Di tengah dendam, pengkhianatan, dan calamity yang tak terbayangkan, Raito menjadi “cahaya kecil” yang tak pernah padam. penyeimbang yang selalu ada saat dunia paling gelap.
Sebuah kisah survival, pertumbuhan, dan pencarian makna di dunia Hunter x Hunter
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cahya Nugraha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Fajar yang Dipaksa
Pagi itu terasa seperti dipaksa terbit. Langit Yorknew masih abu-abu kelam, matahari baru saja mengintip di antara gedung-gedung tinggi, tapi cahayanya tidak hangat—hanya pucat dan dingin, seperti lampu neon yang hampir mati. Raito sudah bangun sejak jam empat, duduk bersila di lantai kamar dengan mata tertutup. Dia tidak lagi mencoba memanggil Dawn Pulse secara paksa. Kali ini dia hanya bernapas—dalam, pelan, membiarkan aliran hangat di dada mengalir sendiri tanpa arahan.
Mira terbangun karena suara napas Raito yang teratur tapi berat. Dia duduk di tempat tidur, rambut acak-acakan, mata masih setengah terpejam.
“Kamu mulai lagi?” suaranya serak pagi.
Raito membuka mata perlahan. Cahaya tipis sudah mengelilingi tubuhnya—bukan kabut tebal seperti kemarin, tapi lapisan samar seperti embun yang menempel di kulit. “Aku coba nggak paksa. Biarkan saja mengalir. Kalau aku terlalu memaksa, retaknya malah tambah dalam.”
Mira mengangguk, bangun, dan meregangkan badan. “Bagus. Paksaan cuma bikin Nen jadi liar. Sekarang kita ke lapangan. Aku mau uji seberapa stabil embun itu kalau ada tekanan nyata.”
Mereka turun ke lapangan kecil belakang penginapan. Udara pagi menusuk, tapi Raito tidak merasa dingin—embun cahaya di sekitar tubuhnya seperti selimut tipis yang menahan angin. Mira berdiri di depannya, pisau sudah di tangan.
“Aku nggak akan serang sungguhan. Cuma uji reaksi. Pertahankan embun itu meski aku gerak cepat.”
Raito mengangguk. Embun cahaya berdenyut pelan, seperti napas kedua.
Mira mulai bergerak—bukan serangan penuh, tapi gerakan cepat seperti bayangan. Dia melingkar di sekitar Raito, kadang lempar tendangan rendah, kadang pukulan angin ke arah bahu. Setiap gerakan membuat embun cahaya bergetar, tapi tidak pecah. Raito tetap diam, mata fokus ke depan, napas teratur.
Sepuluh menit berlalu. Mira berhenti. “Masih stabil. Sekarang aku tambah tekanan.”
Dia maju lebih dekat, pisau di tangan kanan berputar pelan—bukan untuk menusuk, tapi untuk menciptakan hembusan angin tajam. Hembusan itu menyentuh embun cahaya—ada suara hiss kecil seperti air menyentuh panas. Embun bergetar hebat, tapi tetap utuh.
Raito mengeluarkan napas panjang. “Rasanya… seperti menahan napas lama-lama. Kalau aku lepas fokus sedetik, embunnya hilang.”
Mira mengangguk. “Itu normal. Dawn Pulse bukan perisai besi. Ia seperti napas—kalau kamu panik, napasmu tersengal. Kalau kamu tenang, napasmu dalam.”
Raito tersenyum kecil. “Aku mulai paham kenapa Gon bisa bertarung tanpa takut. Dia nggak memikirkan ‘kalau kalah’. Dia cuma bernapas dan gerak.”
Mira meletakkan pisau kembali ke ikat pinggang. “Kamu mulai mirip dia. Tapi bedanya… kamu punya beban lebih berat. Kamu nggak cuma bertarung untuk diri sendiri. Kamu bertarung untuk batu itu, untuk portal, untuk aku, untuk Yuna yang mungkin akan kita temui lagi.”
