NovelToon NovelToon
Luminar

Luminar

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Sistem / Fantasi
Popularitas:835
Nilai: 5
Nama Author: Nostalgic

Dunia telah retak, bukan hanya di permukaannya, melainkan di benak dan jiwa segala yang bernyawa. Kegelapan Umbra bukan sekadar musuh yang bisa ditusuk pedang, melainkan kabut tebal yang memisahkan hati dari hati, harapan dari kenyataan, dan cahaya dari tempatnya berpijak. Alam semesta kini hanyalah kepingan-kepingan kaca yang pecah, masing-masing memantulkan bayangan kesendirian yang suram, menunggu tangan yang berani menyatukannya kembali.

Di tengah kehampaan itu, hadirlah Luminar. Bukan sebagai benda, bukan pula sebagai sosok yang bisa dipeluk atau dilihat mata telanjang. Luminar adalah bisikan yang melayang di sela-sela angin, adalah denyut nadi yang tak terlihat namun terasa di setiap detak jantung yang masih berharap. Ia adalah entitas misterius yang wujudnya berubah-ubah bagaikan cahaya yang menembus prisma—kadang berupa aurora yang menari di langit malam, kadang berupa kilatan samar yang hanya muncul di sudut mata saat kita merasa paling sepi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nostalgic, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 31: Antara Kekuatan dan Ketakutan

Sari mendorong kursi roda Heras dengan hati-hati melewati lorong gedung asrama yang bersih dan terang. Langkah mereka berhenti di depan sebuah pintu kayu berwarna cokelat muda di ujung lorong.

"Ini dia, Heras. Ini kamar tamu yang sudah disiapkan khusus untukmu. Dekat dengan gedung asrama, jadi kalau butuh apa-apa mudah banget buat menghubungi kami," kata Sari sambil membuka pintu lebar-lebar, memperlihatkan isi ruangan di dalamnya.

Heras melirik ke dalam. Ruangan itu cukup luas, bersih, dan terasa sangat sejuk berkat jendela besar yang menghadap ke taman kecil di belakang gedung. Cahaya matahari sore masuk dengan lembut, menerangi kasur empuk yang tertata rapi di tengah ruangan, serta perabotan sederhana namun nyaman lainnya.

"Terima kasih, Sari," ucap Heras pelan. Ia merasa lega menemukan tempat yang begitu tenang setelah hari yang melelahkan, namun di balik ketenangan itu, ada sesuatu yang berat mengganjal di dadanya.

"Sama-sama! Ya sudah, aku tinggal dulu ya. Istirahatlah yang cukup. Kalau butuh sesuatu, panggil saja atau tekan tombol panggil di dekat dinding itu, nanti kami segera datang," kata Sari sambil menunjuk sebuah tombol kecil di dekat pintu. Ia melambaikan tangan lalu menutup pintu perlahan, meninggalkan Heras sendirian.

Hening.

Begitu pintu tertutup, kesunyian ruangan seolah menekan telinga Heras. Ia mendorong kursi rodanya mendekat ke kasur, lalu dengan susah payah namun hati-hati memindahkan tubuhnya ke atas kasur yang empuk itu. Ia merebahkan diri, membiarkan tubuhnya yang lelah terasa nyaman di atas kasur yang lembut. Namun, kenyamanan fisik itu tidak mampu meredam gejolak di kepalanya.

Ia mengetuk dadanya pelan dengan jari telunjuknya. Seketika, sebuah layar transparan—jendela status—muncul di hadapannya, bersinar redup di ruangan yang mulai remang-remang.

[Jendela Status Luminar- Level 10]

Penyatu: Heras

Exp: 25/40

Energi: 695/1027

Daya Hidup: 2027/2027

Kekuatan Fisik: 37 + 5

Kecepatan: 37 + 15

Mental: - + 25

Pertahanan: 37 + 3

Kemampuan:

- Transformasi Ukuran: Penyatu sampai 20 meter (Aktif)

- Meta Field: Radius 1 km (Aktif)

- Luapan Energi (Aktif)

- Tendangan Naga (Aktif)

- Penyatuan sempurna (Aktif: Hanya dapat digunakan ketika Transformasi ukuran-Giant)

Heras menatap layar itu lama, matanya menyapu setiap baris informasi yang tertulis di sana. Angka-angka itu seolah menatapnya balik, menuntut sesuatu yang belum ia miliki. Pikirannya mulai berputar kencang, seperti roda yang tak bisa berhenti, menabrak satu sama lain.

