Bayinya baru saja lahir ke dunia. Namun, dalam perjalanan pulang dari rumah sakit, mobil yang membawa sang istri duluan pulang, ternyata mengalami kecelakaan maut, sehingga menelan korban. Nyawa istrinya melayang.
Kini Kapten Daviko sedih sekaligus kalang kabut mencari ibu susu untuk sang putra yang masih bayi merah.
Saliha perempuan 26 tahun, baru saja patah hati dan ditinggal pergi kekasihnya, stress berat sehingga mengalami galaktorea, yaitu kondisi di mana ASI melimpah.
Selain stres Saliha mendapat tekanan dari tempat kerjanya, karena kondisinya tidak memungkinkan untuk bekerja. Perusahaan memberhentikannya bekerja. Ia tertekan sana sini, belum lagi tagihan uang kos yang sudah nunggak.
Saliha butuh pekerjaan secepatnya. Tapi, siapa yang mau menerimanya bekerja, sementara perusahaan jasa tempat ia bekerja saja memilih mengeluarkannya tanpa pesangon?
"Lowongan pekerjaan, sebagai ibu susu". Mata Saliha terbelalak seketika, setelah ia membaca berita online.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hasna_Ramarta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32 Hanya Seorang Pengasuh
Kepulangan dari luar kota tidak membawa kedamaian yang diharapkan. Sebaliknya, dinding-dinding rumah besar Daviko kini terasa lebih dingin dan menekan bagi Saliha.
Bayangan Hendra dan sorot mata terluka Daviko di kamar hotel malam itu terus menghantuinya. Setiap kali Saliha melihat Daviko, rasa bersalah itu mencekik lehernya, mengingatkannya bahwa dialah penyebab pria itu pernah hidup dalam kebencian selama empat tahun.
Saliha kembali pada mode pertahanan dirinya yang paling ekstrim, membatasi diri dari majikannya.
Ia bangun jauh sebelum matahari terbit, menyelesaikan semua keperluan Kaffara, dan memastikan kopi Daviko sudah tersedia di meja sebelum pria itu turun.
Begitu langkah tegap Daviko terdengar menuruni tangga, Saliha akan segera menarik diri ke dapur atau bersembunyi di dalam kamar bayi. Ia tidak sanggup menatap mata Daviko. Ia merasa tatapan itu kini berisi beban yang terlalu berat untuk ia pikul.
Di meja makan, Daviko menatap kursi kosong di hadapannya dengan helaan napas berat. Di sana hanya ada cangkir kopi yang masih mengepulkan uap, pertanda Saliha baru saja ada di sana. Daviko tahu, Saliha sedang menghindarinya lebih dari biasanya.
"Saliha!" panggil Daviko dengan suara bariton yang menggema di ruang makan.
Tidak ada jawaban. Hanya keheningan yang menyambutnya. Daviko meletakkan sendoknya dengan kasar, selera makannya hilang seketika. Ia bangkit dan melangkah menuju kamar bayi. Di sana, ia menemukan Saliha sedang duduk di kursi goyang sambil menimang Kaffara yang baru saja terbangun.
"Kenapa kamu tidak makan bersama di depan?" tanya Daviko sambil bersandar pada kusen pintu.
Saliha tidak mendongak. Ia fokus memperbaiki selimut Kaffara. "Saya sudah makan di dapur tadi bersama Bi Tita, Pak. Lagipula, tugas saya adalah memastikan Kaffara nyaman, bukan menemani Bapak makan."
"Berhenti menggunakan kata 'tugas' sebagai tamengmu, Saliha," desis Daviko. Ia melangkah masuk, memperkecil jarak di antara mereka hingga Saliha bisa mencium aroma parfum maskulin yang selalu membuatnya goyah.
"Kejadian di luar kota itu... soal Hendra... aku sudah bilang untuk melupakannya. Aku tidak menyalahkanmu lagi."
Saliha akhirnya mendongak, namun matanya kosong. "Bapak mungkin tidak menyalahkan saya, tapi saya menyalahkan diri saya sendiri. Melihat Bapak tersiksa karena memori itu, membuat saya sadar betapa buruknya kehadiran saya di hidup Bapak. Saya hanya membawa luka lama yang seharusnya sudah Bapak kubur bersama almarhumah istri Bapak."
"Jangan bawa-bawa Amara dalam hal ini!" potong Daviko tegas. "Amara adalah masa lalu karena takdir, tapi kamu... kamu adalah masa lalu yang ingin kujadikan masa depan. Kenapa kamu begitu keras kepala?"
Saliha tersenyum pahit, sebuah senyuman yang lebih menyakitkan daripada tangisan. "Karena saya tahu diri, Pak. Seorang wanita yang pernah membuat Bapak mengeluarkan sumpah serapah tidak pantas berdiri di samping seorang perwira seperti Bapak. Saya hanya seorang pengasuh. Dan selamanya akan seperti itu."
Hari-hari berikutnya berlalu masih dengan pola yang sama. Saliha menjadi pengasuh yang sempurna, namun menjadi manusia yang paling dingin. Ia melakukan tugasnya seperti biasa memandikan Kaffara, mengatur jadwal imunisasi, hingga memastikan asupan gizi sang bayi terjaga.