Raito menatapnya. “Kamu nggak harus ikut kalau terlalu berbahaya.”
Mira mendengus. “Jangan mulai lagi. Aku sudah bilang: kita sama-sama. Kalau kamu pergi lewat portal, aku nggak akan nangis di pinggir jalan. Tapi selama kamu masih di sini, aku nggak akan biarkan kamu sendirian hadapi Shadow Serpent.”
Raito tertawa pelan. “Keras kepala.”
“Kamu juga.”
Mereka latihan lagi sampai matahari naik lebih tinggi. Raito berhasil mempertahankan Dawn Pulse selama hampir empat puluh menit—rekor baru. Saat embun akhirnya padam, dia tidak jatuh kelelahan seperti biasa. Dia hanya duduk, napas teratur, wajah tenang.
Mira duduk di sebelahnya. “Kamu sudah siap. Malam ini kalau mereka datang, kamu nggak perlu takut.”
Raito mengangguk. “Aku nggak takut lagi. Aku cuma… nggak mau mereka pakai cahaya ini untuk hal buruk.”
Mira diam sejenak. Lalu dia bicara dengan nada yang jarang dia pakai—hampir lembut.
“Kalau mereka paksa kamu pegang Eclipse Stone… jangan lawan mati-matian. Biarkan saja. Kalau portal terbuka karena paksaan, itu nggak akan stabil. Mereka akan mati duluan. Kamu… mungkin selamat.”
Raito menoleh kaget. “Kamu nyuruh aku menyerah?”
“Bukan menyerah. Bertahan. Kadang menang bukan dengan pukul lebih keras. Kadang menang dengan tetap hidup sampai mereka yang salah langkah.”
Raito diam lama. Lalu dia mengangguk pelan. “Aku paham. Tapi aku nggak akan biarkan mereka sakiti kamu.”
Mira tersenyum kecil. “Itu sudah cukup.”
Mereka kembali ke kamar untuk istirahat siang. Raito berbaring sebentar, tapi pikirannya tidak berhenti. Dia memejamkan mata, membiarkan Dawn Pulse mengalir pelan di seluruh tubuh—seperti meditasi, bukan latihan.
Sore menjelang, suara ketukan di pintu membuat mereka berdua langsung bangun.
Mira pegang pisau, Raito aktifkan embun cahaya tipis. Mira membuka pintu sedikit.
Di luar berdiri seorang anak perempuan kecil—rambut pirang pendek acak-acakan, jaket kebesaran, mata besar biru penuh ketakutan tapi juga tekad.
“Yuna?” kata Mira kaget.
Yuna masuk cepat, menutup pintu di belakangnya. Napasnya tersengal. “Mereka… mereka cari aku. Shadow Serpent. Mereka tahu aku lihat kakakku mati karena mereka. Mereka bilang aku harus bawa kalian ke gudang nomor 47 malam ini… kalau nggak, mereka bunuh aku.”
Raito dan Mira saling pandang.
Raito berlutut di depan Yuna. “Kamu aman di sini. Kami nggak akan biarkan mereka sakiti kamu.”
Yuna memeluk Raito tiba-tiba—erat, seperti anak kecil yang akhirnya menemukan tempat berlindung. “Kak Raito… cahayamu… seperti cahaya kakakku dulu. Tolong… jangan mati.”
Raito memeluknya balik. Embun cahaya di tubuhnya menyebar ke Yuna—hangat, pelindung.
Mira memandang mereka berdua. Matanya keras, tapi ada sesuatu yang lembut di dalamnya.
“Malam ini kita nggak lari lagi,” katanya pelan. “Kita hadapi. Bersama.”
Raito mengangguk, melepaskan pelukan Yuna pelan.
“Ya. Bersama.”
Di luar jendela, matahari mulai condong ke barat.
Malam yang tidak tenang akan segera datang.
Dan kali ini, bukan cuma dua orang yang berdiri di garis depan.
Ada tiga.