"Dulu aku membangun tahtamu dengan cinta, sekarang akan kuruntuhkan kerajaanmu dengan sisa tenaga sebagai tukang sapu!"
Clarissa mati sebagai istri yang dikhianati. Namun, dia bangun kembali sebagai Lestari, seorang cleaning service yang dianggap sampah oleh mantan suaminya, Kenzo, dan adiknya yang licik, Angelica.
Rencananya sederhana: Menyusup, sabotase, dan hancurkan!
Tapi rencana itu kacau saat Devan Mahendra—CEO tampan yang merupakan musuh bebuyutan suaminya—tiba-tiba menarik kerah seragamnya.
"Gadis pelayan sepertimu tahu apa soal pencucian uang pajak? Ikut aku!" seru Devan angkuh.
Kini, Clarissa terjebak di antara misi balas dendam yang membara dan bos baru yang sangat menyebalkan tapi selalu pasang badan untuknya. Bagaimana jadinya jika sang rival jatuh cinta pada "si tukang sapu" yang ternyata adalah otak jenius yang pernah mengalahkannya dulu?
"Kenzo, selamat menikmati hari-harimu di puncak. Karena aku sedang menyiapkan jurang terdalam untukmu... dibantu oleh musuh terbesarmu
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahidah88, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22: Bangkitnya sang Ratu Naga
Markas besar Naga Hitam bukan terletak di sebuah gudang kumuh, melainkan di sebuah mansion tersembunyi di atas bukit yang menghadap langsung ke laut lepas. Bangunan itu bagaikan benteng baja dengan sistem keamanan sensorik yang bisa mendeteksi bahkan seekor lalat yang masuk tanpa izin.
Tiga hari telah berlalu sejak malam berdarah di kantor polisi. Clarissa berdiri di balkon kamarnya, menatap ombak yang menghantam karang di bawah sana. Ia tidak lagi mengenakan baju pelayan atau gaun perak yang lembut. Kini, ia mengenakan setelan leather hitam ketat dengan jubah panjang berwarna merah darah. Di lehernya, sebuah kalung berbentuk taring naga melingkar—simbol otoritas barunya.
Tok, tok.
Julian masuk tanpa menunggu izin. Ia membawa sebuah nampan berisi sarapan mewah dan sebuah map dokumen.
"Kau tampak sangat cocok dengan warna merah, Kecil," puji Julian sambil meletakkan map itu di meja. "Bagaimana tidurmu? Masih memimpikan si pengkhianat Mahendra itu?"
Clarissa berbalik, matanya dingin bagaikan es abadi. "Jangan sebut nama itu lagi jika kau tidak ingin aku merobek lidahmu, Julian. Sekarang, katakan padaku, apa isi dokumen itu?"
Julian terkekeh, tidak merasa terintimidasi. "Ini adalah daftar aset logistik Mahendra Group yang paling krusial di Selat Malaka. Selama ini Devan sombong karena dia menguasai jalur laut. Tapi dengan kode akses biometrik yang kau miliki sekarang, kita bisa membekukan seluruh kapal kargonya hanya dalam satu malam."
Clarissa mengambil map tersebut, membacanya dengan cepat. Insting CEO-nya yang jenius bekerja dengan kecepatan cahaya. "Ini terlalu sederhana. Jika kita hanya membekukan kapalnya, dia bisa meminta bantuan aliansi internasional. Kita harus membuatnya tampak seperti kesalahan teknis dari pusat, sehingga asuransinya tidak akan cair. Kita akan membuatnya bangkrut secara sistemis."
Julian menatap Clarissa dengan rasa kagum yang tak tertutup. "Inilah alasan kenapa aku selalu menginginkanmu di sisiku. Kau punya otak yang jauh lebih mematikan daripada senjata api mana pun."
"Aku melakukan ini bukan untukmu, Julian," Clarissa mendekati Julian, menatapnya dengan jarak yang sangat dekat hingga pria itu bisa melihat kebencian di matanya. "Aku melakukan ini untuk menghancurkan pria yang telah membunuhku. Setelah Mahendra hancur, aku akan mengurusmu dan organisasi ini."
Julian hanya tersenyum miring. "Tentu saja, Ratu. Aku menantikan saat itu."
Sementara itu, di pusat kota Jakarta, kantor pusat Mahendra Group tampak seperti zona perang. Devan Mahendra duduk di kursi kebesarannya, namun ruangannya berantakan. Berkas-berkas berserakan di lantai, dan layar monitor menunjukkan grafik saham perusahaan yang terus menukik tajam.
