Bagi Zayden Abbey, dunia adalah medan tempur yang bising dan penuh amarah, sampai suatu siang di perempatan kota, ia dipaksa berhenti oleh lampu merah. Di tengah deru mesin motor yang memekakkan telinga dan kepulan asap knalpot yang menyesakkan, Zayden melihatnya—Anastasia Amy.
Gadis itu berdiri tenang di trotoar, seolah memiliki dunianya sendiri yang kedap suara. Saat Amy menoleh dan menatap Zayden dengan pandangan dingin namun tajam, jantung Zayden yang biasanya berdegup karena adrenalin tawuran, tiba-tiba berhenti sesaat. Di mata Zayden, Amy bukan sekadar gadis cantik; dia adalah "hening yang paling indah." Dalam satu detik itu, harga diri Zayden sebagai penguasa jalanan runtuh. Pemuda yang tak pernah bisa disentuh oleh senjata lawan ini justru tumbang tanpa perlawanan hanya karena satu tatapan datar dari Amy. Zayden menyadari satu hal: ia tidak sedang kehilangan kendali motornya, ia sedang kehilangan kendali atas hatinya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kekurangan Oksigen
Perempatan jalanan Jakarta siang itu terasa seperti simulasi neraka. Aspal mendidih, suara klakson bersahutan bagai simfoni stres, dan di tengah-tengah itu semua, sebuah geng motor berhenti dengan angkuh di barisan paling depan.
Zayden Abbey, pemuda yang namanya cukup untuk membuat nyali lawan menciut, duduk di atas motor sport hitamnya. Jaket kulitnya yang penuh coretan simbol anarki tampak kontras dengan wajahnya yang setajam elang.
Di belakangnya, empat punggawa setianya, Dio yang cerewet, Hendi yang lambat mikir, Bima yang tukang makan, dan Gara si ahli provokasi, sedang asyik memanaskan mesin.
"Bos, sekolah sebelah sudah nunggu di lapangan belakang pasar. Kita ratakan hari ini?" seru Gara di balik helmnya yang kacanya sudah retak.
Zayden tidak menjawab. Matanya tertuju pada lampu lalu lintas yang masih berwarna merah menyala. "Dunia ini terlalu berisik, Gar. Aku butuh sesuatu yang tenang," gumam Zayden tiba-tiba.
"Hah? Bos ngomong apa? Suara knalpot Dio kenceng banget!" teriak Bima.
Namun, perhatian Zayden sudah teralih sepenuhnya. Di sudut trotoar, berdiri seorang gadis berseragam SMA yang sangat rapi. Dia Anastasia Amy. Gadis itu tidak terganggu oleh kebisingan sekitar, tangannya memegang buku Sastra Klasik, dan wajahnya sedingin es tapi secerah bulan purnama.
Zayden membuka kaca helmnya. Angin yang membawa debu polusi seolah berubah menjadi hembusan melati di hidungnya.
"Gila..." bisik Zayden. "Dia bukan manusia. Dia itu jeda di antara kalimat yang melelahkan."
"Bos? Lo kesambet setan lampu merah?" Dio bingung melihat pemimpinnya yang biasanya beringas tiba-tiba memasang wajah melankolis.
Zayden turun dari motornya, mengabaikan lampu yang sudah berubah hijau dan teriakan pengemudi di belakangnya. Ia berjalan mendekati Amy.
"Hei," panggil Zayden. Suaranya yang biasa digunakan untuk membentak lawan, kini diatur sedemikian rupa agar terdengar seperti penyair profesional.
"Tahu tidak kenapa lampu ini berwarna merah?"
Amy mendongak. Matanya yang jernih menatap Zayden dari ujung kaki hingga ujung kepala dengan tatapan menilai. "Karena sistem lalu lintas mengaturnya begitu agar tidak terjadi kecelakaan. Kenapa? Kamu mau tanya jalan ke rumah sakit jiwa?"
Geng Zayden di belakang langsung riuh. "WADUH! Bos kita dikirim ke RSJ!" tawa Hendi pecah.
