Di tengah dendam, pengkhianatan, dan calamity yang tak terbayangkan, Raito menjadi “cahaya kecil” yang tak pernah padam. penyeimbang yang selalu ada saat dunia paling gelap.
Sebuah kisah survival, pertumbuhan, dan pencarian makna di dunia Hunter x Hunter
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cahya Nugraha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Shadow
Raito naik lift ke lantai 15 dengan napas yang lebih teratur dibandingkan minggu lalu. Tubuhnya sudah lebih kuat—otot lengan dan kaki mulai terdefinisi dari latihan harian Mira, aura Ten-nya lebih stabil, dan Inner Light bisa dipanggil tanpa pusing berat. Hadiah dari kemenangan sebelumnya sudah mencapai hampir 1 juta jenny; cukup untuk pindah ke penginapan yang lebih baik, beli pakaian baru, dan bahkan simpan sedikit untuk darurat.
Tapi hari ini terasa berbeda. Mira tidak ikut naik lift bersamanya. Dia bilang ada urusan lama di pasar gelap—mencari informasi tentang “artefak portal” yang Raito pernah sebutkan sebagai harapan pulang. “Aku balik malam ini. Jangan mati di lantai 15. Lawanmu hari ini spesial.”
Raito sendirian di koridor lantai 15. Suara sorak-sorai dari arena terdengar lebih jauh, lebih serius. Tidak ada lagi tawa penonton mabuk atau teriakan anak kecil. Di sini, penontonnya adalah petarung lain, scout mafia, dan orang-orang yang mencari bakat untuk dijual atau direkrut.
Arena E-9 sudah menunggu. Ringnya lebih luas, pagar kawat diganti kaca tebal anti pecah. Lawannya berdiri di tengah: pria tinggi kurus berusia sekitar 30-an, rambut panjang diikat ponytail, mengenakan jubah hitam longgar yang menutupi hampir seluruh tubuh. Matanya tertutup kain hitam tipis—seperti buta, tapi gerakannya terlalu tenang untuk orang buta.
Wasit memperkenalkan. “Pemenang 28 kali berturut-turut di lantai 15: ‘Blind Shadow’ – nama asli tidak diketahui. Lawan: Raito, pemula naik cepat.”
Penonton berbisik-bisik. Beberapa tertawa kecil. “Anak itu beruntung sampai sini. Tapi Blind Shadow… dia nggak pakai mata, tapi auranya seperti radar.”
Raito naik ke ring. Lawannya tidak bergerak, hanya berdiri diam seperti patung.
Peluit berbunyi.
Blind Shadow bergerak pertama—bukan maju, tapi menghilang. Tubuhnya seperti lenyap dalam bayang-bayang ring, lalu muncul tepat di belakang Raito. Tinju kanannya meluncur ke punggung seperti jarum.
Raito bereaksi insting. Dia aktifkan Ten penuh, aura membungkus tubuh seperti perisai hangat. Pukulan itu mengenai, tapi bukan pukulan biasa—ada rasa dingin yang menusuk, seperti jarum es yang menembus aura. Raito terdorong maju, punggung terasa terbakar.
Dia berbalik cepat. Blind Shadow sudah lenyap lagi. Suara langkahnya tidak ada. Hanya hembusan angin kecil yang memberi tahu posisinya.
Raito tarik napas dalam. “Dia pakai Nen untuk manipulasi bayangan atau suara? Atau… Manipulation untuk gerak tanpa suara?”
Dia tutup mata sebentar, fokus ke Inner Light. Bukan untuk serang, tapi untuk rasakan. Cahaya di dadanya menyebar pelan seperti sonar—hangat, ringan, mencari gangguan di udara. Tiba-tiba dia merasakan sesuatu: titik dingin di sebelah kiri.
Raito berputar, angkat tangan. Cahaya kecil meledak dari telapak—Light Burst. Flash putih keemasan menerangi ring. Blind Shadow muncul di depan mata, terkejut sejenak karena silau.
Raito maju, pukul lurus ke dada. Blind Shadow menghindar, tapi lambat satu detik. Pukulan Raito mengenai bahu—bukan pukulan kuat, tapi aura Enhancement membuatnya terasa seperti palu.
Blind Shadow mundur, kali ini tidak lenyap lagi. Dia angkat tangan, lepaskan kain penutup mata. Matanya tertutup permanen—bekas luka bakar di kelopak. Tapi auranya meledak: dingin, tajam, seperti ribuan jarum es di udara.
“Bagus, anak kecil. Kamu bisa rasakan aku tanpa mata. Tapi itu cuma permulaan.”
Dia maju. Gerakannya sekarang terlihat—cepat, presisi, seperti bayangan yang hidup. Tinju, tendangan, siku—semua dibungkus aura dingin yang mengiris kulit Raito setiap kali mengenai. Raito menangkis sebisa mungkin, tapi setiap benturan membuat auranya retak-retak. Darah mulai menetes dari luka kecil di lengan dan bahu.
Penonton berteriak. “Blind Shadow mulai serius! Anak itu bakal mati!”
Raito mundur ke pagar kawat. Napasnya berat. Aura-nya hampir habis. Dia ingat kata Mira: “Kalau aura habis, tubuhmu jadi kertas basah. Jangan sampai itu terjadi.”
