Kayla dikenal sebagai Queen, seorang kupu-kupu malam yang terkenal akan kecantikan wajahnya dan bermata indah.
Suatu hari Kayla menghindar motor yang tiba-tiba muncul dari arah samping, sehingga mengalami kecelakaan dan koma. Dalam alam bawah sadarnya, Kayla melihat mendiang kedua orang tuanya sedang disiksa di dalam neraka, begitu juga dengan ketiga adik kesayangannya. Begitu sadar dari koma, Kayla berjanji akan bertaubat.
Ashabi, orang yang menyebabkan Kayla kecelakaan, mendukung perubahannya. Dia menebus pembebasan Kayla dari Mami Rose, sebanyak 100 juta.
Ketika Kayla diajak ke rumah Ashabi, dia melihat Dalfa, pria yang merudapaksa dirinya saat masih remaja.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santi Suki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8
Bu Ratna menghela napas panjang. “Maafkan Ibu, Kayla. Ibu harus memecat kamu.”
Kayla diam mematung. Seolah dunia runtuh di depan matanya. Dia harus kehilangan pekerjaan yang sulit didapatkan olehnya, dulu.
Beberapa teman kerjanya memandang Kayla dengan iba.
“Kami akan bersaksi kalau kamu hanya membela diri,” kata Rini berusaha menguatkan.
Namun, keputusan sudah dibuat oleh Bu Ratna dan tidak bisa diganggu gugat. Jadi, Kayla hanya bisa pasrah menerima.
Kayla keluar dari ruangan itu dengan langkah gontai, celemek dan topi masih melekat di tubuh, tetapi hatinya terasa kosong.
Langit sore tampak mendung, seolah ikut berduka bersamanya. Kayla menggenggam tali tasnya erat-erat. Ia ingin menangis, ingin berteriak, ingin marah pada dunia. Namun, di tengah keputusasaan itu, satu pikiran tetap bertahan.
“Aku tidak akan kembali ke jalan lama. Tidak peduli sesulit apa pun jalannya.”
***
Pemecatan itu masih terasa seperti tamparan yang tidak pernah berhenti perihnya. Sejak hari Kayla keluar dari rumah makan Bu Ratna, hidupnya kembali terseret ke jurang ketidakpastian.
Esok paginya, ia sudah kembali memegang map lusuh berisi fotokopi ijazah SMP-nya. Langkahnya lebih lambat dari biasanya, pundaknya lebih tertunduk, tetapi tekadnya masih berusaha bertahan.
Kayla mendatangi warung-warung kecil, kafe pinggir jalan, toko kelontong, minimarket, tempat laundry, hingga rumah-rumah yang menempelkan kertas “Butuh ART”. Jawaban yang ia terima hampir selalu sama.
Bahkan saat Kayla menawarkan diri untuk sekadar mencuci baju atau menyetrika dari rumah ke rumah, tidak ada yang membutuhkan jasanya.
“Sekarang orang-orang sudah pakai mesin cuci atau ke laundry, Mbak,” ujar seorang ibu yang menutup pintunya perlahan.
Satu bulan berlalu seperti mimpi buruk yang panjang. Setiap pagi Kayla berangkat dengan harapan, setiap sore ia pulang dengan kelelahan dan kehampaan. Kakinya sering pegal, telapak tangannya kasar, wajahnya makin pucat karena kurang istirahat. Namun, ia tetap tersenyum saat membuka pintu kontrakan.
Fattan, Fattah, dan Nayla selalu menyambutnya dengan riang, berlari memeluknya tanpa tahu betapa berat beban di hatinya.
“Sudah dapat kerja, Kak?” tanya Fattan polos suatu malam.
Kayla terdiam sepersekian detik sebelum tersenyum tipis. “Doakan Kakak, ya.”
“Kita salat, yuk! Berdoa sama Allah biar Kak Kayla cepat mendapatkan pekerjaan,” ajak Fattah.
“Kita berdoa banyak sama Allah. Biar kita semua senang,” ujar Nayla yang tidak kalah semangat.
Kayla tersenyum dengan mata berkaca-kaca. Dia memeluk ketiga adiknya itu. Lalu, mereka pun salat bersama-sama.
Terkadang di tengah malam Kayla menghabiskan waktu dengan menatap langit-langit kamar yang mulai mengelupas catnya, memikirkan bagaimana ia bisa bertahan esok hari.
Uang simpanannya semakin menipis. Tabungannya yang sudah susah payah dikumpulkan dari hasil kerja di rumah makan Bu Ratna akhirnya benar-benar habis.
Kayla duduk di tepi kasurnya, memegang sebuah kotak kecil berisi perhiasan. Hadiah-hadiah dari pelanggan semasa ia masih menjadi Queen di dunia kelam itu. Cincin emas, gelang tipis, kalung berkilau, di simpan baik di dalam kotak itu.
