”

Wulan merasa dunia di sekelilingnya runtuh. Napasnya tersengal, tapi ia menahan diri untuk tidak menangis. “Agung… kamu nggak bisa menyerah begitu saja. Kita bisa”

“Tidak, lan!” potong Agung dengan suara bergetar. “Aku tidak ingin melihatmu hilang. Aku tidak akan hidup dengan rasa bersalah sepanjang hidupku karena keluarga memilih menghapusmu!”

Diam menyelimuti ruangan. Lampu apartemen kecil itu menerangi wajah mereka Wulan yang pucat, Agung yang tegang.

Wulan meraih tangan Agung, menggenggamnya erat. “Kamu tetap bisa melawannya. Bersama aku.”

Agung menatap genggaman itu, hatinya remuk. “wulan… aku tidak punya kekuatan untuk melawan mereka. Mereka bisa menghapusmu, benar-benar… dan aku… aku tak bisa menghadapi itu. Aku… aku memilih kamu tetap hidup.”

Hati Wulan mencelupkan diri dalam kepedihan. Ia ingin memprotes, memohon, menahan, tapi kata-kata itu terlalu berat untuk diucapkan. Agung menunduk, menahan air mata sendiri, mencoba terlihat tegar.

“Ini… bukan karena aku tidak mencintaimu. Aku mencintaimu lebih dari hidupku sendiri. Tapi… kadang cinta harus berkorban, bahkan jika itu membuatmu hancur di dalam.”

Ia berdiri perlahan, melepaskan tangan Wulan. Rasanya seperti merobek hatinya sendiri. Wulan menatapnya, menahan tangis, merasakan dunia runtuh di sekelilingnya.

“Apa… apa ini berarti kita selesai?” suaranya pelan, hampir berbisik.

Agung menunduk, menutup wajahnya dengan tangan. “Aku tidak ingin kita selesai, Lun… tapi aku harus pergi. Kalau aku tetap di sini, mereka akan datang untukmu. Aku… aku tidak bisa mengambil risiko itu.”

Malam itu, Wulan terjaga lama. Matanya menatap langit-langit apartemen, bayangan Agung menempel di setiap sudut pikirannya. Ia tahu, keputusan itu bukan karena cinta Agung memudar. Bukan karena ia tidak berharga. Tetapi karena cinta Agung begitu besar, ia rela mengorbankan kebahagiaannya sendiri demi keselamatan Wulan.

Di sisi lain, Agung mengemasi barang-barangnya dengan tangan gemetar. Setiap benda yang ia sentuh seperti memori hidup mereka berdua. Ia ingin berlari kembali ke Wulan, ingin memeluknya, menjanjikan bahwa semuanya akan baik-baik saja, tapi ancaman keluarga terus menghantuinya.

Ketika akhirnya ia menatap wajah Wulan untuk terakhir kali, mata mereka bertemu. Mata yang berair, mata yang penuh luka, tapi juga mata yang memahami. Tidak ada kata “selamat tinggal.” Hanya keheningan yang menelan semua kata-kata.

Agung meninggalkan apartemen itu di tengah hujan malam. Hujan deras menyentuh wajahnya, membasahi rambut dan jaketnya, tapi tidak mampu membasahi rasa sakit di dadanya.

Hari-hari berikutnya terasa hampa bagi Wulan. Tiap pesan kosong, tiap dering telepon yang tidak pernah diangkat, membuatnya sadar bahwa dunia Agung kini terlalu jauh. Ia menatap ponselnya setiap saat, berharap ada kabar, tapi tidak ada.

Sementara itu, Agung hidup dalam ketegangan yang sama, menatap foto Wulan di ponselnya diam-diam. Setiap detik jauh dari Wulan adalah detik yang terasa seperti dosa,bukan dosa cinta, tapi dosa ketidakmampuan melindungi orang yang dicintai.

Di tengah kesunyian itu, Wulan memutuskan untuk pergi ke taman kota. Ia duduk di bangku yang biasa ia dan Agung kunjungi, memandangi cahaya lampu yang memantul di jalan basah. Dalam hati, ia mencoba mengerti keputusan Agung.

“Dia pergi bukan karena tak cinta,” bisiknya pelan. “Dia pergi karena takut kehilangan aku. Karena mencintai aku terlalu banyak…”

Air mata akhirnya jatuh. Tapi bukan air mata putus asa. Ia menangis untuk menghormati cinta yang terlalu besar untuk tetap bersama dalam dunia yang salah.

Agung sendiri, di kota lain, berjalan sendirian di jalan hujan. Jaket basah, sepatu kotor, tapi mata tetap menatap lurus ke depan. Ia tahu setiap langkah menjauh dari Wulan adalah langkah yang menyelamatkan nyawanya. Tapi hatinya remuk.

Malam itu, di bawah lampu jalan yang berkelap-kelip, ia memegang ponselnya, menatap foto Wulan yang sedang tersenyum di apartemen mereka. Ia membisikkan sesuatu pada dirinya sendiri.

“wulan… aku mencintaimu lebih dari segalanya. Aku memilih hidupmu, meski itu berarti aku harus memilih sendiri.”

Hujan turun lebih deras, menutupi isak tangis yang tak terdengar siapa pun. Dunia mereka kini terpisah oleh bayangan keluarga, kekuasaan, dan risiko yang tidak bisa dinegosiasikan.

Wulan dan Agung belajar satu hal yang menyakitkan. cinta yang paling tulus kadang bukan tentang berada bersama. Kadang, cinta terbesar adalah melepaskan meski setiap sel tubuhmu menolak, meski hati terasa sobek, meski dunia terasa hampa.

