NovelToon NovelToon
Gadis Pembawa Kemalangan

Gadis Pembawa Kemalangan

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Balas Dendam / Kerajaan
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: VanGenZ

Siapa bilang setiap manusia diberi kesempatan merasakan kebahagiaan? Tidak semua orang seberuntung itu—dan gadis ini adalah buktinya. Dia dikenal banyak orang, bukan karena status, kecerdasan, atau keahliannya, melainkan karena kemalangannya yang seakan tak berujung. Hidupnya penuh caci maki, dan di setiap langkahnya, dia terus mengutuk dunia serta takdir yang menjeratnya.

Hingga suatu hari, seseorang muncul mengaku berasal dari dunia lain dan menawarkan bantuan untuk menghapus takdir terkutuknya. Namun, benarkah kebahagiaan masih mungkin untuknya? Ataukah ini hanya awal dari penderitaan baru?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon VanGenZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kereta Kuda

Sejak fajar, mansion sudah berdenyut oleh kesibukan. Langkah kaki bergegas di lorong. Pintu dibuka danditutup. Suara kain disibakkan, perhiasan beradu pelan. Festival bukan sekadar perayaan, ini panggung. Dan keluarga Marquess tidak pernah tampil setengah hati.

Di kamarnya, Elenna berdiri di depan cermin tinggi yang sedikit retak di sudut bawah. Ia membuka lemari perlahan. Gaun-gaun baru telah datang beberapa hari terakhir, sutra, renda, warna-warna lembut yang mengikuti selera istana.

Tidak ada satu pun yang dikirim ke kamarnya. Tangannya berhenti pada gaun lama berwarna krem pucat. Potongannya sederhana, pinggangnya tidak terlalu menonjolkan siluet, dan bordirnya sudah sedikit pudar di bagian lengan.

Ia menyentuh kain itu sebentar. Bukan karena Ia menyukainya. Tapi karena itu satu-satunya yang benar-benar miliknya. Ia mengenakannya sendiri. Tanpa pelayan. Tanpa bantuan.

Saat ia menarik resleting di belakang, luka di sisinya terasa tertarik. Ia berhenti. Menarik napas perlahan.

"Jangan terlihat lemah hari ini, apapun yang terjadi" Pikirnya

Ia merapikan rambutnya setenang mungkin. Tidak terlalu rumit. Tidak terlalu polos. Cukup untuk menunjukkan bahwa Ia tahu etika bangsawan, meski tidak pernah benar-benar diakui sebagai salah satunya.

Di kamar Lilith, suasana berbeda. Tiga pelayan mengelilinginya. Gaun biru muda dengan bordir emas tergantung anggun, berkilau saat terkena cahaya pagi. Di meja rias, kotak perhiasan terbuka, anting safir, bros kecil berbentuk mahkota, dan pita sutra.

Ketukan pelan terdengar.

“Masuk,” suara Lilith lembut.

Elenna melangkah masuk membawa sebuah kotak kecil dari kayu tipis.

Lilith menoleh dan tersenyum.

“Oh. Kau sudah siap?”

“Hampir,” jawab Elenna. “Aku ingin membantu.”

Lilith memberi isyarat pada pelayan untuk sedikit menyingkir.

“Baiklah. Kau memang selalu pandai merangkai bunga.”

Di meja terdapat beberapa tangkai lily putih segar. Elenna mengambilnya. Tangannya bergerak terlatih, seolah seorang profesional. Ia memotong bagian bawah batang, menyesuaikan panjangnya, menyatukan dengan pita tipis berwarna emas pucat. Ia merangkainya dengan hati-hati. Tidak berlebihan. Tidak mencolok.

“Aku membuatkan ini untukmu,” katanya pelan sambil menyerahkan rangkaian itu. “Agar sesuai dengan warna gaunmu.”

Lilith menerimanya. Ia tersenyum dengan ekspresi yang tepat, cukup hangat untuk terlihat tulus, cukup ringan untuk tidak terlalu dalam.

“Indah sekali, Elenna.”

Ia mengangkat rangkaian itu ke dekat wajahnya, seolah mengagumi detailnya.

“Kau selalu memiliki sentuhan yang lembut.”

“Jika kau menyukainya, aku senang.”

“Tentu saja.”

Lilith menyerahkannya pada salah satu pelayan. “Nanti pasangkan ini setelah rambutku selesai ditata.”

“Baik, Nona.

