Ferdy Wicaksono, fotografer muda yang hidup pas-pasan di Jakarta, tak pernah menyangka darah yang mengalir di tubuhnya akan membangunkan cinta yang tertidur selama lima ratus tahun. Dasima, jin wanita cantik dengan aroma bunga yang tak pernah pudar, jatuh cinta padanya karena Ferdy adalah reinkarnasi pria yang dulu ia cintai—dan kehilangan karena pengkhianatan. Di antara mimpi aneh, perlindungan tak kasatmata, dan kehadiran wanita misterius yang membawa darah masa lalu, Ferdy terjebak dalam cinta lintas dunia yang tak pernah benar-benar selesai. Kali ini, akankah Dasima mencintai… atau kembali kehilangan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bp. Juenk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Siapa yang Cantik, Kirana Vs Dasima ?
Kamar Kos Ferdy, Pukul 21.40
Cahaya lampu meja yang hangat menerangi wajah Ferdy yang sedang tersenyum. Di atas piring kertas, bukannya mie instan, ada nasi putih hangat, tempe goreng renyah, ayam ungkep, dan sambal terasi buatan Ibu Kos yang ia beli dengan harga bersahabat.
Sebuah kemewahan kecil yang kini bisa ia nikmati tanpa merasa bersalah.
Rekening bank di aplikasi ponselnya menunjukkan angka yang tidak lagi mengerikan. Transferan dari project pertama pameran, pembayaran DP dari job heritage building, dan fee dari brand skincare sudah masuk.
Bahkan, sore tadi ia berhasil mengirimkan sejumlah uang—tidak besar, tapi cukup berarti—ke rekening ibunya di kampung di Banyuwangi. Pesan singkat balasan dari ibu hanya berupa: "Terima kasih nak. Ibu bangga. Jaga kesehatan." Tapi ia bisa merasakan air mata kebahagiaan di balik kata-kata sederhana itu.
Dia menyendok nasi, menikmati setiap suap. "Ini rasanya… berbeda banget," gumamnya sendiri. Bukan hanya soal rasa, tapi soal pencapaian. Usahanya mulai membuahkan hasil.
Dia menatap ke sudut kamar, tempat ia biasa merasakan kehadiran itu. "Makasih, Dasima," ucapnya, kali ini dengan nama yang muncul dalam tidurnya dan kini terasa lebih pas di lidahnya daripada "Melati". "Nggak tau kenapa gue panggil lo Dasima. Tapi kayaknya itu nama lo ya?"
Seperti jawaban, wangi melati yang manis dan lembut menguat di udara, berbaur dengan aroma sambal terasi. Sebuah persetujuan.
Ferdy meletakkan piringnya, duduk bersandar di tempat tidur. Malam ini perasaannya sangat lapang, sangat bersyukur. "Gue… gue bahagia banget akhir-akhir ini. Kerjaan jalan, skripsi jelas, bisa kirim duit ke ibu." Dia berhenti, menatap ke langit-langit.
"Dan semuanya… gue ngerasa ada lo di sini. Lo yang nemenin dari museum, yang jagain dari Vina, yang kayaknya bantuin gue fokus."
Dia menarik napas. "Aku nggak tau apa yang bikin lo mau ikutin gue. Gue cuma fotografer miskin, kamar berantakan, hidupnya semrawut. Tapi lo tetep ada. Dan…" suaranya bergetar sedikit, "dan gue ngerasa… nggak sendiri lagi. Padahal sebelumnya, di tengah keramaian Jakarta pun, gue ngerasa sendiri."
Diam sejenak. Emosi yang tulus itu memenuhi ruangan kecil itu. Dasima, yang duduk di lantai dekat kakinya, menatapnya dengan mata penuh kasih dan rasa sakit yang manis. Karena kau adalah bagian dari jiwaku, Raden. Ikatan kita lebih tua dari waktu.
Ferdy mengusap wajahnya. "Seandainya aku bisa melihat kamu, Dasima. Melati. Siapa pun kamu," ucapnya, suara penuh kerinduan yang aneh, bukan kerinduan romantis, tapi kerinduan akan sebuah kepastian, sebuah wujud.
"Bagaimana wajahmu? Cantik? Lembut? Atau… seperti apa? Kamu pakai baju apa? Rambut panjang? Pendek? Umurmu berapa… dulu?"
Pertanyaan itu mengalir, polos dan penuh keingintahuan yang mendalam. "Dan kenapa…" suaranya semakin pelan, hampir berbisik, "kenapa ada kerinduan yang dalam dari hatiku ya?
Setiap kali wangimu muncul, atau setiap kali gue ngerasa lo deket, ada sesuatu di sini," tangannya mengepal di dadanya, "yang kayak… pengen nangis. Tapi bukan sedih."
