Bayinya baru saja lahir ke dunia. Namun, dalam perjalanan pulang dari rumah sakit, mobil yang membawa sang istri duluan pulang, ternyata mengalami kecelakaan maut, sehingga menelan korban. Nyawa istrinya melayang.
Kini Kapten Daviko sedih sekaligus kalang kabut mencari ibu susu untuk sang putra yang masih bayi merah.
Saliha perempuan 26 tahun, baru saja patah hati dan ditinggal pergi kekasihnya, stress berat sehingga mengalami galaktorea, yaitu kondisi di mana ASI melimpah.
Selain stres Saliha mendapat tekanan dari tempat kerjanya, karena kondisinya tidak memungkinkan untuk bekerja. Perusahaan memberhentikannya bekerja. Ia tertekan sana sini, belum lagi tagihan uang kos yang sudah nunggak.
Saliha butuh pekerjaan secepatnya. Tapi, siapa yang mau menerimanya bekerja, sementara perusahaan jasa tempat ia bekerja saja memilih mengeluarkannya tanpa pesangon?
"Lowongan pekerjaan, sebagai ibu susu". Mata Saliha terbelalak seketika, setelah ia membaca berita online.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hasna_Ramarta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29 Sebuah Insiden Saat Demam
Seminggu telah berlalu sejak insiden pengusiran itu, dan sikap dingin Saliha belum juga mencair. Namun, nasib seolah sedang berpihak pada Daviko.
Bi Tita, satu-satunya orang yang biasanya menjadi penengah di antara mereka, tiba-tiba sering meminta izin pulang lebih awal. Cucunya yang baru lahir sedang sakit, dan sebagai nenek, Bi Tita tentu tidak bisa tinggal diam.
"Mbak Saliha, maafkan saya ya. Saya terpaksa harus pulang sekarang. Kasihan anak saya kewalahan di rumah sakit," ujar Bi Tita dengan raut wajah cemas suatu sore.
Saliha tersenyum maklum sambil mengelus lengan Bi Tita. "Tidak apa-apa, Bi. Pergilah. Urusan rumah dan Kaffara biar saya yang urus. Semoga cucu Bibi cepat sembuh."
Kepergian Bi Tita meninggalkan keheningan yang berbeda di rumah besar itu. Kini, hanya ada Daviko, Saliha, dan bayi Kaffara. Situasi yang seharusnya dihindari Saliha, namun justru menjadi celah bagi Daviko untuk melancarkan siasatnya.
Malam itu, setelah Kaffara terlelap dengan tenang, Saliha berniat membereskan dapur. Namun, langkahnya terhenti saat ia mendengar suara rintihan samar dari arah kamar atas. Ia sempat mengabaikannya, namun rintihan itu terdengar lagi, kali ini disertai suara benda jatuh.
Saliha mendesah. Nurani kemanusiaannya tidak bisa membiarkan orang lain dalam kesulitan, meski orang itu adalah pria yang sedang ia hindari.
Dengan langkah ragu, Saliha menaiki tangga dan mengetuk pintu kamar Daviko yang sedikit terbuka.
"Pak? Pak Viko?" panggil Saliha pelan.
Tidak ada jawaban, hanya suara batuk tertahan. Saliha akhirnya memberanikan diri masuk. Ia mendapati Daviko sedang terbaring di sofa kamarnya, mengenakan kaos oblong tipis dengan wajah yang tampak sangat pucat dan keringat dingin membanjiri keningnya.
Saliha mendekat, rasa khawatir mengalahkan ego dinginnya. Ia menempelkan punggung tangannya ke dahi Daviko. Panas. Suhu tubuh pria itu benar-benar tinggi.
"Bapak panas sekali. Tunggu sebentar, saya ambilkan obat dan kompres," ujar Saliha cekatan.
Saliha bergerak cepat. Ia membawakan semangkuk air hangat, handuk kecil, dan sepiring nasi tim yang beserta semangkuk sup. Meski hatinya masih terluka, melihat Daviko tidak berdaya seperti ini membuat sisi lembut Saliha kembali muncul secara natural.
"Makan sedikit ya, Pak, supaya bisa minum obat," bujuk Saliha lembut. Ia duduk di pinggir sofa, menyendokkan bubur ke arah mulut Daviko.
Daviko menurut seperti anak kecil. Ia menatap wajah Saliha dari jarak sedekat ini. Matanya yang merah karena efek panas tubuhnya menatap Saliha dengan penuh kerinduan. Ia menikmati setiap detik perhatian yang diberikan wanita itu, perhatian yang sudah sangat ia rindukan.
"Kenapa Bapak bisa sampai seperti ini? Bapak harusnya lebih menjaga kesehatan," tanya Saliha sambil mengompres dahi Daviko dengan telaten.
"Mungkin aku terlalu banyak pikiran, Saliha. Memikirkanmu, memikirkan bagaimana caranya agar kamu memaafkanku... itu lebih melelahkan daripada latihan fisik di lapangan mana pun," gumam Daviko lirih.
