NovelToon NovelToon
Datuk Maringgih: Kubunuh Ayah Mertuaku Demi Republik

Datuk Maringgih: Kubunuh Ayah Mertuaku Demi Republik

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam
Popularitas:180
Nilai: 5
Nama Author: ayaelsa

"Ya Allah, ini ayah mertuaku... yang memberiku restu... yang kutitipi janji menjaganya."

Pedang di tangannya bergetar. Antara cinta pada Halimah dan cinta pada tanah air, ia harus memilih yang satu.

"Ayah... maafkan menantumu. Bukan karena aku tega, tapi karena tanah ini lebih besar dari cinta kita semua."

Pedang itu melesak. Bersamaan dengan ruh ayah mertuanya, ruh Maringgih pun ikut mati separuh.

---

Suara Nurani Halimah

Ia melihat dari kejauhan. Mulut terbuka, suara mati di tenggorokan.

"Suamiku... kau membunuh ayahku?"

Bukan marah yang pertama hadir. Tapi tanya yang lebih dalam:

"Berapa luka yang kau pendam, Maringgih, sampai kau sanggup melakukan ini?"

Air matanya jatuh untuk dua lelaki sekaligus. Untuk ayah yang rebah. Untuk suami yang kini harus hidup dengan bayangan mayat ayah mertuanya sendiri.

"Aku kehilangan ayah hari ini... tapi aku juga kehilanganmu, Maringgih."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayaelsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 22: SURAT YANG TIDAK PERNAH PULANG

Hari pertama setelah surat itu pergi, Halimah tidak bisa tidur.

Bukan karena tidak mengantuk. Tapi karena setiap kali memejamkan mata, ia membayangkan wajah Datuk Maringgih membaca tulisannya. Ekspresi apa yang akan muncul? Senyum? Kaget? Atau mungkin... jijik?

Ia membolak-balikkan badan. Guling dipeluk erat. Selimut ditendang lalu ditarik lagi. Lampu minyak sudah padam, tapi kamarnya terasa panas.

Ya Allah, apa yang sudah aku lakukan?

Pikirannya berputar seperti kaset rusak. Kalimat demi kalimat dari suratnya muncul bergantian.

"Kenapa Datuk tidak halalin saya saja?"

Ia menutup wajah dengan bantal. Malu. Sangat malu. Tapi di balik rasa malu itu, ada harapan kecil yang tidak bisa ia bunuh.

Mungkin ia akan tersenyum. Mungkin ia akan berpikir.

Atau mungkin...

Jangan pikir yang buruk-buruk, ia memaksa diri.

Tapi pikiran buruk itu tetap datang. Menyusup pelan, lalu menguasai.

---

Pagi tiba tanpa permisi. Mata Halimah sembab. Kantung mata hitam menghiasi wajahnya.

"Kenapa mata kamu sembab?" tanya Siti saat sarapan.

"Tidak tidur nyenyak, Bu," jawab Halimah lirih.

"Kenapa?"

Halimah diam. Tidak bisa menjawab. Karena bagaimana ia bisa bilang: Aku tidak bisa tidur karena memikirkan surat untuk Datuk Maringgih?

Untungnya, ayahnya tidak bertanya. Datuk Sulaiman sibuk dengan pikirannya sendiri. Makan cepat, lalu pergi.

Halimah menghela napas lega.

Tapi sepanjang hari itu, pikirannya tidak ke mana-mana. Hanya ke satu tempat: rumah Datuk Maringgih. Apakah surat itu sudah sampai? Apakah ia sudah membaca? Apakah ia akan membalas?

Setiap kali Mak Ijah lewat, jantungnya berdebar. Tapi perempuan tua itu selalu berjalan biasa, tanpa isyarat, tanpa kabar.

Belum sampai mungkin, pikirnya. Atau sudah sampai tapi ia belum sempat baca.

---

Hari kedua. Masih sama.

Halimah berdiri di jendela kamarnya berulang kali. Matanya memandang jalan setapak yang biasa dilalui Mak Ijah. Setiap bayangan muncul, jantungnya berdebar kencang. Tapi setiap kali bayangan itu ternyata bukan Mak Ijah, debar itu berubah jadi sesak.

Kenapa lama sekali?

Ia mencoba mengalihkan pikiran. Membaca buku. Membantu ibunya di dapur. Bermain sebentar dengan Usman dan Hasan. Tapi semua terasa hambar. Pikirannya selalu kembali ke satu titik.