Dia fokus. Inner Light mengalir ke seluruh tubuh—bukan untuk serang, tapi untuk pulihkan. Hangatnya menyebar, menutup luka kecil perlahan, mengembalikan tenaga. Bukan penyembuhan sempurna, tapi cukup untuk bertahan.
Blind Shadow tersenyum dingin. “Regenerasi kecil? Lucu. Tapi nggak cukup.”
Dia melompat, tendangan melingkar tinggi mengarah ke kepala Raito. Raito menghindar ke samping, tapi Blind Shadow sudah prediksi—tinju berikutnya mengenai rusuk Raito. Tulang terasa retak. Raito jatuh berlutut, napas tersengal darah di mulut.
Penonton bertepuk tangan. “Habisi dia!”
Raito bangun pelan. Matanya berkaca-kaca karena sakit, tapi bukan menyerah. Dia ingat pria di sungai yang ditinggalkan, ingat Gon yang tersenyum riang meski dunia kejam. “Aku… nggak akan menyerah cuma karena sakit.”
Dia angkat tangan kanan. Inner Light berkumpul di telapak—bukan bola kecil lagi, tapi sinar tipis yang memanjang seperti pedang cahaya pendek. Ujungnya berpendar terang, hangat tapi tajam.
Blind Shadow berhenti. “Hatsu baru? Menarik.”
Raito maju. Bukan cepat seperti Lena, tapi tegas. Dia ayunkan “pedang cahaya” itu—bukan pedang sungguhan, tapi aura yang dibentuk jadi sinar tajam. Blind Shadow menghindar, tapi sinar itu menggores jubahnya, meninggalkan bekas hangus.
Pertarungan berlanjut panjang. Blind Shadow menyerang dari segala arah, aura dinginnya seperti badai jarum es. Raito bertahan, menangkis, sesekali balas dengan Light Burst untuk silau atau sinar tajam untuk serang. Setiap gerakan menguras aura-nya lebih banyak. Tubuhnya penuh luka, darah menetes ke lantai ring.
Penonton mulai bosan. “Kenapa nggak selesai? Bunuh aja!”
Tapi Blind Shadow tidak membunuh. Dia main-main, seperti kucing dengan tikus.
Raito jatuh lagi. Kali ini dia tidak langsung bangun. Napasnya pendek, penglihatan kabur. Dia dengar suara Mira di kepala: “Kekuatan bukan menang terus. Kekuatan adalah bangun lagi.”
Dia bangun pelan. Inner Light di dadanya masih ada—lemah, tapi tidak padam.
Blind Shadow mendekat. “Menyerah saja. Kamu sudah hebat sampai sini.”
Raito menggeleng. “Aku… nggak datang ke sini untuk menyerah.”
Dia tarik sisa aura terakhir. Cahaya di tangan kanannya membesar—bukan sinar tajam lagi, tapi bola cahaya besar yang hangat, terang seperti matahari kecil. Dia lempar bola itu ke arah Blind Shadow.
Bukan serangan mematikan. Hanya cahaya murni—menyilaukan, hangat, seperti harapan yang tak padam.
Blind Shadow terpaku. Cahaya itu menembus auranya yang dingin, membuatnya mundur beberapa langkah. Matanya yang tertutup terasa perih—bukan karena silau fisik, tapi karena sesuatu yang lebih dalam.
Dia berhenti. Lalu tertawa pelan—bukan ejekan, tapi tawa lelah.
“Lucu. Kamu nggak bertarung untuk menang. Kamu bertarung untuk… bertahan.”
Dia angkat tangan. “Aku menyerah.”
Wasit terkejut. Penonton terdiam, lalu sorak sorai meledak.
“Pemenang: Raito!”
Raito jatuh berlutut, cahaya di tangannya padam. Tubuhnya gemetar, tapi dia tersenyum—senyum lelah tapi tulus.
Mira muncul dari pintu arena, berlari ke ring. Dia bantu Raito berdiri. “Bodoh. Kamu hampir mati.”
Raito tertawa kecil, darah di bibir. “Tapi aku menang… dengan cara aku.”
Mereka turun dari ring. Di koridor, Kael menunggu lagi. Kali ini dia mendekat.
“Kamu aneh,” katanya. “Banyak orang di sini bertarung untuk uang, dendam, atau kekuasaan. Kamu bertarung untuk… apa?”
Raito memandangnya. “Untuk bukti bahwa cahaya bisa ada di kegelapan. Bahkan kalau kecil.”
Kael diam sejenak. Lalu dia berbalik. “Kita akan ketemu lagi. Di lantai yang lebih tinggi. Dan saat itu… aku nggak akan main-main.”
Dia pergi.
Mira memapah Raito ke ruang medis arena. Dokter Nen menyembuhkan luka-lukanya—tidak sempurna, tapi cukup untuk pulih besok.
Malam itu, di penginapan, Raito tidur lelap untuk pertama kalinya dalam seminggu. Cahaya di dadanya masih hangat—lebih kuat, lebih stabil.
Dan konflik baru saja dimulai: bukan cuma dengan lawan di ring, tapi dengan bayang-bayang yang mulai mengintai dari dalam dan luar dirinya.