Saliha terdiam, ia tidak ingin membalas ucapan itu agar tidak terjadi perdebatan. Ia fokus memeras handuk kecil. Namun, saat hendak membetulkan posisi duduk Daviko agar pria itu bisa bersandar lebih nyaman di bantal sofa, terjadilah kecelakaan kecil.
Daviko adalah pria dengan tubuh tegap dan berat badan yang jauh di atas Saliha. Saat Saliha berusaha menarik pundak Daviko agar lebih naik ke atas bantal, kaki Saliha tersangkut ujung karpet yang sedikit terlipat.
"Aaah!"
Saliha kehilangan keseimbangan. Karena pegangannya pada bahu Daviko sangat kuat, ia tidak jatuh ke lantai, melainkan jatuh tepat di atas tubuh Daviko. Wajah mereka kini hanya berjarak beberapa milimeter.
Napas panas Daviko menerpa wajah Saliha, dan aroma maskulin yang begitu akrab menciptakan sensasi yang aneh di dada Saliha.
Waktu seolah berhenti berputar. Saliha terpaku, tangannya bertumpu pada dada bidang Daviko yang berdetak sangat kencang.
Dalam posisi yang sangat intim itu, Saliha bisa merasakan detak jantungnya sendiri yang berdegup kencang, seolah-olah ingin melompat keluar dari rongga dadanya.
Mereka saling bertatapan dalam waktu yang lama. Di mata Daviko, Saliha tidak lagi melihat sosok perwira yang angkuh, melainkan sosok pria yang sedang hancur dan sangat membutuhkan dirinya.
Tatapan itu begitu menghujam, membuat Saliha seolah terhipnotis. Perasaan cinta yang ia tekan dalam-dalam selama empat tahun ini tiba-tiba membara kembali, meluap-luap memenuhi setiap inci jiwanya.
Daviko perlahan mengangkat tangannya yang gemetar. Ia mengusap pipi Saliha dengan ibu jarinya, sebuah sentuhan yang sangat lembut namun penuh dengan perasaan yang mendalam.
Jantung Saliha berdetak semakin liar. Ia merindukan sentuhan ini, ia merindukan kehadiran pria ini di hidupnya.
Seolah terbawa oleh atmosfer rindu yang tak terbendung, Daviko melingkarkan tangannya di punggung Saliha, menarik tubuh wanita itu ke dalam pelukannya.
Saliha, yang biasanya selalu menepis, kali ini justru luruh. Ia membenamkan wajahnya di leher Daviko, membalas pelukan itu dengan sangat erat. Ia terisak tanpa suara dalam dekapan pria yang pernah menjadi dunianya.
Di tengah pelukan itu, Saliha menyadari sebuah kenyataan pahit, bahwa ia masih sangat mencintai Daviko. Kebenciannya hanyalah topeng untuk melindungi hatinya yang rapuh. Detak jantung mereka yang bersahutan seolah berbicara dalam bahasa yang tidak butuh kata-kata, sebuah pengakuan bahwa mereka berdua sama-sama tersiksa oleh jarak yang mereka ciptakan sendiri.
Beberapa menit berlalu dalam pelukan yang sarat akan emosi itu. Kesadaran Saliha perlahan kembali saat ia mendengar rengekan halus Kaffara dari kamar sebelah. Saliha tersentak, ia segera melepaskan diri dari dekapan Daviko dan bangkit dengan wajah yang memerah.
Wajahnya merah padam, ia sangat bingung dan merasa bersalah pada dirinya sendiri.
"Saliha, aku...." Daviko berusaha meraih tangan Saliha, sorot matanya masih penuh dengan harapan.
Saliha mundur beberapa langkah, menatap Daviko dengan tatapan yang kembali bergetar namun berusaha untuk tegas. "Cukup, Pak. Jangan manfaatkan keadaan untuk melemahkan saya lagi. Saya... saya harus kembali ke kamar."
"Saliha, kamu tidak bisa membohongi detak jantungmu sendiri tadi," suara Daviko terdengar serak namun penuh keyakinan.
Saliha tidak menjawab. Ia segera merapikan rambutnya yang sedikit berantakan dan berlari keluar dari kamar itu tanpa menoleh lagi. Ia menutup pintu dengan terengah-engah, bersandar di baliknya sambil mendekap dadanya yang masih bergemuruh hebat.
"Ya Allah... kenapa hamba begitu lemah?" bisik Saliha di tengah tangisnya yang kembali pecah. Ia merasa pertahanannya benar-benar di ambang keruntuhan. Pelukan tadi telah menghancurkan tembok kebencian yang ia bangun susah payah.
Di dalam kamar, Daviko kembali merebahkan tubuhnya. Meriangnya mungkin masih ada, tapi hatinya merasa jauh lebih baik. Ia tahu sekarang, Saliha masih miliknya. Cinta itu masih ada, sangat kuat, dan hanya butuh waktu sedikit lagi sampai Saliha benar-benar mau mengakui bahwa mereka tidak bisa hidup tanpa satu sama lain.
Malam itu berakhir dengan kehangatan sisa pelukan tanpa terduga mereka, seperti membawa harapan baru bagi Daviko, namun menjadi ketakutan besar bagi Saliha yang tidak ingin terluka untuk kedua kalinya.
semangat ya😚