NovelToon NovelToon
Bangkitnya Menantu Terhina

Bangkitnya Menantu Terhina

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam
Popularitas:5.3k
Nilai: 5
Nama Author: megga kaeng

Mereka menyebutnya menantu sampah.
Lelaki tanpa harta. Tanpa kekuasaan. Tanpa kehormatan.
Ia dipermalukan di meja makan, ditertawakan di depan pelayan, dan istrinya… memilih diam.
Tapi mereka lupa satu hal.
Darah yang mengalir di tubuhnya bukan darah biasa.
Saat ia mati dalam kehinaan, sesuatu bangkit bersamanya.
Bukan cinta. Bukan ampun.
Melainkan kutukan kuno yang menuntut darah keluarga itu satu per satu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon megga kaeng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17 – Darah yang Mulai Mengingat

Hujan turun seperti ratapan panjang dari langit yang retak. Tetesannya menghantam atap pondok bambu satu per satu, menciptakan irama sunyi yang menusuk telinga Defit Karamoy. Api unggun kecil di depannya bergetar, nyalanya seolah ragu apakah ia pantas terus hidup seperti dirinya.

Defit duduk bersila, dada terbuka, napasnya tersengal. Di kulitnya, guratan hitam samar kembali muncul, berdenyut mengikuti detak jantungnya. Bukan luka. Bukan tato. Itu adalah sesuatu yang bangun.

Ia menggertakkan gigi, menahan rasa perih yang seperti api merambat di pembuluh darah. Setiap kali ia menarik napas, kenangan asing menyusup bayangan medan perang yang bukan miliknya, jeritan makhluk yang tidak pernah ia lihat, dan sebuah nama yang tak pernah diajarkan siapa pun padanya.

Nama itu berputar-putar di kepalanya.

“Karamoy…”

Bukan marga. Bukan panggilan keluarga.

Sebuah sumpah.

“Aaarrgh!” Defit meremas tanah basah. Jemarinya menancap, tanah itu bergetar, lalu retak. Garis-garis tipis menjalar seperti jaring laba-laba. Api unggun mendadak membesar, menyala biru sesaat sebelum kembali normal.

Defit terdiam. Matanya membelalak.

“Apa… apa yang barusan aku lakukan?”

Di balik tirai hujan, langkah kaki mendekat. Ringan, tapi tegas. Defit segera menutup dadanya dengan kain lusuh dan berdiri. Tubuhnya masih gemetar, tapi nalurinya lebih cepat.

Dari kegelapan muncul sosok tua berjubah kelabu, rambutnya putih kusut, matanya cekung namun tajam seperti menatap sampai ke tulang.

“Kau terlambat menyadari,” ucapnya pelan, suaranya kalah oleh hujan namun terasa jelas di kepala Defit.

“Siapa kau?” Defit menegakkan tubuh, meski lututnya nyaris ambruk.

Orang tua itu tersenyum tipis. “Seseorang yang sudah lama menunggumu bangun… Pewaris.”

Satu kata itu menghantam dada Defit lebih keras daripada hinaan keluarga istrinya mana pun.

“Aku bukan pewaris apa pun,” sahut Defit getir. “Aku hanya menantu terhina. Dibuang. Dianggap sampah.”

“Tidak,” jawab lelaki tua itu sambil melangkah lebih dekat. Setiap langkahnya membuat hujan seperti enggan menyentuh tubuhnya. “Kau dibuat terlihat seperti itu.”

Defit terdiam. Dadanya berdenyut lebih keras. Guratan hitam di kulitnya menyala samar, seakan merespons kehadiran sosok itu.

“Darahmu sudah mulai mengingat,” lanjut lelaki tua itu. “Dan ketika darah mengingat, dunia tak akan membiarkanmu tetap lemah.”

Kilatan petir menyambar. Dalam cahaya sesaat itu, Defit melihat sesuatu yang membuat tengkuknya dingin di balik lelaki tua itu, bayangan hitam berdiri berlapis-lapis. Sosok tanpa wajah. Tanpa bentuk pasti.

Makhluk yang menunggu.

“Kau sedang diburu,” ucap lelaki tua itu tenang, seolah membicarakan hujan. “Oleh mereka yang dulu membunuh garis keturunanmu. Oleh mereka yang mengutuk namamu agar kau lahir sebagai orang biasa… lalu diinjak-injak.”

Jantung Defit terasa diremas. Potongan-potongan masa lalu terlintas tatapan hina ayah mertua, senyum sinis ipar-iparnya, istrinya yang diam dan memilih membisu saat ia direndahkan.

Semua itu… disengaja?

“Kenapa aku?” suara Defit bergetar, bukan karena takut melainkan marah. “Kenapa harus aku yang menanggung ini semua?!”

Lelaki tua itu menatapnya lama. Untuk pertama kalinya, ada kesedihan di matanya.

“Karena kau yang bertahan.”

Hujan mereda sedikit. Api unggun kembali stabil. Defit merasakan sesuatu berubah di dadanya bukan kekuatan yang meledak, melainkan tekad yang mengeras.

“Jika aku benar-benar pewaris,” ucap Defit pelan, menahan air mata yang tak ia izinkan jatuh, “maka aku akan bangkit. Bukan untuk membalas hinaan… tapi untuk menghancurkan sistem yang membuat manusia sepertiku dilahirkan untuk diinjak.”

Lelaki tua itu tersenyum, kali ini lebih dalam. “Itulah jawaban yang ditunggu darahmu.”

Ia mengangkat tangannya. Tanah di sekitar pondok bergetar, membentuk lingkaran simbol kuno yang bersinar redup.

“Babak pertama penderitaanmu sudah selesai, Defit Karamoy,” katanya. “Mulai malam ini… kau akan belajar apa artinya menjadi mimpi buruk bagi mereka yang pernah meremehkanmu.”

Di kejauhan, lolongan panjang terdengar bukan suara serigala, bukan pula manusia.

Defit menoleh ke arah hutan yang gelap.

Dan untuk pertama kalinya sejak ia dihina, dibuang, dan dilupakan…

ia tersenyum.

Senyum seseorang yang akhirnya sadar

bahwa kegelapan pun bisa takut,

jika manusia yang cukup terluka memilih untuk bangkit.

1
kurnia
up thor
grandi
awal yang menarik semoga,
terus menarik ceritanya 👍
megga kaeng: trimakasih🙏
total 1 replies
grandi
jangan gantung ya thor🙏
megga kaeng: siap🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!