"Seperti… rindu sama sesuatu yang udah lama banget hilang. Sesuatu yang sangat penting."
Itu pengakuannya yang paling jujur. Perasaan yang telah ia pendam sejak pertama kali mencium wangi itu di museum.
Dasima terdiam, air mata energi emasnya menitik deras. Karena kau merindukan aku, Raden. Seperti aku merindukanmu. Jiwa itu ingat, meski pikiranmu melupakannya.
Dia ingin berteriak. Ingin mengatakan segalanya. Tapi hukum alam membungkamnya. Dan mungkin, untuk sekarang, ini lebih baik. Ferdy perlu menjalani hidupnya sebagai Ferdy, bukan terhantui oleh bayangan Raden Wijaya.
Tapi dia bisa memberikan jawaban lain. Dengan segenap konsentrasi, dia memusatkan energinya. Bukan pada kata-kata, tapi pada gambaran. Pada perasaan.
Dia mengingat wajahnya sendiri saat masih manusia: mata seperti madu, rambut hitam bergelombang panjang, kulit sawo matang, bibir yang selalu tersenyum lembut, dan kebaya biru tua kesayangannya. Dia memproyeksikan gambaran itu, bukan ke mata Ferdy, tapi langsung ke dalam perasaannya.
Ferdy, yang sedang menatap kosong, tiba-tiba merasakan sesuatu. Sebuah bayangan samar muncul di benaknya. Bukan gambar yang jelas, tapi sebuah kesan: kelembutan, kebaikan, rambut panjang yang terurai, mata yang teduh… dan warna biru tua. Dan sebuah perasaan yang sangat kuat: pengorbanan. Cinta yang rela menunggu.
Matanya terbuka lebar. Jantungnya berdebar kencang. "Tadi…" gumamnya. "Gue… gue kayak liat sesuatu. Samar banget. Tapi… ada perasaan biru. Dan… sayang. Lo yang kasih liat itu?"
Wangi melati menguat sangat tajam, lalu berubah menjadi harum yang lebih kompleks: melati, cendana, dan sedikit aroma tanah basah setelah hujan—aroma kenangan.
"Dasima…" ucap Ferdy, nama itu terasa
semakin akrab. "Gue nggak ngerti semuanya. Tapi… gue terima kasih. Dan… gue sayang sama kehadiran lo. Apa pun bentuknya."
Kata "sayang" itu diucapkan dengan tulus, murni, seperti seseorang yang menyayangi sebuah matahari yang menghangatkan atau angin sepoi-sepoi yang menyejukkan. Bukan cinta romantis, tetapi sebuah ikatan yang lebih dalam, lebih spiritual.
Itu lebih dari cukup bagi Dasima. Dia melayang mendekat, dan sekali lagi, pelukan energinya yang hangat membungkus Ferdy. Kali ini, Ferdy membalikkan badan, memeluk bantal, seolah memeluk balik kehadiran di depannya. "Selamat malam, Dasima. Tidur yang nyenyak ya, di mana pun kamu berada."
Malam itu, Ferdy tertidur dengan senyuman kecil di bibirnya, perasaan lengkap yang belum pernah ia rasakan. Dan Dasima berjaga di sampingnya, bahagia namun juga sedih, karena sebuah kerinduan telah diakui, namun jurang antara wujud mereka tetap ada.
---
Coffeeshop "Kopi Tetangga", Pukul 10.00, Keesokan Harinya
Tim Project PAMOR sedang serius. Laptop terbuka, spreadsheet terpampang, timeline dipajang di papan tulis kecil yang mereka pinjam. Suasana pagi di coffeeshop riuh dengan obrolan dan mesin penggiling kopi.
"Jadi, timeline-nya: shooting heritage buildings minggu depan, post-production dua minggu, delivery ke client akhir bulan," kata Andika, menunjuk kalender digital. "Brand skincare minta moodboard dulu sebelum shooting, deadline-nya Jumat ini."
"Gue udah kontak fixer yang Kirana kasih tau. Harganya oke dan dia janji bantu urus izin," tambah Roni.
Ferdy mengangguk, mencatat poin-poin
penting. "Kita harus bagi peran jelas. Andika fokus teknis lighting dan set, Roni urusan lokasi dan produksi, gue yang konsep visual dan art direction. Buat moodboard skincare, gue yang bikin draft, tapi kita diskusi bareng."
Mereka bekerja dengan efisiensi yang membaik. Kesuksesan pameran dan datangnya job memberi mereka kepercayaan diri dan sistem kerja yang lebih rapi.
Di tengah meeting, Kirana mengirimkan pesan di grup, menawarkan bantuan untuk pengurusan asuransi shooting jika diperlukan. Profesional dan tidak mencampuri.
