Di dunia bawah yang kelam, nama Reggiano Herbert adalah eksekutor paling mematikan yang dikenal karena ketenangannya. Seorang pria yang akan memperbaiki kerah bajunya dan tidak mungkin menutup mata sebentar sebelum mengakhiri nyawa targetnya.
Baginya, hidup hanyalah rangkaian tugas yang dingin, hingga ia menemukan "Flower's Patiserie".
Toko itu sangat berwarna-warni di tengah kota yang keras, tempat di mana aroma Strawberry Tart yang manis berpadu dengan keharuman mawar segar. Sang pemilik, Seraphine Florence, adalah wanita dengan senyum sehangat musim semi yang tidak mengetahui bahwa pelanggan setianya yang selalu berpakaian rapi dan bertutur kata manis itu baru saja mencuci noda darah dari jas abu-abunya sebelum mampir.
Tetapi, apakah itu benar-benar sebuah toko biasa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Karamellatee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
# Bab 09: Keseharian Seraphine
Matahari baru saja menyembul di ufuk timur ketika Seraphine Florence memulai harinya. Sementara Reggiano masih berkutat dengan laporan berdarah atau ancaman kepada Vauclain, kehidupan di Flower’s Patisserie berjalan dalam ritme yang sangat berbeda, seolah-olah toko itu berada dalam gelembung waktu yang terpisah dari hiruk pikuk kota.
Seraphine tidak membutuhkan alarm. Ia bangun saat cahaya pertama menyentuh kelopak mawar di ambang jendela kamarnya.
Baginya, pagi hari bukan tentang kopi pahit atau berita pagi, melainkan tentang "menyempatkan waktu".
Ia turun ke lantai bawah dengan langkah kaki telanjang di atas kayu pinus yang hangat. Hal pertama yang ia lakukan bukanlah membuka pintu toko, melainkan menyapa penghuni hijau di sana.
"Selamat pagi, anak-anak," bisiknya lembut.
Tangannya bergerak perlahan, menyentuh daun-daun ivy yang merambat di langit-langit. Di bawah sentuhannya, daun-daun itu tampak menggeliat, seolah sedang meregangkan diri setelah tidur panjang. Ia tidak menggunakan penyiram tanaman biasa, ia hanya perlu meletakkan jemarinya di atas permukaan tanah, dan kelembapan seolah muncul dengan sendirinya dari udara yang kosong.
Pukul 10.00 pagi, toko mulai beroperasi. Namun, Seraphine jarang memiliki pelanggan "normal".
Seorang wanita paruh baya masuk dengan wajah yang hancur karena kesedihan. Ia kehilangan suaminya sebulan yang lalu dan tidak bisa tidur sejak saat itu.
Seraphine tidak menawarkan karangan bunga duka cita. Ia hanya tersenyum dan mengambil setangkai bunga yang bentuknya menyerupai lonceng kecil berwarna biru pucat.
"Letakkan ini di bawah bantalmu, nyonya Arslan," ucap Seraphine. "Dia tidak akan membawakan suamimu kembali, tapi dia akan meminjamkan suaranya agar kau bisa mendengar salam perpisahan di dalam mimpimu."
Wanita itu pergi dengan keraguan, namun saat ia memegang batang bunga itu, tangisnya mereda secara misterius.
Di sela-sela melayani pelanggan, Seraphine menghabiskan waktunya di balik etalase kue. Di sinilah "keajaiban" yang dirasakan Reggiano dan Elena diciptakan. Seraphine tidak menimbang tepung dengan timbangan digital. Ia mencampur bahan dengan intuisi yang dalam. Ia memasukkan perasaan tenang ke dalam adonan roti, dan menyelipkan sedikit keberanian ke dalam krim eclair.
Namun, ada momen-momen di siang hari saat Seraphine berhenti bekerja. Ia akan berdiri diam di tengah toko, menutup matanya, dan merasakan getaran kota. Ia bisa merasakan setiap kali Reggiano menarik pelatuk senjatanya di distrik lain, sebuah getaran tajam yang menyakitkan di dadanya. Ia juga bisa merasakan saat Elena tertawa di balkon apartemennya, getaran lembut yang seperti belaian angin.
