Bagi Adrian Dirgantara, hidup adalah angka dan algoritma dari lantai 50 gedung pencakar langit. Namun, semua berubah saat ia mewarisi Dirgantara Tea Estates—perkebunan teh bangkrut yang penuh utang dan petani keras kepala.
Ambisi Adrian hanya satu: menjual tanah itu dan kembali ke kota. Tapi wasiat ayahnya mengikat: tanah tak boleh dijual sebelum ia berhasil memanen teh kualitas "Grade A".
Di tengah kabut pegunungan, Adrian berhadapan dengan Sekar, agronomis desa yang menganggapnya "hama kota". Terjepit antara debt collector dan lumpur perkebunan, Adrian harus memilih: memaksakan teknologi canggihnya, atau belajar bahwa tidak semua hal di dunia ini bisa diselesaikan dengan satu klik aplikasi.
Satu musim, satu panen, atau kehilangan segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon indri sanafila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 21: Cermin Hitam di Jantung Bintang
Adrian berdiri mematung, tapi bukan karena takut. Dia ngerasain energi hitam yang keluar dari tubuh Sekar mulai ngerambat ke tangannya, rasanya dingin, hampa, dan penuh sama bisikan keputusasaan. Di depannya, sosok "Adrian Asli" yang duduk santai di dalam bola energi itu terus masang senyum licik yang bener-bener bikin mual.
"Ayo, Adrian," sosok itu bicara lagi, suaranya makin mirip sama suara hati Adrian kalau lagi depresi. "Pilih. Jadi pahlawan yang ngebunuh ceweknya, atau jadi pengecut yang biarin dunia kiamat. Bukannya lu emang selalu bingung soal jati diri lu? Lu itu cuma salinan yang nggak punya hak buat nentuin takdir siapa-siapa."
Adrian natap sosok itu dalem-dalem. Dia merhatiin setiap lekuk wajah, cara duduk, sampai getaran auranya. Tiba-tiba, ada sesuatu yang "klik" di otaknya. Dia inget omongan ibunya soal The Harvester yang selalu gunain memori inangnya buat bikin pertahanan.
Adrian narik napas panjang, terus dia malah ketawa kecil. Ketawanya bukan ketawa stres, tapi ketawa orang yang baru aja nemuin lubang di trik sulap murahan.
"Gua akuin, lu jago," kata Adrian, suaranya mantap banget, nggak ada getar ragu sedikit pun. "Tapi lu salah satu hal. Lu bilang lu itu kesadaran The Harvester. Tapi gua tahu siapa lu sebenernya. Lu bukan raga asli gua, dan lu bukan alien dari langit."
Sosok itu ngerutin dahi, senyumnya sedikit pudar. "Oh ya? Terus gua siapa menurut lu, raga palsu?"
Adrian ngelangkah maju, nggak peduli sama kabel-kabel hitam yang nyoba ngejerat kakinya. "Lu adalah gua. Tapi bagian dari gua yang paling gua benci. Lu adalah rasa takut gua kalau gua nggak cukup baik buat jadi manusia. Lu adalah rasa bersalah gua atas kematian orang tua Sekar.
Lu adalah manifestasi dari semua sisi gelap pikiran gua yang lu tarik keluar dan lu kasih wujud buat nakut-nakutin gua." Begitu Adrian ngomong gitu, bola raksasa di tengah ruangan itu mendadak bergetar hebat. Cahaya hitamnya mulai kedap-kedip.
"Lu nggak nyata!" bentak Adrian, suaranya menggema di seluruh ruang mesin jiwa. "Lu cuma proyeksi mental yang dibuat sistem ini supaya gua menyerah. Lu nggak punya power atas gua kalau gua nggak izinin!"
Adrian langsung fokus ke jantung emas di dadanya. Kali ini, dia nggak cuma manggil kekuatan buat mukul atau nangkis. Dia manggil kejujuran. Dia nerima semua sisi gelapnya rasa takutnya, egonya pas jadi CEO, sampai rasa sedihnya kehilangan ibu. Dia nggak nolak sisi gelap itu, dia malah meluknya.
