*Update tiap hari*
Dia pikir adiknya sudah mati 7 tahun lalu. Dia salah.
Zane Elian Kareem kehilangan segalanya dalam satu malam: Rumah, Orang tua, dan Serra, adiknya.
Namun, sebuah benda di toko berdebu mengubah takdirnya. Serra masih hidup.
Kini, Zane bukan lagi bocah lemah. Dia adalah seorang Tarker—pemeta wilayah liar yang berani menembus zona maut demi uang. Persetan dengan intrik politik kerajaan atau diskriminasi ras. Masa bodoh dengan Hewan Buas Kelas E yang mengintai di hutan.
Zane akan membakar siapapun yang menghalangi pencarian "jalan pulangnya" menuju Serra. Bahkan jika harus melawan satu republik.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Murdoc H Guydons, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 15 - "Misi" tanpa Bayaran
Fiora melambai pelan dari samping tandu ibunya. Aku berjalan mendekat, langkahku terasa berat di lantai kayu balai desa yang berderit.
Di atas tandu, Ibu Fiora menatapku. Bibirnya pucat dan garis wajahnya tampak letih, namun sorot matanya jernih dan hangat.
"Ibu," kata Fiora pelan, "Ini Zane. Tarker yang membantuku pulang."
Ibunya menyipitkan matanya sedikit, seulas senyum jahil terukir di bibirnya yang kering.
"Zane? ‘Zane’ yang sama yang selalu kau ceritakan sejak ujian Tarker?" godanya pelan.
Wajah Fiora memerah seketika, bahkan di bawah cahaya remang lentera.
"Ibu!" sergahnya malu. "Aku juga menceritakan Darius, ya! Dan juga si Faris dari Ravnia. Jangan membuat cerita, Bu."
Ibu Fiora tertawa kecil, suara tawanya terdengar rapuh namun tulus. "Iya, iya. Ibu hanya menggodamu."
Ia mengalihkan pandangannya padaku, senyumnya melembut. "Senang akhirnya bisa bertemu denganmu, Zane."
Aku berdiri canggung, tidak terbiasa dengan interaksi keluarga sehangat ini. Tanganku bergerak kikuk.
"Eh, ya. Suatu kehormatan, Nyonya Crestfall," jawabku kaku. "Fiora juga... banyak bercerita tentang Anda juga."
Fiora menepuk jidatnya melihat kecanggunganku, sementara Ibunya kembali tertawa kecil.
"Kau tahu," bisik Ibu Fiora, suaranya melunak. "Meskipun kondisi desa seperti ini... hancur... tapi Ibu sangat bahagia kita bisa berkumpul di sini. Kau ada disini, ada temanmu juga."
Ia menghela napas panjang, penuh harap.
"Kalau saja Ewan juga ada disini... tentu ini jauh lebih menyenangkan. Akan terasa seperti Hari Raya Stella"
Deg.
Suasana hangat itu seketika terasa dingin bagi Fiora. Aku melihat raut muka gadis itu sedikit berubah. Ia menunduk, menyembunyikan matanya yang mulai berkaca-kaca di balik poni rambutnya. Ia berusaha keras menelan ludahnya yang terasa pahit.
"Ya, Bu..." jawabnya lirih, memaksakan seulas senyum yang menyakitkan untuk dilihat. "Pasti... akan lebih menyenangkan."
Aku hanya bisa terdiam, beruntung mukaku tidak biasa menunjukkan ekspresi. Tapi lidahku terasa kelu. Kebenaran bahwa Ewan tak akan pernah pulang menggantung berat di udara.
Sandiwara kami dipotong oleh Ibu Fiora yang mulai batuk ringan.
“Ibu!” Fiora panik, mengusap punggung ibunya. “Ibu tidak apa-apa?”
“Tak apa, Nak. Boleh Ibu minta tolong ambilkan air?” desis Beliau setelah batuknya mereda.
Ia bangkit berdiri. "Zane, titip Ibu sebentar? Aku ke dapur umum di belakang."
Aku mengangguk. Fiora bergegas pergi.
Kini tinggal aku dan Ibu Fiora. Hening sejenak. Beliau menatapku. Kali ini tatapan jailnya hilang, digantikan sorot mata seorang ibu yang hangat.
“Terimakasih sudah membawa Fiora pulang Zane. Aku yakin jika bukan karenamu, Fiora tidak akan sampai Paleside malam ini.” Ucap Ibu Fiora dengan sungguh-sungguh.
Rasanya tidak mungkin Fiora sudah cerita tentang kamp bandit. Mungkin hanya firasat Beliau saja.
“Sama-sama, Nyonya Crestfall. Kami kebetulan bertemu saja di perjalanan.” Jawabku tanpa memberikan detail spesifik.
"Kau anak yang baik, Zane," bisiknya. "Aku bisa melihatnya."
Aku mendengus pelan. "Aku Tarker, Nyonya. Kami biasanya bekerja untuk bayaran."
"Ya, tapi tidak kali ini," jawabnya tersenyum lirih. "Tapi kau tidak meninggalkan putriku di hutan. Padahal tak ada iming-iming bayaran"
Ia kembali menatapku dalam, kali ini bicara dengan nada yang cukup serius. “Jika nanti Fiora akan menjadi Tarker sepertimu... maukah kau menjaganya?”
Aku terdiam.
‘Menjaga seorang Tarker’? Permintaannya aneh sekali.
"Fiora adalah individu yang tangguh, Nyonya Crestfall," jawabku jujur. "Lagipula, seorang Tarker harus bisa menjaga dirinya sendiri."
