Lima tahun lalu, Zora hanyalah mahasiswi biasa di mata Dimas. Kini, ia adalah obsesi yang tak bisa ia lepaskan.
Dimas adalah dosen Ekonomi yang kaku dan dingin. Baginya, segala sesuatu harus terukur secara matematis. Namun, rumusnya berantakan saat sang ibu memboyong Zora,mantan mahasiswi yang kini sukses menjadi juragan kain untuk tinggal di rumah mereka setelah sebuah kecelakaan hebat.
Niat awal Dimas hanya ingin membalas budi karena Zora telah mempertaruhkan nyawa demi ibunya. Namun, melihat kedewasaan dan ketangguhan Zora setiap hari mulai merusak kontrol diri Dimas. Ia tidak lagi melihat Zora sebagai mahasiswi yang duduk di bangku kelasnya, melainkan seorang wanita yang ingin ia miliki seutuhnya.
Zora mengira Dimas masih dosen yang sama dingin dan formal. Ia tidak tahu, di balik sikap tenang itu, Dimas sedang merencanakan cara agar Zora tidak pernah keluar dari rumahnya.
"Kau satu-satunya yang tak bisa kulogikakan,Zora!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon shadirazahran23, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 11. Pernikahan Darurat
Seorang lelaki paruh baya berdiri mematung. Ia mengangkat sebelah tangannya, menghalau silau matahari yang jatuh tepat di matanya demi memastikan siapa dua orang yang berdiri di hadapannya. Tatapannya tertuju tajam pada gadis itu,Zora.
"Uwa... apa kabar?" sapa Zora. Suaranya bergetar, ada nada gugup yang tertahan di sana.
"Oh... benar ini kamu, Neng?" balas Wa Apud. Ia adalah kakak sepupu mendiang ibu Zora, satu-satunya saudara yang dimiliki gadis itu.
"Alhamdulillah, Wa. Uwa sendiri bagaimana? Sehat?"
"Alhamdulillah, Neng. Beginilah keadaan Uwa," balasnya tulus. Namun, kerutan di dahi Wa Apud semakin dalam saat matanya beralih pada sosok lelaki yang berdiri tegap di samping keponakannya. Tatapannya penuh selidik. "Lalu... ini siapa, Zo?"
Zora tersentak. Lidahnya mendadak kelu. "Oh, ini..."
"Saya Dimas, Wa," potong lelaki itu dengan suara bariton yang tenang namun tegas. Ia melangkah satu kepakan lebih maju, seolah menegaskan posisinya sebagai pelindung. "Calon suami Zora."
Wa Apud kembali mematung selama beberapa detik, seolah otaknya butuh waktu untuk memproses informasi sebesar itu. Detik berikutnya, sebuah senyuman lebar merekah di wajah keriputnya.
"Alhamdulillah... Ini beneran, Neng? Uwa senang pisan!" seru Wa Apud antusias. "Aduh, Jang... kamu meni kasep pisan."
Saking senangnya, Wa Apud langsung menyambar dan menggenggam lengan baju koko yang dikenakan Dimas. Zora hanya bisa meringis kaku, memaksakan senyum hingga deretan giginya yang rapi terlihat, meski dalam hati ia ingin menghilang saat itu juga. Sementara Dimas? Lelaki itu hanya melempar senyum tipis yang tampak begitu tenang,terlalu tenang bagi seseorang yang baru saja mengklaim diri sebagai calon suami.
"Hayu, main ke rumah Uwa dulu! Kita makan di sana sekalian mengobrol panjang lebar," ucap Wa Apud tanpa memberi ruang untuk menolak.
Pria tua itu langsung menarik lengan Dimas, menyeretnya keluar dari rumah keponakannya dengan semangat yang tak terbendung.
"Iya, Wa," sahut Dimas patuh.
Sebelum benar-benar terseret jauh, Dimas menoleh ke belakang. Ia mendapati Zora masih mematung di tempatnya, menatap mereka dengan tatapan horor seolah sedang meminta pertolongan. Dimas hanya menaikkan satu alisnya, membalas tatapan panik itu dengan seringai tipis yang penuh arti.
Dua jam kemudian,
Dimas duduk bersila di atas tikar anyaman yang terasa dingin. Di hadapannya, Wa Apud duduk dengan punggung tegak, menatapnya jauh lebih serius daripada saat di rumah Zora tadi. Suasana mendadak hening, hanya suara gesekan daun di luar rumah yang terdengar.
"Zora adalah satu-satunya peninggalan Nyi Emin, adik Uwa," suara Wa Apud berat, penuh penekanan. "Sekarang Uwa tanya serius. Jang Dimas teh beneran mau menikahi Zora?"
Dimas merasa tenggorokannya mendadak kering kerontang. Ia menelan ludah dengan susah payah sebelum akhirnya mengangguk mantap.
"Saya sangat serius, Wa. Saya sengaja ikut Zora ke kampung bukan hanya untuk ziarah ke makam orang tuanya, tapi juga ingin meminta izin secara langsung pada keluarga. Izinkan saya menikahi Zora," balas Dimas, suaranya terdengar stabil meski jantungnya berpacu gila-gilaan.