"Membunuh monster dalam jumlah banyak... itu satu-satunya cara tercepat untuk memperkuat Luminar, kan?" batinnya berargumen, suara itu tegas dan mendesak. "Lihatlah Exp-nya, hanya 25 dari 40. Kita butuh lebih banyak. Kita butuh kekuatan. Kalau tidak kuat, kita tidak akan bisa melindungi apa pun. Bahkan diri sendiri pun tidak."

Namun, suara lain segera memotong, penuh keraguan dan ketakutan. "Tapi lihat energinya! 695 dari 1027. Itu baru sedikit bertarung sudah habis segini. Kalau kau memaksakan diri membunuh banyak monster sekaligus, energimu akan terkuras habis dalam sekejap. Kau akan menjadi tak berdaya. Kau akan menjadi beban. Ingat bagaimana rasanya tidak bisa bergerak, tidak bisa melindungi? Kau ingin merasakannya lagi?"

Heras mengerutkan kening, tangannya mengepal erat di atas selimut. Dua suara itu berdebat sengit di dalam kepalanya.

"Tapi kita harus naik level!" suara pertama membantah lagi, lebih keras. "Dunia ini semakin berbahaya. Monster tidak akan menunggu kita siap. Kalau kita lemah, kita yang akan dimangsa. Atau lebih buruk, orang-orang di sekitar kita yang akan terlilit masalah karena ketidakmampuan kita. Kau mau itu terjadi, Heras? Kau mau melihat orang lain terluka karena kau terlalu takut menghabiskan energi?"

"Bukan takut, tapi bijak!" suara kedua membalas tak kalah keras. "Menggunakan kekuatan secara boros itu bodoh. Energi adalah nyawamu dalam wujud Luminar. Jika habis, kau kembali menjadi orang biasa yang bahkan tidak bisa berjalan dengan kakinya sendiri. Apa gunanya kekuatan besar jika hanya bisa dipakai sebentar lalu kau tumbang? Itu justru memberi celah bagi musuh untuk menghabisimu."

Heras memijat pelipisnya yang mulai berdenyut. Rasanya seperti ada dua orang yang berteriak di dalam kepalanya, masing-masing memegang kebenaran yang tak bisa disangkal.

"Lalu apa solusinya?" pikirnya frustrasi. "Kita butuh kekuatan, tapi kita butuh energi. Kalau keduanya bertentangan, bagaimana caranya maju?"

Pikirannya melompat ke sebuah ide, namun segera dipertanyakan. "Bagaimana jika... penyatuan tidak dilakukan seluruhnya?"

Ia membayangkannya. "Misalnya, hanya bagian kaki saja yang disatukan dengan Luminar. Agar aku bisa berjalan, bahkan mungkin berlari, tanpa harus mengubah seluruh tubuhku menjadi raksasa atau memakai wujud penuh. Apakah itu mungkin?"

Segera, perdebatan itu kembali menyambar ide tersebut.

"Itu ide gila," suara keraguan mencibir. "Penyatuan itu sistemik. Kalau kau memutus aliran di satu tempat tapi membiarkannya mengalir di tempat lain, apa tidak akan kacau? Bagaimana jika energinya malah tidak stabil? Atau lebih parah, apa itu tidak akan merusak hubunganmu dengan Luminar? Kau tidak tahu efek sampingnya. Kau mau mengambil risiko merusak satu-satunya kekuatan yang kau miliki hanya untuk menghemat sedikit energi?"

"Tapi apa salahnya mencoba?" suara tekad itu membela. "Kalau cara biasa membuat kita terkendala energi, kita harus mencari jalan baru. Kalau penyatuan parsial bisa mengurangi pengurasan energi, maka kita bisa bertarung lebih lama, memburu lebih banyak monster, dan naik level lebih stabil. Bayangkan, bisa berjalan normal lagi... bisa bergerak bebas tanpa kursi roda ini... bukankah itu sepadan dengan risikonya?"

"Tapi jika gagal? Jika tubuhmu menolak? Jika energinya malah meledak di dalam? Kau akan hancur, Heras. Kau akan menjadi lebih dari sekadar cacat. Kau akan menjadi tidak berguna sama sekali."

Rasa takut itu merayap lagi, dingin dan menusuk. Namun, di sisi lain, harapan untuk bisa berdiri lagi, untuk menjadi lebih kuat dan berguna, membakar jauh lebih panas.