Namun di kedalaman itu, ada benih harapan. Mereka berdua tahu bahwa cinta mereka nyata. Tidak hilang, tidak memudar. Hanya tersembunyi, menunggu saat yang lebih aman untuk bertemu lagi.

Di malam-malam sepi, Wulan menulis di jurnalnya.

“Aku masih mencintainya. Dan aku tahu, cinta itu tetap ada meski jarak dan waktu memisahkan. Kita hanya belum menemukan saat yang tepat untuk bersama. Aku percaya kita akan bertemu lagi, dalam dunia yang aman untuk kita berdua.”

Agung, di kota lain, menatap bulan yang sama dan menulis di catatan digitalnya.

“Aku harus menjaganya dari jauh. Aku harus melindunginya dengan segala cara, meski artinya aku kehilangan bersamanya. Tapi aku percaya, Wulan… suatu hari nanti, kita akan memilih kembali. Dan saat itu, dunia tidak akan bisa memisahkan kita lagi.”

Mereka terpisah. Mereka menderita. Tapi cinta mereka tetap hidup.

Tidak ada tepuk tangan, tidak ada sorak sorai, tidak ada adegan dramatis di bawah hujan seperti film.

Hanya dua hati yang menanggung rasa sakit, menahan air mata, dan tetap percaya bahwa pilihan yang paling sulit untuk melepas orang yang dicintai demi keselamatannya adalah bukti cinta yang paling besar.

Dan meski dunia mungkin belum memberi mereka kesempatan lagi, mereka tahu satu hal,

Ketika waktu dan keadaan tepat, dua hati yang benar-benar saling memilih akan menemukan jalan mereka kembali.

Agung berjalan ke arah gelap kota, dan Wulan duduk di bangku taman yang basah. Di bawah langit yang sama, mereka menatap arah yang berbeda, tapi hati mereka tetap terikat dengan janji yang tidak diucapkan, tapi terasa lebih kuat daripada semua kata yang pernah mereka katakan.

Cinta mereka kini bukan tentang memiliki.

Cinta mereka adalah tentang melindungi.

Dan dalam perlindungan itu, mereka tetap bersama meski terpisah.

1
Hunk
Permintaannya sederhana. Namun tak mudah.
Paavey 2001: terkadang yg sederhana itu disepelekan/Frown/
total 1 replies
Hunk
Muda banget 24 tahun, udah di kasih beban hidup/Cry/
Paavey 2001: iya kak kasian yaa/Frown//Frown/
total 1 replies
«☆ ⃟⃟Ms•° Achaa♡
soalnya yg satu penub ambisi yg satunya cuma lembut dan menawan juga jadi admin di perusahaan kecil.
«☆ ⃟⃟Ms•° Achaa♡: selau ditunggu
total 2 replies
«☆ ⃟⃟Ms•° Achaa♡
Melda sama Wulan ini nanti kira kira kayaknya sifatnya berlaeanan dehh.
«☆ ⃟⃟Ms•° Achaa♡
bisa dijadiin puisi tentang senjaa ini.
Suka aku sama kaliamat nya kk kaya puisi apalagi kalo bacanya pake Nada.
Paavey 2001: hehe mencoba jadi puitis aja sih kak
total 1 replies
Paavey 2001
bukan lagi kakak udh ngalahin percintaan jendral tianfeng😁😁
Paavey 2001
tapi gk gt kak, baca seksama agar tidak galfok🤭
MARDONI
Aku suka banget hubungan kakak adik antara Wulan dan Melda di sini, hangat tapi juga bikin haru 😭 Wulan yang terus berusaha percaya sama Agung sementara Melda diam-diam khawatir itu kerasa banget emosinya. Apalagi di akhir pas Wulan bilang berharap cintanya cukup kuat… aduh rasanya hati ikut takut juga.
Paavey 2001: siapin tissue nya kak agar tidak terlihat orang lain😁
total 1 replies
izmie kim
tanggung jawab yang harus di ambil alih karena keadaan itu terkadang sebuah pengorbanan yang gak mudah banyak yang harus kita korbankan
Paavey 2001: betul banget kakak
total 1 replies
cimownim
semoga terwujud ya Wulan🤗
Paavey 2001: amiin kakak
total 1 replies
SarSari_
semua perempuan kayaknya harapannya gini deh ya🫣
Paavey 2001: semoga harapan kakak disegerakan ya
total 1 replies
putrijawa
cinta mereka cukup berat cobaannya
Indira Mr
Ujian Wulan dan Agung dengan status yg berbeda..semoga mereka kuat 💙💙💙
Indira Mr
Wulan mulia kakak yg bertanggung jawab 😂😂😂💙
Paavey 2001: heheh iya kak, sama seperti kakak juga ya🤭
total 1 replies
Paavey 2001
hehe gk bisa kak udah alur cerita nya begitu 😁 melda juga bagus kok kak gk kalah jauh dengan wulan nantikan aja bab selanjutnya dijamin lebih bagus
Emi Sudiarni
seru bngat. jgn di matikan wula👍n nya ya thor
Paavey 2001
Terima kasih kakak cantik
chiechie kim
aku suka cerita nya
Emi Sudiarni
bgus bngat meng hari biru.. tpi sayang bngat si wulan hrus di matikan, pd hal sdah terbiasa dgn sosok wulan, klw di gantikan melda sy kira udah kurang menarik lgi utk di baca
Paavey 2001: tunggu kelanjutan nya aja ya kak dijamin bagus
total 1 replies
Paavey 2001
jelek ya kak cerita nya/Frown/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!