NovelToon NovelToon
Kubuat Kau Kembali Keasalmu, Saat Kau Selingkuhi Aku

Kubuat Kau Kembali Keasalmu, Saat Kau Selingkuhi Aku

Status: sedang berlangsung
Genre:Pelakor / Selingkuh
Popularitas:9.8k
Nilai: 5
Nama Author: niadatin tiasmami

Novel ini mengikuti perjalanan Rania menghadapi luka dalam, berjuang antara rasa sakit kehilangan, dendam, dan pertanyaan tentang bagaimana bisa seseorang yang dicintai dan dipercaya melakukan hal seperti itu. Ia harus memilih antara terus merenungkan masa lalu atau menemukan kekuatan untuk bangkit dan membangun hidup baru yang lebih baik.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon niadatin tiasmami, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 28 Hati yang Sepi

Langit Jakarta sudah mulai berpucat oranye saat mobil mewah Mercedes-Benz S-Class milik Om Herman menembus gerbang rumah mewah yang terletak di kawasan elite Kemang. Pagar tinggi berbahan besi cor yang dihiasi ukiran klasik menjaga privasi kompleks perumahan yang hanya dihuni oleh kalangan atas. Maya duduk di kursi belakang, tangan kanannya masih menyentuh tas tangan kulit Italia yang baru saja dibelikan Om Herman beberapa hari yang lalu. Matanya menatap luar jendela, menyaksikan hamparan rumput hijau rapi dan taman bunga yang terawat dengan sempurna di setiap sudut jalan masuk.

Rumah yang menjadi tempat tinggalnya sekarang adalah sebuah gedung dua lantai dengan gaya arsitektur Eropa klasik. Dinding luar dicat dengan warna krem kemerahan, atap berlapis genteng merah bata, dan balkon besar di lantai atas yang dihiasi dengan tanaman merambat yang indah. Ketika mobil berhenti di depan pintu utama yang dibuat dari kayu jati berkualitas tinggi, sopir dengan cepat turun untuk membukakan pintu bagi Maya.

“Terima kasih, Pak Joko,” ujar Maya dengan senyum yang terlatih sempurna. Suaranya lembut namun tidak ada kedalaman perasaan di dalamnya.

Setelah memasuki rumah, Maya langsung menuju ruang tamu yang luas. Lantai dipasangi ubin marmer putih yang bersinar kilap, furnitur kayu mahoni antik dihiasi dengan kain taplak meja sutra bergambar bunga, dan lampu gantung kristal besar yang menjulang tinggi dari langit-langit membuat seluruh ruangan tampak lebih megah. Di sudut ruangan, sebuah piano grand kayu hitam berdiri dengan gagah, meskipun sudah lama tidak disentuh. Maya berjalan menuju jendela besar yang menghadap ke taman belakang, di mana kolam renang dengan bentuk melengkung terpampang jelas di bawah sinar matahari yang hampir terbenam.

Semua yang ada di rumah ini adalah milik Om Herman – mulai dari setelan peralatan dapur yang terbuat dari stainless steel mewah, lemari pakaian yang penuh dengan baju dari merek terkenal, hingga mobil sport yang tersimpan di garasi sebelah kanan rumah. Om Herman, seorang pengusaha properti berusia 55 tahun yang sudah menikah dan memiliki tiga anak, selalu mengatakan bahwa Maya bisa memiliki segalanya yang dia inginkan selama dia mau memenuhi keinginannya setiap kali dia pulang ke rumah ini.

“Hanya untukmu, Maya,” kata Om Herman pada malam pertama mereka berada di rumah ini. Tangannya yang masih kuat meskipun sudah mulai menunjukkan tanda-tanda penuaan membelai pipi Maya dengan lembut. “Tidak ada yang boleh kamu tanyakan, tidak ada yang boleh kamu tuntut. Cukup nikmati apa yang kuberi, dan pastikan aku selalu puas ketika aku ada di sini.”

Maya mengangguk pada saat itu, hatinya penuh dengan campuran perasaan – kegembiraan karena akhirnya bisa memiliki semua yang dia impikan, namun juga rasa sakit yang mendalam karena tahu bahwa dia hanya menjadi barang yang bisa dibeli dan digunakan kapan saja oleh pria tersebut.

