NovelToon NovelToon
Titisan Dewi Sri Yang Dibuang Ayahnya

Titisan Dewi Sri Yang Dibuang Ayahnya

Status: sedang berlangsung
Genre:Kontras Takdir / Anak Genius / Mengubah Takdir / Identitas Tersembunyi / Mata Batin / Fantasi Wanita
Popularitas:16.6k
Nilai: 5
Nama Author: INeeTha

Dibuang karena bukan anak laki-laki, Sulastri dicap aib keluarga, lemah, sakit-sakitan, tak diinginkan.

Tak seorang pun tahu, dalam nadinya berdenyut kuasa Dewi Sri, sang Dewi Kehidupan. Setiap air matanya melayukan keserakahan, setiap langkah kecilnya menghidupkan tanah yang mati.

Saat ayahnya memilih ambisi dan menyingkirkan darah dagingnya sendiri, roda takdir pun mulai berputar.

Karena siapa pun yang membuang berkah, tak akan luput dari kehancuran.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Cara Biar Kuat

Mahal.

Untuk kuda pincang yang hanya akan jadi sate, itu sangat mahal. Tapi pelayan itu tahu ini kuda bagus.

Kinar tak menawar.

Ia merogoh tas kainnya yang lusuh, mengeluarkan lembaran uang tabungan sisa gono-gini dan dagangan hari itu.

Uang itu rencana mau ia setorkan ke Bank, tapi kini ia tak peduli.

"Ini uangnya. Kuda itu saya bawa," Kinar menyerahkan uangnya.

Pelayan itu melongo, lalu buru-buru menghitung uang.

"Beres! Rezekimu bagus, Kuda! Nggak jadi disate!"

Pelayan itu melepas ikatan di leher kuda dan menyerahkan talinya pada Kinar.

"Nih, Bu. Hati-hati, dia agak pincang."

Kinar menyerahkan tali kekang itu pada Tari.

Tari mendekat, mengelus moncong kuda yang kasar itu. Air mata kuda itu menetes mengenai tangan mungil Tari.

"Jangan nangis ya, Jantur," bisik Tari. "Aku nggak akan buang kamu. Kita pulang."

"Hugggh... hrrrggh... Terima kasih Tuan Kecil... Aku akan mengabdi..."

Kuda itu mendengus, menggosokkan kepalanya yang besar ke bahu kecil Tari.

Tari terkekeh, menepuk pipi kuda itu. "Ayo, kita pulang ke rumah Abah."

Mereka bertiga berjalan menuntun kuda, meninggalkan mobil pick-up sewaan yang sudah dibayar separuh jalan.

Kaki kuda itu memang pincang, membuatnya tak mungkin lagi dipacu kencang, tapi untuk berjalan santai masih kuat.

Kinar menatap kaki kuda itu dengan nanar. "Mas Suryo benar-benar sudah hilang hati nuraninya. Kuda sesetia ini, cuma karena cacat sedikit langsung dijual ke tukang jagal."

"Dia itu tahu kudanya sakit, Nduk. Tapi bukannya diobati, malah dibuang. Memang dasar manusia yang matanya sudah ketutup harta," Abah Kosasih menimpali dengan suara berat.

"Suryo itu... makin tinggi jabatannya, makin lupa dia napak tanah."

Kinar mengusap air matanya.

Ia bukan menangisi Suryo, ia menangisi betapa malangnya nasib makhluk yang setia pada pria itu. Dulu dirinya, sekarang kuda ini.

"Sudahlah, Nduk. Gusti Allah mboten sare. Orang yang tidak tahu bersyukur, pasti ada balasannya," hibur Kosasih.

Tari menarik ujung kebaya ibunya. "Ibu, jangan sedih ya. Bapak yang rugi kehilangan kita, bukan kita yang rugi kehilangan Bapak."

Kata-kata bocah lima tahun itu menohok sekaligus menguatkan hati Kinar.

"Mau naik kuda, Nduk?" tawar Kosasih untuk mengalihkan suasana.

Mata Tari berbinar.

Abah Kosasih mengangkat tubuh ringan itu ke punggung kuda.

Kuda hitam itu berjalan dengan sangat hati-hati, seolah tahu ia sedang membawa muatan yang sangat berharga, lebih berharga dari Juragan Suryo yang dulu sering memecutinya.

Ayunan langkah kuda yang pelan membuat Tari mengantuk.

Tak lama, ia tertidur sambil memeluk leher kuda.

Energi hangat mengalir dari tubuh Tari ke tubuh kuda itu, meredakan nyeri di kakinya yang pincang tanpa disadari siapa pun kecuali Jantur si Kuda.

Sesampainya di pelataran rumah kayu Abah Kosasih di desa, suasana sore sedang sibuk-sibuknya.

Mira keluar dari dapur sambil membawa baskom.

Matanya terbelalak melihat rombongan itu membawa seekor kuda besar.

"Ya ampun, Dik Kinar! Itu kuda siapa? Kok gagah bener, tapi kakinya..." Mira menyipitkan mata.

