Anies Fadillah hanya ingin menenangkan hatinya yang lelah.
Namun satu langkah tergesa tanpa perhitungan di malam hari menyeretnya pada fitnah yang tak sempat ia luruskan.
Faktanya Anisa Fadillah gadis tujuh belas tahun itu berada di dalam kamar Ustadz Hafiz Arsyad, yang tak lain adalah putra bungsu dari Kiai Arsyad.
Sebuah peristiwa yang menguncang kehormatan, meski keduanya tak pernah berniat melanggar syari'at.
Ketika prasangka lebih dulu berbicara dan kebenaran tak sempat di bela, jalan yang paling tepat menjaga marwah adalah pernikahan.
Hari itu juga Mereka dinikahkan secara tertutup, dan pernikahan itu dirahasiakan dari publik, hanya orang ndalem yang mengetahui pernikahan rahasia antara Hafiz dan Anies.
Apakah pernikahan mereka akan bertahan?
Atau mungkin pernikahan mereka akan terbongkar?
Ikuti kisahnya yuk...!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ZIZIPEDI, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7 Terlur Dadar
Anies masih membelakangi Gus Hafiz, di belakangnya terdengar langkah singkat.
"ini..." ujarnya, sambil menahan batuk kecil.
Anies menoleh, menerima peralatan untuk terapi, alat kerok dari kayu dan minyak urut, namun tak sengaja ujung jemarinya menyentuh jemari Gus Hafiz.
Cukup membuat Anies tersentak.
Sampai botol minyak pijat terlepas dari genggamannya. Dan Anies buru-buru memungutnya.
"Maaf..." Anies sambil memungut botol yang terjatuh.
Gus Hafiz tak menjawab, pria dewasa itu lantas duduk dengan punggung terbuka.
Anies perlahan duduk tepat di belakang punggung Gus Hafiz. Pria itu bisa merasakan jika remaja di belakangnya itu, sedang gugup.
"Kita halal, saling bersentuhan. Ndak perlu sungkan." ujarnya.
Anies menelan ludah.
"Nggih Gus..."
sahut Anies.
Pelan perlahan, tangan Anies melumuri punggung Gus Hafiz dengan minyak urut.
"Saya nggak bisa telat makan. Kalau telat makan masuk angin," tiba-tiba, Gus Hafiz membuka obrolan.
"Ooo..." sahut Anies sekenanya.
"Saya belum makan, dari siang." ujarnya lagi.
Anisa masih belum engeh.
"Loh kok bisa ndak makan, Gus?"
Gus Hafiz menoleh.
"Ndak ada yang nawarin makan."
Sahutnya, itu mungkin kalimat sindiran untuk Anies, sebagai istri yang lupa akan tanggung jawabnya.
"Kalau laper ya tinggal makan Gus, ndak usah nunggu ditawarin." sahut Anies yang suka asal menjawab.
Gus Hafiz menghela napas dalam.
"Emang kamu masak apa?" Anies mendelik, gerakan tangannya seketika terhenti.
"Astaghfirullah..." ucapnya dengan suara kaget. Anisa lupa kalau punya suami.
"Jadi Gus nungguin, aku nawarin makan?" tanya Anisa dengan wajah tak berdosanya.
"Ndak begitu juga, tapi di meja makan ndak ada apa-apa. Umi ndak ada to? " sahutnya lagi.
"Jadi Gus mau makan apa?"
tanya Anisa ragu.
"Apa aja yang penting halal." sahutnya.
Anies pun segera menyelesaikan tugas mengerok punggung Gus Hafiz.
"Sudah selesai, Gus."
Anisa meletakkan alat terapi di dalam kotak kecil.
"Terima kasih." sahutnya.
Anies bangkit, menjaga jarak satu langkah.
"Saya ke dapur." ujarnya buru-buru meninggalkan kamar Gus Hafiz.
Anies membuat telur dadar, ini telur dadar pertamanya. Dan ternyata Gus Hafiz sudah duduk di meja makan dengan sarung dan baju kaus warna abu tua.
Anisa dengan cepat menyendokkan nasi ke dalam piring. Ia tak sabar ingin mendengar komentar Gus Hafiz tentang masakannya.
"Monggo Gus, maaf kalok ndak enak."
Gus Hafiz menarik piringnya, menatap telur dadar setengah coklat gosong tanpa menilainya. Dan ia mulai menyendok nasi dan telur dadar buatan Anies dengan tenang.
Di kunyahan pertama, Gus Hafiz berhenti mengunyah. Anies diam-diam melirik sambil nahan tawa.
Dia berharap ini masakan terakhir untuk Gus Hafiz, ia sengaja buat telur dadar gosong agar Gus Hafiz tak merepotkannya lagi, dengan menganggap Anies istri sungguhannya.
"Gimana Gus...kalau ndak enak saya ganti yang baru." tawar Anies pura-pura.
Gus Hafiz tersenyum tipis.
"Cukup, ini saja sudah enak." sahutnya dengan terus melahap telur dadar hangus buatan Anisa, hingga tandas tak bersisa.
Anisa mendelik.
"Tapi itu...beneran enak?" tanya Anisa jadi malah penasaran.
"Ya, ini masakan istriku." sahutnya singkat.
Anisa mengemas piring bekas makan Gus Hafiz, tanpa menanggapi ucapan terakhir Gus Hafiz. sesampainya di dapur, Anisa menyomot sisa telur dadar yang ia buat di atas penggorengan, Anisa nyaris muntah, itu rasanya asin dan pahit.
Anisa menatap heran kearah Gus Hafiz dari dapur.
"Ini telur rasa neraka, dan dia makan sampai hanis?" Batin Anisa, tak percaya.
Anisa lalu kembali ke meja makan membawakan Gus Hafiz seduhan ekstrak jahe merah.
"Ini Gus, wedang jahenya."
Gus Hafiz mengangguk.
Anisa membalik badan ingin segera kembali ke kamarnya, baru satu langkah, suara Gus Hafiz merasuk dalam gendang telinga.
"Anisa..." panggil Gus Hafiz.
Nama itu diucapkan dengan tenang, tiap kali Gus Hafiz memanggilnya.
"Nggih Gus, apa lagi...?" sahut Anies tanpa menoleh, dan terkesan kurang sopan. Dan itu ia sengaja, agar Gus Hafiz merasa keberatan memiliki istri seperti dirinya.
"Saya tahu, kamu marah karena saya memilih menikahimu," kata Gus Hafiz pelan.
"Telur dadar itu tak bersalah, jangan jadikan pelampiasan amarahmu," ujarnya.
"Belajarlah menerima, tanpa harus protes akan takdir yang sudah ditetapkan," tambahnya lagi.
Anisa menoleh.
"Gus yang punya kendali. Toh, Gus yang bebas menentukan jalan hidup saya."
Ujar Anisa memasang wajah kesal.
"Kamu menyalahkan, saya?"
Tanya Gus Hafiz, dengan suara rendah.
"Lalu... saya harus salahkan siapa? kan Gus Yang menerima usulan Romo dan Papa.
Gus Hafiz tersenyum tipis, sembari memijat kepalanya yang terasa pusing.
"Salahkan kecerobohanmu." Ujar Gus Hafiz lalu pergi meninggalkan meja makan.
Anisa menggeram sambil menghentakkan kaki.
"Dasar Om Galak..."
Geramnya.