Ada tiga remaja putri bersahabat mereka adalah Tari, Tiara , dan Karin mereka mempunyai pasangan masing-masing. dan pasangan mereka adalah sahabatan juga termasuk geng brotherhood pasangan Tari adalah Ramdan, pasangan Tiara adalah Bara dan pasangan ketiga ada Karin sama Boby.. karena ada sesuatu hal ketiga cowok itu membuat pasangan mereka kecewa dengan kejadian yang berbeda - beda namun dia antara 3 pasangan itu hanya Tari dan Ramdan yang bertahan karena Tari memberikan kesempatan kembali kepada Ramdan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tatie Hartati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 18 Satu Detak Dua Cemburu
Seketika, aula pecah oleh sorakan. Afan berdiri di tengah, lalu memberikan tangan untuk membantu Tari naik ke anak tangga panggung sebuah gerakan simpel yang sukses bikin pulpen di tangan Ramdan hampir patah jadi dua.
Afan duduk di kursi tinggi, memangku gitarnya, sementara Tari berdiri tepat di sampingnya. Mereka saling melempar senyum tipis, seolah punya kode rahasia sebelum memulai.
Afan: (Mendekati mikrofon dengan suara beratnya) "Puisi duet kami berjudul... 'Satu Detak di Antara Kita'."
Jreg!
Petikan gitar Afan mengalun syahdu, sangat romantis. Tari mulai membacakan bait pertama dengan suara yang lebih dalam dari biasanya.
Tari: "Aku tak pernah meminta jarak ini menipis..."
Afan: (Menyambung sambil menatap Tari) "Namun semesta seolah sengaja membuat detak kita selaras dalam garis."
Saat mereka sampai pada bagian unisono (bersamaan), Afan sedikit memiringkan tubuhnya ke arah Tari.
Tari & Afan: "Di sini, di antara jarak yang kian menipis, aku menemukan alasan untuk tetap tinggal, tanpa perlu menangis."
Mereka membacakannya sambil saling menatap sangat dalam. Di meja juri, Ramdan sudah tidak lagi melihat ke arah kertas penilaian. Wajahnya datar, tapi matanya memancarkan api yang siap membakar apa saja. Arga di sebelahnya cuma bisa geleng-geleng kepala sambil membisikkan sesuatu yang bikin Ramdan makin panas.
Arga: "Ndan, tahan... itu cuma akting. Tapi kalau gue liat-liat, tatapannya Afan sih kayaknya tulus dari hati ya?"
Ramdan: "Nilai estetika panggung mereka... minus sepuluh menurut saya, Ga," jawab Ramdan dingin, padahal di hatinya lagi ada perang dunia ketiga!
Ramdan mencoba fokus pada kertas penilaian di depannya, tapi suara petikan gitar Afan seolah-olah sedang menggores harga dirinya. Setiap kali Tari menyambung bait puisi dengan suara lembutnya, Ramdan merasa oksigen di aula mendadak menipis. Ia melihat bagaimana Afan menatap Tari bukan tatapan rekan duet biasa, tapi tatapan kekaguman yang terlalu nyata.
"Profesional, Ndan. Lo juri," bisiknya pelan pada diri sendiri, meskipun dadanya bergemuruh hebat saat melihat Tari melempar senyum tipis sebagai bagian dari akting panggungnya. Akting kan? Itu cuma akting, Ri?
Namun bohong sekali kalau seandainya Ramdan tidak cemburu melihat chemistry Tari dan Afan begitu menyatu. Padahal Ramdan sebenarnya percaya kalau Tari itu hanya profesional aja .
Suasana aula memanas saat pengumuman pemenang dibacakan. Riuh tepuk tangan pecah saat nama Mentari disebut sebagai juara pertama kategori Solo. Dan puncaknya, kategori Duet pun disapu bersih oleh pasangan Tari dan Afan.
"Untuk penyerahan piala dan medali kategori Solo Putri, kami undang Ketua Panitia sekaligus Wakil Ketua OSIS kita, Ramdan, untuk naik ke atas panggung!" seru MC.
Ramdan naik ke panggung dengan langkah tegap. Di tangannya ada piala kristal dan medali emas. Saat berdiri di depan Tari, dunia seolah melambat. Ramdan mengalungkan medali itu ke leher Tari. Jarak mereka sangat dekat, hingga Tari bisa mencium aroma parfum maskulin Ramdan.
Saat melangkah naik ke anak tangga panggung, kaki Ramdan terasa berat. Di sana, Tari berdiri dengan napas yang masih sedikit memburu karena sisa emosi puisinya. Ketika tangan Ramdan terulur untuk mengalungkan medali, jemarinya sempat tak sengaja bersentuhan dengan kulit leher Tari. Dingin, namun seolah ada aliran listrik yang membuat Ramdan ingin menarik gadis itu menjauh dari kerumunan, menjauh dari tatapan Afan yang masih berdiri tak jauh di sana.
Jarak mereka sangat dekat. Ramdan bisa melihat binar bahagia di mata Tari, tapi ia juga melihat ada rasa bersalah yang terselip di sana saat mata mereka beradu.
