NovelToon NovelToon
MY HIJABI FIGHTER : Menikah Dengan Duda ES

MY HIJABI FIGHTER : Menikah Dengan Duda ES

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:22.9k
Nilai: 5
Nama Author: Ramanda

Nayla Safira Hanin adalah siswi jenius yang lebih suka tidur di atap sekolah daripada di kelas. Namun di balik hijabnya, ia adalah petarung jalanan tak terkalahkan yang sanggup melumpuhkan lawan dalam hitungan detik. Kebebasannya terenggut saat dosa masa lalu sang ayah terungkap: setahun lalu, ayahnya tak sengaja menabrak istri seorang konglomerat hingga tewas.
Keluarga Hasyim datang bukan untuk meminta ganti rugi uang, melainkan "hutang nyawa". Nayla dipaksa menikah dengan Adnan Hasyim, pria dingin yang membenci keluarga Nayla sedalam cintanya pada mendiang istrinya. Adnan hanya butuh pengasuh untuk putrinya, Adiva, yang berhenti bicara sejak kecelakaan tragis itu.
Kini, Nayla terjebak sebagai istri dari pria yang menganggapnya beban sekaligus musuh. Adnan tak menyadari bahwa istri "kecil" yang tengil ini adalah satu-satunya pelindung yang akan mempertaruhkan nyawa saat musuh bisnis mulai mengincar keluarganya. Mampukah kepalan tangan Nayla meruntuhkan tembok kebencian Adnan,?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ramanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

ISTRI BARBAR.

Kepulauan Seribu menyambut keluarga kecil itu dengan embusan angin laut yang menyegarkan. Adnan duduk di kursi rodanya di teras vila apung yang mewah, menatap hamparan air laut yang jernih. Karena kaki kanannya masih dibalut gips yang cukup berat, gerakannya sangat terbatas. Dion sengaja diperintahkan tetap di Jakarta untuk mengurus kantor, yang berarti seluruh tugas menjaga Adnan kini jatuh ke tangan Nayla.

"ByBy, jangan melamun terus! Ayo cepat, waktunya ganti baju pantai! Masa ke laut pakai kemeja kantor, nanti ikan-ikannya pada minder dikira mau dirapat lobi!" seru Nayla yang tiba-tiba muncul sambil menggendong Adiva di pundaknya.

Adnan menoleh dengan wajah pasrah. "Nayla, membantu saya berpindah saja sudah sulit, sekarang kamu mau saya pakai baju apa? Kaki saya ini berat, jangan buat saya tambah pusing."

"Tenang saja, serahkan pada asisten pribadi paling kece sedunia! Bapak cukup diam seperti patung selamat datang, biar saya yang eksekusi," jawab Nayla semangat.

Nayla meletakkan Adiva di atas kasur, lalu mulai membantu Adnan melepas kemejanya. Karena posisi Adnan yang duduk ditepi ranjang, Nayla harus berdiri sangat dekat, bahkan napas Nayla terasa di leher Adnan. Saat jemari Nayla bergerak lincah membuka kancing kemeja satu per satu, suasana yang tadinya penuh canda mendadak berubah menjadi canggung.

Adnan menatap wajah Nayla yang sedang serius bekerja. Wajah yang biasanya penuh coretan atau keringat itu kini nampak sangat bersih dan sangat dekat. Adnan sengaja memajukan wajahnya sedikit, ingin mengetes nyali istrinya.

"Kenapa diam saja? Biasanya mulutmu tidak bisa berhenti mengoceh," bisik Adnan tepat di telinga Nayla.

Nayla tersentak, jantungnya tiba-tiba melakukan gerakan salto yang tidak pernah ia pelajari di klub silat. Ia segera mendorong dada Adnan pelan agar ada jarak di antara mereka.

"Aduh ByBy! Jangan dekat-dekat kenapa sih! Muka Byby itu sudah kayak barang antik, kalau dilihat terlalu dekat nanti saya kaget dikira lihat fosil hidup!" seru Nayla sambil membuang muka, mencoba menyembunyikan semburat merah di pipinya.

"Fosil hidup? Kamu baru saja menghina suamimu yang tampan ini?" Adnan tertawa kecil, merasa gemas melihat Nayla yang mulai salah tingkah.

"Ahiis... Habisnya Bapak itu tua! Beda jauh sama saya yang masih kembang desa yang baru mekar! Sudah ah, ayo cepat ke kamar mandi, Byby harus dibersihkan sebelum kita ke pantai!" Nayla segera menarik lengan Adnan untuk berpindah ke kursi roda, lalu mendorongnya menuju kamar mandi dengan kecepatan yang tidak santai.

