NovelToon NovelToon
Cinta Di Orang Yang Sama

Cinta Di Orang Yang Sama

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Cintapertama / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:6.6k
Nilai: 5
Nama Author: Yun Alghff

Seorang Gadis berambut kepang dua dengan kacamata bulat bernama Arabella Bellvania Laurent. Gadis kutu buku yang menyukai kapten basket bernama Arslan. Namun sayang Arslan mengajak Abel berpacaran hanya untuk sebuah permainan dari teman-temannya. Sebuah ciuman pertama bagi Abel terus membekas meski kenyataan pahit bahwa hubungannya adalah sebuah taruhan. 5 tahun berlalu, keduanya belum dapat mendapatkan cinta sejati masing-masing.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yun Alghff, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

5. Kamu adalah Harta Kami

Abel melempar tasnya ke sudut kamar, lalu menghempaskan tubuh ke atas kasur. Isaknya belum berhenti. Ia merasa seperti burung dalam sangkar; di sekolah ia ditekan oleh taruhan dan rahasia Arslan, di rumah ia dikunci oleh kecurigaan Reno.

Dengan tangan gemetar, ia meraih ponselnya. Harapan terakhirnya adalah suara tenang dari seberang benua. Ia menekan ikon panggilan video pada kontak bertuliskan "Bunda".

Setelah beberapa nada sambung, layar menampilkan wajah seorang wanita paruh baya yang elegan, duduk di sebuah ruangan kantor minimalis di Munich dengan latar belakang layar-layar monitor berisi kode-kode rumit.

"Bunda..." suara Abel pecah saat itu juga.

"Abel? Sayang, kenapa menangis? Ada masalah di sekolah?" tanya Bunda dengan nada cemas namun tetap tenang, khas seorang pimpinan perusahaan.

"Bunda, tolong kasih tahu Kak Reno. Dia keterlaluan!" Abel mulai menumpahkan segalanya—tentu saja dengan versi yang sudah dimodifikasi. "Abel cuma mau keluar cari buku, tapi Kak Reno interogasi Abel kayak buronan. Dia lacak lokasi Abel, dia nyusul ke kafe, dia teriak-teriak di depan orang banyak. Abel malu, Bun! Abel merasa nggak punya privasi sama sekali."

Di layar, Bunda menghela napas panjang. Ia membetulkan letak kacamatanya, lalu menoleh ke arah Ayah yang sempat melintas di belakangnya. "Kak Reno sudah bicara sama Bunda tadi lewat pesan singkat, Bel."

Abel tertegun. "Jadi Kak Reno udah ngadu duluan?"

"Bukan mengadu, sayang. Dia hanya menjalankan tugasnya," ucap Bunda dengan nada yang mendadak serius. "Bel, kamu harus mengerti. Ayah dan Bunda ada di Jerman untuk membangun bisnis ini juga demi masa depan kalian. Kami tidak bisa di sana untuk memegang tangan kamu setiap hari. Kak Reno adalah wakil kami."

"Tapi Bun, dia terlalu over! Abel nggak bisa napas!"

"Abel, dengar," suara Bunda merendah, memberikan otoritas yang tidak bisa dibantah. "Dunia luar itu keras, apalagi untuk gadis sepertimu yang terlalu fokus pada buku dan sering tidak peka dengan niat buruk orang lain. Kak Reno bilang kamu berbohong soal lokasi. Kamu bilang ke toko buku, tapi kamu malah di kafe dengan seseorang yang tidak dikenal. Benar?"

"Itu... itu cuma temen, Bun."

"Teman yang membuatmu harus berbohong pada kakakmu bukan teman yang baik, Abel," potong Bunda tegas. "Bunda justru berterima kasih pada Kak Reno karena dia begitu sigap. Kalau terjadi apa-apa padamu, siapa yang paling hancur? Kami. Jadi, Bunda minta kamu jangan membantah Kak Reno lagi. Ikuti aturannya, atau Bunda akan minta Kak Reno menyita ponsel dan membatasi uang saku kamu sampai kamu bisa bersikap jujur."

Klik.

Sambungan terputus karena Bunda harus segera masuk ke rapat dewan direksi. Abel menatap layar ponselnya yang hitam dengan perasaan hancur. Tidak ada pembelaan. Tidak ada perlindungan. Di mata orang tuanya, Reno adalah pahlawan, sementara dirinya hanyalah subjek yang harus diawasi.

Abel meringkuk, memeluk lututnya. Ia merasa semakin terisolasi. Satu-satunya pelarian yang ia miliki sekarang hanyalah Arslan. Ia meraih ponselnya lagi, mengirim pesan singkat pada sang kapten basket.

Abel: Arslan, Kak Reno tahu aku bohong soal lokasi. Aku takut, jika nanti kita tidak bisa saling mengenal lagi. Aku harus bagaimana?

Di tempat lain, Arslan yang sedang berkumpul dengan tim basketnya hanya melirik notifikasi itu sambil menyeringai. Ia menunjukkan pesan itu pada Bimo dan Raka.

"Liat nih, si culun mulai bergantung banget sama gue. Kakaknya mulai curiga, tapi itu malah bikin dia makin nempel ke gue," ucap Arslan santai sambil melempar ponselnya ke meja.

