Hidup Aulia Maheswari berubah dalam sekejap. Sebuah pengkhianatan merenggut kepercayaan, dan luka yang datang setelahnya memaksanya belajar bertahan.
Saat ia mengira hidupnya hanya akan diisi trauma dan penyesalan, takdir mempertemukannya dengan sebuah ikatan tak terduga. Sebuah kesepakatan, sebuah tanggung jawab, dan perasaan yang tumbuh di luar rencana.
Namun, bisakah hati yang pernah hancur berani percaya pada cinta lagi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HaluBerkarya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32. waktunya papi menemani mami
"Aulia, ada orang yang ingin membeli rumah ini dengan harga lima miliar, tapi sebelumnya dia ingin melihat langsung kondisinya. Kamu bersedia?" Lima hari sejak rumah itu dipasang untuk dijual, akhirnya Daisy datang membawa kabar yang sudah lama ditunggu.
Aulia yang semula berbaring di samping Leonel langsung bangkit setengah duduk. Antusiasme tampak jelas di wajahnya, seolah lelah yang beberapa hari terakhir menempel tiba-tiba luruh begitu saja. "Siapa pembelinya, Daisy? Dan kapan dia mau survei rumahnya?" tanyanya cepat, nyaris tanpa jeda.
Alih-alih menjawab, Daisy justru duduk di tepi ranjang dan perhatiannya jatuh pada Leonel yang sedang berusaha tengkurap, lalu kembali terlentang dengan gerakan belum sempurna. Bayi itu mengulanginya berkali-kali tanpa lelah, membuat Daisy gemas sendiri.
"Astaga… begini, Dek." Dengan hati-hati Daisy membantu Leonel duduk, menahan tubuh kecil itu dengan beberapa bantal guling di kanan dan kirinya agar tidak oleng. Leonel mengeluarkan suara kecil yang terdengar seperti tawa bangga.
"Hais, Daisy. Sebenarnya kamu ke sini mau memberi tahu aku tentang calon pembeli atau mau bermain dengan Leonel?" protes Aulia, nada kesalnya tipis tapi cukup terdengar.
Daisy terkekeh pelan tanpa merasa bersalah. "Kita masih punya banyak waktu untuk membahas itu, Lia. Tapi kesempatan main sama Leonel belum tentu datang dua kali. Nanti dia tidur, atau tiba-tiba rewel. Jadi selagi dia sedang aktif begini, beri aku waktu sebentar, ya."
Aulia mencebik, namun tidak benar-benar marah. Ia kembali merebahkan tubuh di samping Leonel, lalu menggigit gemas tangan mungil itu. Leonel tertawa renyah, matanya menyipit senang, sementara tangan satunya menepuk-nepuk pipi Aulia dengan gerakan acak, seakan membalas perlakuannya.
"Tuh, dia sudah mulai kuat," gumam Daisy bangga, jarinya disentuhkan ke telapak tangan Leonel yang langsung menggenggam refleks.
Aulia memperhatikan sebentar, lalu mendesah pelan. "Sekarang jawab dulu pertanyaanku sebelum aku makin penasaran."
Daisy akhirnya menoleh, senyum kecil masih tersisa di wajahnya. "Pembelinya serius, Lia. Dia bahkan tidak menawar. Katanya rumah ini persis seperti yang dia cari."
Aulia terdiam sejenak, mencoba mencerna kalimat itu.
.
.
"Dia mau datang dalam waktu dekat," lanjut Daisy, kali ini nada suaranya lebih profesional. "Kalau tidak ada halangan, mungkin besok atau lusa. Jadi kamu tinggal pastikan rumahnya siap dilihat."
"Ya sudah, bilang saja kalau besok dia ada waktu untuk survei, boleh datang. Aku banyak waktu luang," ujar Aulia akhirnya. "Oh iya, siapa nama pembelinya?"
"Pak Dani. Katanya sih rekan kerja Papi," jawab Daisy santai.
Aulia mengangguk pelan, lalu kembali memperhatikan Leonel yang sibuk menarik-narik rambutnya sendiri seolah itu mainan paling menarik di dunia.
Ia menggendong bayi itu, lalu mengajak Daisy keluar kamar. Mereka bertiga menuju taman samping rumah. Di sana, Mama Kania terlihat sedang merapikan deretan tanaman hiasnya dengan penuh kesabaran, jemarinya telaten memetik daun kering satu per satu.
"Sepertinya sehari Mama Kania tidak datang melihat tanamannya, bisa demam dia," bisik Daisy pelan, matanya mengarah pada wanita paruh baya itu yang wajahnya tampak cerah diterpa sinar sore.
"Sudah jadi pekerjaan tetapnya itu. Umur segitu memang senangnya di halaman, koleksi tanaman hias," jawab Aulia terkikik sebelum duduk di kursi taman, memposisikan Leonel nyaman di pangkuannya.
"Kalian menertawakan apa?" tanya Mama Kania yang menyadari bisik-bisik itu. Ia mendekat, menyapa Leonel dengan suara lembut, tetapi tidak menyentuhnya karena kedua tangannya masih kotor oleh tanah.
"Tidak apa-apa, Mam. Cuma menemani Leonel tertawa biar tidak sendirian," sahut Daisy dengan alasan yang jelas dibuat-buat.
"Bohong. Kata Daisy Mama harus cari cowok saja daripada memacari tanaman hias," timpal Aulia tanpa dosa.
Daisy langsung membulatkan mata. "Sembarangan! Kagak ada aku bilang begitu, Lia, njir! Aku cuma kagum sama Mama Kania. Di usianya yang sudah tua—eh, maksudku usianya yang matang, Mama rajin banget urus tanaman."
