NovelToon NovelToon
Kehidupan Kedua

Kehidupan Kedua

Status: sedang berlangsung
Genre:Time Travel
Popularitas:549
Nilai: 5
Nama Author: Fadhil Asyraf

menceritakan perjalanan waktu saka,yang berusaha mengubah masa depan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fadhil Asyraf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 32 Kedutaan Dua Bulan

Pagi pertama setelah fenomena "Dua Bulan" di Bandung tidak disambut dengan kicauan burung, melainkan dengan raungan sirine darurat dan kepanikan massal. Di langit, Bulan Biru dari dimensi Steampunk menggantung berdampingan dengan Bulan Putih kita, menciptakan pasang surut air laut yang aneh dan gangguan gravitasi ringan yang membuat benda-benda terasa lebih ringan sepuluh persen.

Jalan Braga kini menjadi perbatasan yang aneh. Di sisi utara, kafe-kafe modern masih berdiri dengan lampu neonnya, namun di sisi selatan, sisa-sisa Menara Uap Vena yang hancur meninggalkan portal permanen yang memuntahkan uap panas ke udara. Ribuan warga dari Bandung Steampunk—yang disebut sebagai "The Steamers"—terjebak di dunia kita. Mereka mengenakan zirah kuningan, kacamata goggles, dan membawa teknologi yang dianggap sihir oleh penduduk lokal.

Saka berdiri di atap Gedung Merdeka, menatap ke arah kerumunan yang mulai bersitegang di perbatasan Braga. Ia bisa melihat polisi Bandung yang dilengkapi tameng anti-huru hara sedang berhadapan dengan ksatria uap yang memegang tombak bertekanan tinggi. Satu percikan saja, maka perang saudara antar-dimensi akan pecah di tanah Pasundan.

"Energinya sangat tidak stabil, Saka," Anita muncul di sampingnya. Ia mengenakan jaket kulit panjang, matanya terus berkilat perak karena ia sedang memproses ribuan data dari Perpustakaan Hidup. "Pengetahuan Alexandria memberitahuku bahwa dua peradaban yang bertabrakan tanpa pemahaman akan berakhir dengan pemusnahan salah satunya. Kita bukan lagi penjaga, kita harus menjadi jembatan."

"Aku tahu, Nit," Saka menghela napas. Arloji Void-nya kini memancarkan cahaya ungu, warna diplomasi kronos. "Tapi bagaimana kau bicara dengan orang yang menganggapmu sebagai 'Hantu Pengacau' dan orang lain yang menganggap mereka sebagai 'Aliens'?"

Tiba-tiba, sebuah ledakan energi terjadi di tengah Jalan Braga. Bukan dari senjata, melainkan dari kemunculan Kapten Rian versi Steampunk. Ia berdiri di atas mobil mekaniknya yang berasap, memegang bendera putih. Di sisi lain, Direktur Vena (versi yang lebih stabil dari organisasi DAT yang asli) muncul dengan pasukan pengamannya.

"Kami butuh tempat tinggal, bukan penjara!" teriak Kapten Rian. "Dunia kami hancur karena ledakan Pasak Waktu. Kami adalah pengungsi, bukan penjajah!"

"Dunia kalian adalah anomali!" balas Vena. "Kalian mengancam stabilitas molekuler bumi kami. Kalian harus dikarantina di dalam zona vakum!"

Saka tidak bisa tinggal diam. Ia melompat dari atap gedung, menggunakan kontrol gravitasinya untuk mendarat tepat di antara kedua pemimpin tersebut. Gelombang kejut perak terpancar saat kakinya menyentuh aspal, memaksa semua orang mundur beberapa langkah.

"Cukup!" suara Saka menggema dengan wibawa Tinta Keabadian. "Bandung tidak akan menjadi medan perang. Tempat ini akan menjadi Kedutaan Dua Bulan."

Semua mata tertuju pada Saka. Prajurit Steampunk dan Agen DAT sama-sama tertegun melihat pemuda yang memiliki aura sekuat Dewa Waktu tersebut.

