Arga Maheswara, mengira bahwa kepindahannya ke rumah tua peninggalan keluarga, akan menyembuhkan luka akibat pengkhianatan istri. Namun sejak malam pertama, sosok wanita cantik bergaun putih selalu muncul di bawah sinar bulan tersenyum sendu, seolah telah lama menunggunya.
Safira Aluna. Kehadirannya yang lembut perlahan mengobati hati Arga yang hancur. Untuk pertama kalinya, ia merasakan cinta yang tulus. Tapi ketika kebenaran terungkap, Arga terkejut Safira bukan manusia. Ia adalah jin muslimah yang terikat kutukan masa lalu, menunggu puluhan tahun untuk menemukan cinta sejatinya.
Meski menakutkan, Arga tak sanggup melepaskan Safira. Mereka menikah dalam ikatan dua alam yang terlarang. Namun cinta mereka adalah kutukan itu sendiri semakin dalam Arga mencintai Safira, semakin cepat nyawanya terkikis.
Akankah cinta mereka bertahan melawan takdir?
Atau salah satu harus berkorban untuk yang lain?
Selamat menyaksikan kisah cinta beda alam
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mentari_Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Percakapan Pertama
Malam berikutnya, Arga tidak bisa tidur. Ia sudah berbaring di kasur sejak jam sembilan malam, tapi matanya terus terbuka. Menatap langit-langit yang gelap dengan pikiran yang berputar-putar.
Apakah Safira akan muncul lagi malam ini?
Apakah semalam itu nyata atau hanya halusinasinya saja?
Tapi... tapi rasanya begitu nyata. Suaranya. Senyumnya. Air mata yang mengalir di pipinya.
Arga bangkit dari kasur. Tidak tahan lagi. Ia turun ke lantai bawah, keluar ke teras dengan hanya mengenakan kaos tipis dan celana training. Angin malam menyapa kulitnya dengan dingin yang menusuk. Tapi ia tidak peduli.
Ia berjalan pelan menuju taman depan. Menuju ayunan tua tempat Safira duduk semalam.
Ayunan itu kosong. Bergoyang sedikit karena angin.
Arga berdiri di depannya, menatap ayunan kosong itu dengan dada yang berdebar kencang. "Safira?" panggilnya pelan. Suaranya serak. "Kau... kau di sini?"
Hening.
Hanya suara angin dan dedaunan yang bergesekan.
Arga merasa bodoh. Kenapa ia memanggil hantu? Kenapa ia berharap hantu itu muncul? Apa ia memang sudah gila?
Tapi saat ia hendak berbalik dan masuk ke rumah lagi, ia mendengar suara itu.
Suara yang lembut. Merdu. Seperti angin yang berbisik.
"Arga..."
Ia berbalik cepat. Dan sosok itu ada di sana. Berdiri di bawah pohon besar yang ranting-rantingnya menjuntai seperti tirai. Safira. Dengan gaun putih panjangnya yang berkibar pelan meski angin tidak sekencang itu. Rambutnya yang hitam legam terurai indah. Wajahnya yang pucat tapi cantik menatapnya dengan lembut.
"Kamu... kamu datang lagi," bisik Safira. Suaranya terdengar seperti datang dari jauh, tapi jelas di telinga Arga.
Arga menelan ludah. Jantungnya berdegup kencang tapi bukan karena takut. Entahlah. Ia tidak mengerti apa yang ia rasakan. "Ya... aku... aku menunggu kamu."
Safira tersenyum. Senyum yang menyedihkan tapi indah. "Kamu tidak takut?"
"Tidak," jawab Arga tanpa ragu. "Aku tidak takut padamu."
"Kenapa?" Safira melangkah maju. Pelan. Seperti melayang di atas tanah. "Orang lain takut. Semua orang takut padaku. Mereka lari. Mereka pergi. Tapi kamu... kamu tetap di sini."
Arga menatap mata Safira yang hitam dan dalam. Ada kesedihan yang sangat besar di sana. Kesedihan yang sudah bertahun-tahun, puluhan tahun, menumpuk tanpa ada yang mengerti.
"Karena aku tahu kamu tidak akan menyakitiku," jawab Arga pelan. "Dan... dan mungkin karena aku juga kesepian. Seperti kamu."
