NovelToon NovelToon
Jika Cinta Tidak Cukup

Jika Cinta Tidak Cukup

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: LilacPink

Enam belas tahun lalu, ia menyimpan rasa pada seorang perempuan yang tak pernah ia temui secara nyata.

Waktu berlalu, hidup menuntutnya dewasa,
namun perasaan itu tak pernah benar-benar pergi.

Ketika takdir mempertemukan mereka kembali,
perempuan itu telah menjadi ibu dari tiga anak,
dan ia dihadapkan pada cinta yang tak lagi sederhana.

Di antara keyakinan, tanggung jawab, dan logika,
ia harus menjawab satu pertanyaan paling berat dalam hidupnya:

apakah cinta cukup untuk memulai segalanya dari awal?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LilacPink, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hari yang Sama

...****************...

Aku memutuskan pulang ke kos lebih awal hari isi kepalaku penuh. Dadaku sesak. Aku tidak ingin bertemu siapa pun.

Sesampainya di kamar, aku langsung merebahkan tubuh.

Lampu tidak ku nyalakan.

Aku hanya menatap langit-langit, membiarkan pikiranku berantakan. Belum lama aku memejamkan mata, ponselku bergetar.

Hana calling.

Aku terdiam beberapa detik sebelum mengangkatnya.

“Assalamualaikum,”

suaranya lembut di seberang sana.

Aku baru sadar belakangan ini, aku dan Hana jadi sering mengobrol. Lebih bebas. Tidak sekaku dulu. Tidak lagi penuh batas yang kaku.

“Waalaikumsalam, ya Han,”

jawabku, berusaha terdengar biasa saja.

Seolah hari ini tidak melelahkan.

Seolah hatiku baik-baik saja.

“Ka, sibuk nggak, Ka?”

“Nggak terlalu,” kataku setengah jujur.

“Kenapa, Han? Mau ngobrol atau ada apa?”

Di seberang sana ia terdiam sebentar.

Seperti sedang menimbang kata-katanya.

“Enggak… cuma pengin denger suara kamu aja,” katanya pelan.

“Kalau kamu capek, nggak apa-apa kok. Aku bisa telpon lain waktu.”

Kalimat sederhana itu membuat dadaku menghangat aneh, tapi menenangkan.

“Nggak apa-apa,” jawabku akhirnya.

“Aku lagi di kos. Baru pulang.”

“Oh…”

nada suaranya terdengar lega.

“Kamu capek ya, Ka?”

Aku menarik napas pelan.

Entah kenapa, pertanyaan itu terasa berbeda ketika keluar dari mulutnya.

“Iya, Han,” jawabku jujur.

“Agak capek hari ini.”

Hana tidak langsung membalas.

Ia tidak mendesak.

Tidak bertanya macam-macam.

“Kalau gitu,” katanya lembut,

“aku temenin kamu aja ya. Kita ngobrol pelan-pelan. Nggak usah berat-berat.”

Aku memejamkan mata.

Untuk pertama kalinya hari ini,

aku merasa… tidak sendirian.

“Iya, Han,” kataku pelan.

Dan di keheningan kamar kos itu,

dengan suara Hana di telingaku,

aku mulai menyadari satu hal yang perlahan muncul ada seseorang yang hadir tanpa memaksa, tanpa menuntut, tanpa membuatku harus berpura-pura kuat. Dan itu… berbahaya.

Karena kenyamanan kadang datang bukan saat kita mencarinya, tapi saat hati kita paling rapuh.

Aku tersenyum kecil mendengarnya.

“Kamu nggak kerja, Ka?

Bukannya biasanya live jam segini? Makanya aku nelpon, kok tumben nggak live?”

Aku terkekeh pelan.

“Hana… kamu tiap hari nonton live aku, ya?” candaku, berusaha mencairkan suasana.

“Hahaha… ketahuan ya,” jawabnya cepat.

“Enggak kok, nggak tiap hari.”

Nada suaranya ringan, tapi aku bisa membayangkan wajahnya yang sedikit malu.

Lalu ia terdiam sebentar.

“Btw, aku mau minta tolong… bisa nggak ya, Ka?”

Ada ragu di suaranya. Hati-hati. Tidak memaksa.

