Di bawah kuasa Kaisar Jian Feng yang dingin dan tak terpuaskan, Mei Lin hanyalah pelayan jelata yang menyembunyikan kecantikannya di balik masker. Namun, satu pertemuan di ruang kerja sang Kaisar mengubah segalanya. Aroma jasmine dan tatapan lugu Mei Lin membangkitkan hasrat liar sang Penguasa yang selama ini mati rasa. Kini, Mei Lin terjebak dalam obsesi berbahaya pria yang paling ditakuti di seantero negeri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alzahraira Nur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
meledaknya amarah yang Harta Karun
Kegelapan sel bawah tanah terasa semakin pekat saat Mei Lin menatap mata Alaric. Tawaran untuk lari memang sangat menggiurkan, namun ada sesuatu yang lebih besar dari sekadar nyawa yang ingin Mei Lin pertahankan: harga dirinya.
"Tidak," ucap Mei Lin dengan suara yang tiba-tiba menjadi tenang namun sangat tajam. "Jika aku pergi bersamamu sekarang, itu sama saja aku mengakui bahwa aku adalah penyihir yang melarikan diri dari hukuman.
Seluruh dunia akan selamanya menyebutku wanita terkutuk. Aku tidak akan membiarkan fitnah Lin Hua menjadi kebenaran. Aku akan membersihkan namaku, baru setelah itu aku akan pergi dari tempat ini dengan kepalaku tegak."
Pria itu tertegun melihat keteguhan Mei Lin. "Siapa namamu?" tanya Mei Lin singkat.
"Namaku Alaric," jawabnya pelan. "Jika itu yang kau inginkan, maka hanya ada satu cara. Kita harus mendatangkan Petinggi Agung Gereja dari Pegunungan Suci.
Hanya seorang yang suci, yang menghabiskan hidupnya dalam doa, yang bisa membuktikan apakah ada sihir hitam dalam dirimu atau tidak. Dialah satu-satunya yang kata-katanya tidak bisa dibantah oleh Ibu Suri sekalipun. Aku akan membantumu mendatangkannya."
Dalam hati yang paling dalam, Mei Lin merasa sesak. Seharusnya kata-kata itu—janji untuk membantu membersihkan namanya—diucapkan oleh Jian Feng, pria yang mengaku mencintainya dan telah mengukir namanya di tubuhnya.
Bukan oleh Alaric, pria asing yang baru ia temui beberapa kali. "Terima kasih, Alaric," bisik Mei Lin pedih.
Tiba-tiba, suara tawa yang dingin dan mengerikan menggema dari balik bayangan lorong. "Sungguh pemandangan yang menyentuh hati."
BRAKK!
Pintu sel ditendang hingga hampir terlepas dari engselnya. Jian Feng muncul seperti iblis yang keluar dari neraka. Sebelum Alaric sempat bereaksi, sebuah pukulan keras dari tangan Jian Feng mendarat di wajah Alaric, membuatnya tersungkur menghantam dinding batu.
"Berani sekali kau! Berani sekali kau menawarkan pelarian di hadapanku!" raung Jian Feng. Matanya merah padam, urat-urat di lehernya menonjol penuh murka. Ia menarik kerah baju Alaric dan menghunus pedangnya, mengarahkannya tepat ke tenggorokan pria itu.
Jian Feng kemudian berpaling menatap Mei Lin dengan tatapan penuh luka dan pengkhianatan. "Jadi ini alasannya? Benar dugaanku, kau masih memikirkan pria lain! Dan kau... kau bahkan tidak mengatakan kepadaku bahwa dia masih hidup setelah aku mengira telah menghabisinya! Kau membohongiku, Mei Lin!"
Saat pedang Jian Feng mulai bergerak untuk memenggal leher Alaric, Mei Lin mengeluarkan teriakan yang sanggup menghentikan waktu.
"HENTIKAN SEMUANYA!"
jerit Mei Lin dengan suara yang pecah oleh tangis dan amarah yang meledak.
Jian Feng tertegun, pedangnya berhenti hanya beberapa milimeter dari kulit Alaric. Mei Lin berdiri, melangkah mendekat meski tubuhnya gemetar hebat. Segala rasa sakit yang ia simpan sejak pertemuan pertama mereka di sungai—saat ia diculik, saat ia dicap dengan besi panas, saat ia ditiduri dengan paksa, hingga saat ia difitnah—semuanya tumpah malam itu.
"Apa maumu sebenarnya, Jian Feng?! Apa?!" teriak Mei Lin tepat di depan wajah sang Kaisar. "Kau bilang kau mencintaiku, tapi kau memperlakukanku seperti binatang buruan! Kau bilang aku menyihirmu? Aku bahkan sudah mencoba melarikan diri darimu berkali-kali karena aku takut padamu! Aku membencimu karena kau menghancurkan hidupku!"
Mei Lin menunjuk pipinya yang lebam dan bibirnya yang berdarah.
"Lihat ini! Saat ibumu mempermalukanku, saat pelayannya menamparku di depan semua orang, kau hanya diam! Kau hanya duduk di singgasanamu seperti patung es sementara aku memohon perlindunganmu! BAJINGAN! Aku membencimu lebih dari apa pun di dunia ini!"
Mei Lin mencengkeram jubah hitam Jian Feng, mengguncangnya dengan sisa kekuatannya. "Kau mencap tubuhku dengan segel nagamu agar tidak ada yang bisa menyentuhku, tapi kau membiarkan jiwaku diinjak-injak oleh semua orang di istanamu! Jika kau ingin membunuh, bunuh saja aku! Jangan salahkan orang lain atas ketidakmampuanmu melindungiku!"
Suasana sel menjadi hening seketika.
Hanya suara napas Mei Lin yang memburu yang terdengar.
Jian Feng terpaku, pedangnya perlahan turun. Ia melihat air mata Mei Lin yang kini bercampur dengan darah di pipinya.
Untuk pertama kalinya, sang Kaisar yang ditakuti seluruh negeri itu merasa begitu kecil dan tak berdaya di depan wanita yang sangat ia cintai, namun telah ia hancurkan sendiri.
Alaric hanya bisa menatap mereka dengan diam, menyadari bahwa ikatan antara Jian Feng dan Mei Lin adalah sebuah simpul berdarah yang sangat rumit—campuran antara obsesi gila dan kebencian yang mendalam.
Bersambung