---
Gazebo Fakultas, Pukul 12.15
Setelah meeting project, Ferdy bergabung
dengan tim skripsinya di gazebo. Siska langsung melompat melihatnya.
"FERDY WICAKSONO! LO BENERAN DAPAT JADWAL SIDANG CEPAT GITU?!" teriak Siska sambil memeluknya erat. "Kita pada kagum sekaligus iri!"
"Secara resmi belum, tapi dosen bilang bisa diajukan," jawab Ferdy malu-malu, membebaskan diri dari pelukan.
"Jangan tinggalin kita ya, Fer. Lo yang paling pinter di antara kita. Lo yang cabut duluan, kita pada stress nggak ada yang ngebimbing," canda Reza, tapi ada nada serius di baliknya.
"Iya nih, gue bakal rindu lo, Fer," ucap Siska, tiba-tiba lebih kalem. Matanya berkaca-kaca.
"Rindu kita nongkrong di sini, kelamaan skripsi bareng, keluh kesah bareng."
Ferdy tersentuh. "Yah, gue juga bakal kangen.
Tapi gue belum lulus juga. Masih revisi-revisi gila nantinya. Dan kita tetep temenan kok, bahkan setelah lulus."
Bowo menepuk punggungnya. "Lo udah ngubah persepsi gue, Fer. Dari yang keliatan santai-santai aja, ternyata kalau udah fokus, kayak missile yang ditargetin. Salut."
Obrolan pun mengalir hangat, penuh dengan nostalgia kecil-kecilan dan rencana setelah lulus. Di tengah canda tawa mereka, sebuah sosok elegant berjalan melintas di jalan setapak dekat gazebo.
Kirana. Dia melambat, menangkap mata Ferdy. Dia tersenyum, lalu memberikan isyarat halus: menunjuk ke arah coffeeshop, mengangkat bahu seolah bertanya, dan menunjuk jam di pergelangan tangannya.
Kopi? Sekarang?
Ferdy merasa terjebak. Di depan teman-temannya, menolak dengan kasar akan membuatnya terlihat aneh. Andika dan Roni juga melihat, dan mereka langsung menyeringai.
"Wih, dipanggil yang mulia," bisik Reza.
"Pergi sana, jangan bikin cewe cantik nunggu," dorong Siska sambil menyenggolnya.
Ferdy menghela napas. "Gue… ada urusan bentar ya." Dia berdiri, berjalan mendekati Kirana.
"Lagi sibuk?" tanya Kirana, senyumnya ramah.
"Lagi kumpul sama tim skripsi."
"Oh, maaf. Tapi… kalau sempat, ada waktu buat ngopi sebentar? Saya ada beberapa ide untuk project heritage yang mungkin bisa didiskusikan. Atau… sekadar ngobrol," ujarnya. Kali ini lebih personal.
"Kamu terlihat perlu istirahat dari obrolan skripsi yang pasti berat."
Kalimat terakhir itu menunjukkan empati. Dan tatapannya tulus.
Ferdy melihat ke belakang ke arah teman-temannya yang sedang memberi kode thumbs up dan senyum lebarnya. Dia terkekeh. "Oke, sebentar aja."
---
Di Dalam Coffeeshop yang Sama, Meja Terpisah, Pukul 12.45
Mereka duduk di meja kecil dekat tanaman hias. Kirana memesan matcha latte, Ferdy pesan americano hitam. Awalnya mereka membahas project heritage—ide Kirana untuk melibatkan narasumber ahli sejarah memang brilian. Tapi setelah itu, percakapan mulai melenceng.
"Jadi, tiga bulan lagi sidang? Itu cepat sekali. Kamu pasti sangat rajin," puji Kirana.
"Lebih ke desperate, sih. Pengen cepat-cepat kelar dan mulai cari kerjaan tetap," jawab Ferdy jujur.
"Setelah lulus, mau tetap di Jakarta?"
"Kemungkinan besar iya. Tapi pengen pindah kos ke yang lebih baik. Yang ada jendela besar buat lighting alami," canda Ferdy.
Kirana tertawa. Lalu, dia mulai bercerita tentang dirinya sendiri—sesuatu yang jarang dia lakukan.
Tentang tekanan keluarga yang menginginkannya mengambil alih bisnis, tentang ketertarikannya pada dunia seni yang dianggap "tidak praktis" oleh ayahnya, tentang rasa kesepian di tengah keramaian acara-acara high society.
"Kadang, di tengah pesta yang ribut, aku malah merasa paling sendiri. Semua orang tersenyum, tapi senyumnya seperti topeng. Bicaranya tentang saham, properti, politik.
Jarang yang beneran… ngobrol," ujarnya, menatap cangkirnya. "Seperti ngobrol sama kamu dan teman-temanmu. Jujur, polos, nggak penuh kalkulasi."
