Anies Fadillah hanya ingin menenangkan hatinya yang lelah.
Namun satu langkah tergesa tanpa perhitungan di malam hari menyeretnya pada fitnah yang tak sempat ia luruskan.
Faktanya Anisa Fadillah gadis tujuh belas tahun itu berada di dalam kamar Ustadz Hafiz Arsyad, yang tak lain adalah putra bungsu dari Kiai Arsyad.
Sebuah peristiwa yang menguncang kehormatan, meski keduanya tak pernah berniat melanggar syari'at.
Ketika prasangka lebih dulu berbicara dan kebenaran tak sempat di bela, jalan yang paling tepat menjaga marwah adalah pernikahan.
Hari itu juga Mereka dinikahkan secara tertutup, dan pernikahan itu dirahasiakan dari publik, hanya orang ndalem yang mengetahui pernikahan rahasia antara Hafiz dan Anies.
Apakah pernikahan mereka akan bertahan?
Atau mungkin pernikahan mereka akan terbongkar?
Ikuti kisahnya yuk...!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ZIZIPEDI, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30 Pilihan
Keheningan itu akhirnya dipecah oleh sesuatu yang tak terduga. Bukannya berkemas. Bukannya bergegas menuju pintu.
Gus Hafiz justru berjalan pelan ke arah ranjang Anisa.
Tanpa banyak kata. Tanpa menjelaskan apa pun. Ia melepas peci dan membaringkan tubuhnya di atas kasur empuk itu.
Menghadap langit-langit. Beberapa detik kemudian, napasnya teratur. Matanya terpejam. Seolah dunia di luar tak lagi penting.
Anisa yang tadi turun ke lantai bawah untuk membantu Mbok Yem, kembali ke kamar dengan langkah pelan.
Pintu ia dorong perlahan.
Dan ia terdiam di sana, saat melihat sosok Gus Hafiz tertidur lelap di ranjangnya.
“Loh…” gumamnya lirih. “Bukannya Gus Hafiz mau langsung kembali ke Ponorogo… kok malah tidur?”
Ia berdiri beberapa saat di ambang pintu. Menatap lelaki berjambang tipis itu. Wajahnya tampak lelah.
Bukan hanya lelah fisik, tapi juga lelah batin.
Anisa tak jadi membangunkannya.
Mungkin beliau capek… pikirnya.
Mungkin setelah bangun nanti… beliau akan langsung meninggalkannya.
Memikirkan hal itu membuat dadanya kembali terasa berat. Namun kali ini ia tak menangis. Ia hanya duduk di kursi dekat jendela.
Menatap taman luas di belakang rumah. Rumah ini besar, indah.
Tapi terasa terlalu lapang untuk ditinggali sendiri.
Waktu berjalan pelan. Hingga suara adzan Zuhur berkumandang dari musholah komplek.
“Allahu Akbar… Allahu Akbar…”
Gus Hafiz bergerak, matanya terbuka.
Seolah memang hanya menunggu waktu adzan. Beliau bangkit cepat, duduk, lalu menoleh ke arah Anisa yang sedang berdiri tak jauh darinya.
“Kamu darimana, kok pakaianmu basah...?” tanyanya lembut.
Anisa menunduk menatap bagian gamisnya yang sedikit basah.
"Dari dapur, meter mesin cuci."
Jelasnya. Lalu ada jeda sedetik.
“Gus… jadi pulang sekarang?”
Pertanyaan itu pelan. Hati-hati.
Gus Hafiz tidak langsung menjawab.
Ia justru berdiri.
“Lihat nanti. Mau ambil wudhu dulu.”
Sahutnya singkat. Jelas bukan jawaban itu yang Anisa tunggu.
Beberapa menit kemudian, Gus Hafiz sudah mengenakan sarung dan baju koko, bersiap ke mushola komplek.
"Mas ke mushola dulu,” ujarnya.
“Inggih…”
Anisa mengangguk.
Ia berdiri di depan jendela, memperhatikan dari balik tirai tipis saat Gus Hafiz melangkah keluar gerbang.