"Tuan... kami baru saja kehilangan kontak dengan tiga kapal kargo utama kita di Selat Malaka," lapor sekretarisnya dengan suara gemetar. "Sistemnya terkunci. Kode aksesnya diganti dengan protokol... Phoenix Wijaya."
Devan tidak meledak marah. Ia justru tertawa—tawa yang terdengar hampa dan mengerikan. Ia tahu siapa pelakunya. Hanya ada satu orang di dunia ini yang bisa meretas protokol itu dengan mata tertutup.
"Clarissa... kau benar-benar ingin menghancurkanku, ya?" gumam Devan. Ia bangkit, berjalan menuju jendela kaca besar yang memperlihatkan pemandangan kota. "Cintamu sebesar itu hingga bencimu pun terasa begitu dahsyat."
"Tuan, apa perintah Anda? Jika kita tidak segera bertindak, dewan komisaris akan mencopot posisi Anda sore ini!"
"Biarkan saja," jawab Devan tenang. "Biarkan dia mengambil semuanya. Uang, kapal, perusahaan... berikan padanya jika itu bisa meredam amarahnya. Tapi siapkan unit Delta. Kita akan berangkat ke koordinat markas Naga Hitam malam ini."
"Tuan, itu bunuh diri! Kita tidak punya izin masuk ke wilayah itu!"
"Aku tidak butuh izin untuk mengambil kembali jantungku yang dicuri," Devan mengambil pistol dari laci mejanya, mengisinya dengan peluru perak. "Jika dia ingin bermain sebagai Naga, maka aku akan menjadi pemburunya."
Malam harinya, Clarissa duduk di ruang kendali Naga Hitam. Jari-jarinya menari di atas layar holografik. Ia sedang melihat angka-angka kerugian Mahendra Group yang meningkat drastis. Triliunan rupiah menguap dalam hitungan jam.
Bip. Bip.
Sebuah komunikasi masuk melalui jalur pribadi. Clarissa ragu sejenak, namun ia menekan tombol Accept.
Layar menampilkan wajah Devan. Pria itu tampak berantakan, namun sorot matanya tetap tajam dan posesif.
"Halo, Ratu Naga," ucap Devan dengan suara bariton yang dalam.
"Kau punya nyali untuk menghubungiku setelah apa yang kau lakukan?" balas Clarissa, suaranya mengandung racun.
"Aku hanya ingin bilang... seranganmu tadi sangat cantik. Teknik backdoor yang kau gunakan di Selat Malaka benar-benar luar biasa. Aku bangga padamu," ucap Devan, seolah mereka tidak sedang berperang.
"Berhenti bersikap seolah kau mencintaiku, Devan! Rekaman itu... kau tidak bisa membantahnya! Kau membunuhku!" teriak Clarissa, air mata mulai menggenang di matanya meski ia mencoba menahannya.
"Rekaman itu asli, Clarissa. Suara itu memang suaraku," aku Devan tenang.
Clarissa tertegun. Ia mengharapkan penyangkalan, tapi kejujuran Devan justru membuatnya semakin sakit. "Jadi... kau mengakuinya?"
"Aku mengakuinya. Tapi kau tidak mendengar seluruh rekamannya," Devan menunjukkan sebuah alat perekam tua di tangannya. "Julian memotong bagian akhirnya. Bagian di mana aku bilang... 'Pastikan remnya blong agar aku bisa menghentikannya di tikungan sebelum dia sampai ke markas Naga Hitam, karena ayahmu berniat menyerahkanmu malam itu untuk dikorbankan'. Aku mencoba menyelamatkanmu dengan cara yang salah, Clarissa. Aku lebih baik melihatmu mati di tanganku daripada hidup sebagai budak abadi mereka."
"Bohong! Kau hanya mencari alasan!" Clarissa menghantam meja kendali.
"Aku sedang di depan gerbangmu sekarang, Clarissa. Jika kau tidak percaya, tarik pelatuknya sendiri. Aku tidak akan melawan," ucap Devan sebelum koneksi terputus.
BOOM!
Sebuah ledakan mengguncang seluruh mansion. Alarm berbunyi nyaring.
"Julian! Devan ada di sini!" teriak Clarissa melalui interkom.
Julian masuk dengan pistol di tangan, wajahnya penuh kegembiraan yang gila. "Bagus! Dia menyerahkan nyawanya sendiri! Lestari, tetap di sini! Aku akan membawakan kepalanya padamu sebagai hadiah pernikahan kita!"
Julian segera keluar bersama pasukan elit Naga Hitam. Clarissa berdiri terpaku. Pikirannya kacau. Rekaman itu... benarkah ada bagian yang dipotong? Benarkah Devan mencoba menyelamatkannya dari takdir yang lebih buruk?
