"Ini cek satu miliar. Tapi serahkan putri mu." Dexter.
Dexter yang dikenal dingin terhadap perempuan. Tapi tertarik pada seorang gadis yang ditemuinya.
Dengan caranya sendiri, dia memaksa untuk menikahi gadis itu. Bahkan tidak segan-segan memberikan cek senilai satu miliar.
"Pa, aku tidak ingin menikah dengan pria tua dan cacat." Wilona.
Sementara gadis yang diincar Dexter adalah Kiandra. Seorang gadis yang memiliki identitas ganda.
Siapa gadis itu sebenarnya? Apa yang istimewa dari gadis itu sehingga membuat Dexter tertarik? Bahkan rela mengeluarkan uang sebanyak itu untuk mendapatkan gadis itu.
Kalau penasaran baca yuk.
Cerita ini hanyalah fiksi belaka. Tidak ada kaitannya dengan kehidupan nyata.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pa'tam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 11
Kumpul keluarga memang sudah menjadi tradisi bagi mereka. Dari zaman Darmendra dan Diva masih ada.
Karena dengan begitu, keharmonisan dalam keluarga pun tercipta. Sekarang, keduanya sudah tiada. Namun tradisi itu tetap mereka laksanakan.
Mereka teringat pesan Diva, sesama saudara tidak boleh saling bermusuhan. Dan pesan itu, akan mereka ingat sampai keturunan mereka yang akan datang.
Setelah selesai sarapan, Kiandra melihat foto berukuran besar yang terpajang di dinding. Sebenarnya dia sudah melihatnya ketika baru masuk ke ruang tamu tadi.
"Itu siapa?" tanya Kiandra pada Dexter.
"Itu mommy dan daddy kami." Bukan Dexter yang menjawab, tapi Ram.
Kiandra menoleh ke Ram, kemudian dia menoleh ke Dexter. Dexter pun mengangguk mengiyakan.
"Kami belum lahir ketika beliau meninggal. Jadi kami tidak sempat merasakan kasih sayang beliau," kata Dexter.
Yang lain semuanya terdiam, terutama mereka para tetua. Tentu, mereka tidak akan lupa bagaimana Diva memperlakukan mereka?
"Aku sudah pesan daging, ayam dan yang lainnya untuk nanti malam," kata Aleta mencairkan suasana.
Mereka dengan cepat menghapus air matanya masing-masing, terutama seven R dan triple A.
Bahkan istri-istri mereka juga sempat meneteskan air mata. Terlebih lagi Cahaya, dia menganggap Diva seperti ibunya sendiri.
"Ya sudah, kalian yang masih muda persiapkan semuanya untuk nanti malam," kata Ray.
"Dexter, maaf ya, sepertinya aku sudah membuat mereka menangis," kata Kiandra sambil berbisik.
"Tidak apa-apa, mereka pasti teringat dengan oma moyang," bisik Dexter pula.
Malam harinya ...
Semuanya sudah berkumpul di belakang mansion. Hanya Carlos dan keluarganya yang tidak bisa datang.
Alaric dan Indah juga datang, karena mereka masih tinggal di Indonesia. Nanti, bila sudah siap menggantikan ayahnya, barulah Alaric akan tinggal di istana.
"Gimana Kak, sudah unboxing belum?" bisik Alaric.
"Apaan sih? Itu privasi," jawab Dexter berbisik pula.
Kemudian Alaric menghampiri istrinya yang sedang hamil besar. Sambil membawakan ikan panggang yang sudah matang.
Dexter membawakan daging sapi kepada Kiandra, namun Kiandra maunya ikan. Dexter pun mengambil ikan untuk Kiandra.
"Aku suapin ya?"
"Nggak ah, malu, di sini banyak orang."
Namun Dexter tetap menyodorkan daging ikan ke mulut Kiandra. Kiandra dengan malu-malu menerima suapan dari Dexter.
Arsy dan Zio saling pandang, keduanya tersenyum melihat Dexter yang ternyata lebih romantis.
"Lezat?" tanya Dexter. Kiandra hanya mengangguk saja.
Sementara Denzel memilih di kamar saja. Karena Darlena tiba-tiba merasa mual mencium aroma daging panggang.
Suasana begitu ramai, apalagi mereka melakukan video call dengan Carlos dan keluarganya.
Mereka merasa sedih karena tidak dapat hadir berkumpul bersama keluarga besarnya. Hanya bisa melakukan panggilan video saja.
Jam sembilan malam, mereka pun selesai. Dexter pun berpamitan untuk pulang. Sementara yang lain masih belum pulang.
"Mentang-mentang pengantin baru, masih sore sudah pulang," goda Ren.
"Kita sudah dari pagi Opa buyut," kata Dexter.
"Iyalah, pulang cepat, nanti cepat juga bikin dedek," kata Lina.
Kiandra tersipu malu. Keluarga suaminya menggodanya ke arah situ. Sementara dia dan Dexter belum melakukan apa-apa.
Kiandra menurut saja ketika tangannya digandeng oleh Dexter. Sedikit demi sedikit Kiandra mulai terbiasa dengan perlakuan Dexter.
"Bagaimana, apa aku bisa bekerja?" tanya Kiandra. Saat ini mereka sudah berada di dalam mobil.