Apakah ia marah?

Apakah ia menganggap aku lancang?

Apakah ia sudah punya calon?

Apakah aku hanya datang mengganggu hidupnya?

Pertanyaan-pertanyaan itu berputar tanpa henti. Dan tidak ada jawaban.

---

Hari ketiga.

Halimah mulai kehilangan nafsu makan. Siti khawatir.

"Nak, kamu sakit?"

"Tidak, Bu. Hanya tidak lapar."

Siti memegang dahi Halimah. Tidak panas. Tapi matanya kosong.

"Kamu memikirkan sesuatu?"

Halimah menggeleng cepat. Terlalu cepat.

Siti tahu itu bohong. Tapi ia tidak mendesak.

---

Malam ketiga. Halimah duduk di meja belajarnya.

Di depannya, kertas kosong. Pena di tangan.

Haruskah aku menulis lagi?

Pertanyaan itu bergulat di kepalanya. Satu sisi berkata: Jangan, kau akan terlihat murahan. Sisi lain membisikkan: Tapi kau tidak tahu apa yang terjadi.

Ia menulis satu kalimat. Lalu disobek.

Menulis lagi. Disobek lagi.

Empat kali. Lima kali. Enam kali.

Kertas-kertas robek berserakan di lantai. Halimah menangis diam-diam.

Kenapa susah sekali?

---

Hari keempat. Kelima. Keenam.

Halimah mulai menarik diri. Ia lebih banyak di kamar. Jarang bicara. Siti dan Zubaidah mulai curiga, tapi tidak ada yang bertanya.

Usman dan Hasan beberapa kali mengajaknya main, tapi Halimah selalu menolak dengan alasan pusing.

Di ruang tamu, Datuk Sulaiman sibuk dengan urusannya sendiri. Ia tidak memperhatikan perubahan putrinya.

Hanya Mak Ijah yang tahu. Tapi ia diam.

---

Malam keenam. Halimah mengambil keputusan.

Ia harus menulis lagi. Bukan surat cinta. Bukan surat berani seperti pertama. Tapi surat yang lebih sederhana. Surat yang hanya bertanya.

Ia mengambil kertas baru. Pena di tangannya bergetar. Lampu minyak di sampingnya menyala terang.

Kalimat pertama ia tulis, lalu dihapus. Tidak puas.

Kepada Datuk Maringgih,

Assalamu'alaikum...

Tidak. Terlalu formal. Atau terlalu dingin.

Ia mulai lagi.

Datuk, maaf jika surat ini mengganggu...

Lalu berhenti. Menggeleng. Disobek.

Kenapa sulit sekali?

---

Tiga kali. Empat kali. Lima kali.

Halimah menarik napas panjang. Menenangkan diri.

Tulis saja yang sederhana. Tidak perlu muluk-muluk. Tidak perlu pamer perasaan. Hanya tanya apa yang ingin kau tanyakan.

Akhirnya, ia mulai menulis. Perlahan, hati-hati, memilih setiap kata.

---

Kepada Datuk Maringgih,

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Datuk, maaf jika surat ini mengganggu waktu Datuk. Saya tahu Datuk sibuk dengan banyak urusan. Saya tidak bermaksud menjadi pengganggu.

Saya hanya ingin bertanya, apakah surat pertama saya sudah sampai dan dibaca? Jika sudah, saya tidak bermaksud mendesak. Saya hanya... ingin tahu. Karena selama ini saya hanya bisa menebak-nebak sendiri.

Apakah ada yang salah dengan surat saya? Apakah saya terlalu lancang? Atau mungkin ada hal lain yang membuat Datuk tidak bisa membalas?

Saya juga ingin bertanya, apakah Datuk sudah punya calon? Maaf jika pertanyaan ini keterlaluan. Tapi selama ini saya terus berpikir, jangan-jangan Datuk sudah punya seseorang, dan saya hanya... datang mengganggu.

Jika benar begitu, tolong beri tahu. Saya akan berhenti menulis. Saya tidak ingin menjadi beban atau mengganggu hidup Datuk.

Tapi jika ada alasan lain, saya hanya ingin tahu. Karena tidak tahu itu lebih sakit dari apa pun.

