Wei Chen, CEO perusahaan teknologi dan energi terkemuka di Asia Tenggara, mati di usia 40 tahun karena diracun oleh rekan bisnisnya sendiri, Hartono Lim — orang yang selama 15 tahun ia percayai.
Namun takdir berkata lain. Wei Chen terbangun di tubuh seorang pemuda di dunia asing: Shenzhou, dunia Murim yang dihuni para kultivator, pedang terbang, dan klan-klan besar yang menguasai segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saundra Handara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
RENCANA BALAS DENDAM
Seminggu setelah Jarwo menjadi mata-mata ganda...
Desa Qinghe berjalan seperti biasa. Pagi-pagi, para petani berangkat ke sawah. Ibu-ibu pergi ke pasar. Anak-anak bermain di jalan.
Tapi di balik ketenangan itu, ada perang diam-diam yang sedang berlangsung.
Wei Chen duduk di kantornya, membaca laporan dari Jarwo. Setiap tiga hari, pemuda itu mengirim kabar lewat surat yang disembunyikan di lubang pohon dekat sungai.
Isinya selalu sama: Hartono percaya Wei Chen pergi ke utara. Hartono menunggu waktu yang tepat untuk menyerang.
Lim Xiu masuk, meletakkan secangkir teh di meja.
"Kabar dari Jarwo?"
Wei Chen mengangguk. "Dia masih dipercaya."
"Syukurlah." Lim Xiu duduk. "Tapi berapa lama bisa bertahan?"
"Tidak tahu. Tapi selama dia bisa beri informasi, kita untung."
Lim Xiu menghela napas. "Kau punya rencana selanjutnya?"
Wei Chen diam. Lalu mengeluarkan peta dari laci.
"Ini." Dia membentangkan peta di meja. "Peta wilayah timur. Ada tiga jalur utama yang bisa dipakai Hartono untuk serang kita."
Lim Xiu mendekat. Wei Chen menunjuk satu titik.
"Jalur utara — lewat hutan. Ini jalur tercepat, tapi sempit. Mudah dihadang."
"Jalur timur — lewat sungai. Lambat, tapi bisa bawa banyak pasukan."
"Jalur selatan — lewat jalan besar. Cepat, tapi mudah terlihat."
Lim Xiu mengangguk. "Kita jaga semua?"
"Tidak bisa. Terlalu banyak orang." Wei Chen menatapnya. "Tapi kita bisa pasang jebakan."
"Jebakan?"
"Di setiap jalur, kita siapkan kejutan." Wei Chen tersenyum tipis. "Batu besar yang bisa dijatuhkan. Lubang jebakan. Pohon tumbang."
Lim Xiu mengangkat alis. "Kau tahu cara buat semua itu?"
"Aku belajar dari buku. Dan dari pengalaman." Wei Chen tidak menjelaskan lebih lanjut.
Lim Xiu menghela napas. "Kau benar-benar aneh."
"Aku tahu."
---
Sore harinya, Wei Chen mengumpulkan para pemuda desa.
Jarwo di antara mereka — pura-pura biasa saja, meski hatinya hancur.
Wei Chen menjelaskan rencana.
"Kita akan pasang jebakan di tiga jalur. Jalur utara, timur, dan selatan."
Para pemuda itu mendengar dengan serius.
"Jarwo, kau pimpin kelompok utara." Wei Chen menatapnya. "Kau paling tahu medan di sana."
Jarwo mengangguk. "Siap, Tuan."
"Joko, kau pimpin timur. Budi, kau pimpin selatan."
Mereka mengangguk.
"Kita punya waktu satu minggu." Wei Chen menatap mereka satu per satu. "Setelah itu, Hartono mungkin serang. Kita harus siap."
Para pemuda itu berteriak semangat. Wei Chen hampir tersenyum.
Mereka baik. Mereka pantas dilindungi.
---
Malam harinya, Wei Chen duduk bersama Mei Ling di beranda.
Bulan mulai muncul. Bintang-bintang bertaburan.
"Chen, kau yakin rencana ini berhasil?"
"Tidak ada yang yakin dalam perang." Wei Chen menghela napas. "Tapi setidaknya kita coba."
Mei Ling meraih tangannya. "Aku bangga padamu."
"Bangga kenapa?"
"Kau lindungi desa ini. Kau lindungi aku." Matanya lembut. "Kau berubah, Chen. Dari orang dingin jadi... hangat."
Wei Chen diam. Dia juga merasakan perubahan itu.
"Mungkin karena kau," katanya pelan.
Mei Ling tersenyum. Memeluknya.
Mereka berpelukan lama. Hangat.
---
Di ibu kota, Hartono menerima laporan dari Jarwo — laporan palsu yang dibuat Wei Chen.