Sore harinya, saat bayangan mulai memanjang, Seraphine berjalan ke sudut gelap di belakang lemari kue besar, tempat yang pernah diintip oleh Reggiano.
Ia berlutut di sana. Di balik kayu lemari yang berat, terdapat sebuah celah kecil di lantai beton yang seharusnya mustahil untuk ditembus akar. Namun, dari sana muncul sebuah sulur berwarna perak kehitaman yang tampak lebih "tua" dari seluruh tanaman di toko itu.
"Sabar," bisik Seraphine sambil mengelus sulur perak itu.
"Aku masih butuh waktu, ketika waktunya tiba aku berjanji akan segera mendapatkan apa yang kamu mau."
Sulur itu mendesis pelan, sebuah suara yang mirip dengan hembusan angin di dalam gua. Ia tampak tidak menyukai "aroma kematian" yang dibawa Reggiano setiap sore, namun ia tunduk pada perintah Seraphine.
Seraphine kemudian bangkit, merapikan celemek nya, dan melihat ke arah jam dinding. Pukul 16.55.
Wajahnya yang tadinya tampak serius dan penuh rahasia, mendadak berubah menjadi cerah kembali. Ia merapikan rambutnya dan menyiapkan sebuah kotak kecil berisi biskuit jahe. Ia tahu, dalam lima menit, lonceng pintu akan berdenting. Ia tahu, seorang pria dengan kacamata perak dan beban dunia di bahunya akan masuk mencari secercah kedamaian.
Bagi dunia luar, Seraphine hanyalah seorang gadis penjual bunga yang cantik dan misterius. Namun dalam kesehariannya, ia adalah seorang penjaga, sebuah jembatan antara tanah yang ingin tumbuh dan manusia yang terlalu sibuk untuk sekedar bernapas.
Setelah matahari terbenam dan pelanggan terakhir pergi, Seraphine tidak langsung menutup toko. Saat lampu-lampu jalan di Distrik Timur mulai berkedip menyala, suasana di dalam Flower’s Patisserie justru menjadi lebih hidup dengan cara yang ganjil.
Di jam-jam sunyi ini, Seraphine tidak lagi bersikap sebagai pelayan toko. Ia melepaskan ikat rambutnya, membiarkan rambut panjangnya terurai, dan mulai melakukan ritual malamnya, pembersihan
Seraphine berjalan perlahan menuju rak bunga mawar yang terletak di bagian tengah. Anehnya, meskipun tidak ada angin, kelopak-kelopak bunga itu bergoyang menyambut kehadirannya. Ia mengambil sebuah botol semprotan kaca tua, namun isinya bukan air biasa. Cairan di dalamnya berkilau keperakan, seperti sari pati bintang yang dicairkan.
Saat ia menyemprotkan cairan itu, bunga-bunga yang tadinya mulai layu karena paparan polusi kota yang dibawa masuk oleh pelanggan kembali tegak. Namun, pembersihan ini bukan hanya tentang keindahan fisik.
"Terima kasih telah menampung beban mereka hari ini," gumam Seraphine pada setangkai lili putih.
Tanaman di toko Seraphine berfungsi sebagai penyerap. Mereka menyerap rasa cemas, kemarahan, dan kesedihan dari setiap orang yang masuk. Itulah sebabnya orang-orang selalu merasa lebih ringan saat keluar dari tokonya. Namun, tanaman itu sendiri bisa jenuh. Seraphine harus memindahkan "racun emosional" itu dari tanaman ke dalam dirinya, lalu mengalirkannya kembali ke bumi.
Ia duduk di lantai kayu tepat di tengah toko, menyilangkan kakinya, dan meletakkan telapak tangannya di atas lantai. Perlahan, gurat-gurat cahaya hijau tipis merambat dari ujung jarinya, masuk ke sela-sela kayu, menuju akar-akar yang tersembunyi jauh di bawah fondasi beton kota.
Pukul 21.00 malam. Seraphine berada di dapur belakang, namun ia tidak sedang memanggang kue untuk dijual. Ia sedang menyiapkan "makanan" khusus.
