NovelToon NovelToon
LAKSANA SAMUDRA

LAKSANA SAMUDRA

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Romansa
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Inar Hamzah

Melihatmu tersenyum lebar dibawah sinar mentari pagi, membuatku semangat menjalani hari.

Dandelion, adakah kesempatan untukku ?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Inar Hamzah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

DIA TIDAK BAIK UNTUK KAMU

Setelah sambungan telepon berakhir, Rico masih setia memandangi langit yang kini di penuhi gemintang. Malam semakin larut, angin semakin menerpa tubuhnya yang hanya terbalut kaos oblong dan celana pendek. Sesaat setelah memutuskan untuk kembali ke kamar. Pandangannya tertuju pada jalanan yang sepi. Namun, ada dua orang yang mengendarai motor melaju pelan dan memperhatikan wilayah sekitar.

Dengan sigap Rico berjongkok, dan memperhatikan keduanya yang tak asing bagi Rico. Cukup lama ia memperhatikan pemotor yang berlalu lalang, hingga mereka memutuskan untuk keluar dari blok rumah Rico.

“Sepertinya mereka tidak asing di ingatan ku.” Bisiknya menutup pintu dan memutuskan untuk beristirahat.

Malam semakin sunyi, namun tidak dengan pikiran Deya. Gadis itu masih berguling di atas tempat tidurnya. Pikirannya berisik, seperti sebuah forum yang sibuk berdebat saling menyalahkan dan ingin menang sendiri.

Lama berpikir, ia memutuskan untuk membuka beberapa chatnya dengan Rico. Betapa tulusnya laki-laki itu, sementara ia tak bisa memberikan apa yang Rico inginkan darinya. Semakin dia berpikir rasanya semakin capek saja. Sehingga mata itu terlelap dengan sendirinya.

***

Waktu pagi kembali menyapa, Arunika yang masih malu-malu menampakkan diri. Sementara di kamar atas rumah Samsu di isi oleh ocehan perempuan banker itu yang menatap kesal bayangannya di cermin.

Ia menghembuskan nafas kasar “Rico penyebabnya.” Gerutunya dan mengenakan penutup kepala.

Dering telepon mebuatnya tersentak, ternyata Rico melakukan panggilan suara sepagi itu.

“Hm, kenapa ?” Tanya Deya tanpa memberi salam.

“Sebentar lagi aku ke rumah mu, ngantar kamu ngantor.” Ucapnya sambil mengelap keringat sehabis jogging.

“Nggak usah.”

“Nggak ada penolakan. Sampai jumpa setengah jam lagi.” Rico dengan segera memutuskan sambungan telepon mereka.

Benar saja, Rico sudah berada di depan rumahnya. Pagi ini ia membawa mobil tempo hari yang membuat Deya hampir turun paksa.

“Selamat pagi Deya.” Ucapnya santai seperti tak memikirkan perasaan nya yang habis ditolak semalam.

“Hmm. Awas aja aku telat gara-gara mobil ini.” Gerutu Deya dan memasang sabuk pengamannya.

Laki-laki yang kini fokus menyetir mobil itu hanya tersenyum singkat, sesekali ia memperhatikan wajah Deya, tepatnya di mata yang masih sembab. Deya menyadari diperhatikan namun memilih cuek dan menatap ke arah depan. Rico memberikan sebuah kotak panjang berwarna gelap.

“Ini apa ?” matanya tertuju pada kotak yang masih dalam genggaman Rico.

“Buka saja.” Ucap Rico singkat.

Sebuah kacamata dengan gagang berwarna coklat terlihat masih baru. Seketika tatapan sayu Deya mengarah pada Rico. Meratapi dirinya yang sampai saat ini masih belum bisa mencintai Rico. Namun ia menerima semua perlakuan baik laki-laki itu.

Setetes cairan bening lolos dari matanya, meratapi dirinya kini. “Maaf.” Ucapnya dalam hati.

***

Mobil yang dikendarai Rico berhenti di depan kantor Deya. Atasan Deya yang mengetahui pemilik mobil itu seketika membenak.

“Ada apa pak Handoko datang sepagi ini ?”

Ternyata dugaannya salah, kaki jenjang yang kini turun dari mobil itu. Mengenakan seragam kantornya. Langsung saja pagi itu mereka yang masih di luar kantor disuguhkan pemandangan tidak biasa. beberapa orang berbisik, apa sebenarnya hubungan Deya dengan anak pak Handoko, salah datu nasabah penting di kantor mereka.

“Selamat pagi pak.” Sapa Deya dan melewati atasannya.

Laki-laki yang lebih muda dari ayahnya itu hanya tersenyum simpul dengan bebagai pertanyaan dibenaknya. Laki-laki paruh baya itu juga yang ditelpon Rico meminta ijin untuk membawa Deya saat jam kerja. Mereka tak mempedulikan mata sembab Deya yang tertutupi kaca mata.