"Kalau sebagai cleaning service aku tidak izinkan," jawab Dexter.
"Ayolah, aku hanya ingin menjadi orang biasa. Tanpa menggunakan nama besar suami ku," kata Kiandra.
"Apa istimewanya menjadi cleaning service? Sementara suamimu adalah boss di perusahaan."
Kiandra menjelaskan, jika dirinya hanya ingin bekerja. Tapi yang tidak diterima oleh Dexter, kenapa memilih menjadi cleaning service?
"Boleh ya?"
Dexter akhirnya mengizinkan. Sebelumnya dia juga mengizinkan karena Kiandra ngotot. Tapi Dexter berubah pikiran. Dan sekarang Kiandra masih ngotot juga, akhirnya Dexter pun mengalah.
Sesampainya di rumah, mereka langsung masuk. Kiandra hendak ke kamar tempatnya semalam, namun Dexter melarangnya.
"Aaaah!" Kiandra memekik ketika Dexter mengangkat tubuhnya. "Lepasin," pintanya.
"Tidur di kamarku, jika tidak, aku tidak akan izinkan kamu bekerja menjadi cleaning service," kata Dexter.
Kiandra pun terdiam dan tidak lagi meronta. Dexter meletakkan Kiandra di tempat tidur. Kemudian dia berjalan ke lemari pakaian untuk berganti pakaian.
"Besok kamu berangkat bersama ku," kata Dexter.
"Tidak, aku menggunakan kendaraan sendiri saja. Aku tidak ingin hubungan kita diketahui oleh orang-orang di tempat kerja," kata Kiandra.
"Begitu ya? Apa kamu malu punya suami sepertiku?"
"Tidak, bukan begitu. Aku tidak ingin di istimewa. Lagipula, belum saatnya pernikahan kita diumumkan ke publik."
Dexter manggut-manggut. Kemudian dia berbaring dipangkuan Kiandra. Kiandra yang sedang duduk di kasur pun sedikit kaget.
Dia tidak tahu, jika suaminya punya sifat manja seperti itu. Tapi Kiandra juga tidak ingin membuat Dexter kecewa. Jadi Kiandra membiarkan saja suaminya berbaring dipangkuannya.
"Kamu sudah mengantuk?" tanya Dexter. Karena Kiandra menguap.
"Iya, aku capek. Padahal seharian ini tidak melakukan kegiatan yang melelahkan," jawab Kiandra.
Dexter mengubah posisinya. Kali ini dia berbaring di bantal. Kemudian meminta Kiandra untuk berbaring disampingnya.
"Tidurlah, aku tidak akan mengganggumu," kata Dexter ketika melihat Kiandra tampak ragu-ragu.
Kiandra mengangguk. Sebenarnya dia tidak takut, hanya saja dia belum siap. Dan setiap terlalu dekat dengan Dexter, jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya.
Dexter memejamkan matanya. Dalam sekejap dia sudah terlelap sambil memeluk Kiandra dari belakang.
Sementara Kiandra tidak bisa tidur. Entah kenapa? Padahal tadi dia terlihat sudah mengantuk sekali. Hingga jam satu dinihari, Kiandra baru bisa tidur.
Pagi harinya ...
Dexter sudah terbangun lebih dulu. Sementara Kiandra masih tertidur pulas. Dexter tersenyum memperhatikan cara tidur Kiandra yang terlihat imut.
"Uuh!" Kiandra melenguh. Namun matanya masih terpejam.
"Sudah bangun?" tanya Dexter.
Kiandra tersentak ketika mendengar suara Dexter. Kiandra sontak bangun, lalu berlari kecil ke kamar mandi.
Dexter tersenyum dan geleng-geleng kepala. Ada kalanya tingkah Kiandra terlihat lucu menurutnya. Padahal Kiandra seorang ketua di dunia bawah.
Setelah selesai mandi, Kiandra pun langsung bersiap-siap untuk pergi bekerja. Sebelumnya Dexter sudah menghubungi asistennya.
Asistennya pun menyampaikan pesan Dexter kepada pegawai HR. Kiandra akan masuk kerja tanpa wawancara kerja terlebih dahulu.
Setelah beberapa menit, Kiandra kembali keluar dari kamar mandi. Dia melihat Dexter juga sudah bersiap-siap untuk berangkat kerja.
"Kamu tinggal kerja saja. Semua sudah diatur oleh James," kata Dexter.
"Tapi aku ...."
"Jangan membantah," potong Dexter. Kiandra langsung terdiam.
Mereka sarapan terlebih dahulu sebelum berangkat kerja. Setelah selesai sarapan, mereka berangkat menggunakan kendaraan masing-masing.
Sesampainya di tempat kerja. Pegawai HR yang sudah diberitahu pun langsung mengatur Kiandra.
"Heh, kamu orang baru ya?" tanya salah satu rekan kerja Kiandra.
"Iya, kenalkan namaku Kiandra," jawab Kiandra memperkenalkan diri.
"Nggak penting. Aku senior di sini, jadi kamu harus mengikuti apa kataku," kata wanita itu.
Kiandra melihat nama yang tertera di baju seragam wanita itu. Kiandra hanya tersenyum, kemudian mengambil alat-alat kerja yang dia butuhkan.