Di atas kompor, sebuah panci kecil berisi air mendidih dengan campuran akar-akaran yang berwarna gelap dan beberapa tetes getah pohon yang kental. Ia mengaduknya dengan sendok kayu tua, matanya menatap kosong ke luar jendela yang gelap.
Pikirannya melayang pada Reggiano. Setiap kali pria itu datang, Seraphine harus bekerja ekstra keras untuk membersihkan toko setelahnya. Energi Reggiano bukan sekadar kesedihan biasa, itu adalah energi kematian yang pekat, bau logam yang berkarat karena darah. Namun, ada sesuatu yang aneh.
Di balik lapisan kegelapan itu, Seraphine menemukan benih cahaya yang sangat murni, sesuatu yang ia sebut sebagai "kehendak untuk melindungi".
"Dia adalah pedang yang ingin menjadi perisai," bisiknya pada uap yang mengepul dari panci.
Setelah ramuannya selesai, ia membawa mangkuk kecil berisi cairan hitam kental itu ke sudut gelap di belakang lemari kue, tempat sulur perak itu berada. Ia menuangkannya ke sela-sela lantai.
Suara desisan pelan terdengar, diikuti oleh aroma tanah basah yang memenuhi ruangan.
Sulur itu tampak puas, ia melingkar kembali ke dalam kegelapan.
Seraphine kemudian bangkit, membersihkan tangannya, dan mematikan lampu utama toko. Dalam kegelapan, tanaman-tanaman itu mulai mengeluarkan cahaya neon halus yang tidak bisa dilihat oleh mata manusia biasa dari luar jendela.
Sebelum ia naik ke lantai atas untuk beristirahat, Seraphine berhenti sejenak di depan pintu depan. Ia menyentuh gagang pintu tembaga itu, membisikkan sebuah mantra perlindungan yang telah ia gunakan selama ratusan tahun.
Pintu itu bukan hanya penghalang kayu, di bawah perlindungannya, tidak ada satu pun agen Organisasi, bahkan Vauclain sekalipun, yang bisa masuk dengan niat jahat tanpa seizinnya.
Seraphine tersenyum tipis, menatap jalanan yang basah oleh hujan dari balik kaca. Ia tahu esok hari akan lebih sulit. Ia tahu Reggiano sedang berhadapan dengan badai besar. Tapi selama akarnya masih tertanam kuat di tanah ini, ia akan tetap menjadi tempat berlabuh bagi sang Eksekutor yang kesepian itu.
................
Tengah malam di Distrik Timur biasanya diisi oleh suara sirine jauh, deru mesin pabrik yang tidak pernah tidur, dan rintik hujan yang menghantam atap seng. Namun di dalam dinding Flower’s Patisserie, suaranya berbeda. Di sana ada suara nyanyian dari para bunga, suara para tanaman kecil yang tumbuh subur, sulur yang merambat, dan kelopak yang membuka satu per satu dengan indah.
Seraphine tidak tidur seperti manusia pada umumnya. Ia berbaring di tempat tidur kayunya di lantai atas, namun matanya tetap terbuka, menatap langit-langit yang tertutup oleh anyaman tanaman melati. Ia sedang melakukan apa yang ia sebut sebagai Vigilance, Pengawasan.
Kesadarannya tidak terbatas pada tubuhnya. Ia bisa merasakan setiap getaran di tanah dalam radius beberapa kilometer. Ia merasakan akar-akar pohon ek tua di taman kota yang sedang haus, ia merasakan retakan pada pipa air di bawah jalan raya, dan ia merasakan langkah kaki yang berat dari para penjaga malam.
Pukul 02.00 dini hari waktu di mana dunia berada pada titik tergelap nya.
Seraphine turun kembali ke toko. Ia tidak menyalakan lampu. Baginya, kegelapan adalah warna yang paling jujur. Ia berjalan ke arah rak belakang, tempat ia menyimpan deretan botol-botol kaca kecil berisi sari bunga.
Malam ini, ia harus melakukan sesuatu yang sangat spesifik.
