Punya rumah tangga bahagia adalah dambaan setiap orang. Apalagi bagi seorang wanita. Suami dan mertua yang baik adalah anugerah yang tak ternilai harganya.
Seperti itulah harapan Kyara Nawasena. Menikah dengan lelaki yang ia cintai dan mencintainya ternyata tidak menjamin rumah tangganya berjalan mulus.
"Mas, tidakkah kau punya sedikit pun rasa iba kepadaku? Aku ini istrimu, bukan seorang babu!"
"Kalau kau sudah tak mau menuruti semua perintahku, lebih baik kau keluar dari rumah ini! Aku capek dan muak setiap pulang kerja harus mendengar ocehanmu! Kau itu adalah istri yang menyusahkan dan pembangkang!" Doni menghardik Kyara seraya melemparkan bantal ke wajah istrinya.
Kyara tersenyum getir, "Jika aku istri pembangkang, berarti kau adalah suami yang tidak bertanggung jawab!"
"Kyaraaa!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ama Apr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24
"Aaaa ... Mama senang sekali mendengarnya, Don!" Hesti menjerit sambil memeluk Doni. Membuat lelaki berumur tiga puluh tiga tahun itu nyaris tercekik. "Mama mau sekali bertemu dengan dia. Mama mau bertemu dengan calon menantu baru Mama," lanjutnya melepas pelukan.
"Aha ... yess! Makasih, Ma!" Giliran doni yang bersorak. "Kukira Mama tadi akan marah, ternyata ..."
"Kenapa Mama harus marah?" Hesti mengusap puncak kepala Doni. "Justru Mama bersyukur sekali kamu punya wanita idaman lain."
Doni terkekeh. "Ya karena aku udah selingkuh."
"Nggak lah. Lagian si Kyara pantas kok, diselingkuhin." Ia tertawa. "Oh, ya, besok malam itu ... di mana tempat pertemuannya?" tanya Hesti sangat antusias.
"Di restoran Korea favorit Nayla, Ma. Aku udah buat reservasi di ruang VIP. Dan besok kita tinggal pergi ke sana."
"Oke." Lagi-lagi senyum sumringah menghiasi bibir Hesti. "Mama sudah tidak sabar ingin bertatap muka dengan dia."
"Iya, Ma. Aku bahagia sekali malam ini." Doni memeluk lagi ibunya.
"Oh ya, Don. Mama mau lihat dong fotonya Nayla."
"Boleh, Ma. Sebentar ..." Doni mengeluarkan ponselnya. Jarinya berselancar di atas layar, masuk ke galeri dan mencari foto kekasih hatinya. "Ini Nayla, Ma." Ia menunjukkan foto Nayla yang sedang memakai stelan kantor. Wajahnya tersenyum ke kamera.
Mata Hesti melebar, senyum kembali mengembang di bibirnya. "Aaa ... Masya Allah! Nayla cantik sekali. Ini mah bidadari, Don. Dia terlihat berkelas. Penampilannya juga modis sekali. Si Kyara mah kalah jauh. Mana kelihatannya Nayla masih muda lagi. Wajahnya glowing sekali!" puji Hesti seraya menatap penuh kekaguman pada foto Nayla.
"Ya jelas dong, Ma. Nayla jauh lebih baik dari Kyara. Dia pintar, cantik, berpendidikan, dan wanita karier. Dia manajer pemasaran di kantorku. Setara denganku yang manajer keuangan. Usianya juga memang masih muda. Masih dua puluh lima tahun." Doni menjelaskan dengan wajah berbinar.
Hesti bertepuk tangan. "Cocok! Dia menantu yang Mama impikan. Pokoknya Mama setuju kamu menikahi dia, dan segeralah ceraikan si Kyara!"
"Siap, Ma. Tapi ngomong-ngomong soal menceriakan si Kya ... apa Mama sudah dapat ide untuk membuat dia salah di mata semua orang?" tanyanya penuh harap.
Hesti menjentikan jarinya. "Ada, dong. Sini!" Ia menarik kepala Doni dan membisikkan rencananya.
"Woahhh ... rencananya keren banget, Ma. Aku sangat setuju!" Doni mengacungkan jempolnya. "Kapan kita akan melakukan itu, Ma?"
"Ya terserah kamu. Mau besok pagi pun ayo aja." Hesti mengedikan bahu.
Doni tercenung sejenak, menunduk. Lalu sedetik berikutnya, ia mengangkat wajah. "Ma, bagaimana kalau besok malam, pas kita pergi makan malam bersama Nayla? Mama suruh tuh orang suruhan Mama ke sini dan ..." Doni mengedipkan matanya.
"Hahaha ... siap, Nak. Mama akan telepon dia sekarang juga!"
