Dunia telah retak, bukan hanya di permukaannya, melainkan di benak dan jiwa segala yang bernyawa. Kegelapan Umbra bukan sekadar musuh yang bisa ditusuk pedang, melainkan kabut tebal yang memisahkan hati dari hati, harapan dari kenyataan, dan cahaya dari tempatnya berpijak. Alam semesta kini hanyalah kepingan-kepingan kaca yang pecah, masing-masing memantulkan bayangan kesendirian yang suram, menunggu tangan yang berani menyatukannya kembali.
Di tengah kehampaan itu, hadirlah Luminar. Bukan sebagai benda, bukan pula sebagai sosok yang bisa dipeluk atau dilihat mata telanjang. Luminar adalah bisikan yang melayang di sela-sela angin, adalah denyut nadi yang tak terlihat namun terasa di setiap detak jantung yang masih berharap. Ia adalah entitas misterius yang wujudnya berubah-ubah bagaikan cahaya yang menembus prisma—kadang berupa aurora yang menari di langit malam, kadang berupa kilatan samar yang hanya muncul di sudut mata saat kita merasa paling sepi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nostalgic, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33: Lautan Darah yang Tak Berdaya
Heras menatap ufuk timur yang mulai menguning kemerahan dari kursi rodanya, sementara Sari dengan hati-hati mendorong bagian belakang bingkai logam itu keluar dari resto kecil berlantai kayu yang baru saja membuka pintunya. Udara pagi kota membawa aroma daun segar yang terkena embun dan sedikit aroma kopi dari warung dekat—bau yang biasanya membangkitkan rasa harap, tapi hari ini berbeda.
Sari diam sejenak, jempolnya menggosok pegangan kursi roda dengan gerakan tidak sadar; matanya yang biasanya ceria kini penuh dengan kekhawatiran yang tersembunyi. Sebelum ia bisa bertanya apakah Heras sudah cukup makan roti hangat yang mereka pesan, suara nada darurat yang menusuk telinga terdengar dari jam tangan di pergelangan tangan mereka—simbol pengenalan anggota Pasukan Pemusnah Monster yang telah mereka bangun bersama selama tiga tahun terakhir.
"Seluruh pasukan Pemusnah Monster yang bertugas. Segera menuju perumahan Enam B. Pakai atribut penuh dan semangat berjuang!"
Suara Liang yang tegas dan familiar bergema berulang kali, meninggalkan getaran yang mengguncang tulang belakang mereka. Matahari baru mulai muncul dari balik bukit, menyinari langit dengan warna jingga yang indah—sebuah pemandangan yang kini hanya membuat suasana semakin suram.
"Perumahan Enam B, ya…" ucap Heras dengan nada pelan, matanya melayang ke kejauhan seolah terbenam dalam lautan pemikiran. Ia tidak melihat apa-apa di depannya, hanya melamun sambil mengingat serangan monster yang telah mereka hadapi selama beberapa bulan terakhir: di pasar tradisional, kawasan industri, bahkan di perumahan lain yang tak jauh dari sana.
Mengapa mereka tidak ada habisnya menyerang? pikirnya, rasa frustasi mulai menyelimuti dirinya. Ia merasakan sesak di dadanya, tapi tidak mengeluarkan suara apa-apa—hanya diam dengan wajah kosong, seolah jiwanya sudah jauh pergi dari tubuhnya.
Sari menoleh cepat, kekhawatiran kini tidak bisa disembunyikan lagi. "Kau akan pergi kesana, kan?"
Heras mengangguk perlahan, tapi matanya masih belum fokus ke dunia sekitarnya. Setelah beberapa detik, ia menatap Sari dengan pandangan penuh kepastian. "Aku akan segera kesana. Tidak bisa ada lagi korban yang kubiarkan karena aku terlambat. Tapi Sari… kadang aku merasa seperti kita hanya berjuang dengan ombak yang tak pernah berhenti."
Tanpa banyak bicara, ia sedikit membungkuk ke depan. Telapak tangannya yang berkulit putih pucat diangkat perlahan ke arah dadanya yang mulai bercahaya, kemudian dengan cepat menghentakkan ke bawah tepat di atas kedua kaki yang terlipat di kursi roda.
Pada saat itu, alur cahaya emas yang biasanya bersinar lembut di dadanya seolah menemukan jalur baru. Cahaya itu mengalir deras ke bawah lengan, keluar dari ujung jarinya, dan menyelimuti kedua kakinya dengan lapisan tipis yang bersinar terang. Cahaya itu tidak panas, tapi memberikan kilau keperakan yang membuat kulitnya tampak seperti kristal. Berbeda dengan perubahan bentuk penuh tubuh yang menghabiskan 10 energi per menit, kali ini energi yang terbakar hanya 3 per menit—sebuah kemajuan yang ia pelajari setelah berbulan-bulan berlatih sendirian di ruang latihan bawah tanah markas pasukan.