Air mata mengalir di pipi Safira. Tapi ia tetap tersenyum. "Kamu bisa melihatku dengan jelas?"
"Ya. Sangat jelas."
"Dan... dan kamu bisa mendengar suaraku?"
"Ya."
Safira menutup mulutnya dengan tangan, isak tangis keluar dari bibirnya. Tubuhnya gemetar. "Akhirnya... akhirnya ada yang bisa melihatku. Yang bisa mendengarku. Selama ini... selama ini aku hanya bayangan. Hanya suara angin. Tidak ada yang benar-benar menyadari kehadiranku."
Arga merasakan dadanya sesak melihat Safira menangis seperti itu. Tanpa sadar ia melangkah maju. Ingin... ingin memeluknya. Tapi tangannya berhenti di udara. Bisakah ia menyentuh sosok yang bukan dari dunia ini?
"Jangan menangis," bisik Arga dengan suara yang ikut bergetar. "Kumohon, jangan menangis."
Safira mengusap air matanya, mencoba tersenyum lagi meski wajahnya basah. "Maaf... aku hanya... aku hanya terlalu bahagia. Terlalu lega. Rasanya sudah lima puluh tahun aku sendirian di rumah ini. Tidak ada yang mau berbicara padaku. Tidak ada yang peduli. Mereka semua pergi. Atau... atau takut padaku."
"Aku tidak akan pergi," Arga berkata dengan tegas. Mata mereka bertemu. "Aku berjanji. Aku tidak akan pergi meninggalkanmu."
Safira menatapnya dalam-dalam. Lalu ia melangkah lebih dekat. Sangat dekat sampai Arga bisa merasakan hawa dingin dari tubuhnya. Dingin tapi... menenangkan.
"Bolehkah... bolehkah aku duduk bersamamu?" tanya Safira dengan suara pelan.
"Tentu. Tentu saja."
Mereka berdua berjalan ke ayunan. Safira duduk di sana, Arga duduk di tanah di depannya, bersila sambil menatap wanita yang bukan dari dunianya ini.
Hening sejenak. Mereka hanya saling menatap. Tidak ada yang tahu harus memulai pembicaraan dari mana.
Akhirnya Safira yang membuka suara. "Kamu... kamu yang namanya Arga, kan? Cucu Mbah Sarinah?"
"Ya. Kamu... kamu tahu nenekku?"
Safira mengangguk pelan. "Beliau baik padaku. Beliau satu-satunya yang tidak takut. Dulu, kalau beliau berkunjung ke rumah ini, beliau sering bicara padaku. Meski beliau tidak bisa melihatku dengan jelas, tapi beliau tahu aku ada. Beliau sering bercerita tentang cucunya yang pintar. Yang kuliah di kota. Itu kamu kan?"
Arga terkejut. "Nenek... nenek bicara padamu?"
"Ya. Beliau sering bilang, jangan kesepian, Safira. Suatu hari nanti pasti ada yang menemanimu."
Air mata Arga mengalir tanpa bisa ia tahan. Nenek. Nenek yang selalu sayang padanya. Nenek yang sudah tiada. Ternyata nenek tahu tentang Safira. Dan bahkan menenangkannya.
"Aku... aku kangen nenek," bisik Arga dengan suara serak.
"Aku juga," Safira tersenyum sedih. "Beliau sudah pergi dua tahun lalu kan? Aku merasakan saat beliau pergi. Rasanya seperti... seperti kehilangan teman satu-satunya di dunia ini."
Mereka terdiam lagi. Kesedihan menyelimuti mereka berdua.
Lalu Safira bertanya pelan. "Kamu... kamu kenapa datang ke sini? Ke rumah tua yang semua orang bilang angker ini? Apa kamu... apa kamu juga sedang lari dari sesuatu?"
Arga menunduk. Tangannya mencengkeram rumput di bawahnya dengan kuat. Rahangnya mengeras.
"Aku... aku lari dari kota. Dari... dari istriku."
"Istrimu?" Safira terdengar terkejut.
"Mantan istriku," Arga mengoreksi dengan pahit. "Dia... dia selingkuh. Dengan sahabatku sendiri. Aku menemukan mereka di ranjangku sendiri. Di rumahku sendiri."
Safira terdiam. Wajahnya yang pucat terlihat lebih pucat lagi. Mata hitamnya berkaca-kaca.