Seorang wanita paruh baya keluar dari dapur, membawa bakul nasi yang masih mengepulkan uap panas, lalu meletakkannya di tengah-tengah mereka.
"Jang Dimas tidak keberatan dengan keadaan keponakan kami yang yatim piatu?" Wa Minah menyahut, matanya menatap Dimas dengan tatapan yang seolah bisa menembus jantung. "Kami ini cuma orang tidak punya. Apa Nak Dimas siap?"
Dimas tersenyum tipis, jenis senyum yang tenang namun menghanyutkan. "Saya tidak mempermasalahkan itu, Wa. Bagi saya, asalkan Zora bersedia dan kalian merestui, itu sudah lebih dari cukup."
Pasangan suami istri itu saling melempar pandang sejenak. Keheningan yang menyiksa itu pecah saat Wa Apud akhirnya menghela napas panjang.
"Asal Jang Dimas berjanji tidak akan menyakiti keponakan kami... maka kami merestui."
Dimas mengembuskan napas lega yang panjang. Secara refleks, ia melirik ke arah celah pintu di mana ia bisa melihat bayangan Zora yang sedang mengintip dengan mata membulat. Dimas tersenyum penuh kemenangan.
"Alhamdulillah, Wa. Kalau begitu, saya sangat senang."
"Jika memang begitu," potong Wa Apud cepat, "malam ini juga Uwa akan memanggil Pak Ustad dan Pak RT. Kalian akan Uwa nikahkan sekarang."
"A-pa?!" seru Dimas dan Zora berbarengan. Zora bahkan nyaris terjatuh dari balik pintu karena syok.
"Kenapa? Kalian keberatan?" tanya Wa Apud, alisnya bertaut.
"Apa tidak terlalu cepat, Wa? Maksudnya, kami belum persiapan..." Dimas mencoba mencari alasan, keringat dingin mulai membasahi pelipisnya.
"Kalau tidak mau sekarang, ya sudah, tidak usah sekalian! Tidak usah ada pernikahan!" tegas Wa Apud, suaranya meninggi, khas orang tua yang tidak suka dibantah.
"Bukan begitu, Wa... kami..." Dimas mendadak kehilangan kata-kata.
Zora muncul dari balik pintu, bibirnya sudah terbuka hendak melayangkan protes. Namun, hanya dengan satu gerakan tangan yang tegas, Wa Apud menyuruh keponakannya itu duduk. Tak ada bantahan. Zora pun menurut, duduk bersila di samping Dimas dengan perasaan waswas.
"Zora adalah satu-satunya harta berharga yang ditinggalkan mendiang Nyi Emin," suara Wa Apud melunak, namun sarat beban. "Selama kamu di Bandung, Neng... hati Uwa tidak pernah tenang. Uwa selalu takut terjadi sesuatu yang tidak diinginkan pada perempuan sepertimu. Jadi, kalian nikah siri dulu sekarang, supaya semuanya halal dan hati Uwa tenang."
Zora dan Dimas saling berpandangan. Ada kilat kepanikan yang terpantul di mata mereka.
"Wa, Zora mengerti kekhawatiran Uwa. Tapi... menikah hari ini? Apa tidak terlalu mendadak? Zora takut tetangga malah berpikir yang aneh-aneh," cicit Zora berusaha membela diri.
"Mikir apa? Kamu hamil?" sambar Wa Apud telak. Matanya menyipit, lalu beralih menatap tajam ke arah Dimas seolah ingin menguliti pria itu. "Kalian... tidak berbuat macam-macam kan selama di Bandung?"
"Tidak, Wa! Kami tidak pernah melakukan apa-apa. Demi Allah!" sahut Zora cepat dengan wajah memerah.
"Benar?" selidik Wa Apud lagi.
"Benar, Wa! Ih, Uwa meni tidak percaya begitu sama keponakan sendiri," protes Zora, mencoba mencairkan suasana yang kian menyesakkan.
Di tengah perdebatan itu, Dimas menarik napas panjang. "Wa... saya bersedia menikah sekarang dengan Zora jika itu memang bisa membuat keluarga tenang," ucap Dimas tiba-tiba. Suaranya rendah namun berwibawa, memecah kecanggungan di antara mereka.
Zora menoleh seketika, mulutnya ternganga lebar. "Pak?!" desisnya, nyaris tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.
Dimas tidak bergeming. Ia tidak menoleh sedikit pun pada Zora. Tatapannya lurus mengunci mata Wa Apud, memberikan kesan seorang pria yang siap bertanggung jawab sepenuhnya.
"Silakan Wa Apud lakukan persiapannya. Saya akan menikahinya malam ini juga," tegas Dimas dengan kemantapan yang tidak menyisakan ruang untuk negosiasi.
Senyum puas langsung tersungging di wajah keriput Wa Apud.
Sementara itu, Zora hanya bisa mematung. Ia menatap dua pria di hadapannya itu dengan perasaan yang sulit diartikan,antara bingung, marah, dan debaran jantung yang mulai tidak beraturan.
Apakah pernikahan ini benar-benar akan terjadi malam ini?kita tunggu bab berikutnya ya
gagal maning 🤣🤣
sabar pak dosen
mampir lh k hotel klw g Tahn 🤭