Di balik sikap dinginnya, Saliha sebenarnya sedang menyusun sebuah rencana besar. Diam-diam, saat Daviko sedang bertugas atau berada di ruang kerjanya, Saliha mulai menghitung sisa hari dalam kontraknya. Ia menandai kalender kecil yang ia sembunyikan di balik lemari pakaiannya.
"Tinggal beberapa bulan lagi," batin Saliha setiap malam sebelum tidur.
Rencananya sudah bulat. Begitu kontrak dua tahun itu berakhir, ia akan pergi. Ia tidak akan meminta harta, ia tidak akan menuntut apa pun. Ia berencana pindah ke kota kecil yang jauh, tempat di mana tidak ada yang mengenalnya, tidak ada Hendra, dan yang paling penting... tidak ada Daviko.
Ia ingin mencari kebahagiaannya sendiri, kebahagiaan yang tidak dibangun di atas puing-puing rasa bersalah.
Saliha bahkan mulai mengumpulkan sedikit demi sedikit gaji yang diberikan Daviko, gaji yang sangat besar untuk ukuran seorang pengasuh, untuk modal usahanya nanti. Ia ingin mandiri. Ia ingin membuktikan pada dunia, dan terutama pada dirinya sendiri, bahwa ia bisa berdiri tegak tanpa harus bergantung pada belas kasihan atau obsesi Daviko.
Suatu malam, Daviko kembali mencoba mencairkan suasana. Ia membawakan sebuah bingkisan kecil berisi buku tentang perkembangan anak yang ia tahu sedang dicari oleh Saliha.
"Ini untukmu. Aku lihat kamu sering mencari referensi ini di internet," ujar Daviko sambil meletakkannya di samping Saliha yang sedang menyetrika baju-baju kecil Kaffara di ruang tengah.
Saliha hanya melirik sekilas. "Terima kasih, Pak. Tapi Bapak tidak perlu repot-repot. Peralatan dan referensi untuk Kaffara memang sudah seharusnya disediakan oleh pemilik rumah."
Daviko mengepalkan tangan di samping tubuhnya. "Sampai kapan, Saliha? Sampai kapan kamu akan menganggapku hanya sebagai 'pemilik rumah' atau 'majikan'? Pelukan kita di hotel itu... detak jantungmu saat itu tidak bisa berbohong. Kamu masih mencintaiku!"
Saliha menghentikan setrikanya. Ia menatap lurus ke depan, ke arah dinding yang hampa. "Detakan jantung saya tidak ada kaitannya dengan cinta, Pak. Saat itu, saya hanya merasa malu dan segan saat tanpa sengaja saya dekat dengan Bapak. Jadi, jangan menilai kalau detakan jantung itu adalah perasaan cinta."
Daviko tersenyum hambar, ia merasa Saliha sedang mengingkari hatinya.
"Kamu mengingkari hatimu Saliha. Katakan kalau kamu memang masih mencintaiku."
Saliha memalingkan muka, berusaha menyembunyikan perasaan sebenarnya. Air matanya mulai turun, tapi Saliha buru-buru menghapusnya.
"Kamu bohong Saliha!" tepis Daviko seraya meraih bahu Saliha, laku menghadapkan wajahnya ke arahnya. Daviko hendak menyentuh wajahnya, namun Saliha mundur selangkah, menjaga jarak yang aman.
"Jangan sentuh saya, itu hanya akan membuat saya tidak nyaman melakukan tugas saya sebagai pengasuh," bisik Saliha lirih.
"Aku hanya ingin kamu tahu kalau aku masih mencintai kamu."
"Tidak...jangan katakan itu lagi, Pak. Saya tidak pantas lagi untuk Bapak," tolak Saliha seraya menepis tangan kekar Daviko.
"Jadi sekarang apa maumu?" Daviko menatap tajam ke arah tembok kamar, wajahnya memerah, sorot matanya penuh kemarahan yang sarat kecewa. Daviko merasa Saliha semakin didekati justru ia semakin jauh.
"Mau saya...Bapak biarkan saya menjalankan tugas saya dengan baik di rumah ini. Saya ingin fokus pada Kaffara. Tolong mengerti keadaan saya," ucapnya dengan nada memohon.
"Hanya itu? Apakah kamu tidak memikirkan perasaanmu yang masih ada untukku Saliha?" pekik Daviko masih memaksa.
"Tidak, Pak. Biarkan saya berada di sini sesuai koridornya," tekan Saliha.
Daviko keluar dari ruangan itu dengan hati yang hancur. Ia kembali ke ruang kerjanya, menatap berkas-berkas militer di depannya tanpa minat. Pikirannya melayang pada rencana-rencana gila untuk membatalkan kontrak itu, atau bahkan menahan Saliha dengan paksa ketika kontrak itu tiba.
Namun ia sadar, mengurung raga Saliha tidak akan pernah bisa mengembalikan jiwa Saliha yang dulu. Saliha yang sekarang adalah wanita yang sudah membulatkan tekad untuk menghilang.
kalo mau bulan madu ke Bali dan Lombok.. sekalian bawa bi tita dan kaffra ..biar sekalian jalan2 keluarga 😊
Ayo..... kondangan. Jangan lupa amplopnya🤭🤭🤭🤭