Aurely Tania Baskoro, dulu percaya hidup akan selalu memihaknya. Cantik, mapan, dicintai, dikagumi. Ia tak pernah mengenal kata kekurangan.
Namun ketika kebangkrutan merenggut segalanya, Aurely harus meninggalkan kota, kampus, dan orang-orang yang katanya mencintainya.
Desa menjadi rumah barunya, tempat yang tak pernah ia inginkan.
Di sana, ia melihat ayahnya berkeringat tanpa mengeluh. Anak-anak kecil bekerja tanpa kehilangan tawa, orang-orang yang tetap rendah hati meski punya segalanya... Dan Rizky Perdana Sigit, pemuda desa yang tulus menolongnya..
Pelan pelan, Aurely belajar bahwa jatuh bukan akhir segalanya. Harga diri tidak selalu lahir dari kemewahan. Dan kadang pertemuan paling penting… terjadi saat kita berada di titik paling rendah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arias Binerkah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 18.
Pak Baskoro menoleh ke arah kios terbesar di ujung pasar di pinggir jalan raya. Lampu di kios itu terlihat paling terang benderang.
Para pengunjung masih berdatangan, baik yang masuk ke dalam rumah makan, atau berdiri antre di depan toko roti. Hati Pak Baskoro sedikit lega.
“Mungkin Aurely lembur.” Gumam Pak Baskoro lalu melangkah menuju ke kios terbesar di pasar itu.
Sesampai di depan toko roti. Pak Baskoro menatap ke dalam. Mencari cari sosok Sang puteri semata wayangnya, di balik punggung punggung para pelanggan.
Sesaat terdengar suara seorang laki laki yang sudah dikenal oleh Pak Baskoro.
“Nunggu Mbak Aurely ya Pak?” tanya Pak Tukang Parkir.
Pak Baskoro menoleh, “Iya Pak apa hari ini lebih ramai?” tanya Pak Baskoro dengan suara pelan, “Apa karyawan lembur ya..”
“Biasa sih Pak, nggak ramai banget.” Jawab Pak Tukang Parkir, “karyawan yang sift malam sudah datang kok.” Lanjutnya lalu melangkah pergi karena ada mobil yang akan berhenti parkir.
Pak Baskoro berdiri beberapa detik di depan toko roti itu. Matanya menyapu ke dalam ruangan yang masih terang. Beberapa karyawan tampak hilir mudik, wajah-wajah yang tidak semuanya ia kenal. Namun sosok yang ia cari belum juga keluar.
Dadanya mengencang pelan.
“Kalau sift malam sudah datang… harusnya Aurely sudah pulang,” gumamnya.
Ia melangkah lebih dekat ke pintu. Aroma roti hangat menyergap, bercampur suara kasir dan obrolan pelanggan. Dari balik etalase, akhirnya Pak Baskoro melihat Aurely.
Putrinya berdiri di dekat dinding tertutup oleh etalase . Seragamnya masih rapi, meski wajahnya tampak lelah. Ia tidak sedang melayani pembeli. Hanya berdiri, menunggu, sesekali melirik ke arah kursi pojok tempat Bu Retno berada.
Tasnya sudah tergantung di bahu. Jam dinding di atas kasir bergerak pelan, jarumnya melewati waktu pulang dengan tenang, seolah mengejek kegelisahannya.
Ia tahu, tidak ada yang menahannya.
Karyawan sift malam sudah datang. Pekerjaan sudah bisa ditinggalkan. Namun langkah Aurely terasa berat senja hari itu.
Ia melirik ke arah kursi pojok. Bu Retno masih duduk, menulis, wajahnya serius. Sosok itu menghadirkan perasaan yang sulit Aurely jelaskan. Bukan takut, bukan juga kagum. Lebih seperti dorongan untuk berhati-hati. Untuk tidak sembarangan bicara dan melangkah.
Dalam hati, Aurely bergulat dengan dirinya sendiri.
“Kalau aku pulang duluan, apa dia akan menganggapku tidak peduli? Tidak menghormati pimpinan”
“Apa dia akan berpikir aku hanya bersikap baik saat dia melihat?”
Aurely menarik napas pelan.
Ia lelah. Kakinya pegal. Punggungnya terasa berat. Tapi ada satu hal yang lebih kuat dari semua itu, keinginannya untuk menutup hari ini dengan cara yang benar.
Bukan demi pujian. Bukan demi penilaian.Tapi demi dirinya sendiri.
Ia pernah salah. Salah dalam pekerjaan dan salah dalam bersikap. Ia tahu itu. Dan hari ini, ia tidak ingin menambah daftar kesalahan hanya karena ingin cepat pulang.
Beberapa menit berlalu dalam diam. Aurely berdiri tanpa duduk. Bukan karena tidak sopan, tapi karena ia merasa belum selesai.
Tiba saat nya , Bu Retno akhirnya berdiri dan menutup buku catatannya, Aurely merasakan sesuatu di dadanya melonggar, bukan lega sepenuhnya, tapi cukup untuk membuatnya bernapas.
“Kamu belum pulang?” tanya Bu Retno.
Aurely mengangguk kecil. “Belum, Bu.”
