Sasha difitnah hamil oleh adik seorang konglomerat, dan hidupnya hancur dalam semalam. Untuk menutup skandal keluarga, Gio Artha Wijaya dipaksa menikahinya.
Di mata publik, Sasha adalah istri sah pewaris Wijaya. Di dalam rumah itu, ia hanyalah perempuan yang dibeli untuk menjaga reputasi. Gio membencinya. Menganggapnya jebakan.
Sasha membencinya karena telah menjadikan hidupnya alat tawar-menawar. Namun semakin lama mereka terikat dalam pernikahan tanpa cinta itu, Sasha mulai menyadari satu hal yang lebih menakutkan dari kebencian Gio.
Ia mungkin tidak pernah difitnah secara kebetulan. Seseorang telah merencanakan semua ini dan Sasha hanyalah bidak pertama.
Akankah Sasha mengetahui siapa dalang dari kejadian yang menimpanya selama ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Herlina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Wajah di Lubang Pintu
Sasha tidak langsung menjauh dari lubang pintu itu. Ia justru membeku di sana. Satu mata menempel pada lingkaran kecil, napas tertahan di dada, tubuhnya kaku seperti patung yang lupa caranya bergerak.
Di lorong, lampu temaram menyala redup dan di sana… Gio berdiri, tepat di depan pintunya. Wajahnya tegang. Tangannya terangkat, siap mengetuk lagi. Persis seperti suara yang sejak tadi memanggil namanya.
Persis sama, tidak ada yang aneh, dan tidak ada yang berbeda. Tapi justru itu yang membuat Sasha semakin takut. Karena pesan terakhir di ponselnya masih menyala, dia tidak sendiri. Keringat dingin merembes di pelipisnya.
Kalau itu Gio…Lalu siapa yang mengirim pesan ini? Dan kenapa kalimatnya terasa seperti peringatan, bukan ancaman?
“Sasha, buka sekarang,” suara Gio terdengar lagi, kali ini lebih pelan, tapi jauh lebih tajam.
Sasha membuka pintu perlahan.
Begitu celah tercipta, Gio langsung masuk dan menutupnya kembali dengan cepat. Tangannya meraih lengan Sasha, seolah memastikan ia benar-benar ada di hadapannya.
“Kamu lama sekali,” katanya.
Sasha menatapnya dengan mata bergetar. “Kamu sendirian?”
Gio mengernyit. “Tentu saja.”
Sasha menunjukkan layar ponselnya, pesan-pesan itu masih di sana. Gio membacanya dengan wajah mengeras.
“Ini bukan dari nomor yang tadi menelepon,” gumamnya.
“Justru itu,” bisik Sasha.
Gio mengambil ponselnya, membuka aplikasi pelacak jaringan yang tadi ia pakai. Jarinya bergerak cepat, fokus, terlatih.
Beberapa detik kemudian, alisnya menurun.
“Pesan ini dikirim dari dalam rumah.”
Sasha merasa lantai seperti menghilang dari bawah kakinya.
“Dalam rumah?”
Gio mengangguk pelan. “Sinyalnya memantul di router internal. Pengirimnya terhubung ke Wi-Fi rumah.”
Napas Sasha tercekat, artinya jelas. Orang itu bukan di luar. Orang itu… ada di dalam membuat mereka berdua terdiam. Rumah besar itu mendadak terasa jauh lebih sempit.
Seperti dindingnya mendekat, menutup ruang gerak, mengurung mereka bersama sesuatu yang tak terlihat.
“Semua staf sudah dipulangkan,” gumam Sasha. “Satpam juga sudah hilang. Siapa lagi yang tersisa di rumah ini selain kita?”
Gio tidak menjawab. Ia justru berjalan pelan ke pintu, membukanya sedikit, mengintip lorong yang kosong dan sunyi.
“Router utama ada di ruang kerja bawah,” katanya pelan. “Kalau pengirimnya terhubung, kita bisa lacak titiknya lebih presisi dari sana.”
Sasha langsung menggeleng. “Jangan pisah.”
“Aku tidak akan pisah.”
Untuk pertama kalinya, Gio menyentuh istrinya dan menggenggam tangan Sasha. Mengenggam kudat dan sangat meyakinkan. Mereka berjalan bersama keluar kamar.
Lorong tampak sama seperti biasa, tapi langkah kaki mereka terdengar terlalu keras di lantai marmer. Setiap sudut terasa seperti menyimpan mata yang mengawasi.
Tangga menuju lantai bawah terlihat panjang dan gelap. Sasha merasa seperti sedang turun ke tempat yang tidak seharusnya mereka datangi. Ruang kerja Gio berada di ujung koridor lantai bawah, pintu kayunya setengah terbuka, lampu di dalam masih menyala.
Gio berhenti mendadak membuat Sasha hampir menabraknya.
“Kamu ingat mematikan lampu tadi?” bisiknya.
Sasha menggeleng.
Gio mendorong pintu perlahan, ruangan itu terlihat normal. Meja kerja. Rak buku. Kursi. Laptop cadangan di meja samping. Tapi ada satu hal yang berbeda, kursi kerja Gio tidak menghadap meja malah kursi itu menghadap pintu. Seolah… seseorang tadi duduk di sana, menunggu.
Sasha meremas tangan Gio tanpa sadar.
Gio mendekat ke meja, membuka laci, mengambil perangkat kecil seperti modem portable. Ia menyambungkannya ke laptop, membuka peta jaringan.
Titik-titik sinyal muncul di layar, satu di kamar Sasha, satu di kamar Gio, satu di ruang ini. Dan satu lagi… Berada di lantai dua, di ujung lorong yang jarang dipakai. Dekat kamar kosong bekas ruang tamu keluarga lama.