DUM!
Gelombang energi warna emas bercampur biru kehidupan meledak dari badan Adrian. Tapi bukannya ngerusak ruangan, energi itu malah ngebentuk cermin raksasa di depan bola itu.
Sosok "Adrian Hitam" itu teriak kesakitan pas liat pantulannya sendiri di energi murni Adrian. Badannya mulai retak-retak, nampilin kabel-kabel digital yang sebenernya ngebentuk wujud dia.
"Aris! Kar! Fokus ke gua!" teriak Adrian.
Aris, yang tadinya sibuk nahan robot penjaga, noleh. "Gua nggak tahu apa yang lu lakuin, tapi lanjutin! Sistem keamanannya lagi kacau!"
Adrian nyentuh kabel-kabel hitam yang melilit Sekar. Kali ini, dia nggak narik paksa. Dia ngalirin rasa sayangnya, memori-memori pas mereka lagi minum teh bareng, pas mereka debat soal Malabar. Dia ngingetin Sekar siapa dia sebenernya lewat sentuhan jiwa.
"Kar... dengerin gua. Lu bukan inang mereka. Lu itu akar dari dunia ini. Jangan biarin mereka pake rasa sakit lu buat ngerusak rumah kita," bisik Adrian tepat di telinga Sekar yang masih merem.
Seketika, cahaya hitam di badan Sekar mulai berubah warna. Dari hitam pekat jadi warna ungu, terus pelan-pelan jadi putih jernih. Sekar ngebuka matanya. Matanya nggak lagi perak murni atau hitam, tapi balik jadi cokelat jernih yang penuh emosi.
"Adrian..." suara Sekar kedengeran nyata. "Gua liat... gua liat apa yang mereka rencanain. Mereka bukan mau bawa energi kita pulang. Mereka mau gunain bumi sebagai pabrik prajurit tanpa jiwa buat perang galaksi yang nggak pernah usai."
"Gua tahu, Kar. Dan kita bakal stop mereka sekarang juga," jawab Adrian tangguh.
Tapi sosok manifestasi gelap tadi belum ilang sepenuhnya. Dia sekarang berubah bentuk jadi gumpalan asap hitam yang gede banget, nyoba buat nelan platform tempat mereka berdiri.
"Lu pikir segampang itu?!" suara asap itu menggelegar. "Kalau gua ancur, kapal ini bakal meledak di atmosfer! Jakarta bakal jadi debu!"
"Itu kalau gua biarin lu meledak," jawab Adrian tenang.
Adrian noleh ke Aris. "Ris, lu bisa akses sub-rutin pendingin inti lewat tangan mekanik lu?"
Aris nyengir, meski mukanya udah penuh oli dan luka. "Lu nanya ke ahlinya, Bos. Tapi gua butuh coverage energi emas lu buat nembus firewall-nya. Itu sistemnya panas banget, bisa bikin tangan gua leleh dalam sekejap."
"Lakuin. Gua yang bakal jadi tameng lu," kata Adrian.
Mereka bertiga ngebentuk formasi. Sekar pake busur energinya buat nembakin setiap kabel hitam yang nyoba deket, Aris nancepin tangannya ke konsol utama kapal, dan Adrian berdiri di depan mereka berdua, ngerentangin tangannya ngebentuk kubah emas yang sangat besar.
Radiasi dari inti kapal mulai kerasa. Suhu di ruangan itu naik drastis. Logam-logam di sekitar mereka mulai merah membara. Adrian ngerasain kulitnya perih, tapi dia nggak gerak sedikit pun. Dia berdiri kayak karang di tengah badai.
"Ayo, Ris! Cepetan!" bentak Adrian sambil nahan hantaman energi dari si manifestasi gelap yang makin brutal nyerang kubahnya.