Sementara Rico yang berada di balik kemudi mobil itu langsung saja melayu. Sebelumnya dia membunyikan klakson pada mereka yang masih menatap ke arahnya.

***

Pagi kini berganti siang, ruang makan kantor terlihat ramai. Iya, perbincangan mereka adalah Deya yang di antarkan oleh anak dari salah satu nasabah penting mereka. Selfi yang jiwa keponya begitu tinggi langsung saja membuka pertanyaan.

“Dee, kamu anaknya pak Handoko ?”

“Haaa ?” Deya menatap Selfi dengan penuh selidik. “Kan kamu pernah lihat ayah ku Selfi.” Tegas Deya penuh penekanan.

“Lalu yang tadi mengantar mu itu siapa ? Jelas-jelas itu mobilnya pak Handoko.” Tanya rekan kerja lainnya.

“Memangnya pak Handoko saja yang punya mobil seperti itu ?” Deya balik bertanya.

“Dee, nomor polisinya.” Jawab Hendy yang masih fokus pada Deya. “Atau kamu ada--.” Hendy tak melanjutkan ucapannya, karena Selfi menatap tajam.

Mulut Deya membentuk huruf O. “Itu anaknya, pak Handoko berteman akrab dengan ayah ku.”

“Bagaiamana rupa anaknya De ?” Tanya Deya dengan penuh antusias.

Deya memiringkan wajahnya melihat Selfi penuh.

“Sel, kamu nggak tau siapa laki-laki yang menarik tangan ku saat aku dimarahi oleh ibu-ibu itu.”

“Laki-laki itu ?” Hendy langsung bertanya.

Anggukan kepala Deya menandakan persetujuan.

Helaan nafas dalam Hendy terdengar seperti menggema di langit ruangan. “Kalau bisa jangan sama dia De. Aku rasa dia nggak benar-benar suka kamu. Aku rasa dia nggak baik buat kamu.”

“Maksud mu ? Dari mana kamu tahu dia suka atau tidak pada ku ?”

Hendy menggaruk kepalanya yang tidak gatal, mencoba menyembunyikan sesuatu yang tak ingin diketahui orang lain. “Nggak De, aku nggak setuju.”

“Lah, emang harus ada persetujuan dari kamu.” Seloroh Selfi yang sibuk dengan makanannya.

Semua mata yang satu meja dengan mereka langsung menatap penuh selidik pada Hendy.

“Kamu suka Deya yaa ?” Tanya salah satu dari mereka.

“Bukan gitu.” Jawabnya gugup. “Intinya dia itu bukan laki-laki baik buat kamu De.”

Indra penglihatan Deya menyipit, menatap Hendy penuh selidik. Kenapa dia sungguh yakin bahwa Rico tidak baik untukknya. Atau mungkin sesama laki-laki saling mengetahui dari gerak geriknya. Deya berfikir dalam dan mematung dengan perasaannya yang tak menentu. Bukankah seharusnya dia senang. Namun kenapa seperti ada rasa tak percaya akan hal itu.

***

Ponsel Deya berdering persis saat ia akan memesan ojek online untuk pulang. Ia tak mengerti perasaannya sekarang. Ia membenci situasi ini, lebih-lebih ia membenci kenyataan jika memang yang diucapkan Hendy itu benar.

Ia sengaja mengabaikan telepon Rico, namun deringan ponsel itu tak henti-hentinya. Hingga akhirnya dia memilih untuk mengangkat. Lembut suara Rico memanggil Deya, membuatnya melunak.

Namun sejurus kemudian nada cuek ditampilkan. Lagi-lagi Rico tak mengerti apa yang terjadi.

“Dee, aku di depan kantormu.”

“Aku mau pulang sendiri.”

“Kan semalam janji buat makan di cafe yang baru itu.”

“Aku nggak mau, aku nggak mood.”

Rico bisa membaca perubahan Deya, dan laki-laki itu menyimpulkan terjadi sesuatu di kantornya hari ini.

“Lagi ada masalah ? Aku buat salah ?” Tanya Rico yang benar-benar menurunkan ego nya.

“Nggak ada.”

“Keluar dulu yah Dee, kita bicarain kalau emang ada masalah. Tahan dulu ya ngambeknya “Gigi Singa”.”

“Gigi Singa ? Kamu kira aku hidup di alam liar.”

“Ayok, aku tunggu di depan kantor ini.” Lembut Rico membujuk Deya.

Perempuan itu melangkah dengan menahan kesal yang sedari tadi siang dirasa. Ia seperti ingin segera bertanya apa yang sebenarnya di cari Rico dari nya, dan kenapa rekan kerja mengatakan hal tadi siang dengan begitu yakin.

Deya menatap Rico dengan tatapan Singa yang sedang kelaparan dan siap menerjang mangsanya.

“Salah apa lagi aku ini ?” Bisiknya pada diri sendiri saat tatapan mereka beradu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!