Zayden tidak marah. Ia justru tersenyum tipis. "Salah. Lampu ini merah karena dia tahu, kalau aku terus berjalan, aku tidak akan sempat melihat keindahan yang sedang berdiri membaca buku di sini."
Amy menutup bukunya dengan bunyi plak yang keras.
"Puisi kamu basi, dan jaket kamu bau matahari. Minggir, saya mau lewat."
Amy melangkah pergi dengan anggun, meninggalkan Zayden yang terpaku di tengah jalan, sementara teman-temannya sibuk memindahkan motor Zayden karena diprotes massa.
Markas geng mereka biasanya penuh dengan rencana strategi tawuran dan botol minuman dingin. Tapi sore itu, pemandangannya horor bagi Dio dan kawan-kawan. Zayden duduk di pojok ruangan dengan sebuah buku tulis kecil dan pulpen bermotif bunga yang entah ia curi dari mana.
"Gara, apa rima yang cocok untuk kata Amy?" tanya Zayden serius.
"Mati? Rugi? Atau... Mami?" sahut Gara asal.
Zayden melempar sandal ke arah Gara. "Sembarangan! Amy itu suci. Harusnya Pelangi atau Surgawi."
"Bos, sadar!" Bima mengguncang bahu Zayden. "Kita ini ditakuti satu kota. Nama lo itu jaminan tawuran menang. Sekarang lo malah mau bikin surat cinta? Kalau anak sekolah sebelah tahu, kita bakal diketawain sampai lulus!"
"Biarkan mereka tertawa," Zayden berdiri secara dramatis, menatap langit-langit markas yang kusam. "Selama ini tanganku digunakan untuk menghantam, sekarang aku ingin menggunakannya untuk merangkai kata. Karena Amy, aku menyadari bahwa luka di wajah bisa sembuh, tapi luka karena diabaikan olehnya... itu abadi."
Dio menghela napas panjang. "Fix, Bos kita sudah kehilangan fungsinya. Hendi, siapkan mental. Mulai besok, mungkin kita nggak bakal bawa gir motor lagi, tapi bawa kamus bahasa puitis."
Keesokan harinya, SMA Garuda gempar. Zayden Abbey, sang penguasa jalanan, masuk ke perpustakaan. Tempat yang sebelumnya dianggap sebagai wilayah terlarang bagi kaum-kaum seperti dia.
Di sana, Amy sedang duduk tenang. Zayden mendekat, lalu duduk tepat di depannya. Gengnya mengintip dari balik rak buku kategori Agama, sambil menahan tawa.
"Amy," bisik Zayden. "Aku membawa persembahan."
Zayden menyodorkan secarik kertas. Amy membacanya dengan alis bertaut.
Untuk Amy,
Jika hidupku adalah jalanan yang rusak dan penuh lubang,
Maka kamulah aspal mulus yang aku butuhkan untuk pulang.
Jangan tanya kenapa aku jatuh cinta,
Tanyalah pada rem motoran-ku, kenapa dia tak mau bekerja saat melihatmu.
Amy terdiam cukup lama. Zayden menahan napas, dadanya berdegup lebih kencang daripada saat ia dikepung sepuluh orang lawan.
"Zayden," ucap Amy pelan.
"Ya?" Zayden penuh harap.
"Metafora kamu buruk sekali. Aspal? Rem motor? Kamu ini jatuh cinta atau mau buka bengkel?" Amy mengembalikan kertas itu.
"Dan satu lagi, tulisan kamu kayak ceker ayam. Belajar nulis yang rapi dulu, baru ajak saya bicara."
Amy bangkit dan pergi. Zayden tertegun, lalu menoleh ke arah teman-temannya di balik rak buku.
"Dia... dia bilang tulisanku kayak ceker ayam," gumam Zayden.
"Sabar, Bos! Ceker ayam kan enak kalau dipedesin!" hibur Hendi polos.
Zayden mengepalkan tangan, tapi bukan untuk memukul. "Dio! Ambilkan aku buku latihan menulis halus kasar sekarang juga! Aku harus punya tulisan seindah prasasti cinta untuknya!"
🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷
Happy Reading 😍🥰😍😍