"Dan yang lebih menyakitkan..." Arga melanjutkan dengan suara yang mulai pecah. "Dia bilang dia tidak pernah bahagia bersamaku. Dia bilang aku terlalu sibuk kerja. Terlalu sibuk dengan duniaku sendiri. Dan dia merasa kesepian. Jadi dia... dia tidur dengan pria lain."
"Arga..."
"Aku mencintainya," air mata Arga mengalir deras sekarang. Ia tidak peduli lagi. Biarkan saja. "Aku sangat mencintainya. Lima tahun kami bersama. Lima tahun aku bekerja keras untuk membahagiakan dia. Dan ternyata... ternyata semua itu tidak cukup. Aku tidak cukup."
Safira turun dari ayunan, berlutut di hadapan Arga. Tangannya yang dingin menyentuh pipi Arga, mengusap air matanya dengan lembut.
Sentuhan itu dingin. Sangat dingin. Tapi entah kenapa terasa sangat hangat.
"Kamu cukup," bisik Safira dengan suara yang penuh kesedihan. "Kamu lebih dari cukup, Arga. Dia yang tidak menghargai. Dia yang bodoh."
"Tapi kenapa... kenapa aku masih sakit? Kenapa aku masih merasa hampa?" Arga menatap Safira dengan mata yang merah bengkak. "Kenapa aku masih merasa seperti ada yang robek di dadaku setiap kali aku ingat dia?"
"Karena cinta itu tidak mudah dihilangkan," jawab Safira sambil ikut menangis. "Aku tahu. Aku sangat tahu bagaimana rasanya kehilangan orang yang kita cintai. Rasanya seperti... seperti jantung kita dirobek paksa dari dada. Seperti napas kita berhenti tapi tubuh kita masih hidup. Seperti dunia kehilangan warna."
Arga menatap Safira. "Kamu... kamu juga pernah merasakan itu?"
Safira mengangguk. Air matanya mengalir lebih deras. "Arjuna... suamiku. Dia meninggalkanku. Bukan karena dia mau. Tapi karena takdir yang kejam. Kebakaran itu... kebakaran itu merenggut nyawaku. Dan dia... dia tidak sanggup hidup tanpaku. Seminggu setelah aku mati, dia menyusul. Dia gantung diri di pohon itu." Safira menunjuk pohon besar di belakang mereka.
"Aku tahu," Arga berbisik. "Mbah Karyo sudah cerita padaku."
"Dan kamu tahu yang paling menyakitkan?" Safira menatap Arga dengan tatapan yang sangat, sangat sedih. "Aku tidak bisa pergi. Aku tidak bisa menyusulnya ke alam sana. Aku terjebak di sini. Sendirian. Menunggu. Menunggu sesuatu yang bahkan aku sendiri tidak tahu apa itu. Lima puluh tahun, Arga. Lima puluh tahun aku sendirian di rumah ini. Menangis tanpa ada yang mendengar. Berteriak tanpa ada yang peduli."
Arga tidak bisa menahan lagi. Ia memeluk Safira. Memeluknya erat meski tubuhnya dingin seperti es. Meski ia tahu ini sosok yang bukan dari dunianya. Tapi ia tidak peduli.
Safira terkejut. Tapi kemudian ia membalas pelukan itu. Tangannya yang dingin memeluk Arga dengan erat. Mereka berdua menangis di pelukan masing-masing. Menangis untuk luka yang mereka bawa. Menangis untuk kesepian yang mereka rasakan. Menangis untuk cinta yang hilang entah kemana.
"Aku di sini sekarang," bisik Arga di telinga Safira. "Kamu tidak sendirian lagi. Aku berjanji aku akan menemanimu."
Safira menangis lebih keras. Tubuhnya gemetar hebat di pelukan Arga. "Terima kasih... terima kasih, Arga... Kamu tidak tahu betapa bahagianya aku mendengar itu..."
Mereka berpelukan cukup lama. Sampai tangis mereka mereda. Sampai napas mereka lebih tenang.
Lalu mereka duduk berdampingan di tanah, bersandar pada pohon besar itu. Menatap langit malam yang penuh bintang.
"Ceritakan padaku," Arga berkata pelan. "Ceritakan tentang hidupmu. Tentang Arjuna. Tentang kebahagiaan yang pernah kamu rasakan."
