NovelToon NovelToon
Jejak Cinta Nirmala

Jejak Cinta Nirmala

Status: sedang berlangsung
Genre:Wanita Karir / CEO / Percintaan Konglomerat / Crazy Rich/Konglomerat / Cintapertama / Berondong
Popularitas:420
Nilai: 5
Nama Author: Serena Muna

Nirmala Dizan tak pernah menyangka bahwa ia akan mendapatkan ujian yang begitu besar dan tak terduga. Ia harus menghadapi kenyataan bahwa kedua orang tuanya meninggal dunia dalam sebuah kecelakaan dan kemudian ia harus menghadapi kekejaman dunia bisnis yang penuh intrik sendirian. Di saat dirinya putus asa terbitlah sebuah asa, pertemuan dengan Aleandra Nurdin seorang mahasiswa yang mampu mengubah hidup Nirmala yang kelam.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serena Muna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dendam yang Masih Ada

Sementara kedaulatan finansial Nirmala sedang dipulihkan di atas langit Jakarta, di kedalaman ruang bawah tanah yang lembap, Aleandra Nurdin sedang menjalani perjuangannya sendiri.

Rini Susilowati masih menari-nari di depannya, tertawa histeris sambil memegangi selendang sutranya. Ia begitu larut dalam kegilaan hingga ia tidak menyadari bahwa gesekan rantai pada tiang beton di belakang punggung Ale telah menghasilkan serpihan karat yang tajam.

Sejak tadi, Ale tidak hanya diam. Dengan sisa tenaga dan daya tahan tubuhnya yang luar biasa sebagai seorang atlet, ia terus menggesekkan rantai itu pada sudut beton yang tajam. Pergelangan tangannya berdarah, kulitnya terkelupas, namun ia tidak mengeluarkan suara sedikit pun.

"Hmph... Mmph... Hahahaha! Nirmala pasti sedang menangis di bawah kaki Prabono sekarang!" Rini berbalik membelakangi Ale, sibuk mengagumi bayangannya sendiri di dinding yang kotor.

KRAK!

Suara besi yang patah tertutup oleh suara tawa Rini yang melengking. Ale merasakan beban di tangannya lepas. Dengan satu gerakan eksplosif yang lahir dari amarah berbulan-bulan, ia melompat maju.

"RINI!" raung Ale.

Rini berbalik, matanya membelalak kaget melihat mangsanya telah lepas. Namun, ia tidak sempat bereaksi. Ale meluncurkan sebuah tendangan front kick tepat ke arah dada Rini.

DUAK!

Tubuh kurus Rini terpental ke belakang, menabrak meja kayu yang penuh dengan peralatan penyiksaan hingga hancur. Rini terjungkal, kepalanya menghantam lantai tanah yang keras. Selendang sutra hitamnya terlepas, terinjak oleh sepatu Ale yang penuh lumpur.

"Ugh... kau... kau binatang!" desis Rini, mencoba merangkak di antara puing-puing kayu. Wajahnya yang dulu sombong kini bersimbah debu, hidungnya mengeluarkan darah, dan tatanan rambutnya hancur total.

Ale berdiri di atasnya, napasnya memburu. Ia tidak memukulnya lagi, namun tatapannya jauh lebih menyakitkan daripada pukulan mana pun. "Kau bukan ratu, Rini. Kau hanya wanita tua yang kesepian dan gila. Dan hari ini, duniamu berakhir."

****

Rini mencoba tertawa, namun yang keluar hanyalah suara batuk yang berdarah. Ia meraih selendang sutranya kembali, mencoba menutup wajahnya, namun Ale merampas kain itu dan membuangnya ke sudut ruangan yang basah.

"Hmph... Hahaha... Kau pikir kau menang?" Rini merangkak mundur, matanya liar mencari celah. "Nirmala sudah hancur! Sahamnya nol! Dia tidak punya apa-apa lagi!"

Tiba-tiba, suara notifikasi radio komunikasi di saku jaket Rini berbunyi. Suara panik dari salah satu komplotannya di lantai bursa terdengar.

"Nyonya! Nyonya Rini! Rencana gagal! Suteja Group masuk ke pasar! Mereka memborong semua saham! Harga kembali normal, para direksi kita melarikan diri karena takut ditangkap! Kita kalah, Nyonya!"

Keheningan yang mematikan jatuh di ruang bawah tanah itu. Tawa Rini membeku di tenggorokannya. Wajahnya yang pucat kini berubah menjadi abu-abu. Kegagalan total ini menghantamnya lebih keras daripada tendangan Ale.

"Tidak... tidak mungkin..." Rini mulai menarik-narik rambutnya sendiri, suaranya pecah menjadi rintihan yang menyayat hati. "Marwan! Kau membantunya dari kubur?! Tidak!"

Ia mulai meraung, sebuah suara yang tidak lagi terdengar seperti manusia. Rini Susilowati kehilangan pegangan terakhirnya pada kenyataan. Ia merangkak di lantai, mencari-cari selendangnya yang hilang, sementara Ale mengambil ponsel Rini untuk menghubungi pihak kepolisian dan Nirmala.

