"Mulutmu harimaumu"
Demikian lah peribahasa sederhana yang seringkali kita dengar. Dijadikan pengingat agar kita berhati-hati dalam bertutur kata.
Sayangnya itu tak berlaku untuk seseorang di luar sana. Dengan ringan lisannya berucap tanpa peduli imbas negatif yang ditimbulkan.
Malam-malam yang tenang dalam sekejap berubah jadi menegangkan.
Hadirnya sosok tak kasat mata yang selalu mengawasi, tak hanya membawa rasa sakit tapi juga ketakutan.
Lalu siapa yang bisa bertahan sampai akhir, 'dia' atau mereka ...?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ummiqu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
18. Mendadak Dilalap Api
Atas kesepakatan bersama, anak-anak Padmi akan diasuh oleh Sartika untuk sementara waktu. Sedangkan Padmi diminta tetap menjauhi kedua anaknya itu hingga situasi kembali normal.
Meski sedih harus berpisah dengan kedua anaknya, tapi Padmi merasa lega karena mereka ada di tempat yang aman. Padmi yakin kedua anaknya aman berada di rumah Sartika karena wanita itu sangat welas asih terhadap anak-anak.
"Terus gimana sama Padmi. Bagaimana cara kita membantunya Ustadz?" tanya Sastro.
Ustadz Firman nampak berpikir sejenak sebelum menjawab pertanyaan Sastro. Setelahnya ustadz Firman meminta Sastro dan Rama mendekat kearahnya lalu mulai menjelaskan beberapa hal yang akan mereka lakukan. Sastro dan Rama nampak menyimak dengan seksama.
"Jangan lupa ajak Danu juga Pak Sastro," kata ustadz Firman sebelum berlalu.
"Baik Ustadz. Saya akan temui dia sore ini," sahut Sastro.
"Bagus. Kalo gitu saya duluan ya," pamit ustadz Firman.
"Silakan Ustadz," sahut Sastro sambil tersenyum.
\=\=\=\=\=
Azan Magrib baru saja usai dan malam perlahan mulai merangkak naik.
Jika semua umat muslim bergegas menunaikan kewajiban mereka yaitu sholat Maghrib, tapi tidak dengan Padmi. Wanita itu nampak mondar-mandir di ruang tengah rumahnya sambil sesekali menoleh kearah dapur.
"Ustadz Firman pesen aku harus sholat karena jin kafir dan sejenisnya ga suka sama orang yang taat kepada Allah. Tapi gimana mau sholat kalo aku aja belum wudhu gara-gara ga berani ke kamar mandi. Aku khawatir pocong Ginah nongol di sana," gumam Padmi gusar.
Setelah mondar-mandir beberapa saat, akhirnya Padmi menemukan cara agar bisa menunaikan kewajibannya kepada sang Khaliq.
Ternyata Padmi memilih tayamum sebagai pengganti wudhu. Walau tahu itu tidak sah dan tak memenuhi syarat, tapi Padmi tak peduli karena rasa takutnya pada pocong Ginah lebih mendominasi.
"Yang penting kan sholat," batin Padmi untuk membenarkan tindakannya.
Sesaat setelah menunaikan sholat Maghrib, lampu di rumah Padmi tiba-tiba padam.
Meski takut, Padmi berusaha tetap tenang. Dia bangkit untuk mencari lampu semprong di dapur. Sedikit sulit karena suasana rumah yang gelap gulita.
Dengan meraba dinding, Padmi berhasil menemukan lampu yang dimaksud. Dia mengguncang lampu sedikit dan nampak menghela nafas lega mengetahui minyak tanah dalam tabung kaca tersedia cukup banyak.
"Sekarang tinggal cari koreknya," gumam Padmi sambil mengulurkan tangannya kearah meja.
Setelah berhasil meraih korek api dari atas meja, Padmi segera menyalakan lampu. Begitu lampu semprong menyala, Padmi dibuat terkejut melihat Ginah berdiri di hadapannya dalam penampilan seperti sebelum meninggal dunia. Dengan luka menganga di bagian kanan wajahnya, beserta lendir, nanah dan bau busuk yang menguar.
Padmi refleks memejamkan matanya karena takut melihat penampakan Ginah. Untuk sesaat Padmi hanya bisa berdiri mematung tanpa melakukan sesuatu. Bibirnya nampak bergerak melantunkan zikir yang terputus-putus.
Padmi mengira sosok Ginah hanya akan menampakkan diri sebentar lalu pergi karena takut dengan lantunan zikir yang dibacanya. Sayangnya dugaan Padmi salah. Sosok Ginah tetap bertahan bahkan kini bergerak mendekat kearahnya. Padmi baru menyadarinya saat udara di sekitarnya dipenuhi bau busuk yang pekat.
"Padmi ... "
Suara itu terdengar dekat di telinga dan membuat Padmi takut bukan kepalang. Saking takutnya Padmi tak kuasa menahan tubuhnya sendiri. Dia pun jatuh merosot ke lantai.