Mata Kayla memerah. Tangannya bergetar saat mengeluarkan satu per satu perhiasan itu. Ia menatap benda-benda itu lama-lama, seolah melihat potongan hidupnya yang ingin ia kubur dalam-dalam.
“Aku tidak mau menyentuh ini lagi,” bisik Kayla pelan.
Namun, bayangan tagihan kontrakan, listrik, dan biaya sekolah adik-adiknya berputar di kepalanya. Dia sudah tak punya apa-apa lagi.
Nayla masih kelas satu SD, Fattan dan Fattah kelas empat. Mereka butuh seragam, buku, uang jajan walau tak seberapa, dan iuran sekolah.
Kayla menunduk, air mata jatuh menetes ke tangannya. Dengan hati yang remuk, ia akhirnya membawa perhiasan itu ke sebuah toko emas. Uang kertas berpindah tangan dalam jumlah yang cukup banyak.
Kayla keluar dari toko itu dengan langkah tertatih, menggenggam amplop berisi uang. Walau begitu, hatinya perih dan terpaksa.
Hari itu, Kayla membayar kontrakan dan listrik dengan tangan gemetar. Sisanya ia simpan, tetapi ia tahu uang itu tidak akan bertahan lama.
Hari-hari berikutnya semakin berat. Kayla mulai merasa lelah bukan hanya di tubuh, tetapi juga di jiwanya.
Ada malam-malam ketika ia duduk di dapur kecil kontrakannya, menatap piring-piring kosong, bertanya dalam hati, “Sampai kapan aku bisa bertahan?”
Suatu sore, setelah satu hari penuh berkeliling tanpa hasil, Kayla berjalan tanpa arah. Kakinya membawanya ke sebuah masjid tua di ujung jalan.
Azan Ashar baru saja berkumandang, menggema lembut di udara.
Kayla berhenti di depan pintu masjid, dadanya bergetar. Ia melepas sepatunya perlahan, melangkah masuk dengan perasaan rapuh.
Masjid itu sepi. Hanya beberapa orang yang duduk berzikir di sudut ruangan.
Kayla mengambil wudu dengan tangan gemetar, air membasuh wajahnya yang lelah. Ia membentangkan sajadah di saf belakang, berdiri dengan tubuh yang terasa nyaris runtuh.
Takbir dengan suara lirihnya nyaris tertelan udara. Di sujud terakhir, Kayla menangis tanpa suara. Dahinya menempel di lantai dingin, bahunya bergetar.
“Ya Allah, aku lelah,” bisiknya di dalam hati. “Aku sudah berusaha, tapi aku tidak tahu harus bagaimana lagi.”
Bayangan adik-adiknya muncul di pikirannya.
“Jangan biarkan mereka terlantar karena aku, tolong tunjukkan jalan-Mu.”
Air matanya terus mengalir, membasahi sajadah.
Beberapa menit Kayla hanya terdiam dalam doa, menyerahkan semua beban yang selama ini ia pikul sendirian. Ada perasaan aneh setelah itu bukan lega sepenuhnya, tetapi seperti ada tali tak terlihat yang menahan hatinya agar tidak jatuh lebih dalam.
Langit senja berwarna jingga ketika Kayla keluar dari masjid. Angin sore berhembus lembut, mengibarkan ujung kerudung polos sederhana yang ia pakai pemberian dari seorang jamaah tadi.
Langkah Kayla masih pelan, tetapi ada sedikit ketenangan di wajahnya. Namun, saat ia menuruni anak tangga masjid, langkahnya terhenti.
Di halaman masjid, berdiri seorang pria yang sangat dikenalnya, Ashabi. Tubuhnya tegap, mengenakan kemeja panjang sederhana, tangan kanannya memegang helm. Wajahnya tampak lebih matang dibanding terakhir kali mereka bertemu hampir enam bulan lalu.
Untuk sesaat, waktu seolah berhenti. Kayla terpaku, matanya membesar. Seakan dia sedang bermimpi bisa bertemu dengan orang yang pernah menolongnya dari lembah dosa.
Ashabi juga terdiam ketika melihatnya. Tatapan mereka bertemu, ada keterkejutan, ada kelegaan, ada sesuatu yang tak terucap di udara di antara mereka.
“Kayla ...?” ucap Ashabi pelan, hampir tidak percaya.
Kayla menelan ludah, tenggorokannya terasa tercekat. “A-Ashabi ...?” balasnya lirih.
Mereka berdiri saling memandang di bawah langit senja, seolah takdir baru saja mempertemukan kembali dua jalan yang sempat terpisah.
Angin berhembus, menggoyangkan daun-daun di halaman masjid. Kayla tidak tahu bahwa pertemuan ini akan mengubah hidupnya sekali lagi.
up LG Thor