"Dikit lagi! Gua lagi ngerubah aliran buangan energinya dari ledakan jadi transmisi radio!" teriak Aris. "Gua bakal balikin semua jiwa manusia ini ke raga mereka lewat sinyal satelit!"
Di luar jendela kapal, pemandangan makin horor. Bumi di bawah mereka udah kelihatan retak-retak merah, kayak telur yang mau pecah. Kabel-kabel raksasa dari langit mulai narik lebih kenceng, bikin gempa bumi di seluruh dunia.
Tapi di dalem kapal, Adrian ngerasain sesuatu yang beda. Dia ngerasain jutaan kesadaran manusia di dalem pipa-pipa itu mulai "bangun". Mereka bukan lagi cairan biru mati, mereka mulai bergetar.
"Sekarang, Adrian! Masukin kode enkripsi dari Ibu lu ke jalur ini!" Aris ngasih aba-aba.
Adrian pejamin mata. Dia manggil seluruh sisa energi yang dikasih ibunya. Dia ngebayangin wajah ibunya yang tersenyum. “Tunjukin kalau kita adalah pemilik sah dari perasaan ini,” suara ibunya bergema lagi.
Adrian ngehantem konsol itu dengan tangan emasnya. BOOOOOMMM!
Cahaya putih terang benderang meledak dari pusat kapal. Bukan ledakan kehancuran, tapi ledakan informasi. Cahaya itu ngerambat lewat kabel-kabel raksasa nuju ke bumi.
Di Jakarta, di London, di New York, orang-orang yang tadinya udah pudar raganya mendadak jadi padat lagi. Cahaya perak yang nyelimutin kota-kota mulai rontok kayak kulit ular yang mengelupas.
"Kita berhasil?" Sekar nanya sambil megangin bahu Adrian. Dia lemes banget setelah sinkronisasi tadi.
Adrian ngelihat ke monitor. Proses penghapusan fisik berhenti. Kapal induk raksasa itu mulai goyang, suaranya kayak mesin yang kehabisan bensin.
"Belum, Kar. Kita baru matiin mesin pamanennya. Tapi kapal ini masih ada di sini, dan pemilik aslinya pasti nggak bakal tinggal diem," jawab Adrian.
Tiba-tiba, suara tawa yang sangat berat terdengar, kali ini bener-bener bukan dari pikiran Adrian, tapi dari luar angkasa kedengeran di seluruh sistem komunikasi.
"Anak kecil yang berisik... kalian pikir kalian menang hanya karena mengembalikan ternak itu ke kandangnya?"
Sesosok raksasa muncul di layar utama. Bukan manusia, bukan robot. Bentuknya kayak gumpalan bintang yang ngebentuk wajah tua yang sangat besar. Itulah pemimpin dari The Harvester yang sebenernya.
"Adrian... kamu sudah merusak rencana kami selama ribuan tahun. Tapi terima kasih. Dengan menyatukan energi emas dan perak di raga kamu, kamu baru saja menciptakan 'Kunci Primordial' yang kami butuhkan buat ngebuka gerbang galaksi yang lebih besar. Sekarang, kamu nggak perlu datang ke kami. Kami yang akan menjemput kamu."
Seketika, sebuah portal biru raksasa terbuka tepat di depan moncong kapal induk tempat mereka berada. Gaya tarik portal itu sangat kuat, mulai nyedot kapal itu masuk ke dalemnya.
"Sial! Kita mau dibawa ke mana?!" Aris teriak sambil nyoba narik tuas kontrol, tapi nggak ada gunanya. Kapal itu udah nggak punya power buat ngelawan.
"Kita dibawa ke markas pusat mereka," kata Sekar, wajahnya pucat. "Di luar orbit bumi... di tempat yang nggak ada matahari."