Jika Doni dan Hesti sedang menyusun rencana membuat nama baik Kyara hancur, berbeda dengan Dini yang sedang vcs dengan kekasih hatinya, Pak Lurah Hadi.
"Neng, cepetan buka atuh kausnya. Aa mau melihat si kembar," pinta lelaki paruh baya itu dari seberang. Lidahnya terus menjilati bibirnya sendiri.
"Ihh ... Aa mah meuni to the point," rengek Dini pura-pura malu, padahal ia sudah menunggu permintaan itu sejak tadi.
"Aa kan kangen sama mereka. Pengen remas-remas dan ngemut-ngemut kayak tadi siang. Ayo, buruan," bujuknya dengan suara sensual.
Kamera Dini agak bergoyang. Ia menyimpan ponselnya di atas ranjang dengan disangga bantal. Lalu kedua tangannya mulai menarik ujung kaus putih yang ia pakai. Dalam satu tarikan ke atas, kaus itu pun terlepas, dan nampak lah dua buah kembar tanpa penghalang apa pun.
"Waww ...!" Hadi memekik di kamarnya. "Kamu nggak pakai bra?" ujarnya dengan mata yang nyaris loncat dari tempatnya. Tak berkedip sama sekali melihat si kembar milik Dini yang kenyal dan kencang.
Dini terkikik sembari mengarahkan kamera kembali ke wajahnya. "Nggak. Aku kan sengaja nggak pakai bra supaya gampang pas Aa minta lihat mereka," jawabnya manja.
"Mm ... kamu itu memang pacar yang pengertian, Sayang. Aa makin cinta sama kamu." Hadi mengeluarkan rayuan gombalnya.
Dini tersipu, menggeram manja.
"Neng, turunin lagi atuh kameranya. Arahin ke si kembar lagi. Aa kangen sama mereka."
Dini melakukan apa yang diminta Hadi, mengalihkan kamera ponsel ke dadanya. "Udah, Aa," katanya.
"Coba kamu remas mereka," titah Hadi dengan suara serak.
"Iya, Aa." Dini bak kerbau yang dicucuk hidungnya, selalu melakukan apa yang diperintahkan Hadi.
"Ah, Neng. Aa jadi pengen ..." desah Hadi. Suaranya serak dan berat.
"Ak-Aku ... juga, Aa." Nafsu Dini mulai muncul. Ia terus meremas si kembar bergantian. Matanya kadang terbuka, kadang terpejam.
"Neng ... coba sekarang buka bagian bawah. Terus arahin kameranya. Aa mau lihat."
Dini menuruti. Setelah meluruhkan semua kain yang menutupi tubuhnya, ia membuka kedua pahanya dan mengarahkan kamera itu ke sana.
Desahan nyaring dari seberang sana terdengar memecah keheningan malam. Di dalam kamar tamu di lantai atas ... Hadi memainkan miliknya seraya menatap milik Dini yang terpampang nyata di kamera. "Neng ... coba mainkan punyamu dengan jari."
"I-Iya, Aa."
Di tempat berbeda, mereka sama-sama memainkan bagian vital masing-masing. Desahan dan rintihan nikmat mereka saling bersahutan.
"Aa ... aku ... mau ... sampai," desah Dini makin cepat memainkan miliknya.
"Ohh ... Aa ... juga, Neng. Ayo kita ... sama-sama," balas Hadi.
Satu detik kemudian, erangan panjang dari mereka berdua bersahutan, diikuti ambruknya tubuh mereka berdua di ranjang masing-masing.
_____
Kyara mengerjapkan mata ketika perutnya terasa seperti ditindih sesuatu. Matanya terbuka perlahan, ia langsung tersentak kala melihat tangan Doni ada di atas perutnya. "Astagfirullah!" Spontan Kyara menyingkirkan lengan suaminya. Untungnya ... Doni tidak terbangun. Lelaki itu hanya bergeser dan mengubah posisi menjadi membelakanginya. "Hah ..." Ia menghela napas lega. Mengusap dada dan kepalanya bergerak ke kanan, melirik jam dinding.
"Eh, udah subuh?" gumamnya. "Kukira baru jam tiga." Kyara menegakkan tubuh, menyingkap selimut dan turun dari ranjang. "Ganti pembalut dulu ah. Baru aku turun ke bawah buat beres-beres dan masak."
Matahari baru saja naik, sinarnya masuk melalui jendela besar di samping ruang makan dan memantul di atas meja kayu panjang yang sudah dipenuhi hidangan.
Kyara berdiri sebentar di samping meja, memastikan semuanya sudah tersedia. Nasi goreng hangat, telur mata sapi, irisan buah, serta teh dan kopi sudah tertata rapi. Setelah memastikan tak ada yang kurang, ia pun berbalik untuk mencuci tangan.