“Kenapa, Han?” tanyaku lembut.

“Mobilku tadi masuk bengkel,” katanya pelan.

“Anak-anak nanti dijemput siapa ya… aku bingung.”

“Aku nggak berani pakai ojek online, mereka masih kecil-kecil.”

“Kalau yang paling besar, Raihan, dia bisa pulang bareng temennya sih…”

Kalimatnya menggantung.

Seperti sedang menunggu penolakan, tapi berharap tidak.

Aku menegakkan tubuhku dari kasur.

Menatap dinding kosong kamar kos.

Tidak ada alasan sebenarnya untuk menolak.

“Jam berapa jemputnya?” tanyaku akhirnya.

Hening sesaat.

Lalu suaranya terdengar lebih lega.

“Serius, Ka?”

“Nggak ngerepotin kamu?”

“Nggak,” jawabku singkat tapi mantap.

“Aku jemput. Kamu tenang aja.”

Aku mendengar helaan napasnya di seberang sana.

Bukan lega yang berlebihan.

Lebih seperti rasa syukur yang ditahan.

“Terima kasih ya, Ka…”

“Sumpah aku nggak enak minta tolong terus.”

“Nggak apa-apa, Han,” kataku.

“Kadang manusia emang butuh saling bantu.”

Setelah telepon ditutup, aku terdiam sebentar.

Aku tidak tahu sejak kapan

hal-hal kecil seperti ini mulai terasa berarti.

Aku hanya membantu. Sesederhana itu. Tapi entah kenapa, hatiku terasa lebih ringan dibanding seharian tadi. Dan mungkin… itulah awal dari sesuatu yang perlahan tumbuh tanpa aku sadari.

Sesampainya di sekolah, aku turun dari mobil dan berdiri di dekat gerbang.

Anak-anak mulai keluar satu per satu.

Suara riuh khas jam pulang sekolah memenuhi udara sore itu.

Aku melihat Loly lebih dulu.

“Loly… ke sini!” panggilku sambil melambaikan tangan.

Ia menoleh, lalu berlari kecil menghampiriku.

“Eh, Om Raka!” wajahnya cerah.

“Ibu mana?”

“Ibu di rumah. Mobilnya masuk bengkel tadi, jadi nggak bisa jemput,” jelasku.

“Oh iya… Dimas mana, Ka?” tanyanya sambil melihat ke belakang.

“Dimas aku cariin dulu ya, Om. Sebentar.”

Ia berbalik masuk lagi ke halaman sekolah.

Sekitar sepuluh menit kemudian, aku melihat mereka berdua berlari ke arahku.

Si bungsu berteriak dari jauh,

“Om Rakaaa! Om Rakaaa!”

Suaranya riang, tanpa beban.

Senyumnya lebar sekali.

Dan entah kenapa, senyum itu seperti menurunkan suhu panas di dadaku sejak kemarin.

Aku berjongkok sedikit menyambut mereka.

“Yuk, pulang bareng Om. Kalian udah pada makan belum?”

“Dapet makan sih, Om, di sekolah,” jawab Loly.

“Tapi aku lapar lagi,” tambahnya sambil tertawa kecil.

Dimas menimpali polos,

“Aku juga laper banget! Mau ayam!”

Aku tertawa pelan.

“Ya udah, kita makan dulu ya. Nanti kita bungkus juga buat Ibu sama Raihan di rumah.”

Mereka langsung bersorak kecil.

“Oh iya, ada Mbak ya di rumah?” tanyaku.

“Ada kok, Om,” jawab Loly.

“Ya udah, sekalian kita Bungkusin juga buat Mbak ya.”

“Iyaaa!” jawab Dimas semangat.

Kami masuk ke mobil.

Sepanjang perjalanan, mereka bercerita tentang sekolah.

Tentang guru yang galak. Tentang teman yang berebut tempat duduk. Tentang tugas matematika yang susah. Aku hanya mendengarkan.

Sesekali tertawa. Dan untuk beberapa saat…

aku lupa tentang Linda.

Lupa tentang balkon.

Lupa tentang ruang live.

Di meja makan sebuah warung sederhana,

aku melihat Dimas makan dengan lahap,

Loly sibuk bercerita sambil menyuap nasi.