Setelah mengganti pakaian menjadi baju santai berupa kaos tanpa lengan dan celana pendek jeans, Maya pergi ke dapur untuk membuat secangkir teh hangat. Dapur yang luas dan modern ini memiliki semua peralatan yang dibutuhkan – dari oven ganda hingga mesin pembuat es krim buatan Italia. Namun, bagi Maya, dapur ini terasa sepi dan tidak pernah terasa seperti rumah. Tidak ada aroma makanan yang menggugah selera seperti ketika dia masih tinggal bersama Arga di kontrakan sempit di Bandung, di mana mereka sering memasak mie instan bersama atau membuat lauk sederhana dari bahan-bahan yang terbatas namun penuh dengan cinta.

Saat sedang menunggu air mendidih, telepon selulernya berbunyi. Layar menunjukkan nama “Om Herman” yang muncul dengan foto profilnya yang mengenakan jas mahal. Maya mengambil telepon dengan hati-hati dan menjawabnya.

“Halo, Om Herman,” ujar Maya dengan nada yang penuh perhatian.

“Hai Sayangku,” suara Om Herman terdengar dari ujung telepon, sedikit terpotong karena sinyal yang tidak terlalu baik. “Aku tidak akan pulang malam ini. Aku harus berada di rumah istriku, ada acara keluarga yang tidak bisa aku tinggalkan. Kamu bisa melakukan apa saja yang kamu mau malam ini ya. Boleh saja pergi ke mall atau membeli barang yang kamu inginkan. Aku sudah mentransfer uang ke rekeningmu.”

“Baiklah, Om Herman. Semoga acara keluarganya menyenangkan,” jawab Maya dengan senyum yang kini sudah menjadi bagian dari wajahnya. Di dalam hatinya, dia merasa sedikit lega namun juga semakin kesepian. Setiap kali Om Herman pergi ke rumah istri dan anak-anaknya, Maya akan ditinggal sendirian di rumah besar ini yang terasa seperti penjara mewah.

Setelah mengakhiri panggilan, Maya mematikan kompor dan mengambil dompetnya yang terbuat dari kulit crocodile. Dia memutuskan untuk pergi ke mall terdekat, seperti yang biasanya dia lakukan ketika sendirian. Berangkat dengan mobil sport merah yang diberikan Om Herman, Maya sampai di mall dalam waktu kurang dari sepuluh menit.

Mall tersebut adalah salah satu pusat perbelanjaan terbesar di Jakarta, dengan toko-toko merek mewah dari seluruh dunia berdiri berjajar di setiap lantai. Maya masuk ke dalam toko pakaian wanita yang terkenal, di mana setiap potongan baju memiliki harga yang bisa cukup untuk membayar sebulan uang sewa kontrakan di Bandung. Petugas penjualan dengan cepat menghampirinya dengan senyum ramah, mengenali wajah Maya yang sudah sering berkunjung ke toko tersebut.

“Selamat datang, Bu Maya. Ada yang bisa kami bantu hari ini?” tanya salah satu petugas penjualan dengan sopan.

Maya menggeleng perlahan. “Aku hanya ingin melihat-lihat saja, Nanti jika ada yang aku suka akan memberitahumu.”

Dia berjalan di antara rak-rak yang penuh dengan baju cantik – gaun malam dengan renda mewah, setelan blazer yang elegan, dan kaos dengan desain unik dari desainer ternama. Namun, meskipun melihat semua barang mewah ini, hati Maya tidak merasa senang seperti dulu ketika dia masih berfantasi tentang memiliki semuanya. Kadang-kadang, ketika dia menyentuh kain sutra yang lembut atau melihat cahaya yang dipantulkan oleh manik-manik pada sebuah gaun, dia akan teringat pada Arga.

Dia ingat bagaimana Arga pernah berjanji akan membawanya ke mall seperti ini dan membeli semua yang dia inginkan. “Kamu pantas mendapatkan yang terbaik, Maya,” kata Arga pada saat itu, matanya penuh dengan tekad dan cinta. “Aku akan bekerja keras hingga bisa memberikanmu kehidupan yang layak.”

Maya menutup matanya sebentar, mencoba menghilangkan kenangan itu dari pikirannya. Dia sudah membuat pilihan sendiri, dan dia harus menerima konsekuensinya. Namun, tidak peduli seberapa banyak dia mencoba untuk melupakan masa lalunya bersama Arga, kenangan itu selalu muncul ketika dia paling tidak menginginkannya.