"Aku tidak bisa terus begini," gumamnya pelan, suaranya bergetar di ruangan sunyi. "Aku harus mencoba. Aku harus tahu. Tapi... bagaimana caranya memastikan?"

Pertanyaan itu terus berputar, tanpa jawaban pasti. Heras mencoba memikirkan berbagai kemungkinan, menimbang risiko dan harapan, namun setiap kali ia merasa menemukan jalan, keraguan itu kembali muncul dan menghancurkannya. Pikiran-pikiran itu saling bertabrakan, berputar-putar dalam lingkaran setan yang melelahkan.

Rasa lelah mental itu akhirnya lebih berat daripada rasa lelah fisiknya. Pandangannya mulai menghitam, beban di kepalanya terlalu berat untuk ditanggung lagi, dan akhirnya ia terlelap di tengah perang batin yang belum usai.

Dalam tidurnya yang samar, di tengah mimpi yang gelap dan penuh bayangan, ia seolah mendengar suara Luminar berbisik di telinganya, pesan yang terasa berat dan menggantung di udara, seolah menjawab sekaligus menambah beban di hatinya:

[Para monster akan terus semakin kuat, begitu juga dengan Umbra.]

 

Keesokan harinya, sinar matahari pagi yang cerah menyelinap masuk melalui jendela besar, menyentuh wajah Heras hingga membuatnya terbangun. Ia menggeliat pelan, matanya perlahan terbuka. Namun, rasa berat di kepalanya tidak hilang meski ia sudah tidur semalaman.

"Umbra..." gumamnya pelan, suaranya masih serak karena baru bangun tidur. Matanya masih setengah terpejam, namun kata itu terus terngiang di ingatannya, bercampur dengan sisa-sisa perdebatan di mimpinya. Monster semakin kuat... Umbra... dan aku masih di sini, terjebak dalam keraguan sendiri.

Heras duduk perlahan di tepi kasur. Ia mengetuk dadanya lagi, memunculkan jendela status. Matanya langsung tertuju pada baris energi—angka yang tadi sempat berkurang kini sudah kembali penuh: 1027/1027. Tubuhnya terasa segar dan bugar kembali, namun pikirannya masih penuh kekacauan.

Perlahan, ia bergerak menuju kursi roda yang terparkir di samping kasur, lalu memindahkan tubuhnya ke sana. Dengan dorongan tangannya sendiri, ia keluar dari kamar dan menuju area terbuka di dekat gedung asrama.

Suasana pagi di sana sudah sangat hidup. Para anggota pasukan telah sibuk berlatih, mereka berlarian, berteriak memberi semangat, dan melakukan gerakan-gerakan fisik dengan penuh disiplin. Heras berhenti sejenak, matanya mengamati aktivitas itu dengan tenang, namun di dalam hatinya, perdebatan itu masih berlanjut. Mereka berlatih untuk menjadi kuat... dan aku? Apakah aku hanya akan menjadi penonton, atau aku benar-benar akan berjuang meski jalannya penuh risiko?

Rian, yang sedang mengikuti latihan pagi, menangkap kehadiran Heras di pinggir lapangan. Ia segera menghentikan larinya, menyeka keringat di dahinya, lalu berjalan menghampiri Heras.

"Heras, bagaimana? Apakah sudah memutuskan?" tanya Rian langsung, namun nadanya tetap sopan dan tidak memaksa.

Heras mengangguk pelan, menatap Rian dengan tatapan tegas—atau setidaknya, ia berusaha terlihat tegas di balik kekacauan pikirannya. "Iya, untuk sementara ini aku akan bekerja sama dengan kalian. Tapi, aku ada syarat."

Rian mengangguk, memberi isyarat agar Heras melanjutkan.

"Syaratnya adalah: pertama, anggota pasukan tidak boleh menyerangku. Kedua, latih aku bela diri. Ketiga, urusan makananku dan tempat tinggalku, biarlah markas yang menanggungnya. Keempat, tolong urus keluarga ku—aku titip pamit pada mereka. Aku khawatir mereka akan mencariku, walaupun aku tahu mereka tidak akan terlalu mencemaskanku. Dan yang terakhir, rahasiakan identitasku. Yang boleh tahu hanya anggota pasukan ini saja. Jika informasi bocor sedikitpun, maka aku tidak akan membantu negara ini lagi," jelas Heras satu per satu, suaranya tegas dan tidak bisa ditawar, meski di dalam hatinya ia masih bertanya-tanya apakah keputusan ini benar, atau hanya langkah lain menuju kegagalan.