Ia mengenali kuda itu.

"Lho, ini bukannya kudanya Mas Suryo? Yang dulu pernah dibawa pas lamaran?"

"Sudah dijual sama Mas Suryo ke tukang sate, Mbak. Tari kasihan, jadi aku beli. Lumayan buat bantu-bantu angkut karung tepung atau kayu bakar, biar nggak usah sewa gerobak tetangga terus," jawab Kinar santai sambil menurunkan Tari yang masih terlelap.

Mira geleng-geleng kepala, takjub sekaligus geram.

"Edan tenan si Suryo. Kuda sebagus ini disia-siakan. Ya sudah, kebetulan rumput gajah di belakang rumah lagi tinggi-tinggi. Biar aku ambilkan buat makannya."

Mira bergegas ke belakang, menyiapkan ember air dan tumpukan rumput segar di bekas kandang sapi yang sudah lama kosong.

"Makan yang banyak ya, Le. Kamu sekarang aman di sini. Lupain juraganmu yang nggak punya hati itu. Di sini biarpun makannya rumput desa, tapi pakai kasih sayang," celoteh Mira sambil menepuk leher kuda itu.

Kuda itu mengunyah rumput dengan lahap, sesekali mengibaskan ekornya.

Di pojok kandang, Si Blorok, anjing kampung penjaga kebun Abah, menggonggong pelan menyambut penghuni baru, lalu kembali tidur melingkar.

Malam harinya, setelah makan malam dengan menu sederhana, nasi hangat, sambal terasi, dan ikan asin, keluarga itu berkumpul di ruang tengah yang diterangi lampu petromak.

Kinar sedang menumbuk daging ikan tenggiri di lumping batu.

Meski lelah, wajahnya tampak serius.

"Mbak Mira, Kang Jaka," panggil Kinar.

"Dalem, Dik? Ada apa?" tanya Mira.

"Aku mau ngomongin soal dagangan. Alhamdulillah, tiap hari ludes terus. Banyak yang nggak kebagian. Aku kepikiran mau bikin lebih banyak, tapi tanganku cuma dua, nggak kekejar kalau sendirian."

Mira mengangguk.

"Iya, laris manis tenan daganganmu. Terus rencananya gimana?"

"Aku mau minta tolong Mbak-mbak atau Ibu-ibu tetangga sini, atau saudara kita yang nganggur buat bantu-bantu. Nanti aku kasih upah harian. Tapi aku masih bingung ngitung upahnya."

"Wah, ide bagus itu, Dik. Kalau upah harian buruh tani kan biasanya lima puluh ribu dari pagi sampai sore. Kalau cuma bantu beberapa jam sore atau malam, kasih dua puluh atau tiga puluh ribu juga mereka pasti rebutan. Lumayan buat jajan anak."

Mata Kinar menerawang, menatap nyala lampu petromak.

"Sebenarnya bukan cuma cari tenaga bantuan, Mbak, Kang. Aku punya mimpi..." Kinar berhenti sejenak, ragu.

"Aku pengen bisnis ini jadi besar. Bukan cuma buat aku, tapi buat keluarga besar kita, buat tetangga desa. Masak kita mau jadi orang susah terus?"

Kang Jaka, kakak Kinar yang pendiam, menatap adiknya dengan kagum.

"Kamu punya pikiran sejauh itu, Dik?"

"Iya, Kang. Dulu aku diam saja ditindas keluarga Wibowo karena aku merasa kecil, merasa nggak punya apa-apa. Sekarang aku sadar, kita harus kuat. Dan cara biar kuat itu ya harus mandiri, punya uang sendiri, dan kompak sama sedulur."

"Kalau tetangga dan saudara kita ikut kerja sama kita, mereka pasti bakal belain kita kalau ada apa-apa. Rezeki dibagi-bagi, biar berkah," lanjut Kinar.

Suasana hening sejenak.

Hanya suara jangkrik dan desis lampu petromak yang terdengar.

Abah Kosasih yang sedari tadi menyimak sambil melinting rokok klobot, tersenyum bangga.

"Benar itu, Nduk. Sapu lidi itu kalau cuma satu gampang patah. Tapi kalau diikat jadi satu, buat gebuk maling pun kuat. Bapak dukung."

"Tapi hati-hati," tambah Kosasih,

"Urusan duit sama saudara itu gampang-gampang susah. Harus jelas hitungannya dari awal biar nggak jadi rerasan di belakang."

"Kinar paham risikonya, Bah. Tapi Kinar yakin. Resep ini sudah teruji. Orang pasar suka. Kinar mau Sri Lestari hidup layak, nggak dihina orang lagi."

Mendengar nama Tari disebut, hati Abah luluh. Ia menatap cucunya yang sedang bermain dengan Blorok, anjing kampung penjaga rumah, di dekat pintu. Aneh, Blorok yang biasanya galak, di dekat Tari jadi jinak sekali seperti kucing.

