“Pokoknya kakak harus nikah sama aku. Jangan sama yang lain.” “Iya, iya. Bawel banget jadi anak. Lagian masih sd udah ngerti nikah nikahan dari mana sih? Nonton tuh Doraemon, jangan nonton sinetron.” “Janji dulu,” Ayunda mengulurkan jari kelingking. “Janji.” Ikrar mereka saat masih kecil, menjadi pegangan untuk ayunda sampai dia remaja. Hanya saja, saat ayunda remaja, Zayan sudah bukan lagi anak kecil seperti dulu. Perjalanan hidupnya mengantarkan Zayan pada banyak kisah. Akankah kisah tentang janji pernikahan itu masih dipegang oleh Zayan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RJ Moms, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CMK#34
“Kelan mana? Dia gak ikut?” Tanya Silvia saat melihat hanya ada Rehan dan Dirga yang menunggu di parkiran.
“Nggak, katanya ada perlu.”
Silvia terlihat kesal mendengar ucapan Dirga. Dia merogoh ponselnya untuk menelpon Kelan.
“Halo, Kel. Di mana? Kita kan udah janji mau makan siang bareng. Kok kamunya malah gak ada, kamu yang ngajak juga.”
“Aku ada perlu dulu. Sorry ya gak bisa ikut. Besok deh.”
“Oh, ya udah. Kelan, aku—“
Tut tut tut.
“Ck, ihhhhh. Belum selesai ngomong juga, udah dimatiin aja.”
“Mungkin dia emang ada perlu kali. Kan gak biasanya juga dia kayak gini. Ayo, mau pergi makan gak?” Tanya Rehan.
“Iya, ayo. Gue di bonceng Dirga aja deh.”
Silvia mendekati Dirga karena di memakai motor yang lebih bagus dari Rehan.
“Uuuuuh, mantap banget emang mie rebus ini.” Ayunda terlihat antusias melihat mie rebus dengan taburan cabai rawit, sawi dan telur setengah matang.
“Kayak gak biasa aja makan mie rebus,” ujar Mela.
“Mie rebus kali ini terlihat berbeda.”
“Kamu tuh yang terlihat berbeda. Ada apa sih? Lagi seneng ya?” Tanya Sri.
“Kayaknya. Dia tuh tipe orang yang gak bisa menyembunyikan perasaan. Kalau lagi bahagia ya begini modelan nya. Kalau lagi kesel, beuuhhhh lebih horor dari rumah hantu.”
“Hahaha, kamu bener Mel.”
“Udah, ayo makan aja. Aku yang bayar.”
“Nah, kan. Apa aku bilang.”
“Hahaha, tau gitu tadi kita ngajak dia makan di restoran ya, Mel.”
“Tenang, nanti malam kita nonton dan makan, aku yang bayar. Gimana? Gak ada tugas yang harus diselesaikan besok kan? Gas kita pergi.”
Mela dan Sri bertepuk tangan bahagia.
Kantin kecil itu memang selalu ramai dan berisik oleh mereka bertiga. Sementara yang lain duduk anteng, entah sambil makan atau hanya ngemil.
Suasana kantin di belakang memang asri. Bangku-bangku di tempatkan di bawah pohon buah kersem. Banyak pohon-pohon lain nya yang membuat suasana tenang dan sejuk.
Banyak mahasiswa yang ke sana untuk merileks kan kepala mereka setelah kuliah seharian yang membuat kepala terasa panas.
Hanya saja makanan di sana tidak ada yang istimewa. Hanya makanan biasa yang sering dijual di pedagang kaki lima. Untuk itulah anak selevel Areta dan Silvia enggan makan di sana.
“Aku bawain ini.” Silvia memberikan chees Cake pada Ayunda. saat kelas kembali dimulai.
“Wah, makasih ya.”
Areta melirik mereka berdua.
Perkuliahan selesai pada pukul 16.30 wib.
“Aku balik ya. Soalnya malam ini ortu ngajak dinner di luar.”
“Hati-hati, Vi, Reta.” Ayunda melambaikan tangan.
Silvia dan Areta berpapasan dengan Kelan dan dua teman mereka yaitu Dirga dan Rehan.
Begitu melihat Rehan, Ayunda langsung berbalik.
“Kel,” sapa Silvia. Laki-laki itu hanya tersenyum pada Silvia, lalu melewatinya begitu saja.
“Yunda, tunggu.” Kelan setengah berlari menghampiri Ayunda yang berjalan cepat karena tidak ingin bertemu dengan Rehan.
“Ya, kenapa?”
“Buru-buru banget. Mau ke mana?”
“Ke asrama. Temen sekamar udah nunggu. Kami mau pergi nonton soalnya. Jadi, aku pergi ya, dah.”
Kelan meraih tangan Ayunda hingga gadis itu menghentikan langkah kakinya.
“Eh, sorry.” Ucap Kelan saat sadar dia tengah memegang pergelangan tangan Ayunda.
“Eh, boleh gabung gak? Biar sekalian aku anterin, kan aku bawa mobil.”
Ayunda awalnya ragu, tapi kemudian dia berpikir bahwa pergi bersama Kelan, mereka tidak akan memikirkan kendaraan saat pulang nanti.
“Boleh, asal kamu aja yang ikut.” Ujar Ayunda yang tidak ingin Rehan ikut juga gabung bersama mereka nantinya.
Ayunda dan Kelan menoleh ke arah Silvi, Areta, Dirga dan Rehan yang sejak tadi menunggu mereka berdua.
“Oke, aku ngerti maksud kamu.”
“Ayo.”
“Kalian duluan, aku ada urusan sama Ayunda.”
“Ih, Kelan mau ke mana?” Tanya Silvia kesal.
Kelan tidak menjawab, dia melambaikan tangan lalu berjalan mengikuti langkah Ayunda.
“Kenapa sih dia? Mau ke mana coba pergi sama ayunda gak bilang sama kita.”
“Entahlah, Kelan akhir-akhir ini sibuk banget,” ujar Dirga.
Silvia menatap kepergian Kelan dengan dada yang memburu karena kesal.
“Ini apa?” Tanya Kelan saat melihat kotak kecil yang dibawa ayunda.
“Cheescake dari Silvia. Mau?”
“Aku lapar sih, boleh buat aku aja nggak? Nanti diganti.”
“Nih.” Ayunda memberikan kotak kertas itu pada Kelan.
saat Kelan membuka kotak itu, dia mencium aroma asam, saat meraba taksturnya, cheescake itu sudah lembek dan agak berair. Warna nya paun sedikit berbeda, kuning nya agak gelap.
“Yunda, kamu dikasih Silvia?”
“Apanya?” Tanya ayunda sambil berjalan menuju asrama.
“Ini.”
“Oh, iya. Katanya dia habis makan sama yang lain, terus dia inget kalau aku suka cheescake, dia khusus bawain itu buat aku. Baik banget ya dia.”
Kelan merasa heran dengan sikap Silvia. Dia juga pecinta Cake, gak mungkin dia tidak tahu jika Cake ini sudah hampir basi, pikir Kelan.
“Udah sampai.” Ayunda menghentikan langkahnya.
“Kamu tunggu di sini, aku ke atas dulu buat siap-siap.”
“Oke.”
Setelah ayunda pergi, Kelan mencari tempat sampah yang jauh agak jauh dari asrama. Dia membuang Cake itu.
Kelan masih tidak habis pikir dengan Cake pemberian Silvia itu.