Setelah memilih beberapa potongan baju dan membayarnya dengan kartu kredit yang diberikan Om Herman, Maya pergi ke bagian makanan mall. Dia memasuki sebuah restoran mewah yang menyajikan hidangan Jepang. Duduk di meja yang menghadap ke jendela, Maya memesan beberapa hidangan spesial restoran tersebut – sushi berkualitas tinggi, sashimi segar, dan sup miso yang hangat. Namun, ketika makanan datang dan dia mulai menyantapnya, rasanya tidak pernah bisa menyamai makanan sederhana yang dia makan bersama Arga dulu.

Saat sedang makan, matanya tiba-tiba melihat sebuah keluarga kecil yang sedang makan di meja sebelahnya. Ayahnya sedang memberi makan anaknya yang masih kecil dengan sendok, sementara ibunya tersenyum melihat kedua orang tersayangnya. Suasana hangat dan penuh cinta membuat hati Maya terasa seperti ditekan oleh batu berat. Dia ingat bagaimana dia dan Arga pernah membayangkan memiliki keluarga kecil seperti itu – tinggal di rumah yang sederhana namun penuh cinta, anak-anak bermain di halaman belakang, dan mereka semua makan bersama setiap malam.

Tiba-tiba, mata Maya menjadi merah dan air mata mulai mengumpul di sudut matanya. Dia cepat-cepat mengambil tisu dan menyeka matanya sebelum ada orang yang melihatnya menangis. Dia membayar tagihannya dan segera keluar dari restoran, tidak bisa lagi tinggal di sana melihat suasana yang membuatnya merindukan masa lalunya.

Setelah sampai di rumah, Maya langsung pergi ke kamar tidurnya yang luas. Kamar tersebut dihiasi dengan ranjang besar dengan seprai sutra putih, lemari pakaian yang besar seperti toko pakaian, dan kamar mandi pribadi dengan bak mandi besar yang bisa menampung dua orang. Maya melepas semua pakaiannya dan masuk ke dalam bak mandi yang sudah diisi dengan air hangat dan busa mandi yang beraroma bunga mawar.

1
Zellin
terlalu bertele-tele thor..banyak tulisan yang berulang itu2 aja cakap nya..setiap bab aq skip bacanya..jadi bosan terlalu d alur2kan kayak cerita ikan terbang
niadatin tiasmami: gitu ya kak makasih masukannya kak
total 1 replies
F.Room
korupsinya banyak banget si Arga..
niadatin tiasmami: karena keluarga nya juga matre
total 1 replies
F.Room
memang harus dimiskinkan sih itu Arga ga tau diri
Zanahhan226
wah, malah dimanfaatin sih itu..
Zanahhan226
kok aku malah curiga, ya..
F.Room
nyebelin nih harta gono gini..
F.Room
kok parah gini sih si Arga
niadatin tiasmami: tp nanti sadar kak
total 1 replies
F.Room
good, perempuan harus tegas
niadatin tiasmami: apalagi perempuan berduit
total 2 replies
F.Room
engga usah ditangisi temen seperti Maya..
F.Room
yg ga bener mayanya..
Zanahhan226
‎Halo, Kak..

‎Mampir dan dukung karyaku, yuk!

‎- TRUST ME

‎Kritik dan saran dari kakak akan memberi dukungan tersendiri untukku..
‎Bikin aku jadi semangat terus untuk berkarya..

‎Jangan lupa juga untuk Like, Komen, Share, dan Subscribe, ya..

‎Ditunggu ya, kak..
‎Terima kasih..
‎🥰🥰🥰
niadatin tiasmami: ok kak
total 1 replies
F.Room
dari awal aku udah curiga..
niadatin tiasmami: curiga gmn kak
total 1 replies
F.Room
hubungan tanpa uang juga delusi..
niadatin tiasmami: betul sih kak tp hubungan kalau hanya uang gk bagus jg
total 1 replies
F.Room
cowok ga guna
F.Room
kerja woi, jangan ngemis
niadatin tiasmami: gk diterima kerja kak
total 1 replies
F.Room
kena karma
F.Room
rasain dah si arga, cowok ga modal..
F.Room
memang ga tau diri nih
F.Room
ternyata arga memang seorang penjilat
F.Room
duh maya ga tau diri..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!