Membantu Adnan di kamar mandi ternyata jauh lebih mendebarkan bagi Nayla. Ia harus memegang pinggang Adnan agar pria itu tidak terpeleset saat berpindah ke kursi khusus mandi. Setiap kali kulit mereka bersentuhan, Nayla merasakan sensasi aneh yang membuatnya ingin segera melarikan diri ke kutub utara.

"ByBy, pegangan yang kuat ya! Kalau Byby jatuh dan gipsnya pecah, saya nggak mau tanggung jawab kalau kalau kaki Byby harus disambung pakai lem korea!" ucap Nayla sambil menahan beban tubuh Adnan.

Adnan melingkarkan lengannya di bahu Nayla, wajahnya kembali mendekat hingga hidung mereka hampir bersentuhan. "Nayla, kenapa jantungmu berdetak kencang sekali? Saya bisa merasakannya dari sini. Apa kamu sedang jatuh cinta pada fosil ini?"

Nayla membelalakkan mata, ia segera memalingkan wajah ke arah bak mandi. "Ini... ini namanya efek kurang olahraga, By! Bapak itu beratnya kayak beban hidup, makanya jantung saya kerja lembur! Sudah, diam jangan banyak tanya, atau saya siram pakai air dingin satu ember!"

Setelah drama kamar mandi selesai, mereka akhirnya keluar menuju pantai. Nayla sudah menyiapkan tikar besar di bawah pohon kelapa yang teduh. Adiva nampak sangat senang. Sejak kejadian di meja makan waktu itu, di mana ia pertama kali memanggil "Myma", kemajuan bicaranya memang perlahan tapi pasti.

"Myma! Lihat! Ikan!" seru Adiva sambil menunjuk ke arah air dangkal. Suaranya kini lebih bertenaga, tidak seserak dulu lagi.

Nayla berlari kecil menghampiri Adiva, lalu menggendongnya. "Iya sayang, ikannya lagi main petak umpet. Ayo kita kejar!"

Adnan melihat pemandangan itu dari kejauhan dengan senyum yang tak kunjung hilang. Ia teringat bagaimana dulu Adiva hanya diam membisu, dan sekarang, berkat ketengilan dan kasih sayang Nayla yang "barbar", putrinya kembali menemukan suaranya.

"Nayla! Sini, jangan terlalu ke tengah!" teriak Adnan memperingatkan.

Nayla kembali ke tikar sambil membawa segenggam pasir yang sengaja ia jatuhkan di kaki Adnan. "Tenang saja, Pak Es! Saya ini mantan juara renang antar panti asuhan, nggak bakal hanyut!"

Sore harinya, saat matahari mulai condong ke barat, Adnan mengeluarkan sebuah laptop dari tasnya. Liburan ini bukan sekadar santai, karena ada masa depan Nayla yang harus segera diputuskan.

"Nayla, duduk di sini. Kita harus selesaikan pendaftaran kuliahmu secara online. Saya tidak mau kamu ketinggalan jadwal hanya karena sibuk main pasir," kata Adnan tegas.

Nayla cemberut, ia duduk bersila di samping Adnan sambil memangku Adiva. "Yah, ByBy... lagi asyik liburan kok bahasanya pendidikan. Byby mau saya masuk jurusan apa memangnya? Jangan bilang jurusan teknik mesin ya, saya nggak mau jadi montir!"

"Saya sudah memikirkan ini matang-matang. Saya ingin kamu masuk jurusan Manajemen Bisnis. Kamu punya insting yang tajam, berani, dan jujur. Jika kamu belajar ilmunya, kamu bisa membantu saya mengelola perusahaan suatu saat nanti," jelas Adnan sambil menunjukkan brosur universitas di layar.

Nayla menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Manajemen Bisnis? Waduh, By. Saya itu jagonya manajemen konflik pakai urat, bukan pakai otak bisnis. Nanti kalau ada rapat direksi, terus saya nggak setuju sama keputusan klien, apa boleh saya kasih tendangan tanpa bayangan?"

Adnan tertawa terbahak-bahak hingga perutnya sakit. "Tentu saja tidak boleh, Nay. Tapi saya yakin kamu bisa. Kamu juara umum di sekolah, itu bukti otakmu encer. Saya akan membimbingmu sendiri di rumah."

"Ya sudah, demi surga dan demi Byby yang sudah mau repot-repot bayarin kuliah, saya manut. Tapi syaratnya satu ya By," ucap Nayla sambil menatap Adnan dengan tatapan serius.

"Apa syaratnya?"