Rian mendengarkan dengan saksama, lalu mengangguk mantap. "Baiklah, aku akan menyampaikan semua syaratmu kepada atasan. Aku yakin mereka akan menyetujuinya mengingat situasi kita saat ini. Kau pergilah sarapan dulu, Sari sudah menunggu disana."

Heras sedikit mengernyit, bertanya-tanya. "Bukannya masih ada latihan pagi? Kenapa Sari ada disana?"

"Dia adalah pemandu yang dipilih khusus untuk membantumu. Sekarang tugasnya selain berlatih adalah merawatmu. Kau juga harus menghemat tenagamu dan tidak boleh menggunakan kekuatanmu secara sembarangan untuk hal sepele, kan?" ucap Rian sambil melirik sekilas ke arah kaki Heras, menyiratkan pemahaman tentang kondisinya yang terbatas.

Kata-kata Rian tentang menghemat tenaga seolah menampar pikiran Heras lagi. Menghemat... ya, itu intinya. Tapi bagaimana caranya?

"Baiklah, aku akan sarapan dulu. Kau lanjutkan latihanmu, semangat ya," jawab Heras pelan.

"Siap!" balas Rian dengan semangat, lalu kembali bergabung dengan rekan-rekannya yang masih berlatih.

Heras pun memutar roda kursinya menuju kantin markas. Kantin itu terasa sepi saat ia masuk, mungkin karena sebagian besar anggota masih sibuk berlatih di luar. Matanya menyapu ruangan, hingga akhirnya tertuju pada meja di pojok ruangan.

Di sana, Sari sedang sibuk mengusungi tumpukan piring-piring dari dapur menuju meja. Ia tampak sangat bersemangat, mengatur posisi piring-piring itu dengan rapi. Ketika Sari menoleh dan melihat Heras, wajahnya langsung berseri-seri.

"Hei Heras, sini! Sudah kusiapkan 5 jenis makanan!" ucapnya riang, sambil melambaikan tangan dengan antusias.

Heras hanya tersenyum melihat tingkah laku Sari yang begitu ceria. Senyum itu terasa sedikit dipaksakan, karena pikirannya masih penuh badai. Ia mendorong kursi rodanya mendekat ke meja tersebut. "Umurmu sudah dua puluhan, kenapa tingkahmu seperti anak kecil saja," goda Heras pelan, lebih sebagai cara untuk menyembunyikan kekacauan di dalam hatinya daripada sekadar bercanda.

Sari berhenti sejenak, menatap Heras dengan mulut sedikit terbuka seolah terkejut, lalu tersenyum lebar. "Iya umurku memang dua puluh satu, kenapa dengan anak kecil? Apa maksudmu?" tanyanya dengan nada bercanda.

"Tidak, lupakan. Kita makan bersama saja," jawab Heras sambil tersenyum tipis, berusaha menarik diri dari pusaran pikirannya setidaknya untuk saat ini.

Mereka pun duduk bersebelahan dan mulai menyantap makanan yang sudah disiapkan. Suasana di antara mereka terasa hangat, diiringi dengan tawa renyah Sari yang tak henti-henti, terutama saat ia melihat Heras yang sedikit belepotan saat makan. Namun, di balik tawa itu, Heras tahu, perdebatan di dalam kepalanya belum selesai. Itu hanya tertunda, menunggu saat yang tepat untuk meledak lagi.

1
Nasipelang
lego euy
Nasipelang
rasa sakit ini, adalah bukti bahwa aku masih hidup
Anonymous
oke
Anonymous
kece
Anonymous
mc nya menderita saya suka
Nasipelang
awalnya ngebosenin, tapi lama-lama seru juga
Anonymous
oke
Anonymous
bujet
Anonymous
baru aja kenalan udah ditinggal ama luminar
Anonymous
uwihh level up coyy
Anonymous
kasihan mc nya jir
Anonymous
mirip nexus yah
Anonymous
kena de javu
Nasipelang: de javu nya apa
total 1 replies
Anonymous
jirr
Arctic General
Sangat bagus... kek ultraman 🗿
Arctic General
up thorr oii🦖
Arctic General
Buset kek ginga🗿
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!