Kultivator setengah abadi Yan Biluo harus hidup sebagai Beatrice Nuo Vassal, karakter kecil dalam novel erotika yang seharusnya mati di awal cerita. Karena hal ini, ia pun merayu tunangan lisannya—Estevan De Carlitos, Grand Duke paling kejam dalam cerita tersebut.
Tujuannya sederhana—memperbaiki plot yang berantakan sambil terus merayu tunangannya yang tampan. Namun semuanya berubah saat tokoh utama antagonis tiba-tiba saja meninggal. Sejak itu, fragmen ingatan asing dan mimpi-mimpi gelap mulai menghantuinya tanpa henti.
Beatrice mengira tidur dengan tunangan tampannya sudah cukup untuk menikmati hidup sampai akhir cerita. Namun ia malah terseret dalam emosi, ingatan, dan trauma dari pemilik tubuh aslinya.
Apakah dunia ini benar-benar hanya novel?
Atau sebenarnya ia sedang menghidupi tragedi yang pernah dialami oleh karakter yang ia gantikan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Risa Jey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Drex
Terrence dan Niccolo benar-benar berada dalam masalah. Tidak cukup dengan kenyataan bahwa mereka berdua sama-sama tak mampu memancing ikan—bahkan para pengawal yang mereka bawa pun tidak bisa disuruh.
Estevan memang licik. Seakan sudah membaca isi kepala Terrence yang malas, dia mengutus Niall dan Millie untuk mengawasi keduanya dari jauh.
“Ini tidak adil! Bahkan ikan pun menolak umpan kita,” keluh Terrence. Ia memandang joran di tangannya yang tak bergerak sejak beberapa jam terakhir, seolah benda itu sedang mengolok-oloknya.
Niccolo tak jauh lebih baik. “Sudah sore. Haruskah kita kembali saja?”
“Sepupuku tidak akan membiarkan kita pulang tanpa ikan,” gumam Terrence lirih.
Keduanya melirik ember kayu kosong di dekat kaki. Setelah meratapi nasib, keduanya menghela napas bersama. Lalu, suara lembut namun jelas terdengar dari belakang.
“Apa? Jadi kalian belum dapat satu ekor pun?”
Terrence hampir melompat dari duduknya. Ia menoleh cepat. Beatrice dan Estevan berdiri di sana.
“Kenapa kalian berjalan tanpa suara?” protes Terrence, jantungnya masih berdetak cepat.
“Kamu saja yang terlalu fokus menatap air,” jawab Beatrice datar, alisnya sedikit terangkat. “Tapi sungguh … tidak ada satu pun?”
Keduanya hanya bisa menggeleng, lemah tak berdaya.
Beatrice akhirnya mengetahui seluruh penyebabnya setelah Terrence dan Niccolo saling menyalahkan. Ia melirik ke samping, menatap Estevan yang tentu saja tidak menunjukkan sedikit pun rasa bersalah.
Ia sudah lapar dan ikannya belum dapat?
Beatrice langsung lesu, bahunya turun. Ia menatap Estevan dengan ekspresi tidak senang. “Apakah kamu sengaja melakukannya? Lalu apa yang akan kita makan malam ini?”
“Apakah kamu benar-benar ingin makan ikan?” tanya Estevan.
“Tentu saja. Ikan bakar pasti enak sekali.”
“Kalau begitu aku yang akan menangkapnya untukmu.”
Estevan akhirnya turun tangan sendiri. Ia melepas mantel luarnya, menggulung lengan baju, lalu mengambil belati di pinggang—mengubahnya menjadi tombak pendek. Terrence dan Niccolo hanya bisa mundur beberapa langkah sambil menonton Estevan turun ke sungai.
Terrence ternganga. Sepupuku benar-benar turun ke air demi gadis itu? Pikirnya.q
Niccolo tidak mau menganggur sehingga ia angkat suara. “Haruskah saya membuat api unggun untuk memanggang ikannya?”
“Pergi ke pondok. Tunggu di sana,” jawab Estevan tanpa menoleh.
“Oh, baiklah! Ayo, Niccolo. Kami pergi dulu!” Terrence langsung kabur seperti kelinci ketakutan. “Sepupu, jangan lupa dapatkan ikan untukku juga!”
Saat keduanya menjauh, Beatrice hanya bisa menggelengkan kepala. “Kamu benar-benar membuat sepupumu kerepotan.”
“Siapa suruh dia mengintip kita sebelumnya?” Estevan mendengus dingin. “Tidak perlu merasa kasihan. Dia datang bukan untuk memancing.”
“Kalau bukan memancing, lalu apa yang dia cari di sungai?”
“Beberapa pelayan keluarga Baron sering datang ke sini untuk mandi atau mencuci pakaian. Dia datang untuk mengintip.”
Beatrice terkejut. “Kamu tahu, atau hanya menebak?”
“Aku tahu.” Estevan berkata datar. “Dia pernah mengajakku ikut. Aku laporkan kelakuannya itu ke kakaknya. Setelah itu, dia tak pernah mengajakku lagi.”
Beatrice nyaris tersedak udara. Ternyata sepupu yang riang itu punya hobi seaneh itu.
Tak butuh waktu lama, suara kecipak air bergema. Estevan bergerak cepat. Dalam waktu singkat ia sudah membawa beberapa ikan besar.
