Terjerat utang ratusan juta dan ancaman pernikahan paksa, Alisha kehilangan segalanya termasuk kenangan dari kekasihnya. Di tengah keputusasaan, ia bertemu Aruna, wanita kaya berwajah identik yang menawarkan kontrak gila: Bertukar hidup demi pelunasan utang.
Alisha terjun ke dunia mewah yang palsu, namun tantangan sesungguhnya adalah kakak laki-laki Aruna. Pria dingin namun sangat penyayang itu mulai mencurigai perubahan pada "adiknya" sosok yang kini tampak lebih lembut dan tulus. Di balik kemegahan yang dingin, Alisha menyadari bahwa menjadi orang lain jauh lebih berbahaya daripada menjadi miskin saat ia mulai mempertaruhkan hatinya pada pria yang kini menjadi pelindungnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ai_Li, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9: Pertukaran Nyawa
BAB 9: Pertukaran Nyawa
Pagi buta itu, udara terasa lebih dingin dari biasanya. Alisha berdiri di teras rumahnya, menatap kedua orang tuanya dan Aliando bergantian. Ia memeluk Adam dan Devi dengan erat, seolah ingin menyerap kehangatan rumah itu sebanyak mungkin ke dalam pori-porinya.
Terakhir, ia beralih pada adik laki-lakinya. Aliando membalas pelukan kakaknya, namun pegangannya terasa lebih protektif. "Jaga diri baik-baik ya, Kak. Kalau ada apa-apa, langsung telepon Ali," bisiknya. Entahlah, ada rasa sesak yang aneh di dada Aliando. Padahal Alisha hanya pergi bekerja, namun rasanya seolah sang kakak akan pergi menempuh perjalanan yang sangat jauh dan lama.
Suara deru mesin mobil yang sama seperti semalam memecah keheningan gang sempit itu. Sorot lampunya seolah memaksa pelukan kakak-beradik itu terlepas. Alisha tersenyum getir, melambaikan tangan, lalu masuk ke dalam sedan hitam yang membawanya kembali ke menara apartemen Aruna.
Sesampainya di apartemen, suasana sudah sangat formal. Aruna berdiri di dekat jendela besar yang memperlihatkan gedung-gedung Jakarta yang mulai tersiram cahaya fajar. Sebelum memulai agenda apa pun, Aruna membalikkan tubuh, menatap Alisha dengan tatapan yang membuat gadis itu membeku.
"Ada satu peraturan yang mau tidak mau harus kamu ikuti. Anggap ini sebagai klausul tambahan karena bayaranmu di awal sudah lunas," ucap Aruna dingin.
Alisha menyimak dengan jantung berdebar.
"Selama kamu berperan sebagai saya di rumah saya, maka saya akan berperan sebagai kamu di rumahmu. Saya akan pulang ke rumahmu setiap sore dan tidur di sana. Orang tuamu tahu kamu bekerja di sebuah perusahaan, bukan menjadi tenaga kerja di luar negeri. Jadi, keberadaan 'Alisha' harus tetap ada di rumah itu agar mereka tidak curiga."
Alisha tertegun, namun ia segera mengangguk setuju. Pikirannya berlomba; setidaknya orang tuanya tidak akan merasa kehilangan dan tidak akan muncul pertanyaan tentang di mana dirinya berada. Alisha membatin, Hanya sore dan malam hari, biasanya mereka sudah istirahat. Aruna tidak akan banyak berinteraksi, jadi risiko ketahuan seharusnya kecil.
Namun, satu nama tiba-tiba melintas di kepalanya. Rendy. Bagaimana dengan kekasihnya itu?
"Aku juga akan berpura-pura menjadi kamu di hadapan pacarmu," ucap Aruna tiba-tiba, seolah mampu membaca kilatan cemas di mata Alisha.
Alisha tercekat. "Apa?"
"Kamu tenang saja, aku tidak akan main hati. Kecuali..." Aruna menjeda kalimatnya, senyum miring tersungging di bibirnya. "Kecuali pacarmu yang jatuh cinta padaku."
Dada Alisha terasa nyeri. Hubungan yang ia bangun dengan kasih sayang kini dipertaruhkan di tangan wanita yang tidak memiliki empati ini.
"Dan kamu," tambah Aruna, suaranya memberat sebagai peringatan. "Jika kamu menggunakan perasaan dalam mengerjakan peran ini di rumahku nanti, tanggung sendiri risikonya."
Alisha mengerutkan kening, bingung dengan maksud Aruna.
"Apa maksudmu? Apa kamu juga punya pacar yang harus kuhadapi?"
Aruna menggeleng cepat.
"Aku tidak punya pacar. Namun, seseorang di rumah itu bisa jauh lebih berbahaya bagi perasaanmu dibandingkan jika aku memiliki seorang kekasih."
Alisha tidak mengerti, namun ia tidak punya pilihan untuk mendebat. Ia sudah terlanjur basah, terikat kontrak yang tak mungkin diputus. Jalani dan selesaikan. Hanya tiga bulan, batinnya menguatkan diri.
"Sekarang, ikut aku."
Aruna melangkah menuju sebuah ruangan luas di sudut apartemen. Begitu pintu terbuka, Alisha disambut oleh barisan alat-alat gym yang terlihat sangat profesional dan berat. Aroma karet dan besi menyeruak.
"Latihanmu dimulai dari sini. Kamu punya waktu seminggu untuk mengubah otot-otot lembekmu itu menjadi sesuatu yang layak disebut 'Aruna'."
Alisha menelan ludah, menatap alat-alat berat di depannya dengan gentar. Transformasi fisiknya baru saja dimulai, dan ia tahu, hari-hari ke depan akan menjadi neraka baginya.
semoga bisa bertahan sampai akhir ceritanya y thor..
semangat ✊✊