"30 juta makin nyata ya, Lan?" tawa Bimo pecah.

Suasana hening yang tegang di kediaman Bellvani perlahan mencair saat aroma nasi goreng dengan ekstra daging ayam dan udang besar—makanan favorit Abel yang memang di buat secara khusus oleh Reno—merayap masuk ke celah pintu kamar.

Reno berdiri di depan pintu sambil membawa nampan, mengetuk pelan dengan sikunya. "Bel, gue tahu lo masih bangun. Kalau lo nggak buka pintu dalam tiga hitungan, gue kasih nasi goreng ini ke kucing depan rumah. Satu... dua..."

Cklek.

Pintu terbuka sedikit, memperlihatkan mata Abel yang sembab. Reno tidak menunggu izin; ia langsung menyelinap masuk dan menaruh nampan itu di meja belajar Abel, tepat di samping tumpukan buku kalkulus.

"Gue minta maaf," ucap Reno tiba-tiba, suaranya tulus tanpa nada ketus seperti biasanya. Ia duduk di pinggir kasur, menunduk menatap lantai. "Gue tahu gue keras. Tapi Abel, lo itu satu-satunya yang gue punya di sini. Ayah-Bunda sibuk sama teknologi mereka di Jerman, dan gue... gue cuma takut lo hancur karena cowok-cowok nggak bener yang cuma liat kepolosan lo sebagai mangsa."

Abel masih diam, namun bahunya mulai sedikit rileks.

"Gue nggak mau lo kayak temen-temen kampus gue, nangis-nangis karena diputusin atau lebih parah dari itu," lanjut Reno. Ia kemudian melirik ke arah Abel dengan senyum jahil yang mulai muncul. "Lagian, kalau lo punya pacar, dia harus lolos tes dari gue dulu. Minimal bisa ngerjain soal integral dalam dua menit. Kalau nggak, gue depak."

Abel mendengus, hampir tertawa. "Mana ada cowok mau sama aku kalau syaratnya kayak gitu, Kak!"

"Ya berarti mereka nggak pantes buat adek gue yang jenius ini," Reno berdiri, lalu tiba-tiba melakukan aksi usilnya. Ia menarik kepangan rambut Abel dengan gemas sampai kepala Abel sedikit terdongak. "Ayo makan! Jangan nangis terus, muka lo makin mirip ikan buntal kalau sembab gitu."

"Ih, Kak Reno! Sakit tahu!" teriak Abel, mulai mengejar Reno yang lari keluar kamar.

Tawa pecah di koridor rumah mereka. Ketegangan tadi sore seolah menguap, digantikan oleh kehangatan kakak-beradik yang memang selalu menjadi benteng bagi satu sama lain. Abel merasa lega bisa akur kembali dengan Reno, namun di sudut hatinya, ada rasa perih yang menusuk. Ia baru saja tertawa bersama orang yang paling menyayanginya, sementara di tangannya masih tersimpan rahasia besar tentang Arslan—seorang laki-laki yang mungkin adalah definisi dari "cowok nggak bener" yang baru saja diperingatkan oleh Reno.

Keesokan harinya, Reno mengantar Abel sampai tepat di depan gerbang sekolah dengan motor besarnya.

"Inget, pulang nanti gue jemput. Jangan ada acara 'kakak kelas lewat' lagi," sindir Reno sambil mengacak rambut Abel. Matanya diam-diam menyisir area parkir, mencari mobil sport putih yang kemarin ia lihat di koordinat kafe.

Abel mengangguk cepat dan segera masuk ke sekolah. Ia harus segera menemui Arslan. Ia harus memperingatkan laki-laki itu bahwa Reno sedang mengincarnya. Namun, saat melewati lapangan basket, ia melihat Arslan sedang tertawa bersama Bimo dan Raka, tampak sangat santai seolah tidak ada beban.

1
Ariany Sudjana
tetap waspada yah dokter Arslan, bagaimanapun kamu dokter, konglomerat pula, pasti banyak pelakor yang ingin menjadi istri kamu
Mifhara Dewi: bumbu kehidupan tetap akan di sajikan. tunggu bab selanjutnya ya Kak
total 1 replies
Ariany Sudjana
puji Tuhan, tinggal langkah selanjutnya Arslan dan Abel
Mifhara Dewi: mau seperti apa nantinya Kak? langsung sat set atau belok2 dulu?
total 1 replies
Naomi Willem Tuasela
semangatttt Thor 👊🏼😇💙💗
Mifhara Dewi: terimakasih Kak
total 1 replies
Mifhara Dewi
Satu saran dari kalian adalah penyemangat untuk ku terus berkarya 🥰🙏
Dwi Sulistyowati
lanjut kak seru cerita nya
Mifhara Dewi: di tunggu updatenya ya kak. kita usahakan 1 hari bisa up 3 bab
total 1 replies
kucing kawai
Bagus bngt
Mifhara Dewi: terimakasih banyak Kak
total 1 replies
kucing kawai
up yg banyak ya thor
Mifhara Dewi: terimakasih kak, di tunggu ya bab selanjutnya.
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!