Usai salat Zuhur di kamarnya, Anisa mengusap wajahnya pelan.
Doanya tadi sederhana.
Tak panjang. Ia hanya meminta pada Rabbnya, agar diberi kekuatan dan kesabaran.
Lalu tiba-tiba Anisa, teringat sesuatu.
Mesin cuci. Tadi ia sempat menyalakannya sebelum Gus Hafiz pergi ke musolah.
Anisa bergegas turun ke lantai bawah. Suara mesin sudah berhenti. Ia membuka tutupnya dan mulai mengeluarkan pakaian satu per satu. Kemeja putih, sarung, baju koko milik Gus Hafiz.
“Ya Allah, Mbak Nisa… biar simbok saja,” ujar Mbok Yem yang tiba-tiba muncul dari dapur, nadanya sungkan.
“Ndak papa, Mbok. Biar Nisa saja. Ini baju Gus Hafiz.”
Anisa tersenyum kecil sambil terus mengeluarkan pakaian sebelum memasukkannya ke keranjang.
Mbok Yem mendekat, memperhatikan dengan mata yang penuh kehangatan.
“Mbak Nisa beruntung punya suami sebaik dan sesoleh Gus Hafiz,” gumamnya pelan.
Anisa berhenti. Tangannya yang sedang memegang kemeja putih itu terdiam.
“Masak sih, Mbok?”
Tanya Anisa menatap penasaran.
Mbok Yem mengangguk mantap.
“Simbok ini orang tua, Nduk. Sudah banyak lihat laki-laki. Cara beliau memandang Mbak tadi waktu turun dari mobil itu… beda.”
Anisa terdiam.
“Beda gimana, Mbok?”
“Itu pandangan orang yang jatuh cinta. Bukan cuma sayang biasa. Tapi menjaga.”
Kata menjaga membuat dada Anisa menghangat… sekaligus perih. Nyatanya pria yang sedang mereka bicarakan itu, akan pergi meninggalkannya ke Ponorogo.
Mbok Yem melanjutkan dengan suara lembut.
“Laki-laki yang sungguh-sungguh itu bukan yang paling sering bilang cinta, Mbak Nisa. Tapi selalu ada saat kita butuh perlindungan.”
Kalimat itu membuat jantung Anisa berdegup.
Seolah Mbok Yem tahu apa yang terjadi di lantai atas tadi.
“Mbak Nisa tadi nangis, ya?”
Anisa terdiam. Matanya mendadak panas.
“Simbok dengar suara pintu ditutup sikit keras. Simbok ini yo memang cuma pembantu… tapi simbok sudah gendong Mbak dari kecil. Hati Mbak kalau lagi sedih, simbok tahu.”
Air mata Anisa akhirnya jatuh.
Pelan. Wanita Sepuh itu selalu tahu kesedihannya.
Mbok Yem mendekat, mengusap lengan Anisa dengan halus, Anisa lalu menjatuhkan diri ke pelukan Mbok Yem.
“Nduk… hidup itu kadang bikin kita merasa nggak dipilih. Nggak diutamakan. Tapi jangan cepat menyimpulkan kamu nggak dicintai.”
Anisa menunduk.
“Tapi Mbok… Papa Mama pergi. Gus juga mau pergi…”
Suara manjanya, pecah ditengah tangisnya.
Mbok Yem tersenyum tipis.
“Orang tuamu mungkin belum selesai dengan urusannya sendiri. Tapi suamimu…” ia berhenti sejenak, “kalau beliau benar-benar mau pergi, dari tadi sudah berangkat, Nduk.”
Anisa terdiam. Kalimat itu seperti membuka sesuatu dalam pikirannya.
“Buktinya, Beliau malah tidur di kamar Mbak Nisa. Itu bukan capek biasa. Itu orang yang lagi mikir keras.”
Air mata Anisa semakin deras. Ternyata dirinya telah menyulitkan suaminya, sampai-sampai ia harus memilih.