Maaf jika surat ini terlalu panjang. Maaf jika pertanyaan saya terlalu banyak. Saya hanya tidak tahu harus bagaimana lagi.

Terima kasih atas waktu Datuk membaca ini.

Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Halimah

---

Ia meletakkan pena. Membaca ulang sekali, dua kali, tiga kali.

Tidak ada kata cinta. Tidak ada pertanyaan lancang seperti surat pertama. Hanya pertanyaan-pertanyaan sederhana yang selama ini mengganggu pikirannya.

Apakah ini cukup?

Ia ragu. Tapi tidak punya pilihan lain.

Surat itu ia lipat rapi. Tidak diberi amplop—hanya dilipat kecil, dengan namanya di bagian luar.

Untuk Datuk Maringgih.

Ia menatap surat itu lama. Tangannya masih gemetar.

Besok, pikirnya. Besok akan kutitipkan pada Mak Ijah.

---

Keesokan harinya, Halimah menitipkan surat itu pada Mak Ijah.

"Nyai, tolong sekali lagi."

Mak Ijah menerima surat itu. Matanya memandang Halimah dengan iba.

"Neng, Nyai sudah bilang. Mungkin jawabannya tidak seperti yang Neng harapkan."

Halimah mengangguk pelan. "Aku tahu, Nyai. Tapi lebih baik tahu daripada terus bertanya-tanya. Lebih baik ditolak daripada digantung."

Mak Ijah menghela napas panjang. Menyimpan surat itu di balik bajunya.

"Neng, Nyai ingin tanya. Neng yakin dengan perasaan Neng?"

Halimah diam. Lalu menjawab lirih, "Aku tidak tahu, Nyai. Yang aku tahu, aku tidak bisa berhenti memikirkannya. Setiap hari. Setiap malam. Rasanya... sakit."

Mak Ijah mengusap kepala Halimah. "Neng, Nyai doakan yang terbaik untuk Neng."

Halimah tersenyum tipis. "Terima kasih, Nyai."

---

Penantian dimulai lagi.

Tapi kali ini, Halimah mencoba lebih tenang. Ia tidak lagi berdiri di jendela setiap saat. Ia mencoba sibuk dengan aktivitas sehari-hari. Membantu ibunya. Membaca buku. Mengaji.

Tapi di dalam hati, pertanyaan-pertanyaan itu tetap ada. Seribu pertanyaan. Tidak ada jawaban.

Apakah surat itu sampai?

Apakah ia membacanya?

Apakah ia marah?

Apakah ia sudah punya calon?

Apakah aku hanya mengganggu?

Apakah...

---

Hari ketujuh.

Tidak ada kabar.

Halimah mulai berpikir yang tidak-tidak.

Mungkin ia memang sudah punya calon. Mungkin ia tidak mau bilang. Mungkin aku memang hanya mengganggu.

Ia menatap dirinya di cermin. Wajahnya pucat. Matanya sayu.

Apa aku jelek? Apa aku tidak pantas?

Ia menunduk. Air mata jatuh.

Kenapa menunggu ini sakit sekali?

---

Hari kedelapan. Kesembilan. Kesepuluh.

Halimah mulai menerima kemungkinan terburuk.

Mungkin tidak akan pernah dibalas. Mungkin ia memilih diam. Mungkin itu jawabannya.

Ia berbaring di ranjang, memeluk bantal. Matanya basah.

Sudah, Halimah. Sudahi saja. Jangan tulis lagi. Jangan berharap lagi.

Tapi di dalam hati, ada suara kecil yang membisikkan: Tapi kau tidak tahu pasti. Mungkin ada alasan. Mungkin ia sedang terluka. Mungkin ia takut.

Dan suara itu tidak bisa ia matikan.

---

Malam kesepuluh. Halimah duduk di tepi ranjang.

Lampu minyak menyala redup. Kamar sunyi. Hanya suara jangkrik dari luar.

Ia memandangi laci kecil di meja belajarnya. Di dalam laci itu, ada salinan surat pertama dan surat kedua. Juga tumpukan kertas-kertas robek yang gagal.

Apakah aku akan menulis lagi?

Ia tidak tahu. Belum tahu.

Tapi satu hal yang ia tahu: malam ini, ia tidak akan tidur.

Sama seperti malam-malam sebelumnya.

---

[Bersambung...]

---

1
Ayaelsa
/Smile//Silent//Shy/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!