Dengan gerakan lancar tanpa kesusahan sedikitpun, Heras berdiri dari kursi rodanya. Kakinya yang dulunya tidak bisa bergerak kini menginjak tanah dengan mantap; tubuhnya tegak dan siap beraksi. Ia menoleh sebentar ke Sari, memberikan senyuman singkat yang penuh penghargaan sebelum dengan cepat melesat ke udara. Cahaya di kakinya membentuk lapisan pelindung yang membuatnya bisa melayang seperti burung, meninggalkan Sari yang masih berdiri dengan tangan menggenggam pegangan kursi roda, mata penuh harapan dan ketakutan.
Sesampainya di lokasi, Heras mendarat dengan lembut di atas pagar tembok tinggi yang masih berdiri kokoh di depan gerbang perumahan Enam B. Matahari baru terbit penuh menyinari kawasan itu, dan apa yang dilihatnya membuat jantungnya berhenti sejenak sebelum mulai berdebar kencang seperti drum perang.
Sebuah lautan monster humanoid memenuhi jalanan utama dan gang-gang kecil di dalam perumahan. Mereka bukan manusia—melainkan makhluk aneh yang merupakan kombinasi antara ikan teri dan bentuk manusia. Badan mereka ramping dan lentur, kulit berlapis sisik kecil berwarna keperakan kemerahan yang mengkilap saat terkena sinar matahari pagi. Lendir lengket menetes dari setiap bagian tubuh mereka, meninggalkan bekas basah dan berbau amis di setiap permukaan yang mereka sentuh.
Kepala mereka adalah bentuk yang paling mengerikan: moncong runcing seperti ikan teri dengan rahang yang bisa terbuka lebar, penuh dengan gigi tajam seperti jarum. Mata besar tanpa putih dengan pupil hitam memanjang selalu terfokus pada satu arah—ke mana saja ada sesuatu yang bisa mereka hancurkan. Tidak ada telinga yang jelas, hanya lubang kecil di sisi kepala yang mengeluarkan gelembung udara dan suara menggelegak seperti air mendidih.
Lengan dan kaki mereka memiliki jari-jari panjang yang menyatu membentuk selaput seperti sirip ikan; ujung jari berubah menjadi cakar tajam yang mudah menusuk tembok bata dan merobek besi tipis. Di punggung dan sisi tubuh terdapat sirip-sirip kecil yang bergetar riak-riak setiap kali mereka bergerak, seolah membantu menjaga keseimbangan saat berlari dengan kecepatan luar biasa.
Jumlah mereka tidak bisa dihitung—puluhan bahkan mungkin ratusan, keluar terus-menerus dari arah selokan besar di ujung perumahan. Monster-monster itu merusak segala sesuatu di depannya: menjatuhkan tiang listrik, menghancurkan jendela rumah, merobek pintu kayu dengan gigi dan cakar mereka. Yang paling menyakitkan hati Heras adalah melihat beberapa tubuh manusia yang tidak berdaya terlontar dan diinjak-injak oleh gerombolan makhluk itu—beberapa masih bergerak lemah, tapi tidak ada yang bisa melarikan diri dari lautan yang tak berkesudahan.
"Aku terlambat lagi… dan mereka terus datang tanpa henti…" bisik Heras dengan suara penuh kesedihan dan kekesalan. Kedua tangannya mengepal erat hingga buku tangannya terlihat jelas; cahaya di dadanya mulai memancarkan kilatan yang lebih terang, bahkan sedikit menyilaukan.
Ia tidak bisa tidak menyalahkan dirinya sendiri—mengapa tidak bisa menemukan sumber munculnya monster ini? Mengapa harus selalu menangkap musuh di tengah jalan saja? Rasa tidak berdaya itu membekap hatinya hingga membuatnya sulit bernapas, seolah ada batu besar yang menekannya. Tapi di tengah rasa sakit itu, sebuah api tekad mulai menyala lebih besar—api yang membuatnya bersumpah tidak akan menyerah sebelum menemukan akar masalah yang membuat monster-monster ini terus menyerang kota yang ia cintai.
Kakinya yang dalam bentuk Luminar bersinar terang. Ia melakukan persiapan untuk melesat layaknya atlet lari. Ototnya mengeras dan siap memusatkan seluruh kekuatan yang tersisa untuk menghadapi bahaya di depannya.