NovelToon NovelToon
BADAI PUSAKA DI TANAH GADHING

BADAI PUSAKA DI TANAH GADHING

Status: sedang berlangsung
Genre:Ilmu Kanuragan / Fantasi Timur / Action / Balas Dendam
Popularitas:350
Nilai: 5
Nama Author: Restu Agung Nirwana

Malam itu, di Desa Gadhing yang damai, Tirta hanyalah seorang pemuda biasa yang lebih akrab dengan cangkul daripada pedang. Wajahnya selalu menunduk malu, bicaranya pelan, dan tubuhnya kurus. Ia tak punya minat pada dunia persilatan yang sering dibicarakan para tetua di gardu. Baginya, kebahagiaan adalah melihat ladang bapaknya subur dan senyum ibunya mengembang.

Namun, ketenangan itu hancur saat desa mereka diserang. Sekelompok perampok yang dipimpin oleh Lurah Karta, seorang demang serakah yang terkenal bengis, datang dengan tujuan menjarah. Tirta menyaksikan dengan mata kepala sendiri bagaimana kedua orang tuanya tewas di tangan mereka saat berusaha melindunginya. Suara pedang yang beradu dan jeritan pilu ibu masih terngiang-ngiang di telinganya. Dalam duka dan amarah yang meletup, sesuatu di dalam dirinya pecah. Sebuah kekuatan terpendam bangkit. Dengan tangan kosong, ia berhasil melumpuhkan beberapa perampok, membuat Lurah Karta terkejut dan mundur.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Restu Agung Nirwana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

TEBING RATAPAN DAN NYANYIAN KEMATIAN

Angin laut selatan yang menderu kencang menghantam dinding-dinding batu karang dengan suara yang menyerupai rintihan ribuan jiwa. Di sinilah, di ujung paling timur tanah Jawa, berdiri sebuah tebing yang menjorok ke samudra luas, yang dikenal oleh penduduk setempat sebagai Tebing Ratapan. Menurut legenda, siapa pun yang jatuh dari sini tidak akan pernah mencapai dasar, karena jiwa mereka akan tertahan oleh pusaran energi hitam yang mengalir dari dasar laut.

Tirta, Dimas, dan Sekar Wangi berdiri di puncak bukit terakhir yang menghadap ke arah tebing tersebut. Di bawah sana, di atas sebuah pelataran batu raksasa yang dikelilingi oleh obor-obor dengan api berwarna ungu, nampak belasan sosok berjubah hitam sedang melantunkan mantra dalam bahasa kuno yang membuat telinga berdenging.

Di tengah pelataran itu, terikat pada sebuah pilar batu yang diukir dengan simbol ular dan rembulan, adalah Mayangsari.

"Mayang..." bisik Tirta. Suaranya hampir tenggelam oleh deru ombak, namun matanya yang berkilat perak mampu melihat sosok wanita itu dengan jelas.

Mayangsari nampak pucat, gaun putihnya compang-camping ditiup angin laut. Matanya terpejam, dan kepalanya terkulai lemas. Di sekelilingnya, energi hitam merayap naik dari celah-celah batu, perlahan menyelimuti kakinya seperti lilitan ular.

"Tunggu, Tirta!" Sekar Wangi menahan pundak Tirta yang hendak melesat maju. "Lihat siapa yang berdiri di depan pilar itu."

Sesosok pria jangkung dengan rambut putih panjang yang terurai hingga ke pinggang berdiri membelakangi mereka. Ia tidak mengenakan zirah, hanya jubah kain sutra putih yang nampak kontras dengan kegelapan di sekelilingnya. Di tangannya, ia memegang sebuah tongkat kayu hitam yang ujungnya dihiasi tengkorak burung gagak.

" Aki Sapu Jagad," desis Tirta. Nama itu keluar dengan getaran dendam yang luar biasa. Pria itulah yang meruntuhkan Padepokan Lingga. Pria itulah yang membuat gurunya sekarat.

