Suami Ishani telah pergi, meninggalkan satu janji yang tidak pernah sepenuhnya ia pahami.
Kini Ishani berada di bawah satu atap dengan Langit, pria yang memiliki wajah yang sama seperti mendiang suaminya, tetapi tidak dengan hatinya.
Tatapan Langit selalu dingin.
Sikapnya penuh jarak.
Seolah kehadiran Ishani dan bayi di rahimnya adalah pengingat akan sesuatu yang ingin ia lupakan.
Ishani hanya ingin melahirkan dengan tenang.
Namun semakin lama ia tinggal di rumah itu, semakin ia menyadari bahwa yang sedang ia hadapi bukan sekadar hubungan ipar.
Ada luka lama.
Ada pengorbanan yang tak pernah benar-benar diterima.
Dan ada kecemburuan yang tumbuh diam-diam sejak mereka masih kecil.
Di antara bayi yang tak bersalah dan masa lalu yang belum selesai…
Ishani terjebak di tengah dua saudara yang dipisahkan oleh takdir.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shalema, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3: Duka kehilangan
Hari ini, dunia seakan berhenti.
Napas Ishani terasa pendek. Tangannya mengusap perutnya perlahan. Sejak pagi, bayinya bergerak lebih aktif dari biasanya, tendangan-tendangan kecil yang terasa seperti protes. Seolah ia juga merasakan sesuatu yang hilang.
Di ruang duka yang dipenuhi pelayat, Langit duduk mengenakan kaos hitam. Wajahnya tenang. Terlalu tenang bagi seseorang yang baru saja kehilangan separuh hidupnya.
Langit tidak menangis. Ia hanya duduk kaku, rahangnya mengeras. Namun ibu jarinya terus mengusap punggung tangan Biru, perlahan, tanpa sadar seperti kebiasaan lama yang tidak pernah hilang.
Bu Maura meraih tangan Langit. Namun jemarinya gemetar “Maaf…” lirihnya nyaris tidak terdengar.
Langit hanya mengangguk tipis. Tidak menjawab. Tidak menolak. Tidak menerima. Matanya menatap lurus ke depan. Tidak pada Ishani atau Bu Maura. Tidak pada jenazah. Tidak pada siapa pun.
Kosong.
Sosok itu… sekilas begitu mirip Biru.
Untuk sepersekian detik, Ishani ingin percaya ini semua hanya mimpi buruk. Ia hampir berdiri, hampir melangkah, hampir memanggil, “Mas…”
Namun suara itu berhenti di tenggorokannya.
Biru terbaring di sana, terbujur kaku. Wajahnya damai, terlalu damai untuk seseorang yang kemarin masih tertawa dan mengecup perut istrinya.
Ia tidak akan membuka mata lagi. Tidak akan tersenyum lagi. Tidak akan memanggilnya lagi. Lantunan doa menggema, bercampur isak tangis.
“Yang sabar ya, Isha…” seseorang berbisik sambil menggenggam tangannya.
Ishani mengangguk otomatis. Ia tidak tahu lagi seperti apa bentuk sabar dalam keadaan seperti ini.
Sepanjang hari itu, ia seperti boneka. Digerakkan dari satu ritual ke ritual berikutnya. Pandangannya kosong. Namun di dalam kepalanya, satu kalimat terus berputar tanpa henti.
Aku capek lihat Mas begini.
Kalimat terakhir yang ia ucapkan dengan nada marah. Seandainya ia bisa menarik kembali waktu. Seandainya ia tidak mengatakan itu.
Dadanya sesak.
Dari rumah duka menuju masjid, lalu ke pemakaman, Ishani berjalan tanpa benar-benar sadar. Keramaian di sekelilingnya terasa jauh. Ia sendirian di tengah ratusan orang.
Jenazah Biru diturunkan ke liang lahat. Dari bawah, tangan Langit terulur menerima tubuh adiknya. Gerakannya hati-hati, seakan takut menyakiti sesuatu yang sudah tidak bisa merasakan sakit.
Ketika tanah pertama dijatuhkan, bayi dalam kandungan Ishani bergerak keras.Tangisnya pecah lagi. Seolah ada protes kecil dari dalam rahimnya. Seolah anak itu juga tidak rela.
Langit berdiri di sisi liang lahat. Saat azan berkumandang, suaranya mengalun pelan.
Dan suara itu terlalu mirip. Nada yang sama. Tarikan napas yang sama.
Ishani menutup mata.
Di pagi-pagi sebelumnya, suara itu selalu ia dengar dari sisi ranjangnya. Sekarang, suara itu datang dari tanah yang mulai menutup tubuh suaminya.
Kakinya lemas. Dunia berputar.
Seketika sepasang tangan memeluknya dari samping. Hangat. Tegas. Menopang tubuhnya yang hampir jatuh.
Ishani menoleh.
Langit.
Untuk pertama kalinya sejak Biru pergi, mata mereka bertemu tanpa penghalang.
“Aku pegangi,” ujarnya singkat. Suaranya rendah, tertahan.
