Maxime Brixtone adalah seorang mafia yang sepanjang hidupnya terjebak dalam perselisihan kelam dengan ibu tirinya. Di tengah hidupnya yang penuh duri dan misteri tentang bagaimana konflik itu akan berakhir, Max berada di ambang kematian akibat rencana pembunuhan yang dirancang oleh sang ibu tiri.
Tak disangka, hidupnya di selamatkan oleh seorang wanita yang telah bersuami. Max bersembunyi di kediaman wanita tersebut, hingga mereka tanpa sengaja menyaksikan sang suami melakukan perselingkuhan.
Dari titik itu, batas antara rasa terima kasih, kemarahan, dan obsesi kepada wanita penyelamat hidupnya mulai kabur.
Max pun memiliki sebuah ide gila untuk menjadikan wanita yang telah menyelamatkan nyawanya menjadi seorang janda.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Newbee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPISODE 27
Pagi itu terasa berbeda bagi Drake—lebih terang, lebih tajam, seolah dunia memberinya isyarat bahwa sesuatu sedang bergerak menuju puncaknya.
Setelah pertengkaran sengit semalam dengan Ezme, dan kabar bahwa Max sendiri yang memintanya hadir dalam rapat hari ini, langkah Drake dipenuhi semangat yang nyaris meluap. Tanpa lagi mendengar rengekan Ezme agar ia segera menceraikan Zayna, keputusan itu justru telah ia buat sendiri. Drake sudah mantap. Ia bahkan berjanji, sepulang dari rapat, ia akan langsung menuju kantor pencatatan sipil.
Setelan baru membalut tubuhnya dengan sempurna—jas gelap yang jatuh presisi di bahu, kemeja bersih tanpa cela, sepatu mengilap yang memantulkan cahaya lobi gedung. Dari atas hingga bawah, tak ada yang lama. Tak ada yang tersisa dari pria yang ragu semalam.
Begitu ia memasuki gedung Darwin IT, beberapa wanita yang bekerja di sana tak kuasa menahan lirikan. Wajah tampannya tegas, rahangnya kokoh, posturnya tinggi dan proporsional. Tatapan Drake lurus ke depan—dingin, percaya diri, dan penuh tujuan.
Ia masuk ke ruangan kerjanya sesuai arahan Darwin saat berkunjung ke apartemennya tadi malam.
Ketika sekretaris pribadinya—yang rupanya sudah menunggu sejak tadi—mengantarnya masuk, Drake melangkah perlahan. Pintu tertutup lembut di belakangnya.
Sunyi.
Pria itu menghampiri meja kerjanya. Ujung jarinya menyentuh permukaan meja kayu yang masih terasa baru. Lalu pandangannya jatuh pada papan nama yang terpasang rapi di atasnya.
Namanya terukir jelas di sana.
Drake terdiam.
Sebuah pencapaian luar biasa datang begitu saja dalam hidupnya—terasa tiba-tiba, hampir tak masuk akal. Namun di balik kebanggaan itu, ada bara lain yang menyala pelan di dadanya.
Ini bukan akhir.
Ini baru permulaan.
Akhirnya semua karyawan penting di Darwin IT telah berkumpul di ruang rapat utama. Deretan kursi terisi penuh oleh para kepala divisi, manajer keuangan, tim legal, hingga pengawas proyek. Suasana tegang namun penuh antisipasi—semua tahu, rapat hari ini bukan rapat biasa.
Drake duduk di salah satu kursi terdepan. Punggungnya tegak, rahangnya mengeras.
Pintu ruang rapat tertutup rapat. Udara terasa formal, namun tak lagi seramai sebelumnya. Kini hanya tersisa jajaran inti—mereka yang akan bekerja langsung di bawah satu nama baru.
Drake.
Pimpinan Darwin IT berdiri lebih dulu. Ia berdeham pelan, lalu memandang ke arah Drake dengan senyum profesional.
“Hari ini,” ucapnya mantap, “kita menyambut Manager Khusus Investasi yang akan memimpin divisi strategis perusahaan. Posisi ini dibentuk langsung atas arahan Tuan Max yang akan berinvestasi pada Darwin IT. Dan orang yang dipercaya untuk mengisinya adalah… Tuan Drake.”
Beberapa pasang tangan bertepuk—tidak terlalu keras, namun cukup menunjukkan penghormatan. Tatapan para staf kini terarah padanya. Bukan lagi sekadar pria tampan yang berjalan di lobi tadi, melainkan atasan baru mereka.
Satu per satu, para anggota tim berdiri dan memperkenalkan diri.
“Saya Oscar, kepala analis keuangan. Saya bertanggung jawab pada laporan arus kas dan proyeksi investasi jangka panjang.”
“Livia, bagian legal investasi. Semua kontrak dan perjanjian akan melalui meja saya.”
“Ramon, pengawas risiko. Saya akan memastikan setiap langkah investasi memiliki mitigasi yang jelas.”
Nama demi nama disebutkan. Jabatan demi jabatan dijelaskan. Nada mereka sopan, profesional, dan penuh perhitungan. Mereka bukan orang sembarangan—mereka adalah tim inti yang memegang aliran dana dan masa depan perusahaan.