“Mak Nisa, laki-laki itu kalau cinta, kadang nggak pandai menjelaskan. Tapi langkahnya kelihatan.”
Mbok Yem menggenggam tangan Anisa erat, seperti sedang menggenggam tangan putri kecilnya.
“Mbak Nisa jangan cepat merasa tidak punya tempat. Kalau Mbak terus merasa kecil, nanti benar-benar jadi kecil di mata orang.”
Anisa tersedu pelan.
“Terus Nisa harus gimana, Mbok?”
“Jadi istri yang kuat. Bukan yang menuntut dipilih, tapi yang layak diperjuangkan.”
Kalimat itu sederhana. Namun terasa begitu dalam.
“Kalau memang Gus Hafiz sayang Mbak, beliau akan belajar menyeimbangkan. Tapi kalau Mbak sudah mundur duluan… beliau nggak punya alasan untuk bertahan.”
Anisa terdiam lama. Hatinya perlahan terasa hangat. Mungkin… yang Mbok Yem katakan itu benar.
Jika Gus Hafiz ingin pergi, ia tak perlu tidur. Tak perlu salat dulu. Tak perlu menunda.
Mungkin lelaki sudah sejak tadi pergi.
Anisa mengusap air matanya. Menatap kemeja putih yang kini sudah bersih di tangannya.
Sementara dari arah depan, langkah Gus Hafiz terdengar pelan di teras rumah.
Anisa yang sejak tadi menunggu kepulangan Gus Hafiz dari musholah, langsung berdiri ketika pintu terbuka.
Wajah Gus Hafiz terlihat lebih tenang setelah salat. Namun tetap ada sisa-sisa pergulatan di matanya.
Anisa mendekat.
“Gus…” suaranya hati-hati. “Jadi balek ke Ponorogo?”
Pertanyaan itu sederhana. Tapi penuh makna.
Gus Hafiz tidak langsung menjawab.
Ia justru mengangkat tangannya dan mengelus kepala Anisa perlahan.
Sentuhan yang lembut, menenteramkan hati Anisa yang gelisah.
“Kamu tanggung jawabnya Mas,” ucapnya pelan. Anisa menahan napas.
“Kalau Mas balik ke Ponorogo, kamu juga harus ikut balik ke Ponorogo.”
Kalimat itu membuat jantung Anisa berdegup cepat.
“Tapi…” lanjutnya, “Mas mutusin nemenin istrinya Mas di sini.”
Anisa membulatkan mata. Ada keterkejutan yang jujur di wajah ayunya.
“Lalu… bagaimana dengan Umi? Yang meminta Gus segera balik?”
Suara Anisa tak lagi setegas tadi.
Kini ada kekhawatiran.
Gus Hafiz mengusap pipi Anisa, ibu jarinya menghapus sisa jejak air mata yang mungkin belum sepenuhnya kering.
“Nggak usah dipikir,” bisiknya. “Mas nanti yang jelasin ke Umi.”
Nada suaranya tenang.
Mantap.
Bukan nada orang yang ragu. Anisa menatapnya lekat-lekat. Seolah memastikan ini bukan sekadar ucapan penghibur.
Dan ketika ia tak menemukan kebimbangan di sana, rona bahagia perlahan muncul di pipinya.
“Maturnuwun, Gus…”
Tanpa sadar, ia memeluk Gus Hafiz.
Erat.
Hangat.
Bukan pelukan manja, tapi pelukan lega.
Gus Hafiz membalasnya, tangannya menguat di punggung Anisa.
Seolah mengatakan, aku di sini. Namun di tengah kehangatan itu, ponselnya kembali berdering.
Getarnya terasa jelas di saku bajunya.
Mereka perlahan saling melepas.
Gus Hafiz mengeluarkan ponsel.
Nama yang muncul membuat udara di antara mereka seketika berubah.
Umi Laila.
Anisa menatapnya, tak berkata apa-apa.
Namun jelas ada ketegangan baru yang menggantung.
Gus Hafiz menarik napas dalam.
Lalu mengangkat panggilan itu.
“Assalamu’alaikum, Mi…”