"Hawa murninya sangat mengerikan," ujar Dimas sambil mempererat pegangan pada galahnya. "Bahkan dari jarak sejauh ini, aku merasa seolah-olah berat tubuhku bertambah sepuluh kali lipat. Ini bukan lagi tingkat manusia biasa."

Tirta menarik napas dalam-dalam. Ia bisa merasakan denyut jantung Mayangsari melalui pedang Sasmita Dwipa. Ikatan batin yang terbangun selama latihan di padepokan kini menjadi kompas sukmanya. Ia tahu, Mayang masih hidup, namun jiwanya sedang ditarik paksa untuk membuka gerbang energi hitam.

"Kalian berdua, urus para pengikut berjubah itu," perintah Tirta, suaranya dingin dan datar, menandakan ia sedang dalam konsentrasi penuh. "Aki Sapu Jagad adalah urusanku. Aku tidak akan membiarkan dia melangkah satu senti pun lebih dekat ke pilar itu."

"Tirta, ini bunuh diri!" Sekar Wangi memperingatkan. "Dia punya kekuatan untuk mengendalikan elemen alam. Kau baru saja pulih dari pertarungan melawan Kelana."

Tirta menoleh sejenak, memberikan senyum tipis yang sarat akan ketetapan hati. "Aku sudah mati sejak hari desaku dibakar, Sekar. Yang berdiri di sini sekarang hanyalah bayangan yang mencari cahayanya kembali. Jika aku harus mati di tebing ini, maka aku akan mati dengan pedang di tangan."

Tanpa menunggu balasan, Tirta melesat turun dari bukit. Gerakannya tidak lagi meninggalkan jejak di tanah, ia meluncur seperti seberkas cahaya perak yang membelah kegelapan malam.

SHIIIING!

Suara pedang Sasmita Dwipa yang ditarik dari sarungnya menciptakan gelombang kejut yang memadamkan beberapa obor ungu di pelataran. Aki Sapu Jagad perlahan membalikkan badannya. Wajahnya nampak tua namun kulitnya kencang tanpa keriput, dengan sepasang mata yang sepenuhnya hitam tanpa putih mata.

"Cahaya kecil yang gigih," ujar Aki Sapu Jagad. Suaranya terdengar lembut namun menggetarkan tulang belakang. "Aku mencium bau Sinar Gadhing yang telah bermutasi. Mpu Sengkala benar-benar telah melakukan kesalahan besar dengan memberimu harapan."

Tirta mendarat sepuluh langkah di depan sang tetua. Ia menancapkan pedangnya ke tanah, menciptakan pelindung cahaya di sekelilingnya agar tidak terpengaruh oleh hawa penekan milik lawan. "Harapan bukan diberikan, Aki. Harapan ditempa melalui darah dan air mata. Dan malam ini, aku akan menagih hutang nyawa ayahku dan kehancuran padepokanku."

Aki Sapu Jagad tertawa kecil. Ia mengangkat tongkat gagaknya. "Hutang? Di dunia ini hanya ada hukum kekuatan. Gadis di belakangku ini adalah kunci untuk membangkitkan Sang Pemunah dari dasar laut selatan. Kau pikir satu nyawa petani dan sekelompok murid padepokan sebanding dengan kekuatan untuk menguasai nusantara?"

"Bagi mereka yang kau tindas, nyawa itu adalah segalanya!" raung Tirta.

Ia mencabut pedangnya dan menyerang dengan jurus Tebasan Bintang Jatuh. Tirta bergerak dengan kecepatan yang melampaui batas mata manusia. Namun, Aki Sapu Jagad hanya menggerakkan tongkatnya sedikit ke depan.

BUMM!

Sebuah dinding transparan dari energi hitam muncul entah dari mana, menahan serangan Tirta. Percikan energi perak dan hitam meledak, menciptakan angin puyuh yang menerbangkan batu-batu kecil di sekitar mereka.