Sore itu terasa hangat.

Dan di tengah tawa kecil mereka,

aku menyadari sesuatu kedamaian tidak selalu datang dari cinta yang membara.

Kadang… ia datang dari tawa anak-anak yang memanggil namamu dengan tulus.

Dan untuk pertama kalinya hari ini, hatiku tidak terasa sesak.

Aku melirik jam di dashboard.

16.00.

“Sekolah Raihan di mana ya, Ka? Udah pulang belum jam segini?” tanyaku sambil menyalakan mesin.

“Wah, iya,” jawab Loly cepat.

“Harusnya udah keluar sih. Coba deh kita lewatin sekolah Aa Raihan, yuk.”

“Oke,” kataku sambil mengarahkan mobil.

“Kita coba ya.”

Mobil melaju pelan menuju sekolah menengah yang tak terlalu jauh dari sana.

Aku sengaja memperlambat laju, mataku menyapu sisi jalan dan gerbang sekolah.

Belum sampai benar-benar berhenti, Loly menunjuk ke arah trotoar.

“Itu! Itu Aa Raihan!” serunya.

Aku mengerem pelan.

Di sana, seorang anak laki-laki berdiri sambil memegang tas selempang.

Tingginya sudah hampir menyamai orang dewasa.

Wajahnya tenang, sedikit dewasa untuk usianya.

“Aa Raihan!” teriak Dimas sambil membuka jendela.

Raihan menoleh.

Matanya sempat terkejut saat melihatku di balik kemudi.

“Ih, Om Raka?” katanya sambil mendekat.

“Iya,” aku tersenyum.

“Yuk, naik. Ibumu nitip aku jemput. Mobilnya lagi di bengkel.”

Ia mengangguk.

“Terima kasih ya, Om.”

Nada bicaranya sopan.

Matangnya terasa terlalu matang untuk anak seusianya.

Di dalam mobil, Raihan duduk di depan.

Ia melirik ke belakang memastikan adik-adiknya sudah duduk dengan aman.

“Udah makan, Aa?” tanya Loly.

“Belum,” jawabnya singkat.

Aku tersenyum kecil lewat kaca spion.

“Pas. Kita habis makan, kok. Ada bungkusannya juga buat kamu.”

Raihan menoleh.

“Serius, Om?”

“Iya.”

Ia tersenyum kecil.

Bukan senyum anak kecil.

Lebih seperti senyum seseorang yang sudah terbiasa menahan banyak hal.

Perjalanan pulang terasa berbeda. Tidak ramai seperti sebelumnya, tapi hangat dengan cara yang lain. Aku melihat mereka bertiga tiga anak dengan latar yang tidak mudah, tapi tumbuh dengan cara yang baik. Dan entah kenapa,

aku mulai memahami Hana lebih dalam tanpa perlu ia bercerita apa pun lagi.

Karena anak-anak adalah cermin paling jujur

dari cinta yang pernah diperjuangkan.

Mobil berhenti tepat di depan rumah Hana.

Begitu pintu terbuka, tiga anak itu langsung bergegas masuk.

“Bu! Om Raka jemput!” teriak Dimas paling keras.

Aku turun perlahan, mengambil bungkusan makanan dari kursi belakang.

Pintu terbuka.

Hana berdiri di ambang rumah dengan jilbab instan warna abu-abu dan daster batik yang biasa ia jual. Sederhana. Tidak berlebihan. Tapi entah kenapa… selalu ada sesuatu yang membuatku memandangnya sedikit lebih lama.

Bukan karena ia mencoba terlihat cantik.

Justru karena ia tidak mencoba.

“Assalamualaikum,” sapaku pelan.

“Waalaikumsalam,” jawabnya lembut.

Matanya sempat menatapku beberapa detik. Seolah memastikan aku benar-benar baik-baik saja.

“Makasi ya, Ka… malah sekalian jemput Raihan,” katanya tulus.

“Iya, sekalian lewat,” jawabku ringan.

Raihan berdiri di samping ibunya.

“Terima kasih, Om,” ucapnya sopan.

Aku menyerahkan kantong makanan itu pada Hana.

“Tadi sekalian makan dulu. Ini buat kamu, Raihan, sama Mbak di rumah.”