Ia segera mengakses kamera pengawas gerbang depan. Di sana, di tengah hujan deras, Devan berdiri sendirian. Ia tidak membawa pasukan. Ia hanya berdiri di sana dengan satu tangan memegang luka di perutnya yang tampaknya terkena tembakan penjaga luar, sementara tangan lainnya memegang kalung perak yang sama dengan yang dipakai Clarissa.
"Devan... pria bodoh..." bisik Clarissa.
Ia melihat Julian membidikkan senjatanya dari atas balkon ke arah kepala Devan. Julian tersenyum lebar, jarinya sudah berada di pelatuk.
"TIDAK!"
Clarissa berlari sekuat tenaga. Ia mengabaikan rasa sakit di dadanya. Ia tidak tahu siapa yang benar, ia tidak tahu siapa yang harus dipercaya. Tapi satu hal yang ia tahu: ia tidak bisa melihat Devan mati di depan matanya lagi.
DOR!
Suara tembakan menggema.
Clarissa melompat dari tangga, mendorong Julian tepat saat pria itu melepaskan tembakan. Peluru itu meleset, hanya mengenai bahu Devan.
"KAU APAKAN DIA, LESTARI?!" Julian meraung marah, ia mencengkeram leher Clarissa.
Clarissa menatap Julian dengan mata yang membara. "Aku adalah Clarissa Wijaya! Dan tidak ada seorang pun yang boleh menyentuh pria itu kecuali aku!"
Clarissa menggunakan teknik beladiri yang diajarkan Devan di pulau tempo hari. Ia menghantam ulu hati Julian dan memutar lengannya hingga terdengar suara krak. Julian berteriak kesakitan.
Clarissa segera berlari menuju gerbang, membukanya dengan kode aksesnya. Ia menangkap tubuh Devan yang sudah lemas dan terjatuh di lumpur.
"Devan! Bangun! Kau tidak boleh mati di sini!" Clarissa memeluk kepala Devan di pangkuannya, mengabaikan darah yang mengotori baju mahalnya.
Devan membuka matanya sedikit, tersenyum lemah. "Kau... kau datang..."
"Kau pria paling bodoh yang pernah kutemui! Kenapa kau datang sendiri?!" Clarissa menangis histeris.
"Karena... aku ingin kau yang memutuskan..." Devan menyerahkan sebuah flashdisk kecil yang berlumuran darah. "Ini rekaman aslinya. Tanpa potongan. Dengarkan... lalu putuskan apakah kau mau membunuhku atau... mencintaiku lagi."
Tiba-tiba, Julian berdiri kembali dengan wajah yang penuh amarah. Ia menodongkan senjata ke arah mereka berdua. "Jika aku tidak bisa memilikimu, maka tidak ada yang bisa! Matilah kalian bersama!"
DOR!
Tembakan kembali terdengar. Namun kali ini, bukan Julian yang menembak. Sesosok pria bermuka terbakar—Bram—muncul dari bayangan dan menembak Julian tepat di jantungnya.
Julian terjatuh, tewas seketika.
Bram berjalan mendekati Clarissa dan Devan. Ia menatap mereka dengan tatapan sedih. "Maafkan aku, Nona. Aku terpaksa memberikan rekaman palsu itu karena Julian mengancam akan membunuh ibumu yang sedang di stasis. Tapi sekarang... dia sudah mati. Pergilah."
Clarissa tertegun. Jadi semuanya benar-benar adu domba?
"Bawa dia pergi dari sini," ucap Bram sambil memberikan kunci mobil off-road. "Naga Hitam akan segera hancur. Selamatkan hidup kalian."
Clarissa mengangguk. Dengan bantuan Bram, ia memapah Devan masuk ke mobil. Saat mereka melaju meninggalkan mansion yang mulai terbakar, Clarissa menggenggam tangan Devan yang dingin.
"Kita akan ke rumah sakit, Devan. Bertahanlah," bisik Clarissa.
"Clarissa..." Devan bergumam pelan. "Apakah kita... masih tunangan?"
Clarissa tertawa di tengah tangisnya, ia mencium kening Devan. "Diamlah, atau aku akan membatalkan pertunangannya sekarang juga!"
Di tengah kegelapan malam, mobil itu melaju menembus hujan. Rahasia besar telah terbongkar, namun luka di hati mereka masih butuh waktu untuk sembuh. Dan Clarissa tahu, perjalanannya sebagai penguasa baru dua keluarga besar baru saja dimulai.