Ketika langit mulai gelap, keduanya kembali ke pondok. Api unggun sudah menyala dan Niccolo sedang memanaskan teko air panas. Sementara Terrence terlihat sibuk mengatur perlengkapan.
Melihat isi tas Terrence yang berhamburan—bumbu, lap bahkan alat masak serba guna—Beatrice mendecak. “Kamu ini mau menangkap ikan atau berkemah?”
Terrence batuk kecil, sedikit canggung. “Jangan remehkan aku. Walau terkenal riang, aku juga sering hidup di alam liar. Ini hanya … perlengkapan dasar.”
Estevan membongkar aibnya. “Tidak, kamu hanya manja dan takut kelaparan saat tersesat.”
Terrence memelotot, ingin sekali menyumpal mulut sepupunya dengan sebongkah emas agar berhenti mengumbar kelemahannya.
Tak lama, masing-masing dari mereka memakan ikan panggang. Aroma kulit ikan yang terbakar dan rempah sederhana menyebar di udara. Beatrice makan perlahan seraya meniup daging ikan yang masih panas.
“Perburuan musim semi nanti sepertinya tidak akan damai. Monster di luar perbatasan semakin berani untuk menyelinap ke benteng perbatasan," kata Terrence.
Niccolo mengangguk. “Terakhir kali saya ke perbatasan, saya menemukan beberapa lubang galian yang dalam. Makhluk-makhluk itu semakin pintar.”
“Apakah itu ulah Drex?” tanya Terrence, nada suaranya merendah.
“Saya tidak melihatnya langsung,” jawab Niccolo. “Jadi saya tidak tahu.”
Beatrice yang sejak tadi mendengarkan, akhirnya bertanya, “Apakah Drex benar-benar menakutkan?”
Estevan yang menjawab. Suaranya tenang tapi mengandung kewaspadaan yang jelas. “Ya. Monster itu cerdas seperti manusia. Tubuhnya dua kali lebih besar dari monster biasa. Dan kemampuannya yaitu bergerak tanpa suara di kegelapan.”
Beatrice merinding. “Apakah makhluk-makhluk itu takut api?”
“Semua monster takut api.”
“Oh, syukurlah …” Beatrice menarik napas lega.
Api unggun memantulkan cahaya oranye ke wajah masing-masing. Percakapan itu menggantung begitu saja.
Di dalam novel aslinya, monster tidak pernah dijelaskan secara detail—hanya disebut sekilas, sekadar pelengkap. Namun satu monster yang sering disebut adalah Drex, monster yang menguasai luar benteng Kekaisaran Carlos.
Suara lolongan tiba-tiba saja memecah keheningan hutan. Suaranya panjang dan sumbang. Bukan lolongan serigala biasa. Mereka berempat spontan mempercepat makan malam mereka.
“Apakah ada serigala di hutan ini?” tanya Beatrice, menoleh ke arah kegelapan hutan. “Bukankah hutan sekitar peternakan kuda ini relatif aman?”
Estevan mengerutkan kening. “Jika ada serigala, mereka tidak akan mendekat ke wilayah yang dijaga ketat.”
Niccolo menelan ludah dan mulai berani menebak, “Mungkin … itu bukan serigala. Bisa jadi Drex.”
Terrence memelototinya. “Tidak mungkin! Mana ada Drex yang bisa menirukan suara binatang?”
Namun pikiran Estevan penuh dengan berbagai kemungkinan. “Itu memang mungkin. Drex itu pintar.”
Beatrice merasakan bulu kuduknya meremang. Ada sesuatu di sana—di balik pepohonan—yang sedang memperhatikan mereka. Nafasnya tertahan. Meski kekuatannya hampir hilang sejak memasuki tubuh ini, insting sebagai kultivator belum benar-benar hilang.
"Evan ... Di sana. Aku merasa ada sesuatu yang memperhatikan kita dari balik pepohonan," ungkapnya.
"Sepertinya kita sudah diperhatikan sejak lama."
Estevan masuk ke pondok, mengambil pedangnya lalu keluar dengan langkah mantap. Mata keemasannya tampak lebih tajam di bawah cahaya api unggun.
“Bersiaplah.” Suaranya rendah. “Kita mungkin harus membunuh mereka.”
Beberapa pasang mata merah menyala mulai muncul dari balik pepohonan. Niccolo langsung meraih gagang pedangnya yang masih tersarung.
Terrence yang kemampuan bertarungnya tidak terlalu baik, tetap memegang pedang. Meski cemas, ia setidaknya tahu cara mengayunkannya.
“Itu … itu pasti Drex,” gumam Terrence. “Hanya mereka yang punya tinggi melebihi pria dewasa.”
Beatrice menggigit bibirnya, frustrasi. “Apakah mereka sulit dikalahkan?”
Niccolo menatap kegelapan dengan sorot waspada. “Kulit mereka tebal dan sulit untuk ditembus. Belum lagi mereka bergerak cepat. Itu saja."
Beatrice tidak pernah melihat monster di zaman ini. Jadi dia sangat penasaran. Dia juga pandai bertarung. Apa lagi menggunakan pedang, seperti memegang mainan. Tapi tubuh pemilik asli tidak pernah memegang seinci pedang apa pun. Apa lagi bertarung. Jadi memegang pedang dan mengayunkannya pasti akan kesulitan.