NovelToon NovelToon
Pernikahan Paksa Dengan Pembullyku Di Masa Lalu

Pernikahan Paksa Dengan Pembullyku Di Masa Lalu

Status: sedang berlangsung
Genre:Trauma masa lalu / Dijodohkan Orang Tua / Cinta Seiring Waktu / Cinta Murni
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Putri Sabina

Rania Wiratama seorang gadis yang dipaksa menikahi pembully-nya di Masa lalu atas keinginan terakhir Eyang Kartika, Rania bekerja sebagai Photography dan penjual foto lewat website.
Arga Prananda seorang pria yang bekerja di anjungan laut lepas, nampak menyesali perbuatannya pada Rania. Rasa bersalah selama bertahun-tahun mengubahnya menjadi obsesi sekaligus cinta. Rania yang sudah memendam rasa benci dan trauma tak mampu menatap apalagi bersama Arga. Tapi Arga selaku suami dan Imam bagi Rania berjanji untuk membimbing dan menuntun istrinya ke jalan agama, sekaligus mencintai Rania. Bagaimana akhir pernikahan ini?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putri Sabina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11

Pagi di langit yang belum menampakan sinar matahari, udara pagi masih menyelimuti kamar.

Sisa embun masih menempel di jendela merambat ke ruangan----Rania yang sudah melaksanakan solat subuh terduduk di atas kasur dengan menggigil.

Seusai solat subuh Rania belum beranjak kemanapun.

Daster piyama masih melekat di tubuhnya, dan rambutnya belum juga di sisir.

Matanya menatap Arga, dengan kewaspadaan tingkat tinggi, seperti belum yakin pada Arga sepenuhnya.

Arga melipat sarung dan sajadah, meletakkannya dengan rapih di atas kursi.

Namun ketika menoleh dan mendapati Rania terduduk di atas kasur dengan menggigil, Rania masih menatapnya dengan waspada.

Arga hanya menghela napas pelan.

"Rania kamu mau sarapan apa?" tanya Arga dengan penuh perhatian.

Arga berusaha membuka komunikasi dengan istrinya, tapi Rania hanya menjawab dengan tubuh menggigil kedinginan.

"Ter-terserah ka-kamu," ucap Rania yang menggigil kedinginan.

Arga langsung berlari ke arah lemari lalu memberikan jacket pada Rania, Arga mendekati Rania.

Gadis ini memejamkan matanya sudah ketakutan, tapi hal yang tak terduga terjadi----Arga hanya menyelimutinya dengan lembut.

"Pakai jaketnya," ujar Arga.

Rania hanya mengangguk-angguk kepala sebagai tanda terimakasih, tetapi matanya masih terpejam.

Ketakutan, trauma, dan rasa waspada selalu membayanginya.

"Kamu masih takut ya?" tanya Arga dengan hati-hati.

Rania yang mendengar pertanyaan itu terlontar dari mulut Arga, hanya bisa mengangguk kepalanya sambil memejamkan matanya.

Arga yang terduduk di sampingnya langsung memeluk istrinya dengan hangat, seketika mata Rania terbuka dan tiba-tiba peluh bercucuran.

Entah mengapa tadi yang terasa dingin, sekarang ada peluh di keningnya.

Mata Rania terbuka membulat, menoleh ke samping saat Arga memeluknya---pelukan yang dirinya rasakan semalam sangat nyaman dan tenang.

"Saya nggak akan paksa kamu, saya mau kamu tahu satu hal Rania---kamu aman ama saya," ucapan itu terlontar membuat mata Rania menoleh ke samping.

Arga memeluknya dari samping dan kepala Rania di dada bidang Arga, sementara hidung Arga yang mancung mencium rambut Rania.

"Kamu disini dulu aja, aku mau ke bawah buat sarapan," ucap Arga.

Pelukan dan rasa kenyamanan yang tadi di berikan Arga untuknya, membuat Rania melengkungkan seulas senyum.

Sementara Arga ke bawah menyiapkan sarapan untuknya juga istrinya, keadaan terasa canggung, saat Rania untuk pertama kalinya merasakan dekapan Arga.

Rania menunduk, napasnya perlahan melambat dan berusaha menarik napas dengan stabil, melanin naik----perlahan pipinya memerah.

"Gua kok nggak bisa percaya ama Arga ya," batin Rania dalah hatinya.

Pagi yang dingin karena semalam hujan, dan perlahan matahari mulai naik dengan suara Arga yang cekatan memasak di dapur.

Sungguh suami yang langka, jika mau berbuat seperti itu.