“Karyawan sift malam sudah datang.”
“Iya, Bu. Saya tahu.” Suaranya pelan, tapi jelas. “Saya pikir… lebih pantas kalau saya pulang setelah Ibu.”
Bu Retno menatapnya lama. Tidak menghakimi. Tidak juga tersenyum.
“Kamu tidak wajib melakukan itu. Kalau jam kerjamu sudah selesai dan tidak ada hal lain. Kamu boleh pulang.”
“Saya tahu, Bu.” Ucap Aurely sambil menunduk.
Hening sejenak.
“Sekarang pulang,” kata Bu Retno akhirnya.
“Iya, Bu. Terima kasih.”
Aurely menunduk sopan, lalu melangkah keluar.
Di depan toko, udara malam menyentuh wajahnya yang lelah. Dan di sanalah ia melihat sosok Ayahnya berdiri tegak, menunggunya dengan sorot mata yang langsung berubah lega. Bibir tersenyum..
“Ayah?” Aurely terkejut. “Sudah lama di sini?”
“Dari tadi,” jawab Pak Baskoro. “Bapak kira kamu sudah pulang pakai mobil catering atau diantar Mas Rizky .”
“Maaf, Yah.”
Mereka berjalan berdampingan menyusuri jalan pasar yang mulai sepi. Lampu-lampu kios satu per satu mati. Suara langkah mereka bergema pelan.
“Kamu kenapa pulang telat?” tanya Pak Baskoro akhirnya, nadanya tidak marah. Lebih ke khawatir. “Apa mendapat hukuman karena salah order lagi.”
Aurely terdiam beberapa saat.“Tadi ada orang penting di tempat kerja,” katanya pelan.
“Penting bagaimana?”
Aurely menatap jalan di depannya. “Dia Mamanya Mas Rizky, Kakaknya Bu Wiwid. Hari ini dia menggantikan Bu Wiwid. Dan… dia belum sepenuhnya percaya sama aku.”
Pak Baskoro mengangguk pelan. “Jadi kamu menunggu?”
“Iya, Yah.”
“Capek?” tanya Pak Baskoro
Aurely tersenyum tipis. “Capek.”
Aurely diam sebentar, lalu menoleh ke bapaknya. “Aku mau jadi baik, Yah . Walaupun nggak ada yang muji.”
Pak Baskoro melangkah lebih pelan. Ia menepuk punggung Aurely ringan. “Kamu tahu, Nak… orang yang melakukan hal benar saat tidak dilihat, biasanya sedang membangun dirinya sendiri.”
Aurely menunduk. Dadanya hangat, matanya sedikit perih.
“Maaf ya, Yah, bikin Ayah menunggu lama.”
“Ayah, nggak keberatan nunggu,” jawab Pak Baskoro lembut. “Selama kamu tahu kenapa kamu memilih bertahan.”
Aurely mengangguk.
Di bawah langit malam yang tenang, mereka terus berjalan.
Dan meski langkah Aurely lelah, hatinya terasa lebih tegak dari pagi tadi. Sejenak ia melupakan masalah foto foto Ayahnya.
Pak Baskoro merangkul bahu puterinya . “Lain kali kabari. Ayah khawatir.”
“Iya, Yah . Maaf.”
Mereka berjalan berdampingan meninggalkan toko roti. Terus melangkah menuju ke tempat parkir motor pinjaman Pak Baskoro.
Aurely melangkah dalam diam. Lelah masih ada. Tapi hari itu ia tahu, ia telah memilih bersikap benar—meski tidak mudah, dan meski tak semua orang melihatnya.
“Ayo kita cepat pulang, Bunda pasti sudah gelisah menunggu.” Ucap Pak Baskoro mempercepat langkahnya menuju ke motor.
“Iya Yah.. Aku besok harus datang pagi pagi seperti tadi. Mungkin Bu Wiwid belum datang ke kios.” Ucap Aurely ikut mempercepat langkahnya.
“Kenapa Bu Wiwid?” tanya Pak Baskoro sambil duduk di atas jok motor dan menyalakan mesin motor.
“Anaknya sakit Yah, semoga saja sudah baikan, dan besok Bu Wiwid yang ke kios .” jawab Aurely penuh harap.
Motor pun berjalan pelan pelan meninggalkan tempat parkir di pasar desa..
Saat motor sampai di jalan raya.. berpapasan dengan motor yang dikemudikan oleh Rizky..
Tin. Tin. Tin.
Rizky mengklakson dan menghentikan motornya sambil berteriak, “Mbak, Pak.. Tunggu...”
gak banyak drama2 yg bikin hatinya bertambah luka
sampai2 ada yg dapat foto ayah Aurel pas lagi bekerja? kayaknya niat banget deh ngepoin keluarga Aurel
optimis bahwa kmu bisa
suatu saat pasti menang dan karya mu jdi luar biasa
juga.. dapat pelajaran juga dari elang dan elin..kamu tidak sendirian...karena terlalu lama di zona nyaman🤭
dan hebat aurel
harus lebih kuat dong rel
tp tak apa ya pak bas slow aja spa tau nnti dpt yg lebih gede lagi rezekinya
harus kuat dan tahan banting