Anita turun dengan anggun, membawa gulungan cahaya yang ia ciptakan dari memori Alexandria. "Berdasarkan Traktat Alexandria tahun 300 SM tentang 'Pertemuan Bangsa Asing', ada protokol yang disebut Simfoni Ruang. Kita bisa berbagi frekuensi tanpa harus menghancurkan satu sama lain."

Saka dan Anita memandu kedua pihak masuk ke dalam Gedung Merdeka yang bersejarah. Di dalam aula yang luas, Saka memulai negosiasi yang melelahkan. Ia menjelaskan bahwa Bandung Modern memiliki sumber daya energi listrik yang melimpah, sementara Bandung Steampunk memiliki keahlian dalam mekanika berat dan material tahan waktu. Jika mereka bekerja sama, mereka bisa menstabilkan distorsi dimensi yang sedang terjadi.

Namun, di tengah perundingan, Saka merasakan denyut aneh di Arloji Void-nya. Seseorang sedang menyusup di bawah gedung. Melalui pandangan bayangannya, Saka melihat sesosok makhluk yang terbuat dari air laut yang kental merayap melalui pipa pembuangan.

"Ada tamu tak diundang," bisik Saka pada Anita.

Tanpa mengganggu jalannya diplomasi, Saka melakukan phasing dan masuk ke dalam tanah. Di ruang bawah tanah Gedung Merdeka, ia menemukan makhluk itu—seorang pembunuh dari dimensi ketiga: Bandung Atlantis. Realitas di mana Jawa Barat tenggelam di bawah samudra purba.

Makhluk itu memegang trisula yang terbuat dari kristal karang. "Kalian sibuk bernegosiasi tentang tanah dan uap," suara makhluk itu terdengar seperti gelembung udara yang pecah. "Tapi laut tidak pernah lupa. Ketika dua bulan menggantung di langit, air laut akan naik dan menelan semuanya. Atlantis akan mengklaim kembali Bandung!"

Saka menerjang dengan pedang peraknya. Pertarungan di bawah tanah itu terjadi dengan sangat sunyi namun mematikan. Setiap serangan trisula makhluk laut itu menciptakan tekanan air yang mampu menghancurkan beton. Saka menyadari bahwa fenomena dua bulan ini menciptakan pasang surut yang memicu bangkitnya peradaban laut yang selama ini tersembunyi di garis waktu yang tenggelam.

Saka berhasil menebas kristal karang tersebut, memaksa makhluk itu menguap kembali menjadi air biasa. Namun, pesan itu jelas: Tantangan mereka bukan hanya mendamaikan manusia dan manusia uap, tapi bertahan dari alam yang sedang memberontak karena hukum fisika yang dilanggar.

Saka kembali ke aula dengan napas sedikit tersengal. Ia melihat Rian Steampunk dan Direktur Vena mulai menandatangani kesepakatan awal.

"Kita punya masalah baru, Nit," ucap Saka saat mendekati Anita. "Pasang surut dari bulan kedua... itu memanggil sesuatu dari bawah."

Anita menatap ke jendela, ke arah laut selatan yang jauh dari Bandung namun terasa dekat secara energi. "Aku sudah merasakannya. Tekanan air di seluruh dunia mulai naik. Jika kita tidak menyeimbangkan gravitasi dua bulan ini dalam 48 jam, Bandung—dan seluruh Jawa—akan menjadi Atlantis baru."

Saka menggenggam Arloji Void-nya.Episode 32 berakhir dengan pemandangan dari satelit yang menunjukkan air laut mulai merayap masuk ke daratan dengan kecepatan yang tidak masuk akal.

"Selamat datang di diplomasi tingkat tinggi, Saka," suara Luna terdengar di benaknya. "Sekarang kau bukan hanya menjaga waktu, kau harus menjaga laut."

1
Fadhil Asyraf
sangat bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!