Ferdy mendengarkan, memperhatikan. Wajah
Kirana yang biasanya sempurna dan terkendali, kini terlihat lebih manusiawi. Ada kerutan kecil di dahi, ada keraguan di matanya. Dalam hati, sebuah pikiran terlontar: Cantik juga cewek ini sebenernya.
Dan itu benar. Di bawah cahaya remang-remang coffeeshop, dengan ekspresi yang lebih lembut, Kirana memang sangat cantik. Cantik dalam arti yang elegan, matang, dan mengundang decak kagum.
Tapi kemudian, pikirannya melayang. Membandingkan. Dasima… apa Melati juga secantik ini?
Bukan untuk mengunggulkan satu sama lain. Tapi sebuah rasa penasaran yang tulus. Jika Dasima adalah perempuan dengan aura kelembutan dan pengorbanan yang begitu kuat, seperti apa rupanya? Apakah secantik Kirana dengan kecantikan modernnya? Atau lebih cantik dengan kecantikan yang timeless, seperti yang ia rasakan dalam kesan "warna biru" dan "rambut panjang" tadi malam?
Kirana melihat Ferdy yang termenung. "Ada apa? Kamu kayak melayang."
Ferdy tersentak. "Ah, nggak. Cuma… mikirin sesuatu."
"Tentang?"
Ferdy ragu. Tapi kejujuran Kirana tadi membuatnya ingin membalas dengan jujur—meski tidak sepenuhnya.
"Aku… lagi mikirin tentang… seseorang. Bukan pacar," tambahnya cepat.
"Tapi seseorang yang… sangat berarti. Yang selalu ada, meski aku nggak pernah bisa melihatnya."
Kirana diam, matanya menyipit penuh ketertarikan. "Penunggu? Pelindung? Seperti yang kamu bilang di pameran?"
Ferdy mengangguk pelan. "Mungkin."
"Dan kamu… membandingkannya dengan saya?" tanya Kirana, langsung ke inti. Perempuan ini cerdas.
Ferdy tersipu. "Bukan membandingkan dalam arti siapa yang lebih baik. Cuma… penasaran aja. Dunia itu luas ya. Ada yang kita lihat, ada yang kita rasakan."
Kirana tersenyum, sebuah senyum yang agak sedih.
"Kamu beruntung, Ferdy. Punya seseorang yang 'selalu ada' meski tak terlihat. Kebanyakan orang, bahkan yang terlihat setiap hari, belum tentu benar-benar 'ada' untuk kita."
Percakapan itu mengendap. Mereka duduk dalam keheningan yang nyaman beberapa saat, sebelum akhirnya berpisah—Kirana ke pertemuan berikutnya, Ferdy kembali ke teman-temannya.
Sepanjang jalan pulang, pikiran Ferdy berkecamuk. Kirana cantik, baik, dan ternyata punya sisi rapuh yang bisa ia mengerti. Ada daya tarik di sana, tarikan manusia normal terhadap keindahan dan kedekatan.
Tapi setiap kali pikirannya membayangkan senyum Kirana, bayangan itu selalu diiringi oleh wangi melati yang seolah mengingatkannya.
Dan perasaan yang datang bukanlah detak jantung yang berdegup kencang, melainkan sebuah ketenangan yang dalam, sebuah rasa "pulang", yang hanya ia dapatkan ketika ia berbicara pada kegelapan di kamarnya, menyebut nama "Dasima".
Dia tidak tahu mana yang "benar". Mungkin tidak ada yang benar atau salah. Mungkin yang ia rasakan pada Dasima adalah sebuah ikatan jiwa yang tak tergantikan. Sedangkan ketertarikannya pada Kirana adalah hal manusiawi yang wajar.
Yang jelas, untuk pertama kalinya, Ferdy menyadari bahwa hatinya mulai menjadi ruang yang ramai. Diisi oleh pencapaian, persahabatan, kemungkinan baru… dan dua kehadiran perempuan yang sangat berbeda: satu yang kasatmata, elegan, dan penuh teka-teki; satu lagi yang tak kasatmata, setia, dan menjadi bagian dari napasnya sendiri.
Dan malam itu, ketika ia kembali ke kamar kosnya, wangi melati menyambutnya seperti biasa, seolah tak pernah pergi. Ferdy tersenyum, melepas lelah. "Aku pulang, Dasima."
Kali ini, jawabannya adalah sebuah pelukan hangat yang langsung menyelimutinya begitu ia duduk di tempat tidur, lebih cepat dari biasanya, seolah-olah Dasima sudah menunggu dan ingin memastikan sesuatu: bahwa apapun yang terjadi di luar, di sini, dalam pelukannya, Ferdy akan selalu memiliki tempat untuk pulang.