Bersamaan dengan tubuh Padmi yang menyentuh lantai, lampu semprong yang ada di tangannya pun ikut terjatuh. Lampu yang terbuat dari tabung dan semprong kaca itu pun pecah berserakan di lantai bersama dengan minyak tanah yang ada di dalam tabungnya.
Seketika api yang ada di ujung sumbu pun membesar terkena percikan minyak tanah. Api juga menyambar kearah pakaian yang Padmi kenakan. Rupanya saat lampu semprong jatuh dan pecah, minyak tanah juga memecik ke pakaiannya tanpa Padmi sadari.
Padmi pun menjerit. Dia berusaha mengibas api yang menjalari pakaiannya tapi gagal karena api makin membesar.
Padmi segera bangkit lalu menggapai kran air yang ada di dekatnya. Alih-alih keluar air, kran justru tak bisa digerakkan alias macet. Padmi pun panik. Dia berlari kearah kamar mandi, sayangnya pintu kamar mandi tiba-tiba tertutup dengan sendirinya seolah ada sesuatu yang mendorongnya dari dalam. Saat Padmi mencoba mendorong dengan kekuatan penuh tapi pintu kamar mandi tak terbuka sama sekali seolah terkunci.
Padmi kembali menjerit saat merasakan api mulai merambat kearah wajahnya. Padmi refleks mengusap wajahnya berharap api berhenti melahap wajahnya. Sayangnya Padmi lupa jika telapak tangannya telah dipenuhi cairan minyak tanah. Alhasil, wajah yang diusapnya barusan ikut berlumuran minyak tanah dan dengan cepat dilahap api.
Padmi pun menjerit histeris karena rasa sakit dan takut yang mengepungnya.
Sambil menggeliat kesakitan, Padmi bisa melihat sosok Ginah yang berdiri tak jauh darinya sedang menyeringai seolah puas menyaksikan penderitaannya. Namun sedetik kemudian Padmi terkejut saat menyaksikan sosok Ginah dengan luka menganga di wajahnya itu berubah menjadi sosok berbalut kain kafan putih dengan beberapa ikatan di tubuhnya. Ya, kini sosok Ginah tampil dalam wujud pocong.
Jika sebelumnya Padmi masih bisa mengabaikan kehadiran Ginah, tapi kali ini tidak. Melihat mantan temannya berubah menjadi pocong Padmi makin histeris.
Bersamaan dengan jeritan Padmi yang mulai terdengar parau, tiba-tiba penutup wajah pocong Ginah terkoyak. Kondisi wajah Ginah yang rusak dengan kulit menghitam, kedua mata melotot dan lubang hidung tersumbat kapas itu pun terlihat jelas hingga membuat Padmi makin tersiksa.
Di saat genting itu, tiba-tiba terdengar suara gedoran di pintu rumah disertai suara beberapa pria yang memanggil nama Padmi. Karena tak mendapat respon, orang yang menggedor pintu itu pun memutuskan untuk mendobrak pintu.
Setelah pintu terbuka, terlihat Rama dan Danu di ambang pintu. Keduanya langsung menerobos masuk ke dalam rumah untuk menolong Padmi yang sedang dilalap api. Di belakang mereka ustadz Firman, Sastro dan beberapa tetangga Padmi terlihat menyusul.
Danu dan Rama bergerak cepat. Karena gagal membuka kran air, Danu bergegas masuk ke kamar mandi dan mengambil air dari sana menggunakan ember. Kemudian dengan cara estafet Rama membantu menyiramkan air ke tubuh Padmi.
Tak lama kemudian api yang berkobar di dapur itu pun berhasil dipadamkan. Padmi terlihat meringkuk di lantai dalam kondisi nyaris bugil karena pakaian yang melekat di tubuhnya sebagian telah terbakar habis.
Tanpa aba-aba Danu segera melepaskan sarung yang dipakainya lalu membentangkannya di atas tubuh Padmi.
"Terima kasih ...," kata Padmi lirih.
"Sama-sama," sahut Danu.
Setelah memberikan sarung, Danu mengikuti Rama, ustadz Firman dan Sastro yang melangkah ke ruang depan. Seorang wanita yang juga tetangga Padmi berinisiatif membantu. Dia menarik sarung lalu melilitkannya perlahan di tubuh Padmi.
Sambil meringis menahan sakit, Padmi pun bangkit lalu duduk. Saat tetangganya melilit sarung di tubuhnya, Padmi nampak berpikir keras. Sesekali dia juga menoleh kearah kamar mandi.
Padmi memang tak percaya pintu kamar mandi bisa dengan mudah terbuka saat Danu menerobos masuk ke sana tadi. Padahal sebelumnya dia sendiri kesulitan masuk karena pintu yang mendadak terkunci dari dalam.
Dan setelahnya kejadian yang di luar nalar pun terjadi ...
\=\=\=\=\=
bru baca soalnya