Tak lama, anggota keluarganya mulai berdatangan.
Di ujung meja, Hesti sudah duduk lebih dulu. Punggungnya tegak, dagunya sedikit terangkat dengan sikap angkuh yang seolah tak pernah lepas dari dirinya.
Tak lama kemudian Doni muncul dari arah tangga. Ia sudah rapi dengan kemeja kerja dan jam tangan mahal yang melingkar di pergelangannya. "Pagi," ucapnya singkat.
"Pagi, Mas," jawab Kyara lembut.
Doni menarik kursi dan duduk di samping ibunya.
Beberapa menit kemudian langkah cepat terdengar dari arah ruang tengah. Dini datang dengan tas kuliah tersampir di bahu. "Aduh, hampir telat," gumamnya sambil langsung duduk.
Kyara memperhatikan semuanya dengan perasaan yang sulit ia jelaskan. Ada firasat aneh yang ia rasakan. Namun ia tak ambil pusing. Ia pun ikut mengambil nasi dan mulai sarapan bersama mereka lagi setelah lima tahun diperlakukan seperti pembantu oleh suami, mertua dan adik iparnya.
Suasana meja makan berlangsung cukup tenang. Hanya suara sendok beradu dengan piring yang sesekali terdengar.
Hesti menyeruput teh hangatnya, sementara Dini sibuk membuka ponsel sebentar-sebentar.
Tiba-tiba Doni menghentikan makannya dan menatap Kyara. "Kya."
Kyara mendongak. "Iya, Mas?"
Doni menyandarkan punggungnya di kursi. "Kalau kamu nanti siang mau belanja lagi, pergilah." Kyara mengedip pelan, sedikit terkejut. Doni melanjutkan dengan nada santai, "Habiskan saja uang di kartu itu."
Kyara sempat terdiam sebentar. Ia tak menyangka suaminya akan mengatakan hal seperti itu. Kyara pun tersenyum kecil. "Iya, Mas." Ia menunduk sebentar sebelum kembali berkata, suaranya pelan tapi jelas. "Kebetulan sekali Mas ngomong begini ... aku juga mau minta izin."
Doni menatapnya. "Izin apa?"
Kyara mengangkat wajahnya. "Aku mau mengunjungi makam Ibu."
Suasana meja makan tiba-tiba sedikit hening. Sendok di tangan Dini berhenti bergerak. Sementara Hesti melirik Kyara sekilas dengan tatapan yang sulit diartikan.
Doni menghela napas pendek, lalu kembali mengambil gelas kopinya. "Ya, pergilah." Jawabannya singkat.
Kyara mengangguk pelan. "Iya, Mas." Ia kembali menunduk dan melanjutkan sarapannya, meskipun entah kenapa perasaannya tiba-tiba terasa berat.
Tanpa Kyara sadari, Hesti diam-diam menatap Doni. Lalu keduanya saling bertukar pandang sesaat. Sebuah pandangan yang begitu cepat.
Rumah kembali sunyi setelah ketiga orang itu pergi.
Suara mesin mobil Doni yang tadi keluar dari halaman kini sudah tak terdengar lagi. Dini juga sudah berangkat ke kampus, sementara Hesti sudah pergi ke rumah makan.
Kyara berdiri sebentar di ruang tamu, memastikan benar-benar tidak ada siapa pun di rumah.
Ia menarik napas pelan, lalu melangkah menuju tangga dan naik ke lantai dua.
Langkahnya ringan ketika memasuki kamar. Pagi itu ia berniat mandi lebih dulu sebelum pergi mengunjungi makam ibunya seperti yang sudah ia katakan pada Doni.
Kyara meletakkan kunci rumah di atas meja rias, lalu meraih handuk yang tergantung di kursi. Namun sebelum masuk ke kamar mandi, ia teringat sesuatu. Ponselnya.
Kyara menoleh ke arah ranjang. Ponsel itu tergeletak di atas bantal, tepat di tempat ia meninggalkannya tadi pagi. Ia berjalan mendekat dan mengambilnya. "Ah, iya ..." gumamnya pelan.
Semalam ia baru saja mengunggah bab kedua dari cerita yang ia tulis.
Sebenarnya Kyara tidak terlalu berharap banyak. Dengan sedikit rasa penasaran, Kyara membuka aplikasi My Story tempat ia mengunggah ceritanya. Ia berniat hanya mengecek sebentar sebelum mandi.
Namun begitu halaman cerita itu terbuka, jari Kyara langsung terhenti di layar. Matanya membola. Tubuhnya bahkan sampai membeku beberapa detik. "Hah?!"