Georgio Cassano adalah antagonis paling menyedihkan yang pernah Selin baca. Dimana sedari kecil dia tidak pernah mendapat perhatian keluarganya,cinta pertamanya malah menikah dengan rivalnya, dan istrinya berselingkuh. Sang Antagonis mendapat akhir trangis, Perusahaan yang dibangun dengan hasil kerja kerasnya sendiri bangkrut, dan dia meninggal dibunuh protagonis pria.
"Andai saja aku yang menjadi istri antagonis. Pasti aku akan membuat dia bahagia." Kata-kata yang diucapkan Selin malah membuatnya memasuki tubuh Cassandra, istri antagonis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lailararista, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tugas selesai
Giorgio dan Cassandra berjalan masuk keruangan kerja Georgio, juga diikuti Albert dibelakangnya. Senyum kemenangan terukir dibibir mereka semua.
Georgio dan Cassandra duduk disofa, sedangkan Albert berdiri dihadapan mereka, seperti biasa iPad selalu dalam genggamannya. "Pak Gio, Bu Sandra. saya ingin menyampaikan kalau saham SkyLine Corp dan Immanuel Corp sudah sepenuhnya berada di bawah kendali Anda. Analisis menunjukkan lonjakan besar dalam kepercayaan pasar setelah pengumuman ini. Tidak ada yang meragukan kepemimpinan Anda lagi."
Georgio mengangguk, menerima iPad dari Albert. Dia menyapukan pandangan cepat pada angka-angka itu. "Bagus. Pastikan tim hukum bergerak cepat untuk mengamankan semua aset. Aku tidak ingin ada celah sedikit pun bagi mereka untuk kembali."
Albert mengangguk mengerti lalu pamit undur diri.
Cassandra berdiri dan berjalan perlahan menuju Georgio yang duduk di sofa single, memeluk Georgio dari belakang, dagunya bersandar di bahu pria itu.
"Boleh aku minta hadiah atas kemenangan mu?" bisik Cassandra, napasnya hangat menerpa leher Georgio.
Georgio menutup matanya sejenak, merasakan kehangatan yang nafas Cassandra. Senyum miring terukir dibibirnya.
"Tentu, istriku mau apa, hm?"ucapnya sambil mengelus tangan Cassandra yang melingkar di pundaknya.
Cassandra melepas tangannya dan beralih duduk di pangkuan Georgio. Membuat Georgio tersenyum tipis karena tingkah menggoda istirnya. Cassandra menangkup wajah Georgio dengan kedua tangannya yang ramping.
"Aku mau, kamu."
Georgio yang gemas memeluk pinggang Cassandra. "Kamu sudah memilikinya."
Cassandra mengangguk. "Benar, tapi aku mau kamu selamanya."
"Kita pasti akan bersama selamanya."ucap Georgio membuat Cassandra terdiam sesaat. Semoga saja apa yang Georgio ucapkan menjadi kenyataan, pikirnya.
"Kalau suatu hari aku pergi, kamu gimana?"Georgio mengerutkan dahinya.
"Kamu tidak akan bisa pergi dari ku."jawabnya.
Cassandra mengangguk. "Ya, didunia ini aku tidak akan bisa pergi kemana-mana. Tapi kalau ke dunia lain?"
"Aku akan mencarimu sampai ke dunia iblis sekali pun."Cassandra tergelak kecil.
"Segitunya?"ucapnya tersenyum tulus menatap dalam Giorgio.
Georgio membalas tatapan Cassandra tak kalah dalam, senyum di bibirnya perlahan memudar, berganti dengan sorot mata yang tulus.
"Bahkan lebih dari itu, Sayang," bisik Georgio, mempererat pelukannya di pinggang Cassandra seolah takut istrinya akan benar-benar menghilang. "Semua ini tidak ada apa-apanya, kemenangan ini, kekayaan ini, kamu yang paling berarti dalam hidupku ini."
Cassandra merasakan getaran ketulusan dari suara Georgio. Tangannya yang menangkup wajah pria itu kini membelai lembut rahang tegasnya. "Aku percaya. Itu sebabnya aku tidak ingin meninggalkan mu. Tapi kalau suatu saat aku tiba-tiba sudah tidak ada disisi mu, kamu harus janji akan tetap bahagia ya?"
Georgio melepaskan kedua tangan Cassandra dari wajahnya dan menggenggam nya erat. "Bagaimana mungkin aku akan tetap bahagia kalau kamu pergi? Kamu bercanda?"Cassandra tersenyum kecil.
"Aku tidak bercanda, kamu harus tetap bahagia, ada atau tidaknya aku disisimu. Oke?"ucap Cassandra memperlihatkan jari kelingking nya.