****

Di gedung Dizan Holding, suasana berubah seratus delapan puluh derajat. Tuan Prabono dan kawan-kawannya tertangkap basah sedang mencoba menghapus data transaksi dari server utama saat polisi masuk ke ruangan. Mereka diringkus di depan kamera media yang kini justru memuja keberanian Nirmala.

Nirmala berdiri di tengah lobi, menatap layar yang menunjukkan harga sahamnya stabil di zona hijau. Namun, pikirannya tidak di sana. Ia hanya memikirkan satu nama.

Ponselnya berdering.

"Nona..." suara parau Ale terdengar dari seberang sana.

"Ale! Ale, kau baik-baik saja? Di mana kau?!" Nirmala berteriak, air mata kebahagiaan tumpah ruah.

"Gue aman. Rini sudah gue lumpuhkan. Polisi sedang menuju ke sini," jawab Ale, suaranya terdengar lelah namun penuh kelegaan. "Januar... dia menyelamatkan perusahaan lo, Nona."

Nirmala terduduk di lantai lobi, mengabaikan tatapan semua orang. Ia menangis tersedu-sedu, melepaskan seluruh beban yang selama ini menghimpit pundaknya. Ia telah mendapatkan kembali perusahaannya, ia telah mendapatkan kembali Ale, dan ia menyadari bahwa di dunia yang kejam ini, kebaikan yang pernah ia tanam pada Januar telah berbuah menjadi penyelamat jiwanya.

Di kejauhan, di ruang bawah tanah yang gelap, Rini Susilowati masih meringkuk di pojokan, tertawa kecil sambil menggumamkan bahasa Spanyol yang tidak jelas arahnya, sementara sirine polisi mulai meraung mendekat, siap mengakhiri babak kegilaan sang ratu selendang untuk selamanya.

****

Lorong rumah sakit jiwa itu tampak steril, dingin, dan tak berujung. Suara decit sepatu bot para petugas kepolisian yang mengawal brankar besi bergema secara ritmis, menciptakan suasana mencekam di bawah pendar lampu neon yang berkedip. Di atas brankar itu, sesosok wanita yang dulunya menggetarkan lantai bursa Jakarta kini terikat kuat dengan jaket pengekang (straitjacket).

Rini Susilowati tidak memberontak secara fisik. Tubuhnya lemas, namun matanya—mata yang kini kehilangan sisa-sisa kewarasan—menatap langit-langit dengan binar yang mengerikan. Rambut putihnya yang dulu tertata anggun kini mencuat ke segala arah seperti sarang duri.

"Mmph... Hmph... Hahahaha!"

Tawa itu pecah lagi. Bukan tawa kemenangan yang angkuh, melainkan tawa melengking yang keluar dari rongga dada yang hancur. Suaranya memantul di dinding beton, membuat para perawat yang berpapasan merinding ketakutan.

"Kalian pikir dinding ini cukup tebal?" bisik Rini, suaranya parau namun tajam. Ia menoleh ke arah komandan polisi yang menjaganya. "Kalian sedang membangunkan singa di dalam kandang kaca. Katakan pada keponakanku tersayang, Nirmala... kursi yang dia duduki itu masih berbau darahku. Dan darah tidak pernah bisa dicuci bersih."

"Diam, Nyonya," bentak salah satu petugas.

Rini justru tertawa lebih keras, tubuhnya mengejang di balik ikatan kain putih itu. "Hahahaha! Silakan kunci pintunya! Silakan suntikkan racun penenang itu ke darahku! Tapi di dalam sini..." ia mengetuk kepalanya yang miring ke samping dengan gerakan aneh, "...aku sedang membangun neraka baru untuknya. Aku bersumpah, Nirmala Dizan tidak akan pernah tidur nyenyak selagi aku masih bernapas!"

Pintu besi sel isolasi khusus itu tertutup dengan dentuman berat. BRAK! Melalui celah kecil, petugas melihat Rini meringkuk di pojokan lantai, menarik-narik ujung selendang imajiner di lehernya, terus tertawa seolah-olah ia sedang berada di tengah pesta dansa termewah di dunia.

****

Di belahan kota yang berbeda, matahari pagi menyelinap masuk melalui jendela besar di lantai eksekutif Dizan Holding. Nirmala Dizan tidak sedang menari atau tertawa. Ia sedang duduk di meja kerja ayahnya, dikelilingi oleh ribuan berkas audit yang harus segera diselesaikan.

Wajahnya tampak lelah. Ada lingkaran hitam di bawah matanya, namun ketegasan di rahangnya membuktikan bahwa ia tidak akan goyah lagi. Dizan Holding sedang dalam masa stabilisasi kritis. Setelah serangan sabotase Rini dan kejatuhan saham yang hampir mematikan, Nirmala harus bekerja dua puluh jam sehari untuk meyakinkan kembali para investor bahwa nakhoda baru ini tidak akan membiarkan kapal tenggelam.

"Nona, ini laporan dari tim audit keuangan," ucap Sekretaris baru yang ia pilih sendiri atas dasar integritas, bukan koneksi. "Seluruh aset yang sempat dialihkan Elias dan Rini ke rekening luar negeri sudah berhasil dibekukan oleh otoritas internasional berkat bantuan Tuan Januar."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!