Ramdan: (Berbisik sangat pelan sambil membetulkan posisi medali) "Aku bangga sama kamu. Kamu bener-bener jadi lebih baik, Ri." Tari hanya bisa mendongak, matanya berkaca-kaca menatap Ramdan "Makasih, Ndan..Kamu selalu ada untukku dan membuat aku aman dan nyaman berada di sampingmu."
Ramdan dan Tari saling menatap dengan tatapan yang penuh arti dan hanya mereka berdua yang mengerti dari arti tatapan itu.
Kak Zahra bilang " oke Ndan sebelum kamu turun ke bawah podium bagaimana kalau kalian melakukan foto bersama ya "
Tari dan Ramdan kaget muka mereka bisa di bayangkan udah merah seperti tomat yang masak, saking malunya. Akhirnya mereka pun foto bersama. Namun geng receh dari bawah podium pada rame menggodanya
"Waduh itu foto bersama atau .......atau lagi simulasi foto pre-wedding nih, Ndan?!" teriak Alvin yang suaranya langsung bikin satu aula riuh seketika.
"Anjay! Judulnya: Menjemput Medali, Menghalalkan Sekretaris!" sambung Bara sambil melakukan gerakan "hormat" yang makin bikin suasana makin nggak kondusif.
Karin dan Tiara nggak mau kalah, mereka teriak ala-ala fangirl garis keras. "Tari, tolong kondisikan mukanya! Jangan terlalu meleyot gitu dong, nanti medali emasnya kalah berkilau sama senyum kamu!"
Ramdan yang tadinya berusaha tegak kayak tiang bendera, mendadak salah tingkah. Dia melirik Tari sekilas, dan bener aja, Tari udah nunduk dalem banget sambil megangin ujung medalinya, berusaha nyembunyiin mukanya yang udah fix semerah tomat matang.
"Cekrek!"
Suara kamera Kak Zahra berbunyi di saat yang sangat pas tepat saat Ramdan tanpa sadar sedikit memiringkan kepalanya ke arah Tari karena desakan geng receh di bawah podium.
"WADIDAW! Liat deh, tatapannya Pak Waketos nggak bisa bohong!" seru Pajar sambil pamerin hasil jepretan dari HP-nya ke anak-anak lain. "Ini mah bukan lagi foto dokumentasi Pensi, ini mah asupan buat kapal kita yang mau LDR-an besok!"
Boby nyeletuk dari belakang dengan nada puitis yang maksa, "Pergi ke Kalimantan bawa koper, pulangnya bawa kabar baper! Gas terus, Ndan!"
"Geng Receh... masuk barisan sekarang atau poin pelanggaran kalian saya kali dua?!" ancam Ramdan dengan suara yang dibuat se-tegas mungkin, padahal tangannya yang lagi pegang map penilaian udah gemeteran menahan salting tingkat nasional. Ramdan bergeser ke pinggir podium. Dia berdiri di samping Kak Zahra.
"Selanjutnya, untuk kategori Duet, penyerahan hadiah akan diberikan oleh Ketua OSIS kita, Arga!" Kata MC yaitu Kak Zahra
Arga naik ke panggung dengan senyum yang dipaksakan terlihat santai. Dia berdiri di depan Tari dan Afan yang memegang piala bersama.
Arga menjabat tangan Afan dengan kuat, lalu beralih ke Tari.
Arga: "Selamat ya, Ri. Penampilan kalian... luar biasa."
Tari: "Makasih, Kak Arga." Arga menepuk bahu Afan pelan, seolah memberikan pesan tersirat: "Jagain dia selagi pawangnya lagi di Kalimantan."
Dari pinggir panggung, mata Ramdan menatap tajam ke arah tangan Arga yang sempat menyentuh bahu Tari saat sesi foto. Pajar yang ada di bawah panggung cuma bisa bisik-bisik sama Raihan.
Pajar: "Gokil! Itu panggung isinya mantan, gebetan, sama saingan. Kalau meledak, SMA kita langsung rata sama tanah, Han!"
Ramdan memalingkan wajah, mengabaikan sorak-sorai siswa lain yang masih merayakan kemenangan XI IPA 1. Ia segera turun dari panggung tanpa menunggu sesi foto formal berakhir. Baginya, panggung itu sudah terlalu panas. Bukan karena lampu sorot, tapi karena ego dan rasa takutnya yang mulai bergejolak.
Besok dia harus ke Kalimantan. Dan meninggalkan Tari dalam lingkaran perhatian cowok-cowok seperti Afan dan Arga adalah ujian terberat yang pernah ia hadapi seumur hidupnya sebagai Ketua OSIS. Meskipun sebenarnya Arga itu adalah masa lalu Tari dan Afan adalah teman sekelasnya mereka yaitu kelas XI IPA 1.
TERIMA YA GUYS BUAT KALIAN YANG SUDAH BACA NOVEL INI. MANA YANG TIM ARGA ATAU TIM RAMDAN NIH? JAWAB DI KOMENTAR YA . JANGAN LUPA KASIH JEMPOLNYA