Drake mendengarkan tanpa memotong. Tatapannya tajam, memperhatikan detail. Ia mengingat wajah, suara, bahkan bahasa tubuh masing-masing.
Ketika giliran terakhir selesai, ruangan kembali sunyi.
Drake berdiri.
Gerakannya tenang, namun penuh kendali. Ia merapikan sedikit jasnya sebelum berbicara.
“Saya Drake.”
Suaranya dalam dan tegas, tak terlalu keras namun cukup untuk memenuhi ruangan.
“Saya tidak datang dari latar belakang yang sempurna. Saya bukan lulusan universitas ternama. Tapi saya terbiasa membaca angka… dan membaca manusia.”
Beberapa orang saling melirik.
“Saya tidak suka pemborosan waktu. Tidak suka laporan yang dimanipulasi demi terlihat aman. Dan saya tidak bekerja untuk menyenangkan siapa pun.”
Tatapannya menyapu meja satu per satu.
“Kita akan bergerak cepat. Setiap keputusan harus berbasis data, bukan asumsi. Jika ada risiko, kita hadapi. Jika ada peluang, kita ambil tanpa ragu.”
Ia berhenti sejenak.
“Selama kalian bekerja dengan jujur dan profesional, saya akan berdiri di depan untuk melindungi tim ini. Tapi jika ada yang bermain di belakang… saya yang pertama akan menyingkirkannya.”
Nada suaranya tetap datar. Tidak meninggi. Namun justru itu yang membuatnya terasa serius.
“Saya harap kita bisa bekerja sebagai tim yang solid. Karena investasi bukan hanya soal uang. Ini soal kendali.”
Drake kembali duduk.
Ruangan hening.
Namun kali ini, bukan karena tegang.
Melainkan karena mereka sadar—atasan baru mereka bukan pria yang bisa dianggap remeh.
Akhirnya pinti ruang rapat terbuka. Beberapa orang yang berjaga mempersilahkan Max serta Bleiz masuk.
Max melangkah masuk lebih dulu, diikuti Bleiz tepat di belakangnya. Suasana yang semula dipenuhi bisik-bisik mendadak membeku. Nama Max sudah lebih dulu tiba sebelum dirinya—terkenal di kalangan mafia dan para pengusaha kelas atas sebagai sosok yang tak pernah bermain setengah hati.
Tatapannya menyapu ruangan dengan dingin. Tajam. Menghitung. Menilai.
Deretan karyawan yang memenuhi kursi rapat terasa mendadak kecil di bawah sorot matanya.
Bleiz melangkah maju setengah langkah. Wajahnya datar, suaranya tegas tanpa perlu ditinggikan.
“Rapat ini hanya untuk pihak inti.”
Ia menoleh pada asisten Darwin yang berdiri tak jauh dari meja utama.
“Kosongkan ruangan. Semua keluar… sekarang.”
Tak ada yang berani membantah. Kursi bergeser, langkah kaki tergesa namun tertahan rasa takut. Satu per satu karyawan meninggalkan ruangan dengan kepala sedikit menunduk, tak ingin terlalu lama berada dalam radius tatapan Max.
Hingga akhirnya ruang rapat itu hanya menyisakan tiga orang.
Darwin — pemilik Darwin IT.
Dan Drake — pria yang secara langsung ditunjuk Max untuk mengelola dana investasinya.
Bleiz menutup pintu sendiri. Bunyi klik kunci terdengar lebih keras dari seharusnya.
Keheningan menggantung.
Max berjalan perlahan menuju ujung meja rapat. Ia tidak duduk. Tangannya bertumpu ringan di permukaan meja, tubuhnya sedikit condong ke depan.
“Aku tidak menanamkan dana hanya karena proposal terlihat bagus,” ucapnya dingin. “Aku menanamkan dana karena orang yang mengelolanya layak dipercaya.”
Tatapannya beralih pada Drake.
“Kau syaratnya.”
Kalimat itu tidak terdengar seperti pujian.
Lebih seperti peringatan.
Max kemudian memalingkan wajahnya pada Darwin.
“Perusahaamu bisa berkembang dua kali lipat dalam satu tahun… atau runtuh dalam tiga bulan. Semua tergantung bagaimana dia bekerja.”
Ia menunjuk Drake tanpa melihatnya.
“Dana itu di bawah kendalinya. Penuh. Tanpa campur tangan yang tidak perlu.”
Senyap.
Bleiz berdiri tegak di sisi ruangan, mengamati dengan mata setajam tuannya.
“Jika ada pengkhianatan,” lanjut Max pelan namun mematikan, “aku tidak menarik investasi.”
Ia berhenti sejenak.
“Aku menghancurkan sumbernya.”
Udara terasa lebih berat.
Kini keputusan ada di tangan Darwin. Menerima syarat Max… atau kehilangan kesempatan terbesar dalam sejarah Darwin IT.
Dan Drake?
Ia baru saja masuk ke permainan yang tidak memberi ruang untuk kesalahan.
Bersambung
penguntit suruhan nevari belum tuntas yg kemarin 🤣🤣🤣
hemmm mau ketemu istri orang aja adaaa saja gangguannya😏
ceritanya nggantung lagi dah kayak kates
sombonge ndhisek ajooorrre kari wkwkwk