Ibu Fiora tersenyum tipis. "Kau benar. Dia memang tangguh."
"Tapi," lanjutku, "Jika aku sedang berada di dekatnya... ya. Tentu saja. Aku akan melindunginya."
Mata Ibu Fiora berbinar. Ia tampak sangat puas, seolah beban ribuan ton baru saja diangkat dari dadanya.
Saat itu, Fiora kembali dengan membawa cangkir kaleng berisi air. Ia membantu ibunya minum perlahan. Ibunya lalu menatap putrinya dan aku bergantian. Senyumnya merekah lagi, kali ini lebih sentimental.
“Kenapa Bu? Ibu tidak membicarakan yang aneh-aneh tentangku pada Zane kan?”
“Tentu saja iya Nak.” Jawab Ibu Fiora penuh canda.
“Ibu!” Fiora bersungut-sungut. Suasana terasa bahagia, seolah lupa kejadian yang menimpa desa ini.
....
Fiora sudah tertidur, duduk di lantai sambil menyandarkan kepalanya di dekat tandu darurat ibunya yang juga tampak terlelap. Tangannya masih menggenggam jemari Ibunya dengan erat.
Aku pun mencari tempat di sudut lain ruangan, menyandarkan punggungku yang nyeri ke tonggak.
Aku mencoba memejamkan mata. Setiap otot di tubuhku terasa seperti ditarik, luka goresan di punggung dan lenganku berdenyut seirama dengan detak jantungku.
Di sekelilingku, para korban yang selamat dari serangan Mist Panther terbaring di atas tandu-tandu darurat. Hanya sesekali terdengar ringisan sakit saat seseorang bergerak dalam tidurnya.
Perlahan, di tengah aroma Elixir dan keputusasaan yang samar, aku mulai terhanyut.
Cukup lama aku mendengar suara ringisan itu, semakin menjauh hingga akhirnya tak terdengar lagi, digantikan oleh dengungan di telingaku sendiri.
Semuanya berubah hening dan tenang.
Aku berada di ambang tidur, di tengah buaian antara sadar dan tidak, saat sebuah sensasi aneh mengusir kantukku.
Bukan suara. Sebuah getaran.
Sangat pelan pada awalnya, sebuah vibrasi rendah yang kurasakan merambat dari lantai kayu ke punggungku. Naluri Tarker-ku yang menolak tidur memaksaku untuk bangun.
Ini ritmis. Teratur.
Lalu aku mendengarnya. Suara samar... Awalnya pelan, lama-kelamaan bunyi itu semakin keras, semakin cepat, semakin banyak.
Bukan satu atau dua ekor. Ini adalah suara belasan telapak kaki kuda yang menghantam tanah dengan kecepatan tinggi. Aku membuka mataku.
Aku satu-satunya yang tampak menyadari keanehan ini. Warga lain masih terlelap. Suara derap kaki kuda itu kini semakin memekakkan telinga, terdengar seperti genderang perang yang mendekat.
Tiba-tiba, dari luar terdengar teriakan panik dari menara pengawas di gerbang, suaranya pecah oleh teror.
"ADA SERANGAN!! MEREKA DATANG MENGGUNAKAN KUDA!!"
Seketika, seluruh isi balai desa dilanda kepanikan. Warga yang terbaring lemah berusaha bangkit dengan panik. Jeritan memanggil nama keluarga bersahutan. Suara lonceng berdentang berulang-ulang, memberi sinyal pada Sentinel Corps untuk bersiap menahan penyerangan. Fiora terbangun kaget, matanya liar mencari sumber kekacauan.
Di tengah hiruk pikuk itu, dari kejauhan, terdengar sebuah suara berat dan penuh amarah, meneriakkan sebuah Rapalan Bait yang panjang. Suaranya terbawa angin, namun cukup kuat untuk menembus kebisingan.
"SEPERTI KAWAT YANG TAK TAMPAK LEPASKAN APIMU!! SEBUAH SENGATAN TAJAM MENJADI SENJATAMU!!”
Itu formula dengan Rapalan Bait penuh?! Serangannya akan jauh lebih kuat dari crafting biasa.
“ELECTROCRAFT LIMA, KAWAT KEJUT!!!”
Suasana hening sesaat yang mencekam. Udara di luar terasa berderak, seolah dipenuhi listrik statis.
BLAAAARRR!!!
Sebuah ledakan dahsyat mengguncang seluruh desa.
Lantai balai desa bergetar hebat, membuat beberapa lentera minyak jatuh dan pecah. Debu dan serpihan kayu berjatuhan dari langit-langit. Kilatan cahaya biru yang membutakan menerangi malam selama sesaat, memperlihatkan siluet menara pengawas di gerbang utama yang hancur berkeping-keping.
Aku terperanjat dan langsung berdiri, seluruh rasa lelah dan kantukku hilang seketika, digantikan oleh adrenalin yang dingin.
Fiora, langsung bergerak melindungi ibunya. Matanya bertemu dengan mataku, penuh dengan kepanikan. "Zane..!"
"Kau jaga ibumu, Fiora!" teriakku, suaraku terdengar lebih keras dari yang kumaksud.
Dengan satu gerakan cepat, aku mengaktifkan batonku.
Ssssshh... Klik!
Suara logam memanjang itu terdengar menenangkan di telingaku di tengah kekacauan ini. Tanpa membuang waktu, aku berlari menuju gerbang porak-poranda yang menjadi pintu masuk bagi gelombang kematian.
apa di sana gak ada makanan lain gitu thor misal buah atau cemilan lain atau apa gitu