"Kalau saya pusing belajar statistik atau ekonomi, Byby harus siap jadi samsat silat saya! Byby harus rela saya jadikan sasaran pukulan pelan biar stres saya hilang!" sahut Nayla sambil tertawa tengil.

Adnan menarik hidung Nayla dengan gemas. "Dasar istri barbar! Iya, saya setuju. Selama kamu tidak benar-benar mematahkan tulang saya yang lain."

Adiva yang melihat interaksi itu ikut tertawa. "Ayah... Myma... lucu."

Suasana sore itu terasa begitu sempurna. Namun, di tengah tawa mereka, Adnan menyadari satu hal. Nayla bukan lagi sekadar gadis yang ia nikahi karena paksaan atau hutang budi. Nayla telah menjadi jantung bagi rumah tangganya.

Malam mulai turun, Nayla membantu Adnan kembali ke dalam villa. Saat ia sedang membantu Adnan berbaring di tempat tidur, tangan Adnan tiba-tiba menahan pergelangan tangan Nayla. Cahaya lampu tidur yang temaram membuat suasana semakin intim.

"Nayla, terima kasih. Untuk segalanya. Untuk Adiva, dan untuk tetap sabar mengurus laki-laki pincang ini," ucap Adnan tulus, matanya menatap dalam ke netra Nayla.

Nayla terdiam seribu bahasa. Jantungnya kembali berdisko, kali ini dengan tempo yang lebih cepat. Ia merasakan wajahnya memanas. Tanpa sadar, ia bergumam pelan. "Iya ByBy... sama-sama. Tapi nggak usah pakai tatapan begitu, saya jadi berasa mau dihipnotis!"

Nayla segera melepaskan pegangan tangan Adnan dan berlari menuju sofa tempat ia tidur. Ia membungkus dirinya dengan selimut tebal sampai hanya matanya yang terlihat. Di balik selimut, ia menggerutu pada dirinya sendiri.

"Duh, kenapa sih setiap dekat ByBy saya jadi begini? Pasti karena efek laut ini mah, bikin oksigen jadi aneh!" bisik Nayla pada bantalnya.

Adnan hanya bisa tersenyum menatap gundukan selimut di sofa. Ia tahu, meskipun Nayla selalu menepis dengan candaan, perasaan di antara mereka mulai tumbuh dengan cara yang paling unik. Namun, ketenangan itu terusik saat ponsel Adnan yang tergeletak di nakas bergetar.

Ada sebuah notifikasi dari sistem keamanan rumahnya di Jakarta yang terhubung ke ponselnya. Seseorang baru saja mencoba meretas data pribadi Nayla di database pendaftaran kuliah yang baru saja mereka kirimkan.

Adnan memicingkan mata. Ternyata liburan ini tidak akan sepenuhnya tenang. Musuh-musuh bisnisnya, atau siapapun di balik "The Architect", masih terus mengintai setiap langkah mereka.

1
Ayu
Lg seru2 nya tunggu update lg ya thor💪🙏
Tasmiyati Yati
penguntit tiap hari memang gak ada kerjaan
Tasmiyati Yati
memang tadi Farah tidak ikut sekoalh
Tasmiyati Yati
kalau pakai dalaman lejing copot saja rok plis Ket nya biar gampang nyerang preman
Mineaa
waaahhh lope lope sekebon Nayla.......
kuueeeereeeeennnnn..........🌹🔥🔥🔥🔥🔥
Tasmiyati Yati
masih susah banget sih
Tasmiyati Yati
maaf kak author dari tadi gak bisa like gagal terus
Tasmiyati Yati
sak karepmu lah gagal terus bikin esmosi😡
Tasmiyati Yati
ini jaringan lagi main kemana sih kok susah banget sinyal nya
Tasmiyati Yati
kemana adiva jarang nongol biar tambah seru
Tasmiyati Yati
mulai suka tuh si bos
Sunaryati
Makin tersepona kan, Byby
Tasmiyati Yati
baru beberapa hari jadi istri sdh mulai luluh
Tasmiyati Yati
nanti jadi bucin malu sendiri Adnan
Tasmiyati Yati
happy banget aku baca novel ini semoga di akhir tidak mengecewakan
Tasmiyati Yati
ya karena adiva baru pertama melihat orang cerewet tapi lucu ya diva
Tasmiyati Yati
senang kalau baca novel ada komedinya
Tasmiyati Yati
kenapa gagal melulu kasih komentar
Tasmiyati Yati
mampir baca semoga jadi fans kak
Cintya Tya
lanjut thor... 👍👍👍👍👍👍👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!