Marvel Dewangsa sadar bahwa hatinya sudah lama mati. Mungkin dari pengkhianatan oleh wanita yang ia sayangi, ditambah ia yang berkecimpung di dunia bawah yang tidak memerlukan simpati untuk bertahan hidup. Ia akhirnya percaya bahwa hidupnya akan seallau gelap sampai mati.
Namun, entah keajaiban apa, di hari itu seorang wanita yang bernama Elara , datang dan perlahan selalau ada di kehidupannya. Apakah marvel Dewangsa akan menerima Elara di kehidupannya dan hatinya akan luluh?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon erinaCalistaAzahra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tiga bulan berlalu
Tiga bulan setelah malam di vila itu, dunia marvel yang keras mendadak berhenti berputar. Di tangannya, sebuah benda kecil berwarna putih dengan dua garis merah menjadi senjata paling mematikan yang pernah ia pegang—bukan karena melukai, tapi karena melunakkan jantung esnya.
Elara berdiri di hadapannya, jemarinya bertaut cemas. "Marvel... aku hamil."
Marvel terpaku. Pria yang biasanya mampu menyusun strategi perang dalam hitungan detik itu kini membisu. Tatapan mata abu-abunya yang dingin perlahan berubah; ada binar ketakutan sekaligus pemujaan yang mendalam.
"Anak..." bisik Marvel parau. Ia melangkah maju, menjatuhkan diri berlutut di hadapan Elara. Tangan yang biasanya berlumur darah itu kini menyentuh perut datar Elara dengan getaran yang tak tertahankan. "Ada nyawa di dalam sini. Nyawaku. Nyawamu.",
Namun, di balik kebahagiaan itu, naluri mafianya langsung terjaga:
Benteng Manusia: Marvel segera memerintahkan pengamanan level tertinggi. "Lipat gandakan penjagaan. Siapa pun yang terbang di atas rumah ini tanpa izin, tembak jatuh," perintahnya dingin melalui radio.
Pembersihan Terakhir: Ia tahu musuh-musuhnya akan menjadikan janin ini sebagai kelemahan terbesarnya. Maka, Marvel memutuskan untuk melakukan serangan fajar guna memusnahkan setiap ancaman yang tersisa sebelum bayi itu lahir.
Sisi Lembut Sang Glacier: Malam itu, marvel tidak tidur. Ia terjaga di samping Elara, mengelus rambutnya, dan bersumpah bahwa tangan anaknya kelak tidak akan pernah menyentuh senjata seperti dirinya.
"Dia akan memiliki dunia yang bersih, elara," janji marvel pelan. "Aku akan menjadi monster terakhir agar dia bisa menjadi malaikat."
Kabar kehamilan Elara mengubah marvel "The Glacier" Dewangsa menjadi sosok yang jauh lebih mengerikan sekaligus lebih protektif. Jika sebelumnya ia membunuh untuk kekuasaan, kini ia menghancurkan untuk masa depan.
Marvel berdiri di kamar bayi yang sedang dibangun di dalam bunker mewah kediamannya. Dindingnya dilapisi baja tahan peluru, namun dihiasi lukisan awan lembut karya elara.
"Marvel, kau terlalu berlebihan," ujar Elara pelan, mengusap perutnya yang mulai membuncit.
Marvel berbalik, tatapannya yang dingin hanya melunak saat menatap Elara. "Tidak ada kata berlebihan untuk nyawamu dan anak kita, Elara. Di luar sana, mereka mencium bau kelemahanku. Mereka pikir janin ini adalah titik lemahku, padahal ini adalah alasan baruku untuk membakar dunia."
Protokol "Cradle": Marvel mempekerjakan tim medis pribadi dan koki khusus yang tinggal di dalam rumah. Setiap makanan diuji laboratorium sebelum sampai ke meja Elara.
Pembersihan Senyap: Tanpa sepengetahuan Elara, marvel mengirim tim eksekusi untuk menghabisi siapa pun yang bahkan berbisik tentang kehamilan ini di pasar gelap. Ia tidak menyisakan ruang untuk negosiasi.
Sisi Ayah yang Kaku: marvel tertangkap basah oleh anak buahnya sedang membaca buku "Panduan Menjadi Ayah" di balik dokumen strategi perang. Wajahnya memerah, dan ia mengancam akan memotong lidah siapa pun yang berani tertawa.
Suatu malam, saat mereka sedang bersantai, marvel meletakkan telinganya di perut Elara. Untuk pertama kalinya, sang mafia kejam itu tersenyum tulus.
"Jika dia laki-laki, dia akan memiliki matamu," bisik marvel. "Dan jika dia perempuan, aku akan memastikan tidak ada pria yang berani mendekatinya dalam radius seribu mil."
Namun, di tengah kedamaian itu, sebuah paket misterius tiba di gerbang depan. Isinya bukan bom, melainkan sebuah sepatu bayi berwarna putih yang dicelupkan ke dalam darah segar, dengan catatan kecil: "Selamat atas pewaris barumu, Dewangsa. Kami akan menjemputnya segera."