Hana menerimanya dengan dua tangan.

“Ka… kamu nggak perlu repot-repot begini,” katanya pelan.

“Nggak repot kok,” jawabku cepat. “Malah senang.”

Sore itu terasa tenang. Langit mulai berubah jingga. Aku berdiri di terasnya, tidak langsung pamit.

Hana memperhatikan wajahku.

“Kamu capek ya, Ka?” tanyanya pelan.

Aku tersenyum tipis.

“Lumayan.”

Ia tidak bertanya lebih jauh. Tidak memaksa. Tidak menyelidik. Ia hanya berdiri di sana, menemani sunyi ku tanpa berusaha mengisi semuanya.

Angin sore berembus pelan, menggerakkan ujung jilbabnya. Dan di momen sederhana itu, aku sadar

ketenangan kadang tidak datang dari orang yang membuat jantungmu berdebar.

Tapi dari orang yang membuat napas mu kembali teratur. Aku menatapnya sebentar lebih lama dari seharusnya. Ia menyadarinya. Dan untuk beberapa detik…

kami sama-sama diam.

Diam yang tidak canggung.

Diam yang terasa… cukup.

Aku duduk di kursi teras rumahnya.

Kursi kayu sederhana, sedikit berderit saat aku duduki.

Tak lama, Hana keluar membawa segelas teh hangat. Uapnya masih mengepul tipis.

“Ini, Ka,” katanya sambil meletakkannya di meja kecil di depanku.

“Terima kasih, Han.”

Ia ikut duduk di kursi seberangku, menjaga jarak yang sopan. Tidak terlalu dekat, tidak juga jauh.

“Kamu nggak merokok ya, Ka?” tanyanya pelan.

Aku menggeleng.

“Nggak.”

Ia mengangguk kecil, seolah memastikan sesuatu di pikirannya.

“Pola hidupmu teratur,” lanjutnya.

“Suka olahraga, bisa milih makanan yang sehat…”

“Aku seneng liatnya.”

Aku tersenyum kecil, agak kikuk menerima pujian itu. Hana menunduk sebentar, lalu melanjutkan dengan nada yang lebih lirih.

“Dulu suamiku itu… susah banget aku ingetin,” katanya.

“Kalau aku ngomel soal rokok atau makan, dia malah marah.”

Aku mendengarkan.

Tidak memotong.

“Padahal aku ngomel karena sayang,” katanya sambil tersenyum tipis.

“Takut dia sakit, takut anak-anak kehilangan ayahnya terlalu cepat.”

Tanganku menghangat oleh gelas teh. Dadaku ikut terasa hangat dan sedikit nyeri.

“Kamu hebat, Han,” ucapku jujur.

“Masih bisa perhatian sejauh itu.”

Ia menggeleng pelan.

“Bukan hebat,” katanya.

“Cuma istri yang takut kehilangan.”

Kami terdiam.

“Aku sering mikir,” lanjutnya pelan,

“andai dulu dia lebih nurut… mungkin ceritanya beda.”

Ia tersenyum kecil, tapi matanya tidak.

Aku ingin mengatakan sesuatu. Banyak hal.

Tapi semua tertahan di tenggorokan.

“Apa pun yang terjadi,” kataku akhirnya,

“kamu sudah melakukan yang terbaik.”

Hana menatapku. Tatapannya lama, dalam, tapi tidak menuntut.

“Terima kasih, Ka,” katanya pelan.

“Kadang… aku cuma butuh didengarkan.”

Aku mengangguk.

Dan di teras kecil itu, dengan teh yang mulai mendingin, aku merasa aku tidak sedang jatuh cinta. Tapi aku sedang belajar tentang ketenangan yang selama ini tidak pernah benar-benar aku pahami.

1
Rara Purnama
q suka banget. kayak di dunia nyata. ceritanya reltade dan masuk akal ga dbuat2 gitu ga alay
LilacPink: makasih ya ka
total 1 replies
Rara Purnama
thor itu lagu Element ya. vokalisnya baru meningga tgl 25 tepat saat kamu mulai menulis ya thor. semangat thor💪
LilacPink: iya sedih banget lucky meninggal innailaihi wa innailaihi rojiun
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!