menceritakan perjalanan waktu saka,yang berusaha mengubah masa depan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fadhil Asyraf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 11 Epilog – Detik yang Terlahir Kembali
Dunia tidak lagi mengenal nama Saka sebagai pahlawan, putra, ataupun kekasih. Di dalam buku induk sekolah, namanya terdaftar sebagai murid pindahan yang baru masuk setelah festival budaya. Di rumahnya sendiri, ia hanyalah seorang penyewa kamar kos di seberang jalan yang sering dipandang iba oleh ibunya—wanita yang kini menganggapnya sebagai "anak muda sopan yang mirip dengan putranya."
Saka menjalani hidup sebagai Tabula Rasa, sebuah lembaran kosong. Namun, ia tidak menyerah.
Senin Pagi, di Perpustakaan Sekolah.
Anita sedang duduk sendirian, dikelilingi buku-buku sejarah yang tebal. Ia merasa ada sesuatu yang hilang dari jiwanya, sebuah lubang berbentuk seseorang yang tidak bisa ia ingat wajahnya. Setiap kali ia melihat arloji saku perak yang ditemukannya, hatinya terasa sesak.
"Arloji itu... butuh sedikit minyak di bagian porosnya agar bisa berdetak lagi," suara seorang pemuda memecah keheningan.
Anita mendongak. Pemuda itu, Saka, berdiri di sana dengan tas ransel tersampir di satu bahu. Ada ketenangan yang aneh di matanya, jenis ketenangan yang hanya dimiliki oleh seseorang yang telah melihat akhir dunia.
"Kamu murid pindahan itu, kan? Saka?" tanya Anita ragu.
"Iya. Dan aku tahu sedikit soal jam tua," Saka mengulurkan tangannya.
Anita memberikan arloji itu. Saat jemari mereka bersentuhan, sebuah percikan listrik statis terasa, dan untuk sepersekian detik, bayangan masa depan yang hancur dan menara hitam berkelebat di pikiran Anita. Ia tersentak, namun tidak menjauh.
"Rasanya... familiar," bisik Anita, matanya mulai berkaca-kaca.
Saka tersenyum tipis. Ia membuka bagian belakang arloji itu dengan kuku jarinya yang terampil—keterampilan yang tersisa dari ingatannya bersama Ki Ganda. Di dalam mesin jam yang rumit itu, Saka menyelipkan sebuah kertas kecil yang sangat tipis.
"Cobalah putar sekarang," ucap Saka.
Anita memutar pemutar jamnya. Klik. Tik... tik... tik...
Arloji itu hidup kembali. Namun, bukan waktu saat ini yang ditunjukkan. Jarumnya bergerak maju dengan sangat cepat, lalu berhenti di sebuah angka koordinat dan jam tertentu: Sabtu, 19.00, Taman Kota.
"Apa ini?" tanya Anita bingung.
"Itu adalah waktu di mana kita akan membuat kenangan pertama kita," jawab Saka berani. "Tanpa paradoks, tanpa parasit, dan tanpa bayang-bayang masa depan. Hanya aku, kamu, dan waktu yang berjalan jujur."
Di sudut perpustakaan yang gelap, sesosok gadis berambut perak memperhatikannya dari balik rak buku. Luna tersenyum tipis, lalu melangkah mundur hingga tubuhnya memudar dan menyatu dengan udara. Tugasnya mengawasi Saka telah usai. Sang Penjaga telah menjadi manusia kembali, meskipun ia harus membangun dunianya dari puing-puing ingatan yang hilang.
Saka berjalan keluar perpustakaan dengan langkah ringan. Ia mungkin kehilangan masa lalunya, tapi ia menyadari satu hal penting: Waktu tidak hanya tentang durasi, tapi tentang makna yang kita berikan pada setiap detiknya.
Di gerbang sekolah, ia berpapasan dengan ayahnya—pria yang di garis waktu lain menjadi The Eraser. Ayahnya hanya mengangguk sopan padanya sebagai tetangga baru. Saka membalas anggukan itu dengan tulus. Ia telah memutus rantai kebencian yang melintasi dimensi.
Saka menatap langit biru tahun 2014 yang cerah. Di pergelangan tangannya, meskipun lukanya sudah hilang, ia bisa merasakan kehangatan yang menetap. Ia bukan lagi tawanan waktu, melainkan penulisnya.
"Aku pulang," bisik Saka pada angin, merayakan kepulangannya ke dunia yang, meski tidak mengenalnya, adalah dunia yang berhasil ia selamatkan.