Elenna mengangguk kecil. Tidak ada yang terasa aneh. Belum. Beberapa menit kemudian, pintu terbuka lagi. Marquess masuk dengan langkah tegas. Ia berhenti sejenak melihat Lilith. Tatapannya berubah menjadi bangga yang tidak disembunyikan.

“Kau terlihat pantas berdiri di samping putri kerajaan.”

Lilith bangkit perlahan, gaunnya berkilau halus.

“Ayah terlalu memuji.”

Marquess tersenyum tipis. “Hari ini banyak mata akan tertuju padamu. Pastikan mereka tidak kecewa.”

“Tidak akan, Ayah.”

Elenna berdiri sedikit lebih ke belakang. Diam. Tidak mengganggu.

Marquess baru menyadarinya beberapa detik kemudian.

“Kau ikut juga?”

“Ya, Ayah.”

“Jaga sikapmu. Jangan membuat perhatian yang tidak perlu.”

"Padahal kami sama-sama kedua putrinya, mengapa perhatian yang diterima begitu berbeda" pikir Elenna dalam diam

“Baik.” Pada akhirnya, hanya itu yang bisa Ia ucapkan

Saat Lilith bergerak mendekat untuk menunjukkan detail gaunnya pada sang ayah, Elenna secara naluriah mencari rangkaian lily itu.

Ia tidak menemukannya.

Di rambut Lilith terpasang hiasan kecil berbentuk kristal, bukan bunga.

Matanya bergerak ke meja rias. Tidak ada, dan ketika matanya tertuju pada lantai, rangkaian lily buatannya tergeletak di sana. Belum disentuh. Tidak dipasang. Hanya diletakkan di lantai seolah-olah itu adalah sampah yang bahkan tak layak dipandang.

Elenna terdiam sepersekian detik. Padahal ia berusaha merangkainya dengan sepenuh hati, meskipun ia tidak menyukai Lilith. Tetapi bagaimanapun bunga adalah bagian dari dirinya, ia berusaha membuatnya dengan semaksimal mungkin.

Lilith berbicara ringan pada ayahnya.

“Aku memilih hiasan ini agar tidak terlalu ramai. Bunga mungkin terlihat terlalu sederhana untuk acara sebesar ini.”

Marquess mengangguk setuju. “Keputusan yang tepat.”

Kata sederhana itu menggantung di udara.

Elenna tidak berkata apa-apa.

Ia hanya menundukkan pandangannya sedikit. Ia mengerti. Bunganya tidak cukup pantas. Sama seperti dirinya.

Kereta telah disiapkan di halaman depan. Kereta utama besar, berlapis lambang keluarga. Pelayan membuka pintu dengan hormat. Marquess naik lebih dulu. Lilith menyusul, gaunnya diangkat hati-hati. Elenna melangkah mendekat, menjaga jarak agar tidak menginjak ujung gaun kakaknya.

Lilith berhenti sebelum masuk sepenuhnya.

Ia menoleh dengan senyum lembut.

“Ah, Elenna.”

“Ya?”

“Kereta ini mungkin akan terasa sempit. Gaunku cukup lebar, dan Ayah pun ada di dalam,” ucapnya ringan, nyaris seperti permintaan maaf yang dipoles sopan santun.

“Dua orang saja sudah cukup di dalam sini.”

Kalimat itu masuk akal. Tersusun rapi. Tidak ada nada merendahkan, tidak ada senyum sinis yang bisa dituding. Semuanya terdengar wajar, terlalu wajar.

Namun, keputusan itu telah dibuat bahkan sebelum kata-kata itu diucapkan.

Elenna merasakan sesuatu menekan di dadanya. Bukan kemarahan. Ia sudah terlalu sering belajar menelan itu. Bukan pula keterkejutan. Ia tidak lagi cukup naif untuk berharap. Hanya kekecewaan kecil yang tenang. Kekecewaan yang tidak bersuara.

“Baik,” jawabnya.

Marquess tidak keluar untuk menambahkan apa pun. Tidak ada tangan yang terulur, atau sekadar tatapan yang menahannya.

Pintu kereta utama tertutup dengan bunyi kayu yang padat. Roda mulai bergerak, pelan namun pasti. Debu halaman terangkat, berputar lembut di udara pagi.

Elenna tetap berdiri beberapa detik setelahnya. Gaunnya yang lebar tersapu angin tipis. Ia tidak bergerak, seolah tubuhnya perlu waktu untuk menerima bahwa ia memang tidak akan naik ke kereta itu.