Dan Safira menceritakan semuanya. Tentang bagaimana ia bertemu Arjuna di pasar. Bagaimana Arjuna melamarnya dengan membawa sekarung bunga melati. Bagaimana pernikahan mereka yang sederhana tapi penuh cinta. Bagaimana mereka tertawa bersama, menangis bersama, bermimpi bersama.
Arga mendengarkan dengan seksama. Dan hatinya yang tadinya hancur berantakan perlahan merasakan kehangatan. Kehangatan dari cerita cinta yang tulus. Cinta yang nyata. Cinta yang berbeda dari apa yang ia alami dengan Ratih.
"Dan kamu?" Safira bertanya setelah selesai bercerita. "Ceritakan tentang masa indahmu dengan... dengan istrimu dulu. Pasti ada masa-masa indah kan? Sebelum semuanya hancur."
Arga terdiam. Ia berusaha mengingat. Dan ya, ada. Ada masa-masa indah dulu. Saat mereka pertama kali jatuh cinta. Saat mereka tertawa bersama di perpustakaan. Saat lamaran. Saat pernikahan.
Tapi kenapa semua kenangan indah itu sekarang terasa pahit? Terasa seperti kebohongan?
"Aku... aku tidak tahu apakah itu nyata atau tidak," jawab Arga pelan. "Dia bilang dia tidak pernah bahagia. Jadi mungkin... mungkin semua kebahagiaan yang aku rasakan dulu hanya ilusi."
Safira menggenggam tangan Arga. Genggaman yang dingin tapi menenangkan. "Bukan ilusi. Kebahagiaan yang kamu rasakan itu nyata. Meski sekarang dia bilang dia tidak bahagia, tapi itu bukan berarti momen-momen indah kalian dulu tidak nyata. Jangan biarkan pengkhianatannya menghapus semua kenangan baik itu."
Arga menatap Safira dengan mata berkaca-kaca. "Tapi... tapi aku tidak tahu bagaimana caranya tidak membenci semua itu."
"Kamu tidak harus melupakan. Kamu hanya perlu... melepaskan. Perlahan. Sedikit demi sedikit. Dan aku akan di sini. Menemanimu. Mendengarkanmu. Sampai kamu bisa tersenyum lagi tanpa harus memaksa."
Arga tersenyum tipis untuk pertama kalinya sejak berhari-hari. Senyum yang tulus. "Terima kasih, Safira. Aku... aku tidak tahu kenapa tapi... aku merasa tenang bersamamu."
"Aku juga," Safira tersenyum. "Aku juga merasa... tidak sedingin biasanya. Ada kehangatan aneh di dadaku saat berbicara denganmu."
Mereka mengobrol sampai larut malam. Tentang hidup, tentang kematian, tentang cinta, tentang luka, tentang harapan.
Dan saat langit mulai memerah di ufuk timur, Safira berdiri. Wajahnya terlihat khawatir. "Aku harus pergi. Matahari akan terbit."
"Kenapa? Kenapa kamu harus pergi kalau matahari terbit?" Arga ikut berdiri.
"Karena... karena cahaya matahari menyakitiku. Aku hanya bisa muncul di malam hari. Saat dunia gelap."
"Lalu... lalu kapan kita bisa bertemu lagi?"
Safira tersenyum lembut. Ia mengangkat tangannya, menyentuh pipi Arga dengan jari-jari dinginnya. "Malam ini. Dan setiap malam setelahnya. Kalau... kalau kamu mau."
"Aku mau," jawab Arga tanpa ragu. "Aku sangat mau."
"Kalau begitu... sampai nanti, Arga."
Safira perlahan memudar. Seperti kabut yang tersapu angin pagi. Semakin lama semakin transparan sampai akhirnya hilang sepenuhnya.
Arga berdiri sendirian di taman yang mulai terang. Tapi ia tidak merasa sendirian.
Karena ia tahu malam nanti ia akan bertemu Safira lagi. Berbicara lagi. Berbagi luka lagi.
Dan entah kenapa, untuk pertama kalinya sejak lama, ia merasa... ia merasa punya alasan untuk menunggu malam tiba.
Punya alasan untuk tetap hidup.
Punya alasan untuk tersenyum, meski senyum itu ditujukan pada sosok yang bukan dari dunianya.