Suara Arga nampak terdengar sibuk di dapur, sebelum solat subuh tadi Arga sudah mandi dan dirinya hari ini tengah memasak.

Demi merebut hati Rania, gadis berambut ikal ini masih di atas kamarnya---masih ketakutan untuk keluar.

Lalu suara dering ponsel membuyarkan lamunannya.

Derrt...Derrt.

Rania menatap dering ponsel itu ternyata dari neneknya, yang menelepon lewat ponsel jaman dulu.

"Eyang ngapain nelepon pagi-pagi, busset dah," gumam Rania menatap layar ponsel.

"Hallo Eyang ada apa?" tanya Rania.

"Hallo, Nduk cahayu," sapa eyangnya.

"Hari ini eyang akan kesana biasa mau ngambil sprei sekalian mau nganter jamu," lanjutnya.

Rania menepuk jidatnya, saat benda pipih itu di taruh di telinganya.

"Hallo Nduk," kata eyangnya.

"I-iya eyang hallo, kenapa?" tanya Rania.

"Gimana eyang mau kesana, ngambil sprei ama nganter jamu kuat buat kamu dan suamimu," jelas sang eyang.

"Yah eyang jangan nanti aku ke sana aja ama----Mas Arga," ujar Rania dengan berat hati memanggil Arga dengan sebutan Mas.

"Kamu itu loh, kenapa sih eyang mau ngambil sprei yang ada darah kamu," bentak eyang Kartika yang keras kepala.

"Aduhh capek banget ngurusin boomer," oceh Rania.

"Rania!" bentak Kartika di sebrang telepon.

Rania langsung terperanjat dan suaranya nampak gugup.

"Iya Eyang, aku nggak ngomong apa-apa eyang," kata Rania dengan gugup.

"Yaudah eyang mau kesana hari ini nanti jam 10 siang, ingat minum jamunya!" titahnya, tegas selayaknya ibu negara.

"Iya siap eyang," sahutnya.

Rania hanya bisa menghela napas lelah, dirinya memejamkan mata dan kepalanya mendongak ke atas.

"Harus alasan apalagi...," lirih Rania memejamkan mata.

"Kenapa ya tuhan, engkau harus menempatkan aku dalam dua tembok yang terhimpit!" ujar Rania yang frustasi.

Di lain sisi.

Rania ingin sekali membuat sang nenek bahagia dan agar umur sang nenek di perpanjang, tapi disisi lain juga----Kebahagian dan harapan Rania yang di korbankan.

Di tengah rasa frustasinya, tiba-tiba pintu di ketuk oleh Arga.

Tok...Tok.

Hal yang membuat Rania menoleh ke pintu.

"Iya masuk," sahut Rania menyembunyikan rasa frustasinya.

Arga membuka pintunya perlahan, dan tersenyum lalu duduk di samping Rania di tepi Ranjang.

"Sarapan sudah siap," ujar Arga.

Rania tersenyum tipis, wajahnya pucat bukan takut dengan Arga---Tapi takut oleh ibu negara yang nanti akan protes.

"Ayo makan, nanti asam lambung kamu kambuh loh," ajak Arga dengan penuh perhatian, meski sang istri baru bangun tidur.

Rania hanya mengangguk-angguk kepala, sedangkan Arga bisa mengerti keadaan Rania hanya sekali tatap.

Meski Rania masih ketakutan, tapi Arga merasa ada yang di sembunyikan istrinya ini.

"Rania apa yang kamu sembunyikan dari saya?" tanya Arga.

Rania tersenyum menundukkan kepalanya lalu menggelengkan kepala, dan mengatakan tak ada apapun.

"Sayang, saat orang tak berani menatap orang yang mengajukan pertanyaan...sudah pasti dia berbohong," kata Arga yang matanya terang terkena sinar matahari pagi.

Tangan Arga dengan lembut membelai rambut Rania yang keriting, dan menyelipkan di telinganya.

"Ceritakan pada saya, sekarang saya suamimu...," kata Arga lirih.

Rania menghela napas sejenak.

"Eyang mau kesini lagi," sahut Rania yang kali ini berani menatap mata sang suami.

Arga tersenyum lalu mengatakan dan apa yang salah.

"Eyang---Kesini mau ngasih jamu dan minta sprei darah malam pengantin," jawab Rania singkat dengan gugup.

Arga mengernyitkan keningnya, dan menatap sang istri lalu dirinya juga berpikir alasan apa yang pas untuk di berikan nanti.

*

*

*

1
DewiKar72501823
kak putri cerita mu bagus sekali..the best 👍🏻🥰
Putri Sabina: makasih kakak udah mampir🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!