Seorang pelayan mendekat dengan langkah ragu.

“Kereta kedua sudah siap, Nona.”

Kereta kedua.

Elenna menoleh. Kendaraan itu lebih kecil, tanpa lambang keluarga di pintunya. Tidak ada ukiran rumit di sisi kayunya. Catnya pun tampak lebih kusam, seperti benda yang memang tidak dimaksudkan untuk diperlihatkan. Sangat cocok dengan dirinya.

Ia melangkah naik tanpa banyak suara. Tangannya menyibakkan rok agar tidak tersangkut, gerakannya anggun seperti biasa, terlatih, terkendali.

Di dalam, tidak ada karpet tebal. Tidak ada bantal bersulam benang emas. Hanya kursi kayu berlapis kain tipis yang sedikit kasar di ujungnya.

Ia duduk perlahan. Punggungnya tegak. Tangan bertumpu rapi di atas pangkuan. Saat kereta mulai bergerak, getarannya terasa lebih jelas daripada kereta utama. Setiap guncangan kecil seolah lebih nyata di ruang sempit itu.

Melalui jendela kecil, Ia melihat kereta utama berada di depan. Jaraknya tidak jauh.

Namun, cukup jauh untuk menunjukkan batas. Batas yang tak pernah diucapkan. Batas yang tidak tertulis dalam silsilah keluarga. Tetapi selalu terasa.

Tangannya menggenggam ujung gaunnya tanpa sadar. Kain mahal itu berkerut di antara jemarinya. Ia teringat rangkaian lily yang tertinggal di lantai kamarnya. Bunga putih yang ia pilih sendiri pagi tadi, sederhana, bersih, tanpa hiasan berlebihan.

Ia membayangkan seseorang akan menemukannya nanti. Mungkin seorang pelayan akan mengangkatnya dan membuangnya begitu saja.

Atau membiarkannya di sudut ruangan sampai kelopaknya menguning dan jatuh satu per satu.

Ia tersenyum tipis.

Bunga mungkin terlalu sederhana untuk acara sebesar ini.

Angin pagi menyusup melalui celah jendela, membawa aroma tanah dan embun. Di kejauhan, lonceng kuil mulai terdengar samar.

Hari ini adalah festival. Hari ketika keluarga berdiri bersama di hadapan para dewa. Hari ketika nama-nama disebut dalam satu barisan yang utuh.

Ia berangkat sendirian. Tanpa ditemani siapa pun, meskipun ia memiliki sebuah keluarga. Tanpa dipanggil untuk duduk bersama, meskipun namanya terikat pada garis keturunan yang sama. Kereta kecil itu terus melaju, sedikit tertinggal, sedikit terpisah.

Elenna memejamkan mata sejenak.

Ia tidak akan menangis. Air mata tidak akan mengubah jarak di antara dua kereta itu. Ia tidak akan memohon. Permohonan hanya akan membuat batas itu semakin jelas.

Ia boleh hadir.

Ia boleh berdiri di sana.

Tapi ia tidak pernah benar-benar dihitung sebagai bagian dari mereka.

1
Ran
up thorr
Ran
cie elena mulai suka 🤭
Ran
Lilith ini keknya punya gangguan jiwa atau kelainan berpikir ya/Speechless/, stress banget jadi orang
Ran
ayo berlayar kapal elena dan tuan pengawal
Anonymous
semangat thor
VanGenZ: Terima kasih atas dukungannya🙏
total 1 replies
Ran
Lilith play victim jir
Ran
up thorr
Ran
itu mah akal akalan Lilith aja
Ran
sakit banget jadi elena
Ran
Lilith sok gatel lagi sama Kael
Ran
yahh, ayang beb udah mau pergi
Ran
mampus dimarahin ga tuh
Ran
kill aja tuh count
Ran
curiga sama lilith
Ran
buat apa dikasih tau kalau sejak awal udh ditentuin perannya, dasar marquess ga punya hati
Ran
semua gada yang bisa dipercaya kecuali elenna sendiri jir
Ran
Lilith sok baik/Panic//Pooh-pooh/
Ran
lumayan sih. walaupun minim dialog, tetap berkarya thor
Ran: sama-sama thor
total 2 replies
Ran
pengen deh bejek2 Lilith manusia ular itu/Panic/
Ran
kasian banget jadi Elenna/Cry/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!