"Kalau tekadmu sudah bulat, Abah dukung," kata Abah tegas. "Malam ini juga, Abah temani kamu keliling ke rumah Pakde Rahmat dan kerabat lain. Kita tawarkan kerja sama ini."

"Terima kasih, Bah."

Malam itu, dengan berbekal obor dan senter baterai besar yang nyalanya mulai redup, Abah dan Kinar berjalan menyusuri jalan setapak desa.

Pikiran Abah berputar menyusun strategi. "Jangan langsung minta modal besar, Nar. Tawarkan kerja dulu. Biar mereka lihat hasilnya. Untuk tenaga harian, upah tiga puluh ribu perak untuk setengah hari itu sudah bagus buat ukuran desa kita."

"Iya, Bah. Kinar nurut."

Mereka berhenti di depan rumah Pakde Rahmat, sepupu jauh Abah.

"Kulonuwun..." salam Abah.

"Monggo... eh, Kang Kosasih, Nduk Kinar. Tumben malam-malam, ada apa?" Pakde Rahmat menyambut ramah.

Istrinya, Bude Yati, segera menyuguhkan teh hangat.

Kinar menjelaskan rencananya dengan runtut. Wajahnya memancarkan keyakinan seorang pengusaha, bukan lagi janda yang terbuang.

Ia menawarkan investasi sebesar lima juta untuk perbaikan kolam ikan dan alat produksi, dengan sistem bagi hasil. Atau, pilihan kedua mengirim anak gadis untuk bekerja paruh waktu.

Pakde Rahmat tampak berpikir keras. Uang lima juta itu banyak. Tapi tawaran kerja untuk anaknya sangat menggiurkan.

"Waduh, kalau soal modal uang, kami pikir-pikir dulu ya, Kang. Tapi kalau soal tenaga, si Nina itu nganggur di rumah. Mulai besok biar dia bantu Kinar. Sore-sore daripada keluyuran nggak jelas," jawab Pakde Rahmat.

"Alhamdulillah. Boleh, Pakde. Besok Nina langsung datang saja jam 2 siang," jawab Kinar sigap.

Satu langkah kecil sudah diambil. Kinar tersenyum dalam hati. Ia akan membuktikan pada Suryo Wibowo, bahwa tanpa gelar Nyonya Pejabat pun, ia bisa berdiri di atas kakinya sendiri.

Dan yang lebih penting, ia membangun kerajaannya sendiri, bukan di atas penderitaan orang lain, tapi dengan mengangkat derajat orang-orang di sekitarnya.

1
Lala Kusumah
😭😭😭😭😭😭
Enah Siti
suami edan pngen ku baco tu suryo 😡😡😡😡😡😡😡
gina altira
untung Abahnya Tari itu pinter, cerdas dan bijaksana
gina altira
dibikin lumpuh aja si suryo ini
gina altira
Suryo pengecut
Ebhot Dinni
ayo semangat kinar
Allea
ka Author aku boleh titip nanya ga ma Tari tolong terawang anting2 dan gelang aku keselip apa ada yg ambil soalnya raib dari tempatnya 😁
Allea: paham ka
ke 1 9,900
ke 2 99.000
ke 3 999.000 kan y 🤭
total 2 replies
Kusii Yaati
kasian keluarga kinar, mantan suami tak tahu diri itu ngusik terus.nggak ada yang belain.kirimkan pahlawan yang bisa membantu dan melindungi kinar dan keluarganya Thor 😟
Sribundanya Gifran
lanjut
Aretha Shanum
bingung ko ga kelar2 tuh si suryo ma antek2, pdhal karna udah jalan y tpi ga sadar2, malsh makin jadi, jangan stak alurnya nanti bosen🙏
Pawon Ana
pada masa lampau banyak orang2 yang Waskita karena hati mereka bersih,sekarang mencari orang benar2 berhati bersih seperti mencari jarum ditumpukan jerami 😔
Sribundanya Gifran
lanjut thor
mom SRA
baru mampir..bagus bgt ini...
Lili Aksara
Bagus sekali cerita ini, suka banget deh, udah gitu sering update.
Sribundanya Gifran
lanjut up lagi thor
Pawon Ana
membaca ceritamu sambil flashback kenangan masa lampau, dulu dibelakang rumah bapak jug nanam buah juwet yng rasnya asem2 sepet tapi kadang juga ada rasa manisnya,ada juga buah salam.✌️🤭
Pawon Ana: wayang kakak bukan walang kekek🤭
ditempatku ada yng namanya suket teki,suketnya panjang cuma satu tangkai,sama anak2 biasanya dibentuk serupa wayang buat mainn🤭✌️
total 4 replies
🌸nofa🌸
Asli ketawa ngakak🤣🤣
Lili Aksara
Tari, ancurin aja lah tuh pak Halim, udah salah juga, tapi masih bilang tapi kan dia nggak tahu rumah kita.
Lala Kusumah
lanjuuuuuuuuut, tambah seruuuuu nih, semangat sehat ya 💪💪🙏🙏
el 10001
tapi novel nya keren semangat
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!