Ia mengambil satu botol berisi cairan berwarna merah delima yang pekat. Ini adalah sari dari bunga Sanguis Terrae, bunga yang tumbuh dari tanah yang pernah menumpahkan darah terlalu banyak namun telah dimaafkan oleh bumi.
Ia mencampurkan setetes cairan itu ke dalam adonan kue yang ia siapkan untuk esok hari. Ini adalah pesanan khusus untuk Elena, meskipun Elena tidak pernah memintanya. Seraphine tahu bahwa tubuh Elena sedang berjuang melawan racun kota yang perlahan merusak paru-parunya.
"Sedikit kekuatan untuk sang burung kecil," bisiknya sambil menguleni adonan itu dengan tangan yang bercahaya keemasan.
Setiap gerakan tangannya adalah sebuah kekuatan baru. Ia tidak hanya mencampur tepung dan gula, ia memasukkan memori tentang matahari pagi, aroma pegunungan yang belum terjamah, dan ketenangan air di danau biru. Inilah alasan mengapa siapapun yang memakan kuenya akan merasa seolah-olah beban hidup mereka terangkat, karena Seraphine harfiah memberikan potongan "kehidupan" ke dalam setiap remahnya.
Menjelang fajar, saat kabut mulai menyelimuti jalanan, Seraphine keluar melalui pintu belakang. Di sana terdapat sebuah taman kecil yang tersembunyi, dikelilingi oleh tembok bata tinggi yang ditutupi lumut tebal.
Di tengah taman itu, terdapat sebuah kolam batu kecil. Seraphine berlutut di tepinya. Ia mencelupkan tangannya ke dalam air yang sangat dingin. Seketika, air itu berubah menjadi keruh, menyerap kegelapan yang ia kumpulkan dari toko sepanjang hari kemarin, sisa-sisa energi kematian dari Reggiano, ketakutan dari Tuan Gable, dan kecemasan pelanggan lainnya.
Ia melihat air keruh itu berputar, lalu perlahan kembali bening saat tanah di bawah kolam menyaring semua emosi negatif tersebut menjadi nutrisi bagi para tanaman kecil.
"Darah dibayar dengan kehidupan, ketakutan dibayar dengan ketenangan," ucap Seraphine, sebuah hukum kuno yang ia pegang teguh.
Setelah ritual pembersihan selesai, ia berdiri dan menatap ke arah apartemen Reggiano di kejauhan. Ia bisa melihat lampu di ruang kerja pria itu masih menyala. Ia tahu Reggiano sedang terjaga, mungkin sedang menatap dokumen atau membersihkan senjatanya.
Seraphine menghela napas, dan napasnya berubah menjadi kabut putih yang harum. Ia merasa kasihan pada Reggiano. Pria itu adalah seorang eksekutor yang sangat efisien, namun jiwanya sangat haus akan sesuatu yang bahkan tidak bisa ia namai.
Reggiano mengira ia datang ke toko untuk membeli kue, padahal sebenarnya jiwanya datang untuk meminta agar tidak mati kehausan di tengah padang pasir beton ini.
Pukul 05.00 pagi. Seraphine kembali ke dalam. Ia mengenakan celemek bersihnya yang beraroma vanila. Ia menyalakan oven besar, dan aroma roti mulai memenuhi ruangan, mengusir sisa-sisa aura gelap malam hari.
Ia membuka pintu depan toko, membalik papan tulisan menjadi OPEN.
Dunia luar mungkin melihatnya sebagai rutinitas yang membosankan, seorang gadis yang bangun pagi untuk menjual roti. Mereka tidak tahu bahwa setiap detik dalam keseharian Seraphine adalah upaya untuk menjaga keseimbangan dunia.
Tanpa toko kecil ini, dan tanpa penjaganya, Distrik Timur mungkin sudah lama tenggelam dalam kegelapan yang dibawa oleh orang-orang seperti Vauclain.
Seraphine tersenyum saat melihat cahaya matahari pertama menyentuh trotoar di depan tokonya. Hari baru telah dimulai dan ia sudah tidak sabar menunggu pukul lima sore nanti, saat sang "Belati yang kesepian" akan kembali datang membawa aroma logam yang ia benci, namun dengan hati yang sangat ingin ia selamatkan.