Georgio menatap lama jari Cassandra, dia sama sekali tidak berniat membalasnya, hatinya entah kenapa sakit mendengar ucapan Cassandra, seakan dia benar-benar akan pergi.
"Aku tidak bisa, bagiku kamu kebahagiaan ku."
Georgio memiringkan kepala dan mencium punggung tangan Cassandra, lalu menarik Cassandra ke dalam ciuman yang dalam. Ciuman yang menegaskan kepemilikan. ciuman yang menyatakan takut kehilangan.
Ketika ciuman itu mereda, dahi mereka saling bersentuhan. Napas mereka saling berkejaran.
"Aku mencintaimu," ucap Georgio, dengan suara serak.
"Aku juga, Gio. Sangat mencintaimu," balas Cassandra. Dia menyandarkan kepalanya di dada Georgio, mendengarkan detak jantung pria itu yang teratur.
Keheningan yang nyaman menyelimuti mereka. Di ruangan itu, hanya ada mereka berdua. Georgio memejamkan mata, membiarkan aroma parfum lembut Cassandra memenuhi indranya. Ia tahu, setelah badai besar yang baru saja mereka taklukkan, kini saatnya menikmati kedamaian, setidaknya untuk saat ini. Besok, dunia masih tetap menanti, dan dia siap menghadapinya, asalkan Cassandra tetap di sisinya.
★★★
"Cassandra..."
"Cassandra..."
Cassandra yang tertidur di pangkuan Georgio mengedipkan matanya perlahan saat mendengar suara samar memanggil namanya. Cassandra membuka matanya, menatap ke sekeliling. Dia masih berada diruangan Georgio, tapi hanya ada mereka berdua, lalu siapa yang memanggil Cassandra?
Cassandra beralih menatap Georgio yang juga tertidur dengan kepala menyender ke sandaran sofa. Senyum kecil terbit di bibirnya melihat wajah tampan suaminya.
"Cassandra..."
Suara itu mengangetkan Cassandra lagi, dia langsung menatap ke sekelilingnya tapi tidak ada siapapun.
"Kamu tidak akan bisa melihat ku, cukup bicara dalam hati aku akan mendengar suaramu."ucap suara itu lagi.
"Siapa kamu?"tanya Cassandra, dia mencoba bicara dalam hati sesuai perkataan suara asing itu.
"Aku sistem yang selama ini mengawasi mu. Tugas mu sudah selesai, kamu mengerjakannya dengan sangat baik. Jordan dan Annabella sudah bersatu. Jadi kamu bisa kembali ke dunia asalmu."
"Tapi bukannya masih ada syarat yang belum aku selesaikan? Mempersatukan Jordan dan Georgio?"tanya Cassandra dengan heran, sekaligus merasa tidak rela untuk pergi.
"Mereka tidak perlu bersatu, cukup Jordan merasa dirinya salah dan tidak menyalahkan Georgio lagi itu sudah cukup. Semua kebenaran dan kebohongan, juga dalang dibalik semua ini sudah terungkap."
"Jadi... Tugas mu sudah selesai."
Cassandra hanya diam, tidak lagi menjawab. Tugasnya selesai, itu artinya dia benar-benar akan pergi dari hidup Georgio. Cassandra menatap Georgio yang tampak masih tertidur pulas, berat rasanya meninggal orang yang sudah memberikan kenyamanan, memberikan cinta, juga memberikan kasih sayang yang melimpah kepadanya. Di kehidupan aslinya, rasanya tidak mungkin dia bisa merasakan bahagia seperti ini lagi.
Bahkan dia hanya orang miskin jauh dari kata mewah seperti sekarang ini. Tapi sekali lagi ini bukan tempatnya, didunia aslinya masih ada keluarga yang menunggunya, masih ada ibunya yang sangat menyayanginya.
Cassandra mengangguk kecil, dia sudah memutuskan akan kembali ketempat asalnya.
"Boleh aku disini tinggal untuk beberapa hari? Aku akan mengucapkan selamat tinggal dulu kepada suamiku."lanjut Cassandra berbicara didalam hati, wajahnya murung, tanpa sadar, dia sudah mencintai Georgio, berat rasanya untuk meninggalkannya.
"Kamu punya waktu satu minggu dari sekarang."
Cassandra mengangguk mengerti, lalu memeluk Georgio dengan erat, membuat Georgio terusik dari tidurnya. Georgio yang merasakan pelukan Cassandra sangat erat tersenyum singkat lalu membalas pelukannya tak kalah erat. Kembali menciptakan keheningan dan kedamaian di antara mereka.
"Gio,"panggil Cassandra.
"Hm?"Georgio hanya membalas dengan deheman. Suaranya serak dan berat khas bangun tidur.
"I love you."
Georgio tergelak kecil, tak urung dia membalas ucapan Cassandra.
"I love you more."