Ishani ingin menolak. Ingin berdiri sendiri. Tapi tubuhnya tidak mampu berpura-pura kuat. Ia membiarkan tangan Langit menopangnya saat tanah basah perlahan menutup seluruh tubuh suaminya.
Saat liang itu benar-benar tertutup, Ishani menyadari satu hal. Bukan hanya Biru yang pergi. Sebagian dari dirinya ikut dikubur bersama tanah itu.
Ishani kembali ke rumah menjelang magrib. Pintu yang biasanya dikunci Biru setiap malam kini terbuka lebar. Di dalam para pelayat dan kerabat berkumpul.
Mereka membicarakan kebaikan Biru. Tentang bagaimana ia selalu siap menolong. Tentang bagaimana ia mencintai ibunya. Tentang bagaimana ia memandang Ishani seperti dunia adalah miliknya.
Di dapur, terdengar dentingan logam beradu. Para ibu kerabat tengah menyiapkan panganan tahlil.
Tapi, bagi Ishani rumah terasa sunyi. Tidak ada lagi sosok Biru yang duduk di ruang TV menonton tim bola kesayangannya bertanding. Tidak akan ada teriakan senang saat timnya mencetak gol, atau suara yang menjelaskan para pemain dan aturan permainan pada Ishani.
Ishani beralih menatap kamar mandi. Tidak ada lagi suara yang akan memanggilnya, “Sayang, tolong ambil handuk.” Tidak akan ada lagi kejadian lucu, saat Biru tidak sengaja mencampurkan sabun mandi dengan shampo yang membuat rambutnya keriting.
Ishani duduk di meja makan. Ia mengelus alas meja perlahan. Kini tidak akan ada lagi suara biru yang bertanya dengan lembut, “Sayang, kamu mau makan apa? Kita pesan yuk.”
Air mata kembali berkumpul di pelupuk matanya. Bahunya bergetar.
“Kamu mau makan apa?”
Ishani mendongak.
Langit berdiri di hadapannya.
Sekali lagi, untuk satu detik, hatinya tertipu. Namun detik berikutnya ia sadar, mata itu berbeda. Tatapannya lebih berat. Lebih menyimpan luka.
Ishani menggeleng pelan.
Langit menghela napas. “Seharian ini kamu belum makan. Ingat bayimu.”
Tidak ada jawaban.
Untuk beberapa saat, Langit terus melihat Ishani. Ia kemudian beranjak ke halaman belakang. Di sana, ia kembali terduduk lemas. sesekali ia melirik Ishani yang masih mematung di meja makan.
Langit mengatupkan kedua tangan menutup wajahnya. Bahunya bergetar. Namun tidak ada suara tangis yang keluar.
Ia selalu menjadi yang kuat. Bahkan hari ini.
Malam semakin larut, pelayat, kerabat dan para tetangga melantunkan doa tahlil untuk Biru. Suara doa yang rendah dan merdu terdengar berirama.
Langit ada di antara mereka, mulutnya terkadang ikut membaca doa bersama, namun ada kalanya ia memejamkan mata dengan mulut tertutup seolah memanjatkan doa khusus untuk adiknya.
Ishani duduk membungkuk, tangannya terlipat di pangkuan. Matanya terus menatap foto Biru yang tersenyum lebar.
Saat doa terakhir dipanjatkan, untuk pertama kalinya hari itu ia benar-benar berdoa.
Semoga Allah menempatkanmu di tempat terbaik, Mas. Semoga Mas bahagia di sana. Air matanya jatuh tanpa bisa ditahan.
Hampir tengah malam, Ishani akhirnya memasuki kamar utama. Ranjang itu terlalu rapi. Ia duduk di sisi kirinya, tidak berani melewati garis tengah. Seolah sisi kanan masih milik Biru.
Ia berbaring perlahan. Tidak ada suara napas tenang di sampingnya. Tidak ada tangan yang menyentuh perutnya tanpa sadar. Tidak ada usapan lembut di rambutnya saat ia gelisah.
Air mata kembali mengalir.
“Isha…”
Bu Maura duduk di sampingnya membawa semangkuk makanan. “Makan sedikit saja. Bayimu butuh makan.”
Ishani bangkit pelan. Mengunyah dengan susah payah. Rasa makanan itu hambar seperti pasir.
“Biru sangat mencintaimu,” ucap Bu Maura lirih. “Dia pasti ingin kamu kuat.”
“Bu…” suara Ishani pecah. “Dia belum sempat melihat anaknya lahir.”
Air mata Bu Maura jatuh. “Ibu juga kehilangan anak, Isha. Tapi kita masih punya bagian dari dia.”
Tangan Ishani kembali menyentuh perutnya.
Malam itu, untuk pertama kalinya sejak menikah, ia tidur tanpa menggenggam tangan suaminya. Dan, Ishani menyadari satu hal yang menakutkan, pria yang paling mirip dengan suaminya… kini adalah satu-satunya orang yang tersisa untuknya.
walaupun keras, langit orangnya bertanggung jawab, dan kayaknya dia beneran sayang sama kamu dan baby kamu ishanii /Slight/
Semangat!