Aulia melipat bibir, menahan tawa, jelas menikmati kepanikan temannya.
Mama Kania hanya menggeleng sambil tersenyum kecil. "Kalian ini ada-ada saja. Sudah, Mama masuk dulu, mau bersihkan diri."
Setelah wanita itu kembali ke dalam rumah, taman sore itu terasa lebih lengang. Angin berembus pelan, menggoyangkan daun-daun yang baru saja dirapikan.
Kini hanya tersisa Aulia, Daisy, dan Leonel yang kembali mengoceh pelan, seolah ikut menyumbang suara dalam percakapan ringan mereka.
...****************...
"Kalian di sini?"
Aulia dan Daisy menoleh bersamaan saat suara rendah itu terdengar dari belakang. Archio berdiri beberapa langkah dari mereka, tampil santai dengan kaus hitam polos dan celana pendek cargo. Penampilan sederhana itu membuatnya terlihat lebih muda dari usianya, jauh dari kesan CEO perusahaan yang biasanya lekat padanya.
Beberapa hari terakhir, pria itu memang sering datang setiap sore sepulang kantor. Alasannya selalu sama, ingin menemui putranya. Ia bahkan belum kembali ke Jakarta, meminta Papa Haidar untuk menggantikan posisinya di kantor pusat sampai urusannya di sini selesai. Sampai kapan, tidak ada yang tahu.
"Papi sudah pulang?" tanya Aulia ringan, nyaris tanpa beban.
Kalimat itu membuat Daisy yang duduk di sebelahnya langsung membulatkan mata, terkejut bukan main. Ia menoleh cepat ke arah Aulia, lalu ke Archio, memastikan pendengarannya tidak salah.
Bukan hanya Daisy yang terpaku.
Archio pun terdiam beberapa detik. Tubuhnya tetap tegak, tetapi sorot matanya berubah, seolah satu kalimat itu barusan menggeser sesuatu yang tidak ia siapkan. Ia tidak langsung menjawab, hanya menatap Aulia dengan ekspresi yang sulit dibaca.
Leonel yang berada di pangkuan Aulia justru lebih dulu bereaksi. Bayi itu menggerakkan tangan kecilnya ke arah Archio, mengeluarkan suara riang, seakan menyambut kedatangannya tanpa perlu suasana canggung.
Baru setelah itu Archio berdeham pelan.
"Sudah," jawabnya singkat, dia meraih Leonel yang sudah mengulurkan tubuhnya mau dia gendong, kemudian mencium pipi sang putra, sengaja untuk menyamarkan raut wajahnya yang tampak berbeda.
Daisy yang merasa seperti nyamuk di antara mereka perlahan bangkit berdiri. "Sepertinya aku harus pulang, Aulia. Aku lupa sore ini ada janji dengan teman di kafe. Aku duluan, ya. Tidak usah diantar!" ujarnya cepat.
Tanpa memberi kesempatan untuk ditahan, ia langsung melangkah pergi, meninggalkan Aulia dan Archio bersama Leonel di taman itu, yang jika dilihat sekilas, tampak seperti keluarga kecil yang utuh dan harmonis.
Melihat Daisy benar-benar sudah menjauh, Archio memilih duduk di samping Aulia, menciptakan jarak hanya sejengkal di antara mereka.
Ia menatap wanita itu tanpa berkedip selama beberapa detik. Namun saat Aulia membalas tatapannya dengan ekspresi heran, Archio segera mengalihkan wajah, menyembunyikan raut yang entah sedang tersipu atau sekadar tak menyangka.
"Aulia… barusan kamu panggil saya papi?" tanyanya akhirnya, memecah keheningan yang terasa canggung baginya.
"Kan Bapak yang suruh waktu itu. Kalau di depan Leonel harus panggilnya mami-papi, lupa? Atau berubah pikiran?" balas Aulia, mengingatkannya pada momen ketika permintaan itu diucapkan—momen saat dirinya bahkan sempat menangis. Waktu itu Archio sempat mengira ia tidak akan mau. Tapi sore ini berbeda. Dan jujur saja, Archio ternyata tidak sesiap itu mendengarnya. Detak jantungnya terasa lebih cepat dari biasanya.
"Oke, baiklah," ujarnya akhirnya, berusaha terdengar biasa. "Tadi kalian bahas apa? Kelihatannya serius."
"Daisy datang memberi tahu kalau rumahnya sudah laku. Besok pembelinya mau survei, jadi aku akan ke sana."
"Secepat itu lakunya?" kening Archio sedikit berkerut. "Kamu ke sana tidak sendirian, kan?"
"Sepertinya sama Daisy."
"Sama saya saja. Saya yang akan menemani kamu besok," ujar Archio, kali ini terdengar jauh lebih bersemangat.
"Bap— papi kan kerja," ucap Aulia sedikit terbata, belum sepenuhnya terbiasa dengan panggilan itu.
Sudut bibir Archio terangkat tipis. "Kamu lupa saya bosnya? Jadi kalaupun tidak datang sehari tidak masalah. Lagi pula ada Sadewa dan Bimo di sana. Besok waktunya papi menemani mami."
Nada suaranya terdengar ringan, nyaris menggoda. Sementara Aulia hanya bisa menunduk sedikit, semburat merah di wajahnya tak mampu ia sembunyikan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Bonus valentine😭
Yang gak likom, tegaaaaa🙃
Tuh malah sudah berpelukan bukan dekat lagi tapi nempel