Adrian ngelihat ke arah bumi yang makin kecil di belakang mereka. Dia ngelihat Jakarta, dia ngelihat Malabar yang mulai ijo lagi meski masih ada bekas luka api perak. Dia ngerasa sedih, tapi juga ngerasa bangga. Dia udah nyelametin bumi, meski sekarang dia sendiri yang bakal dibuang ke tempat entah di mana.
Dia megang tangan Sekar kenceng banget. "Aris, lu masih punya tenaga buat satu lompatan?"
"Lompatan apa? Kita lagi disedot, Adrian!"
"Gua bakal pake energi gua buat ngebom portal ini dari dalem. Pas portalnya goyang, lu pake sisa cadangan energi kapal buat nembak kita keluar dari sini pake kapsul penyelamat!"
"Lu gila? Lu bakal meledak bareng portalnya!" Sekar protes, matanya berkaca-kaca.
"Gua nggak bakal mati, Kar. Gua kan 'The Shark'. Gua cuma bakal pindah tempat maen aja," Adrian senyum, tapi senyumnya kali ini bener-bener senyum perpisahan yang tangguh.
Adrian jalan ke arah inti mesin yang masih membara. Dia ngelepas jantung emas di dadanya sesuatu yang selama ini nempel di badannya. Ternyata, jantung itu bisa dilepas.
"Pegang ini, Kar," Adrian nyerahin jantung emas itu ke Sekar. "Ini berisi semua data kemanusiaan bokap gua dan memori nyokap gua. Jaga ini baik-baik di bumi. Selama jantung ini ada di Malabar, mereka nggak bakal bisa balik lagi."
"Terus lu gimana kalau nggak ada jantung ini?!"
"Gua masih punya raga buatan yang cukup kuat buat bertahan beberapa menit. Dan gua punya dendam yang cukup gede buat ngebakar portal itu," Adrian dorong Sekar dan Aris masuk ke kapsul penyelamat yang ada di pojok ruangan.
"Adrian, jangan!" Sekar gedor-gedor kaca kapsul.
"Kar... makasih udah bikin gua ngerasa jadi manusia," bisik Adrian.
Adrian neken tombol peluncuran kapsul. SYUUUUT! Kapsul itu melesat keluar dari kapal induk, nuju ke arah atmosfer bumi yang biru indah.
Adrian berdiri sendirian di ruang mesin yang makin hancur. Dia natap ke arah portal biru di depannya. Dia ngerasain badannya mulai retak karena kehilangan sumber energi utamanya, tapi pikirannya makin jernih.
Dia lari ke arah inti, terus dia meluk inti panas itu. Dia ngebuka seluruh "firewall" di jiwanya, biarin sisa-sisa energi emasnya meluap tanpa batas.
"Ayo, kita liat siapa yang bakal kebakar duluan!" teriak Adrian.
BOOOOOOOOOOMMMMMMMMMMM!
Ledakan cahaya emas yang sangat luar biasa terjadi tepat di tengah portal. Seluruh angkasa seolah-olah bergetar. Portal itu menciut, terus meledak, ngebawa kapal induk itu ke dalam dimensi lain yang nggak diketahui.
Di bumi, orang-orang ngelihat ke langit. Mereka ngelihat ada "bintang" baru yang bersinar sangat terang selama beberapa detik, sebelum akhirnya ilang dan ninggalin langit malem yang tenang dan penuh bintang asli.
Di manakah Adrian sekarang setelah ledakan portal dimensi tersebut? Apakah dia benar-benar hancur bersama kapal induk The Harvester, ataukah dia terlempar ke markas pusat mereka di galaksi lain tanpa jantung emasnya?
Sementara itu, di bumi, Sekar dan Aris mendarat di reruntuhan Malabar dengan membawa jantung emas milik Adrian jantung yang ternyata mulai berdetak lagi dan memancarkan koordinat lokasi yang sangat jauh di luar nalar manusia. Apa pesan rahasia yang tersimpan di dalam detakan jantung tersebut?
semangat update terus tor..