"Wei Chen masih di utara. Desa lemah. Siap serang."
Hartono tersenyum.
"Mei Hua," panggilnya.
Mei Hua masuk. "Tuan?"
"Siapkan pasukan. 200 orang. Level menengah."
"Kapan, Tuan?"
"Tiga hari lagi." Hartono menatap peta. "Kita serang malam hari. Saat mereka tidur."
Mei Hua mengangguk. "Baik, Tuan."
Setelah Mei Hua pergi, Hartono duduk diam.
Wei Chen... kau pikir kau bisa sembunyi di utara?
Kali ini, aku akan hancurkan semua yang kau bangun.
---
Tiga hari kemudian...
Malam itu gelap. Bulan tertutup awan. Angin dingin berembus.
Di Desa Qinghe, semua lampu padam. Sepi. Hanya suara jangkrik.
Pasukan Hartono bergerak dari tiga arah — utara, timur, selatan. Mereka yakin desa itu tidak siap.
Tapi saat mereka memasuki jalur utara...
Brukk!
Batu besar jatuh, menimpa 20 orang. Lubang jebakan menelan 30 lainnya. Pohon tumbang menghadang jalan.
Di jalur timur, perahu-perahu mereka karam terkena ranjau sederhana — anyaman bambu dengan duri di bawah air.
Di jalur selatan, panah-panah beracun melesat dari kegelapan, melukai puluhan prajurit.
Kekacauan.
Pemimpin pasukan berteriak, "Mundur! Mundur! Ini jebakan!"
Tapi terlambat. Dari kegelapan, para pemuda desa muncul. Mereka menyerang dengan tombak dan pedang, memanfaatkan kekacauan.
Pertempuran itu berlangsung satu jam.
Saat fajar tiba, 100 prajurit Hartono tewas. 50 luka-luka. Sisanya kabur.
Desa Qinghe selamat.
---
Pagi harinya, Wei Chen berdiri di tengah jalan, menatap mayat-mayat berserakan.
Mei Ling di sampingnya, tangannya gemetar.
"Ini... ini mengerikan."
"Iya." Wei Chen menghela napas. "Tapi ini perang."
Guru Anta mendekat. "100 tewas. 50 tawanan. Sisanya kabur."
Wei Chen mengangguk. "Bagaimana dengan kita?"
"10 luka ringan. Tidak ada yang tewas." Guru Anta tersenyum. "Kau jenius, Wei Chen."
"Bukan jenius. Hung untung."
Mereka tertawa kecil. Tapi tawarnya getir.
---
Di ibu kota, Hartono menerima kabar kekalahan.
Wajahnya merah padam. Tangannya mengepal hingga berdarah.
"Jebakan?! Mereka pasang jebakan?!"
Asistennya gemetar. "Maaf, Tuan... kami tidak tahu..."
"Tidak tahu?! Kau tim intelijen!" Hartono melempar vas bunga ke dinding. "Kau bilang desa itu lemah! Kau bilang mereka tidak siap!"
Asistennya diam. Tidak berani menjawab.
Hartono duduk. Napasnya berat.
"Wei Chen..." Dia menggumam. "Kau benar-benar pintar."
Mei Hua masuk dengan hati-hati. "Tuan, bagaimana dengan Jarwo?"
Hartono diam. Lalu tersenyum — senyum dingin.
"Dia mata-mata ganda. Bunuh dia."
Mei Hua mengangguk. "Segera."
---
Di Desa Qinghe, Jarwo menerima kabar.
Wei Chen yang menyampaikan. Wajahnya sedih.
"Mereka tahu, Jarwo. Kau harus pergi."
Jarwo diam. Matanya kosong.
"Tapi... keluargaku..."
"Aku sudah kirim mereka ke tempat aman. Ke desa lain, di selatan." Wei Chen menepuk bahunya. "Kau akan ikut."
Jarwo menangis. "Maafkan aku, Tuan..."
"Kau sudah bayar kesalahanmu." Wei Chen menatapnya. "Pergi. Jaga ibumu. Jaga adikmu."
Jarwo pergi. Meninggalkan desa yang pernah dia khianati, tapi juga pernah dia lindungi.
---
Malam harinya, Wei Chen duduk bersama Mei Ling.
Mereka lelah. Tapi selamat.
"Chen... apakah ini akan berakhir?"
Wei Chen menggeleng. "Belum. Hartono tidak akan menyerah."
Mei Ling memeluknya. "Tapi setidaknya hari ini kita menang."
"Iya." Wei Chen mengusap rambutnya. "Hari ini kita menang."
Mereka berpelukan. Di luar, bintang-bintang mulai muncul.
Malam itu, untuk pertama kalinya dalam berminggu-minggu, Wei Chen tidur nyenyak.
---
Chapter 27 END.
---