Gio dan Sasha saling pandang.
“Itu ruangan yang sudah lama tidak dipakai,” bisik Sasha.
“Justru itu,” jawab Gio.
Mereka naik lagi, langkah kali ini lebih cepat. Lebih tegang, lorong lantai dua terasa lebih gelap dari sebelumnya. Lampu di ujung berkedip pelan, seperti hampir mati. Pintu kamar kosong itu tertutup, tetapi dari bawahnya… Ada garis cahaya tipis.
Hal itu membuat Sasha berhenti bernapas.
Gio memberi isyarat agar ia diam di belakangnya. Perlahan namun pasti, Gio memutar gagang pintu. Ya, pintu itu tidak terkunci. Pintu terbuka dengan bunyi pelan dan bau pengap langsung menyambut mereka.
Ruangan itu gelap, hanya diterangi cahaya dari sebuah laptop yang menyala di atas meja lipat. Di sekelilingnya… terdapat banyak kabel, perangkat kecil, baterai, router tambahan. Dan di layar laptop—
Sasha merasa lututnya hampir menyerah karena tampilan kamera. Ya, karena di tempat itu banyak kamera. Sudut kamar Sasha, di sudut lorong, ruang makan. Bahkan… Kamar Gio. Semua ditampilkan di layar, terbagi dalam kotak-kotak kecil. Seperti seseorang sedang menonton rumah ini secara langsung.
Gio berjalan mendekati Sasha, ia tidak menyangka jika layar di ruangan itu masih aktif. Seolah seseorang baru saja memakainya. bahkan di meja pun ada cangkir kopi yang masih hangat.
Sasha memegang mulutnya.
“Dia masih di rumah ini…” bisiknya.
Tiba-tiba saja, suara langkah kaki terdengar dari lorong. Bukan dari depan, tapi dari belakang mereka. Sasha menoleh cepat.
Namun Lorong kosong tak ada siapapun, tapi jelas ada suara barusan.
Gio langsung menutup laptop itu, mencabut kabel utamanya hingga membuat layar mati. Berakhir ruangan menjadi gelap total dan dalam gelap itu, terdengar bunyi pintu lain ditutup keras di kejauhan.
Gio berlari keluar kamar. Sasha pun mengikutinya. Mereka melihat ujung lorong, tepat di tikungan tangga darurat samping, sebuah bayangan bergerak cepat menghilang.
“Berhenti!” teriak Gio.
Tidak ada jawaban, hanya suara langkah tergesa menuruni tangga.
Gio berlari membuat Sasha tertinggal beberapa langkah di belakang, jantungnya berdentum liar. Saat mereka sampai di bawah, pintu belakang rumah terbuka.
Angin malam masuk deras, tirai dapur berkibar. Dan di luar, halaman belakang gelap tanpa siapa pun.
Gio memaki pelan karena seperti dipermainkan, ia menoleh ke kanan, ke kiri kosong. Masih sama seperti tadi tak ada siapapun.
Sasha berdiri di ambang pintu, gemetar.
“Kita hampir menangkapnya…” suaranya pecah.
Gio tidak menjawab, tatapannya tertuju ke lantai.
Sasha mengikuti arah matanya, dia merasa ada sesuatu di sana. Sebuah ponsel terjatuh dengan layar masih menyala.
Gio mengambilnya perlahan, tidak ada kunci, dan tidak ada password. Hanya satu aplikasi yang terbuka yaitu aplikasi pesan. Ya, satu pesan terakhir yang belum terkirim dan anehnya pesan itu ditujukan ke satu nama.
Sasha.
Isi pesannya membuat darah Sasha terasa berhenti mengalir.
Maaf. Aku tidak bermaksud menyakitimu.
Sasha menatap Gio dengan mata lebar.
“Dia… merasa bersalah?”
Gio menggeleng pelan.
“Bukan. Dia merasa dekat.”
Angin malam berdesir melewati mereka dan untuk pertama kalinya, Sasha menyadari sesuatu yang jauh lebih mengerikan daripada kamera, pesan, atau pengejaran barusan.
Orang ini… Bukan sekadar ingin mengawasi. Dia merasa punya hubungan dengan Sasha.
Gio membuka galeri ponsel itu dan di sana penuh foto-foto Sasha yang dari jarak jauh, dekat, dan dari sudut yang tidak pernah ia sadari. Tapi bukan hanya itu, ada foto lain. Seperti foto lama. Dimana ada sebuah foto Sasha sebelum masuk rumah ini. Foto saat Sasha berada di kampus, foto di kafe dekat kampus. Foto saat ia masih tinggal di apartemen lamanya.
Hal itu membuat Sasha mundur satu langkah.
“Dia sudah mengikutiku… sejak dulu?”
Gio menatap foto paling bawah membuat wajahnya berubah kaku. Sangat kaku.
Sasha tahu ekspresi itu. Ekspresi saat Gio menyadari sesuatu yang sangat tidak ingin ia sadari.
“Apa?” tanya Sasha lirih.
Gio memutar layar ponsel itu ke arahnya.
Sasha melihat foto terakhir, foto dirinya bersama seseorang di masa lalu. Seseorang yang ia kenal, seseorang yang tidak pernah ia curigai, dan seseorang yang pernah sangat dekat dengannya.
Napas Sasha tersangkut di tenggorokan.
“Tidak mungkin…” bisiknya.
Gio menatapnya pelan.
“Sekarang semuanya masuk akal.”
Sasha menggeleng lemah.
“Siapa…?” suaranya hampir tak terdengar.
Gio menjawab pelan.
Nama yang membuat dunia Sasha runtuh tanpa suara.
“Dimas.”