Sementara itu, di sisi pelataran, Dimas dan Sekar Wangi mulai merangsek masuk. Dimas menggunakan galahnya seperti kincir angin, merobohkan dua pengikut berjubah sekaligus, sementara Sekar Wangi melepaskan anak panah beruntun yang mengincar titik-titik vital para penjaga ritual.

"Jangan biarkan mereka mendekati pilar!" teriak salah satu pengikut berjubah.

Kembali ke pusat pertempuran, Tirta terus menghujani Aki Sapu Jagad dengan serangan bertubi-tubi. Setiap tebasannya membawa hawa dingin rembulan yang sanggup membekukan darah, namun Aki Sapu Jagad menghindar dengan gerakan yang sangat minim, seolah-olah ia bisa membaca masa depan.

"Terlalu lambat, Nak," desis Aki. Ia menghentakkan tongkatnya ke tanah.

Seketika, tanah di bawah kaki Tirta berubah menjadi bayangan cair yang menarik kakinya. Dari bayangan itu, muncul tangan-tangan hitam yang mencoba mencengkeram tubuh Tirta.

Tirta segera memutar energinya. "Sinar Gadhing: Ledakan Fajar!"

Cahaya emas tipis meledak dari tubuhnya, menghancurkan tangan-tangan bayangan tersebut. Namun, saat ia mendongak, Aki Sapu Jagad sudah berada di hadapannya, hanya berjarak satu jengkal. Telapak tangan sang tetua yang dipenuhi uap hitam menghantam dada Tirta.

DUAKK!

Tirta terlempar puluhan meter, menabrak dinding karang hingga retak. Ia memuntahkan darah segar yang membasahi jubah hitamnya. Rasa sakitnya luar biasa, seolah-olah organ dalamnya telah diputarbalikkan oleh energi hitam tersebut.

"Tirta!" Mayangsari tiba-tiba membuka matanya. Ia melihat Tirta yang terkapar di kejauhan. "Lari... Tirta... pergi dari sini!"

Mendengar suara Mayang, Tirta mencoba bangkit kembali. Tangannya gemetar saat memegang hulu pedangnya. Ia menatap pilar batu itu, melihat air mata mengalir di pipi Mayangsari.

"Aku... tidak akan pergi tanpa membawamu pulang, Mayang," bisik Tirta, suaranya parau namun penuh tekad.

Tirta memaksakan dirinya berdiri tegak. Ia menutup matanya sejenak, mengabaikan rasa sakit yang merobek dadanya. Ia mulai memanggil seluruh sisa tenaga dalamnya, menyatukannya dengan denyut kehidupan yang ia rasakan dari tanah dan laut.

Aura di sekitar Tebing Ratapan mendadak menjadi sangat sunyi. Laut yang tadinya bergejolak, kini tenang seketika. Aki Sapu Jagad menyipitkan mata, ia merasakan getaran energi yang asing—sesuatu yang bahkan lebih murni dari Sinar Gadhing biasa.

"Apa yang kau lakukan, Bocah?"

Tirta membuka matanya. Pupil matanya kini tidak lagi berwarna hitam atau perak, melainkan berwarna biru laut yang jernih dengan titik emas di tengahnya. "Aku tidak hanya bertarung dengan cahayaku, Aki. Aku bertarung dengan seluruh doa orang-orang yang telah kau sakiti."

Tirta mengangkat Sasmita Dwipa. Pedang itu kini memancarkan melodi halus, sebuah nyanyian yang menandingi rintihan angin di tebing tersebut. Ritual pengorbanan itu kini memasuki detik-detik paling menentukan, di mana nyawa Mayangsari dan takdir nusantara bergantung pada satu tebasan pedang terakhir dari sang Pendekar Gerhana.

1
anggita
like👍iklan👆bunga🌹, dukungan buat novel silat fantasi timur lokal. moga lancar👌
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!